
#hai readers. selamat menikmati episode kali ini ya. moga enjoy.
Devan menatap Qini secara intens ia mencari binar cinta di manik indah yang sering terpancar jika bersama dengan dirinya. Devan tersenyum kecil saat melihat binar cinta tersebut meskipun mulai meredup hal ini sangat berbeda saat wanita ini sedang bersama Vino, tunangannya.
yah walaupun Qini berusaha tampil mesra dan Vino juga bersikap manis di depannya tempo lalu, akan tetapi ia tau jika Qini belum memiliki rasa cinta sebesar rasa cinta untuk dirinya di bandingkan untuk tunangannya itu.
Devan sengaja membuat pertemuan di antara mereka. Ia hanya ingin memastikan perasaan Qini terhadap dirinya dan juga tunangannya itu. ia ingin melihat sekuat apa cinta Qini terhadap tunangannya melalui pancaran sinar matanya terhadap dirinya dan Vino.
Jika ia melihat binar cinta Qini lebih besar untuk dirinya maka ia akan terus mengejar wanita ini dan tak kan melepaskannya lagi. akan tetapi jika ia melihat binar cinta Qini lebih besar untuk Vino maka ia akan berusaha lebih giat lagi untuk mendapatkan nya kembali.
intinya ia tak akan menyerahkan Qini pada lelaki manapun. ia sudah bertekad akan mengejar cintanya kembali sampai dapat serta menebus semua apa yang menjadi kesalahan di masa lalunya.
"kamu masih memiliki rasa cinta untuk aku kan?". tanyanya seraya menghadap wanita itu.
Qini terhenyak kaget saat Devan menanyai tentang perasaan terhadap pria itu secara tiba tiba.
"apaan sih?". elaknya.
"apa kamu mencintai Vino?". tanya Devan yang kini dengan sengaja melontarkan pertanyaan tersebut pada Qin.
Qini terdiam seraya mencerna kembali pertanyaan dari Devan yang membuat dirinya bingung harus menjawab apa.
"Qin". panggil Devan seraya menatap netra wanita yang pertama kali ia sentuh.
kini keduanya saling bersitatap dalam hitungan detik sebelum Devan mulai mendekati wajahnya Qini, sedangkan Qini hanya terpaku seperti menunggu apa yang akan di lakukan oleh pria itu padanya.
netranya Devan terpaku pada bibir manis milik Qini yang dulunya sering ia kecapi ketika masih bersama. sumpah demi apapun pesona wanita ini tak pernah sekalipun hilang dari benaknya meskipun telah lama ia tinggalkan jauh baik waktu dan juga jarak.
Devan akui penyesalannya saat sadar telah membuat wanita ini terlalu banyak menelan kekecewaan karena dirinya juga. nyatanya ia belum mampu membunuh perasaan cintanya untuk Qini meskipun ia telah berusaha untuk merelakan saat tau jika Qini akan menikah dengan karibnya.
sementara Qini hanya bisa bergeming saat nafas hangatnya Devan menerpa wajahnya di sertai detak jantungnya berpacu kencang. rasa ini masih sama di saat pertama kali mereka melakukannya ketika masih remaja di mana Devan mengecup bibirnya untuk pertama kalinya sebagai tanda perpisahan karena saat itu Devan akan di asrama kan setelah di nyatakan lulus ke jenjang akademi militernya.
__ADS_1
Devan tak sanggup menahan rasa rindu pada wanita ini, ia pun memberanikan dirinya kembali untuk meraih tengkuk Qini secara bersamaan mendekati bibirnya untuk mengecup kembali bibir yang ia rindukan selama ini. baru juga ia memajukan bibirnya tiba tiba..
"Qini". sebuah suara memanggil wanita yang akan di ciumnya.
Sontak hal ini membuat sang pemilik nama terhenyak kaget lantaran ia sangat mengenali sang pemilik suara berat tersebut. baik Devan dan Qini mengalihkan pandangannya mereka ke arah sumber suara yang tengah menatap mereka dengan sorot matanya yang tajam.
