Queenvin

Queenvin
kebohongan


__ADS_3

Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.


"Dari mana kalian?"


Suara seseorang dari wanita paruh baya mengagetkan Sarah, terlebih wanita yang berdiri di samping Sarah.


"Bunda" desis wanita itu seraya mematung di tempat nya.


"Sarah" panggil wanita paruh baya tersebut saat melihat Sarah yang sedang membopong seorang wanita yang berpakaian sexy.


Sementara Sarah hanya bisa menggigit bibir bawahnya lalu menoleh ke arah wanita yang di panggil Bunda oleh Karibnya dan juga dirinya.


"i..iya Bun. Ini Sarah" sahutnya gugup dan takut.


Keduanya takut terlebih wanita itu jika apa yang di lihat oleh Bundanya akan berdampak pada kesehatan bundanya.


"Itu siapa Sarah?" tanya sang bunda sembari berjalan mendekati keduanya.


Jantung keduanya pun semakin berdegup kencang saat sang bunda menanyakan soal siapa yang di lihatnya selain Sarah. Apa lagi sang bunda berjalan perlahan dari pintu kamarnya mendekati mereka berdua.


"Ini teman kami Bun. Dia mau numpang nginep di sini. Karena rumahnya jauh" ujar Sarah yang terpaksa berbohong pada sang bunda.


"Ohh..lalu anak saya mana?" tanyanya lagi yang tak melihat putrinya sedari tadi.


"engh..masih di luar Bun. nyari makanan untuk kita karena laper" jawab Sarah yang terpaksa berkilah kembali demi mengaman kan situasi saat ini.


Sedangkan sang bunda menatap curiga pada gadis yang berdiri di samping Sarah sembari menundukkan wajahnya. Ia melihat sosok tersebut seperti anak kandungnya sendiri. sang bunda pun mencoba memanggil anak nya yang bernama....


"Quini??"


Seketika itu juga pupil netra kedua wanita muda itu serentak melebar tatkala mendengar nama yang mereka sebutkan barusan oleh sang bunda. Sarah menelan kasar Salivanya saat sadar jika ia barusan saja berbohong pada bunda dari Karibnya itu.


"Quinita. Apakah itu kamu nak?"tanya sang bunda.

__ADS_1


Sarah semakin terkesiap. ia pun terpaksa membantah kembali meskipun di penuhi rasa gugup karena ketakutan jika ketahuan bohong.


"Bun..bunda. I..ini..bu..bukan....."


"Iya Bunda. Ini Quini" sela wanita itu cepat.


Lalu ia terpaksa mengangkat wajahnya secara perlahan. Bukan karena ia ingin menunjukkan wajahnya pada ibunya. tetapi di karenakan kepalanya yang semakin terasa berat di sebabkan karena sudah terlalu lama ia menahan nyeri di kepalanya akibat terlalu lama menunduk.


Sontak hal ini membuat sang bunda terkejut melihat penampilan putrinya malam ini yang jauh dari kata sopan dalam berpakaian. Ini bukanlah penampilan putrinya yang sehari-harinya ia lihat.


Sementara wanita yang di panggil Quini itu hanya bisa menatap sang bunda dengan pandangannya yang mulai terasa berkunang kunang di penglihatannya hingga akhirnya...


"Quini..Ta!!" pekik keduanya panik saat melihat tubuh yang di panggil namanya ambruk ke lantai.


"Aduh Ta..kamu kenapa?" ujar Sarah saat berusaha mengangkat tubuh temannya itu ke dalam kamar.


"Quini..kamu kenapa nak. kenapa bisa begini. Ini kenapa pakaiannya kamu seperti ini nak?"


Lalu keduanya membawa tubuhnya Quini ke atas ranjang. Lalu Sarah segera memeriksa kondisi Karibnya itu melalui stethoscope milik Quini yang tergantung rapi di atas meja belajarnya wanita itu.


"Dia kenapa Sarah?" tanya sang bunda saat melihat Sarah memeriksa kondisi putrinya yang masih memejamkan matanya.


