
#hai readers. selamat menikmati episode kali ini ya. moga enjoy.
Vin??".pekik Qinita yang tidak terima akan kata katanya Vino barusan.
Apa lagi percekcokan mereka saat ini mulai mengundang perhatian orang orang yang berada di sekitar parkiran di karenakan ada sebagian tamu yang ingin pulang.
"kenapa?". kamu kaget ya?. karena aku tau kalau kamu ada di sini dan bisa berduaan sama mantan kamu itu. oh atau kalian berdua udah balikan lagi". ucap Vino sarkas.
"Vino cukup ya!". hardik Qini berang.
"fine. aku sudahi semuanya. mulai sekarang kita ga punya hubungan apa pun lagi'. ucap nya seraya berlalu dari hadapan Qini.
Vino membanting kasar pintu mobilnya lalu menstarter mobilnya dan meninggalkan Qini sendirian di parkiran di mana sebagian orang memperhatikan mereka berdua serta pastilah menimbulkan pertanyaan di masing masing orang.
sepeninggalnya Vino, Qini menundukkan pandangannya setelah menyadari jika pertengkaran mereka tadinya telah mengundang perhatian sebagian orang yang berada di parkiran yang tadinya sepi.
wanita itu langsung menyembunyikan diri nya di dalam mobil dan bergegas pergi dari sana. selama dalam perjalanan ia memikirkan tentang kejadian yang mengundang perhatian orang hingga timbul pertanyaan bagaimana Vino bisa tau jika ia berada di kediaman keluarga besarnya Devan malam ini.
bukankah ia tidak menceritakan pada siapa pun mengenai keberadaannya malam ini, mengingat Vino masih berada di Singapura.
lalu dari mana Vino tau jika ia berada di sini.
Seketika itu juga ia teringat pada Chandra yang ia mintai tukar jadwal shift piketnya hari ini.
"apakah Chandra yang memberitahu kan pada Vino mengenai keberadaannya malam ini?". tanyanya di hati.
Qini belum berani menuduh pada temannya yang sudah mau menolong dirinya hari ini. ia akhirnya memilih berkonsentrasi di jalanan meskipun sulit ia lakukan karena masih memikirkan Vino yang pastinya ngebut di jalanan jika mengingat bagaimana tadinya ia melihat cara Vino mengendarai mobilnya.
Setibanya di rumah, Qini mencoba lagi untuk menghubungi kembali nomor Vino meskipun tunangannya itu sengaja me reject nomornya.
__ADS_1
lalu netranya melirik ke sebuah pesan masuk berasal dari Chandra. Qini membuka pesan yang telah di kirim oleh Chandra sedari sore.
yang mengatakan jika Vino akan menyusul ke kota di mana Qini berada. sontak hal tersebut membuat dirinya kaget setengah mati dan mengutuk kebodohannya akan mempercaya kan tentang Devan pada Chandra yang terkadang tak bisa menyimpan rahasia.
Qini teringat jika dari Chandra jugalah yang memberitahukan pada Devan tentang alamat rumahnya yang di sini.
"iss..ini si Chandra selalu saja berawal dari mulutnya yang ga bisa diem". sungutnya di hati.
ke esokan harinya
Qini kembali bekerja seperti biasa meskipun ia masih menunggu telpon atau pun balasan pesan dari Vino. Qini tau jika kata maaf saja memang tak cukup untuk meredakan emosi pria itu. ia menyadari kesalahannya yang tak memberitahukan keberadaan dirinya pada Vino.
"eemm..Qin. gimana pertemuan kalian semalam?. seru??". tanya Chandra polos.
Qini melirik Chandra sekilas dengan wajah kesal lalu berlalu tanpa mau memberikan jawaban atas pertanyaan konyol Chandra. sedangkan Chandra hanya menatap heran pada Qini.
Hari berlalu dengan sendirinya tanpa Vino yang mau menghubungi diri nya kembali atau pun sekedar mengangkat serta membalas pesannya. Vino kembali ke Singapura dalam keadaan marah di hari itu.
apa yang di katakan Vino malam itu mutlak adalah keputusan yang harus ia terima bulat bulat. bukan hanya itu saja bahkan mamanya Vino pun seperti menerima begitu saja keputusan dari Vino.
