Queenvin

Queenvin
Dosen cabul yang baik hati


__ADS_3

Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.


Di sebuah ruangan kuliah umum seorang Dosen terganteng menurut para mahasiswi yang mengenal Vino sedang membagikan ilmunya kepada seluruh mahasiswa yang hadir hingga akhir.


"Minggu depan saya akan menguji kembali materi yang telah saya berikan," ujar Vino pada mahasiswinya itu.


Tanpa banyak bantahan meskipun ada sebagian yang keberatan tetapi para mahasiswa tersebut tetap mengiyakan apa yang sudah menjadi kewajiban mereka.


Vino keluar dari ruangan tersebut setelah berpamitan pada mahasiswanya. Ia kembali ke ruangan dosen untuk meletakkan kembali jurnal dan buku-buku referensi untuk mengajarnya hari ini.


"Doktor Vino," panggil seorang profesor yang bernama pak Rachman.


Profesor Rachman adalah seorang profesor senior yang juga sebagai penanggung jawab untuk mengatur dosen pembimbing bagi para mahasiswa yang akan skripsi.


"Ya, prof. Ada apa ya? sahut Vino saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


"Begini, saya mau minta tolong ke Doktor Vino untuk membimbing sebagian mahasiswa yang akan skripsi. Soalnya ada beberapa dosen yang biasa membimbing skripsi sedang cuti dan ada pula yang sedang sakit," ujar prof Rachman.


"Waduh," ucap Vino pelan dengan perasaan kaget.


"Masa harus saya, pak" kata Vino tak yakin.


Tentu saja hal ini akan menambah beban pekerjaannya menjadi semakin banyak dan pastinya merepotkan dirinya yang sebelum nya sudah di sibukkan dengan usaha-usaha nya. Walaupun ia memiliki asisten dan teman- temannya yang bisa di percaya.


Akan etapi hal tersebut tak bisa ia main lepas tangan begitu saja sebagai seorang pemimpin di perusahaan yang ia rintis dengan susah payah bersama keluarganya.


"Iya. Kan nak Vino sudah strata - 3 jadi saya pikir nak Vino sudah mampulah menilai isi skripsi anak mahasiswa calon strata - 1" jawab pak Rahman dengan nada membujuk.

__ADS_1


"Masalahnya saya ga yakin bakalan mampu pak, kalau untuk bantu bantu bisalah. Tapi kalau untuk menentukan layak atau tidaknya suatu skripsi hingga ke sidang. Maaf pak ilmu dan pengalaman saya belum berani saya pertaruhkan. Sayang nanti mahasiswanya, pak," ujar Vino panjang lebar yang memang tak yakin selain keberatan di berikan tugas yang baru oleh atasannya itu.


"Ahh ... Nak Vino ini. Selalu aja merendah sedari dulu. Nyatanya dia pula yang paling maju kalau soal ilmu. Buktinya, masih semuda ini sudah menjadi Doctor. Lulusan luar negri lagi," ucap pak Rachman memuji anak mahasiswanya yang dulu itu.


"Lagi beruntung aja pak," balas Vino yang tak ingin membanggakan dirinya sendiri.


"Sudahlah. Apapun itu pokoknya nanti kamu tolong bantu senior kamu ya. Ini daftar nama- nama mahasiswa yang sudah memulai skripsinya, " ucap pak Rachman seraya memberikan daftar nama-nama mahasiswi yang membutuhkan dosen pembimbing untuk skripsi mereka.


"Oh iya, itu ada juga yang baru saja lulus penentuan judulnya, tapi insyaallah mereka pasti melanjutkan ke bab berikutnya asalkan kita sebagai dosen pembimbing memberikan motivasi dan semangat untuk anak didik kita," ucap pak Rachman seraya memberikan senyum semangatnya yang biasa ia berikan kala memulai kelasnya.


Vino hanya bisa terdiam kala sang profesor memberikannya sebuah tugas baru di awal dirinya memulai terjun ke dunia pendidikan.