"Vi..vino". desisnya terbata bata sembari menatap takut pada pria yang tengah berdiri tak jauh dari mereka berdua.
sedangkan Devan hanya menatap kesal pada Vino lantaran ia telah gagal mendapatkan apa yang ingin ia kecapi selama ini.
sementara Vino mengepal erat tangannya saat melihat tunangannya ada di tempat yang tak semestinya tak perlu lagi ia datangi setelah cukup lama dia tak mempunyai hubungan apapun lagi terhadap keluarga ini.
Vino menghampiri keduanya, lalu segera menarik lengan Qini untuk di bawanya pergi dari tempat itu. Qini pun tak berkutik. ia hanya bisa menuruti apa yang Vino lakukan padanya saat ini.
Akan tetapi saat Vino hendak membawa Qini pergi dari tempat ini mendadak langkahnya terhenti di karenakan ia merasa jika Qini tak beranjak jua dari tempat ini. Vino melihat ke belakang dan melihat ke arah tangan Qini satunya telah di genggam oleh Devan.
Tentu saja hal ini membuat Vino semakin marah terhadap pria itu. ia dengan segera menepiskan tangannya Devan dari tangannya Qini. tapi bukan Devan namanya jika harus menyerahkan Qini begitu saja pada Vino. Devan tetap mempertahankan Qini dalam genggamannya.
Devan bergeming. sedangkan Qini menatap keduanya dengan saling menantang.
"aku bilang lepasin!". ucap Vino dengan nada yang mulai meninggi.
Devan pun melepaskan genggaman tangan nya dari tangan Qini seraya menatap Vino yang segera membawa pergi tunangannya.
seketika Devan tersenyum miring dan berdecih lalu berkata
"masih percaya diri kamu akan perasaan sesungguhnya dari tunangan kamu itu terhadap kamu?"
Vino pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap nyalang pada pria yang juga menatap dengan tatapan menantang dirinya.
"bajingan". desis Vino geram seraya menggenggam kuat tangannya Qini sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
__ADS_1
jangankan Vino yang mendengarnya apa lagi Qini yang menjadi sumber objek dari pernyataan Devan yang menyebabkan dirinya menjadi biang masalah nantinya juga ikut merasa kesal pada Devan.
"brengsek kamu Devan. bener bener cari ribut ni orang". makinya di hati seraya ikut menatap tajam pada Devan yang terlihat santai setelah melontarkan apa yang di simpannya selama ini.
sementara Devan melirik ke arah tangannya Qini yang di genggam kuat oleh Vino. Devan tau jika wanita itu tengah meringis kesakitan. tapi apa mau di kata ia sengaja berkata demikian agar Vino sadar bahwa tunangan nya itu tak pernah mencintai pria itu selama ini.
"masih mau bertahan?. ahh sayang sekali. seharusnya kamu bisa bertemu dengan cinta sejatimu sendiri malah kamu memilih harus bertahan pada cinta sejatinya orang lain". ucap Devan sarkas yang sengaja di lontarkan untuk Vino.
"Devan!". hardik Qini saat mendengar kata katanya Devan yang terasa menyakitkan bagi Vino pastinya.
"kenapa?". tanyanya dengan nada mengejek.
"cukup Devan!". titah Qini berang.
"ayok Vin. kita pulang". ajak Qini seraya melangkah dan menggenggam balik tangan Vino yang menggenggam kuat tangannya.
Vino bergeming seraya menatap tajam pada pria yang sengaja menantang dirinya lewat senyum miring nya.
"ayok Vin. kita pulang sekarang". ajak Qini kembali agar Vino segera pergi dari sini dan tak menanggapi Devan yang memang sengaja memancing amarahnya Vino.
"heh. sayangnya". cibir Devan saat melihat Vino yang mulai melangkah pergi karena mengikuti arahan Qininya.
saat Devan mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan tersenyum sinis tiba tiba sebuah bogem mentah mendarat di pipi kanannya.
"Vino". pekik Qini kaget
Yok ke next chapter
...****************...
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.
__ADS_1