
hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.
Di sebuah ruang kampus Nita dan Sarah bersiap untuk pulang setelah mereka menyelesaikan mata kuliah utama mereka hari ini. Sarah yang teringat akan pertanyaan Fadil tadi pagi mencoba bertanya kepada karibnya mengenai semalam.
"Ta. apa semalam kamu langsung pulang ya?", tanya Sarah.
Wanita yang di panggil oleh karibnya itu menoleh ke arah Sarah lalu menjawab singkat sambil menundukkan pandangannya.
"kenapa bisa Begitu Ta?", tanya Sarah kembali
"karena Mr. Chow sudah tertidur pulas. jadi ku pikir aku tak perlu melayaninya tadi malam. lalu aku berinisiatif untuk pulang saja karena hari ini aku harus beberes rumah Sar. karena bunda akan di pulangkan dari rumah sakit hati ini", ungkap wanita itu dengan jelas.
"oh ya??!", seru Sarah senang.
wanita itu menanggapinya dengan senyuman dan anggukan kecilnya.
"wah boleh ni kita jemput bareng si bunda dari rumah sakit", cetus Sarah sumringah.
"boleh", sahut wanita itu singkat.
"ayok", ajak Sarah sembari tersenyum senang.
lalu keduanya menaiki mobil Sarah menuju rumah sakit di mana bundanya di rawat sesampainya di rumah sakit. mereka berdua di kejutkan dengan beberapa para tenaga medis yang berlarian ke arah ruangan di mana bundanya di rawat.
kedua perempuan itu merasa heran dengan apa yang terjadi di depan matanya.
"Ta". Sarah memanggil karibnya itu heran.
sementara wanita itu bergegas masuk menuju ruangan di mana ibunda nya di rawat.
"bunda", pekiknya saat melihat bundanya sedang di tangani oleh seorang dokter yang mencoba membuat detakan pada jantung bundanya.
Ia melihat layar monitor yang menunjukkan hasil garis yang bergerak secara horizontal tanpa ada sedikitpun garis yang bergerak secara vertikal pada mesin EKG bundanya.
__ADS_1
"apa yang terjadi suster?", tanyanya pada seorang perawat yang baru saja lewat di depannya.
"Belum tau mbak. soalnya masih di tangani oleh Dokter nya. tolong si mbaknya keluar dulu ya", titah perawat tersebut dengan sopan meskipun situasi terlihat panik.
Saat di luar ruangan Sarah menghampiri karib nya dan bertanya mengenai apa yang terjadi pada bunda karibnya ini. wanita itu hanya bisa menggeleng pelan dalam kekhawatirannya.
"yang sabar ya Ta?". ucap Sarah seraya mengelus punggung sahabatnya itu.
"aku takut Sarah". jawabnya yang mulai terisak.
"iya. aku ngerti. tapi ini kan bukan pertama kalinya bunda begini. kita doakan aja semoga bunda bisa melewati masa kritisnya seperti biasanya. iya kan?,". ujar Sarah menenangkan karibnya itu.
wanita itu menoleh ke arah Sarah lalu membenarkan pernyataan Sarah dengan mengangguk pelan.
tak lama kemudian seorang Dokter keluar di temani oleh seorang perawat dari ruangan itu. kedua wanita yang memang menunggu saat saat seperti ini segera menghampiri sang Dokter untuk menanyakan keadaan bundanya
"kita ngobrol di ruangan saya aja ya?", ucap Dokter tersebut.
"i..iya Dok", sahutnya.
"iya. biar aku yang lihat bunda", Sahut Sarah.
Di salah satu ruang praktek dari seorang Dokter bedah jantung yang menangani para pasien di ruang intensif khusus sedang menjelaskan lebih rinci tentang penyakit dari ibunya wanita itu yang mulai memburuk jika tidak segera di lakukan transplantasi.
"saya harap anda bisa mengambil keputusan segera dalam minggu ini mengingat sudah lama pihak rumah sakit telah memasukkan ibu anda dalam daftar antrian tranplantasi jantung dan telah menemukan jantung pendonor yang cocok untuk ibu anda. ini kesempatan bagus karena jarang sekali pasien bisa bertahan hingga ketemu sama pendonor yang cocok untuknya", ujar Dokter tersebut menjelaskan panjang lebar.