Hingga akhirnya mereka berdua berhenti berkomunikasi di karenakan kesibukannya masing masing, terkadang wanita itu lalai dengan kehadirannya Devan meskipun mantan pasangan kekasih itu sering berdebat karena Vino.
**
Di ruang kantor pribadinya Vino. pria itu menanyakan mengenai alasan kebohongan yang di buat karibnya itu pagi ini.
"katakan padaku Fadil. kenapa kamu harus mengajak Qini dalam proyek kita terlebih lagi gedung yang akan kita gunakan adalah milik keluarganya Devan?!".
"kamu itu sama aja membohongiku selama ini kan?!
__ADS_1
Fadil tersenyum kecil sesaat lalu mencoba memberi penjelasan mengenai kehadiran nya Qini dalam proyek mereka.
"aku ga berniat membohongi kamu kok. lagian dari awal kita kan ga ada perjanjian soal siapa saja boleh berinvestasi asalkan itu menguntungkan buat kita nantinya dan juga proyek ini secepatnya bisa berjalan lancar tanpa ada kendala apapun baik itu gedungnya atau pun dananya".
"lagian itu gedung juga bukan sepenuhnya milik Devan kok tapi masih milik papanya Devan. Qini di mintai oleh papanya Devan untuk menggunakan satu gedung yang terbengkalai untuk di jadikan tempat usaha pelayanan kesehatan". tukas Fadil menjelas kan saat Chandra memberi tahukan jika Devan dan papanya berniat memberikan sebuah gedung untuk di kelola oleh timnya tempo hari.
"hah". cibir Vino sinis.
"lagian kenapa sih harus di jadikan musuh segala itu mantanmu. kan dia teman dekat kita juga dulunya. yang lalu biarlah berlalu Vin. kita bersikap profesional aja sekarang. okey?".ujar Fadil mengingatkan hubungan persahabatan mereka dulunya.
"apa kamu sangat mencintai dia? hingga sampai segitunya kamu membencinya?". tanya Fadil yang penasaran akan perasaan karibnya itu pada Qini.
Vino hanya diam menanggapi pertanyaan serta penjelasan Fadil tentang hubungan mereka dulunya. mungkin mudah karibnya itu memaafkan seseorang yang telah di beri kepercayaan serta perhatian lalu berkhianat serta berbohong padanya.
tapi tidak bagi seorang pria seperti dirinya yang memiliki rasa kesal saat selalu di anggap remeh oleh orang yang memiliki latar belakang keluarga hebat seperti Devan. apa lagi yang berkhianat itu adalah tunangannya sendiri yang telah ia beri rasa sayang dan juga perhatian melebihi dari mamanya sendiri yang selalu ia tinggal pergi jika ia merindukan Qini.
tapi nyatanya bukan rasa senang yang ia dapatkan atas perhatiannya melainkan rasa sakit akibat ketidakjujuran wanita itu padanya. sehingga di malam kejadian itu dia benar benar lupa akan dirinya karena larut dalam kekesalan.
Vino memilih menghabiskan malam bersama para jomblo nakal seperti Fadil dan temannya yang lain di sebuah club yang sering teman temannya itu singgahi. Vino kehilangan kendali akan dirinya saat pertama kali ia mengecap minuman beralkohol dengan kadar yang lumayan tinggi bagi seorang pemula.
Walaupun Fadil berulang kali mengingatkan tentang efek dari yang ia lakukan, akan tetapi tetap saja Vino tak perduli rasa kesal dan juga amarah telah membuat dirinya melakukan sesuatu yang baginya menantang hingga akhirnya ia pun ketagihan dalam suasana malam yang sering di kecap Fadil dan teman temannya.
Pada akhirnya tanpa di sadari jika Vino telah berubah menjadi seseorang yang dingin pada wanita. pandangannya kini terhadap wanita tak lebih hanya sebagai pelampiasan semata, semenjak ia di tantang tidur dengan seorang wanita yang di bayar oleh teman temannya yang lain hanya untuk membuktikan jika dirinya pria tulen lantaran saat berhubungan dengan Qini di Ketahui oleh teman temannya jika Vino tak pernah sekali pun menyentuh Qini.
semenjak itulah Vino ketagihan untuk mencicipi rasanya wanita. ia akan bercinta dengan satu wanita dengan wanita yang lain.
Yok ke next chapter
****************
__ADS_1
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.