Sarah sedikit lega saat mengecheck kondisi Karibnya itu tak terlalu parah kelihatannya. Yang di katakan Quini tadinya mungkin memang benar adanya jika karibnya ini sedang mengalami kram berat di perutnya akibat siklus haid yang akan di dapatnya.


"Cuma kram bun. Karena Quinita mau haid" jawab Sarah yang selesai memeriksa dan mengetahui gejala awal penyebab pingsan nya karibnya itu.


"lalu kenapa bisa pingsan?" tanya sang bunda panik.


"Tadi di mobil ia sempat muntah karena kata nya kepalanya pusing, bisa jadi di karenakan masuk angin Bun. Tadi kami memang sedikit telat makan" jawab Sarah se adanya saat mengingat bahwa mereka berdua baru melakukan sesi makan malam setelah lebih dari setengah jam ba'da isya.


"Ya Ampun Sarah. Quini itu ga boleh telat makan barang semenit pun. Lambungnya ga boleh terlalu lama kosong" ujar sang bunda khawatir kala ia teringat jika putrinya itu pernah memiliki riwayat sakit maag di masa kecilnya.


"Iya Bun. Maafkan saya kalau soal itu. Saya ga tau kalau Quinita ada riwayat dengan lambungnya yang bermasalah. Soalnya dia ga pernah cerita atau pun ngeluh sakit perut jika telat makan" sahut Sarah ketika ia teringat pernah keseringan telat makan saat mereka melakukan KKN di sebuah balai kesehatan di sebuah desa pada semester lalu.

__ADS_1


"ya sudah Sarah. Ga apa apa. Semoga Quini nya ga parah" ujar si bunda.


Sarah mengangguk seraya tersenyum. Lalu ia segera menggantikan baju Karibnya itu dengan piyama tidurnya yang tersedia di lemari Karibnya itu.


"oh ya ngomong-ngomong. Kenapa Quini pake baju yang begini. Terus dandanannya seperti ini?" tanya sang bunda tiba-tiba saat yang teringat akan penampilan putrinya itu.


Sontak hal ini membuat Sarah terkesiap saat mendengar pertanyaan dari bunda karibnya barusan.


Sarah menghela nafasnya sesaat sebelum memberikan jawaban yang tepat dan masuk akal pada sang bunda.


"mmm..Sebenarnya tadi Quini melakukan pekerjaan SPGnya bun" sahut Sarah yang seketika timbullah ide tersebut.


"SPG??" tanya sang bunda yang kurang paham apa yang di katakan Sarah.


"I.iya SPG Bun. Sales Promotion Girl Bun. Jadi itu tadi Quinita mendapatkan tawaran pekerjaan untuk memperkenalkan sebuah produk kosmetik pada pengunjung Mall. makanya dia harus di dandani seperti itu agar produknya lebih terlihat hasilnya bun".


Sarah terpaksa berbohong lagi demi menyelamatkan keduanya. Baik Quinita dan juga ibunya.


"Tapi pakaiannya kok begitu. Sexy sekali Sarah. Bunda ga suka lihatnya" ucap sang bunda.


"yah namanya juga yang nentuin perusahaan nya Bun. Bajunya juga dari mereka yang ngasih" ujar Sarah yang kembali berkilah untuk ke sekian kalinya.


"Lalu tadi kenapa bohong sama bunda?" tanya si bunda kembali.


"enghh..itu tadi terpaksa Bun. soalnya saya ga enak sama bunda karena baru bisa antar Quinita di jam segini. Soalnya tadi saya juga ada kerjaan tambahan Bun. Saya yang meminta Quini untuk menunggu saya buat nemenin" sahut Sarah kembali dengan kebohongannya.


"Oh ya Tuhan. cukup lah Bun. Pertanyaannya. Semakin banyak bunda bertanya, semakin banyak pula alasan yang harus aku siapkan untuk kebohongan selanjutnya" gumamnya di hati seraya berdoa agar bunda dari Karibnya itu tak lagi mencercanya dengan segudang pertanyaan yang harus membuat dirinya harus berbohong ke sekian kalinya.


Ke chapter selanjutnya yok?


****************


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.

__ADS_1


__ADS_2