"Hem ... Ini sih nambah nambahin kerjaan jadinya," gerutunya seraya menatap beberapa lembaran yang berisi nama-nama mahasiswa yang akan mengajukan skripsi.


Akhirnya pria itu memilih kembali ke kantor nya setelah ia melihat mobilnya telah kembali ke parkiran kampus melalui GPS yang terdapat di ponselnya.


"Gimana pasiennya, sudah di tangani oleh tim medis yang di sana, kan?" tanya Vino pada Sarah saat wanita itu menyerahkan kunci mobilnya Vino di parkiran.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong kamu kenal dengan mahasiswi yang tadi,?" tanya Vino yang baru teringat tentang mahasiswi yang di gendongnya tadi.


"Iya, pak. Saya kenal," jawab Sarah jujur.


"Tolong kamu hubungi keluarganya, ya?" kata Vino yang meminta tolong pada Sarah.


"I-iya pak. Pasti saya akan hubungi," jawab Sarah.


"Terima kasih," sahut Vino singkat.

__ADS_1


"Sama-sama, pak" jawab Sarah seraya menganggukkan kepalanya sekali sebagai tanda hormat pada dosen cabulnya yang telah menolong sahabatnya itu.


Lalu Vino masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah jalanan besar untuk kembali ke kantornya. Sembari mengemudikan mobilnya, pria itu menelpon Asisten rumah sakit agar membebaskan segala biaya kepada pasien yang datang menggunakan mobilnya tadi.


Sementara Sarah hanya menatap termangu melihat Dosennya itu masuk ke mobil dan berlalu meninggalkan dirinya di area parkiran. Dalam hatinya ia tak habis pikir tentang apa yang di lakukan oleh Mr. Chow alias pak Vino hari ini.


Satu sisi ia merasa salut akan apa yang di lakukan oleh dosen cabulnya itu. Tapi satu sisi lagi ia masih tak yakin akan kebaikan dan ketulusan dari lelaki itu.


"Semoga saja itu pria itu benar-benar tulus menolong mahasiswi cantik seperti karibnya itu tanpa ada embel-embel lain di kemudian hari" gumamnya seraya bergidik ngeri mengingat cerita dari karibnya itu bagaimana dosen cabulnya itu memperlakukan sahabatnya saat berada di atas ranjang.


Bagaimanapun Sarah takut jika suatu hari dosennya itu menyukai paras karibnya yang asli dan memintanya untuk menjadi partner sexnya setelah kontrak perjanjian ilegal *** pria itu selesai dengan karibnya yang menggunakan nama dan penampilan samaran.


"akh ... Mudah-mudahan ga kejadian. Iss amit-amit nauzubillah min dzalik" ucapnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan sesuatu yang mengerikan jika sampai terjadi.


Ia bergidik ngeri jika sampai sahabatnya itu jatuh kembali ke tangan orang yang salah. Setampan atau sekaya apapun pria jika sudah memiliki kebiasaan kasar jika menyangkut *** akan lebih baik di hindari saja dari pada harus berakhir di rumah sakit nantinya.


"puff...semoga saja apa yang kubayangkan tak sampai terjadi. Ya Tuhan selamatkan aku dan sahabatku kali ini dari pria seperti pak Vino" Sarah berdoa di hati.


Lalu ia berjalan menuju ruang klinik kampus untuk mengambil tasnya yang ketinggalan dan mengikuti satu mata kuliah lagi di hari ini.


Beberapa menit setelahnya ia segera keluar dan segera meninggalkan kampus untuk memberitahukan keadaannya sahabatnya itu sekaligus menjemput bunda dari sahabatnya itu. Meskipun sebenarnya ia merasa berat mengingat kondisi dari orang tua itu, tetapi akan lebih fatal lagi jika tak di beritahu karena takutnya sang bunda akan kepikiran tentang anaknya.


"Semoga saja bunda tidak shock saat aku mengajaknya untuk melihat kondisi putrinya" ucapnya sembari menyetir.


Tiga hari kemudian...


Ke chapter selanjutnya yok?

__ADS_1


****************


Readers...mohon dukungannya ya unt novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.


__ADS_2