"kalau begitu lakukan apa yang terbaik Dok saya akan berusaha untuk mencari biayanya". ucap wanita tersebut seakan mendapatkan pencerahan akan penyakit ibunya yang selama ini di deritanya.
"baiklah. kita akan lakukan pemeriksaan sebelum melakukan operasinya besok malam". ucap sang Dokter.
Akhirnya wanita itu merasa sedikit lega kala mendapatkan berita jika ibunya mendapatkan donor jantung yang cocok. meskipun ia tau jika melakukan operasi tranplantasi tidaklah murah tetapi itu tak jadi soal baginya saat ini ia akan melakukan apa pun demi bisa menyelamatkan nyawa ibundanya yang tercinta.
"jadi bunda kamu akan di operasi besok?". tanya Sarah memastikan saat wanita itu memberitahukan kondisi ibunya.
__ADS_1
"ya udah kita doakan aja semoga bunda kamu bisa lancar operasi nya Ta", ucap Sarah yang turut mendoakan karibnya itu.
"oiya. ngomong ngomong soal dananya gimana?. apa kamu udah mempersiapkan semuanya?".tanya Sarah ragu.
"soalnya kita berdua kan baru bayar uang semester beserta praktek dan ***** bengek yang lainnya", ungkap Sarah yang teringat tentang kondisi keuangan mereka yang baru saja di keluarkan untuk membayar segala kebutuhan mereka yang mungkin mencekik leher bagi seorang mahasiswi yang hanya mengandalkan uang gaji UMR orang tuanya.
wanita itu hanya tersenyum miris saat teringat kondisi keuangannya yang memang cukup untuk membayar tagihan rumah sakit atas perawatan ibunya saja. tetapi tidak termasuk operasinya yang mungkin akan memakan biaya ratusan juta di karenakan ia harus menanggung uang asuransi untuk keluarga yang mendonorkan jantung untuk ibunya.
"tapi kamu ga usah khawatir soal itu ya?. aku akan berusaha untuk bantuin kamu kok. kamu tenang aja okey?", ucap Sarah untuk menyemangati karib nya itu.
"Apa kamu masih punya uang Sar?", tanya wanita itu heran karena ucapan Sarah barusan.
"yah lumayanlah untuk di jadikan DP Rumah sakit nya", jawab Sarah seraya mengedipkan sebelah matanya.
ke esokan harinya
saat wanita yang masih berstatus sebagai mahasiswi itu tengah bersiap menemani sang bunda memasuki ruang operasi tiba tiba ponselnya bergetar di saku celananya. pupil netranya melebar saat melihat sebuah nomor dari tuannya tertera di panggilan masuk.
"ya Tuhan ini orang. kenapa harus malam ini sih. kenapa dia ga keluar negeri aja barang seminggu kek, sebulan kek kalau perlu setahun biar selesai kontrak kerja ku sama dia". gerutunya di hati.
Sarah yang baru saja tiba dengan berkas administrasi di tangan nya merasa heran akan sikap karib nya yang tiba tiba berubah tegang tersebut.
"hei Ta. kenapa?", tegur Sarah seraya menepuk pelan pundak karibnya itu.
"ahh..eng.. enggak..ga pa..pa", sahutnya gugup sembari tersenyum kecut.
"rileks say. yang penting kamunya berdoa aja untuk bunda saat ini agar operasinya lancar", ucap Sarah.
wanita itu pun hanya mengangguk kan kepalanya. lalu membiarkannya ponsel tersebut hingga panggilan masuk dari Mr. Chow berakhir dengan sendirinya. di saat itulah ia berkesempatan untuk memblokir nomor tuannya itu sejenak hingga operasi sang bunda selesai dan Sarah pun bisa pulang segera.
bagaimanapun ia pribadi juga tak ingin merepotkan karibnya yang satu ini. yang telah banyak menolong dirinya dalam hal finansial apa lagi barusan saja Sarah telah menguras sebagian banyak tabungannya hanya untuk membantu dirinya membayar di muka biaya operasi ibundanya.
ke chapter selanjutnya ya??
__ADS_1
****************
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.