Queenvin

Queenvin
bujukan Devan


__ADS_3

hai readers. I am coming back. happy reading ya?


"Baiklah. tetapi ini belum selesai Qin. aku akan memperjuangkan kamu lagi". ucapnya tegas dan terdengar ego seraya menstarter mobilnya.


Qini hanya diam membisu. ia berharap Devan segera memulangkan dirinya kembali ke rumah sakit dengan segera.


Devan memang membawa dirinya kembali pulang ke rumah sakit. setibanya di rumah sakit ia memang langsung menjumpai Vino dan langsung di antar pulang oleh Vino saat itu juga. meskipun Qini merasa jika ada yang berubah dari sikap Vino malam ini, tapi ia mencoba berfikir positif dan mempercayai ucapan Vino malam ini.


Vino kembali ke apartemennya, sedangkan Qini memilih masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. sebuah pesan masuk dari nomor tak di ketahui tertera di ponselnya. Qini membaca pesan tersebut dan


netranya terbelalak lebar saat menyadari jika yang mengirimi pesan tersebut adalah Devan.


"ya Tuhan...ini manusia..kenapa selalu saja menjadi penghalang untuk aku bahagia". gerutunya saat membaca pesan dari Devan.


Qini mengintip dari gorden jendela rumah nya hanya ingin memastikan apa yang di katakan oleh Devan itu benar atau tidak jika pria itu kini ada di depan rumahnya.


"ohh sial. benar benar sialan. ngapain sih tu orang ada di sini". gerutunya kesal.


suara dering telpon menyudahi kegiatannya mengintip pria itu yang berdiri menyenderkan tubuhnya pada mobil yang tadi di tumpangi nya. Qini tak menggubris dering ponsel yang sedang berbunyi tersebut. ia lebih memilih mematikan ponselnya dari pada harus meladeni pria yang tak memiliki perasaan itu.


sementara Devan berulang kali mencoba menghubungi nomor ponselnya Qini yang ia dapatkan dari salah satu perawat yang bekerjasama dengan Qini selama ini. ia berharap wanita itu keluar dari rumahnya untuk menemui dirinya.


Entah yang ke berapa kalinya ia mencoba menelpon ulang dan berharap ponselnya Qini dalam mode aktif. tapi nyatanya wanita itu benar benar mematikan ponselnya saat ini.


hingga akhirnya ia mengetikkan pesan pada wanita itu. jika besok ia akan kembali lagi menemuinya.


Dan benar saja Devan kembali lagi menemui dirinya serta seperti tau saja jadwal kerjanya Qini.

__ADS_1


"kamu ngikutin aku??!". tuduhnya pada pria itu.


Qini merasa kesal lantaran seharusnya pria ini tak perlu mengikuti dirinya hingga ke rumah sakit di mana ia masih terikat kontrak kerja seraya ia mengambil jadwal belajar praktek spesialisnya.


Devan menanggapi tuduhannya Qini dengan senyum manisnya meskipun semua yang di tuduhkan wanita ini tidaklah seratus persen benar.


pria itu sebenarnya mencari cara untuk membujuk Qini dengan membeli makanan kesukaannya Qini di sebuah restoran yang letaknya berada di depan rumah sakit di mana Qini bekerja sebagai dokter umum di bagian instalasi darurat dari rumah sakit tersebut.


mungkin karena ruangan tersebut terletak di bagian depan rumah sakit di mana terkadang para tenaga medis suka berdiri di depan teras dari ruangan tersebut hanya sekedar mencuci mata atau merefresh otak seraya melirik ke jalan raya atau sekedar mengintip dari seberang jalan menu restoran yang menjadi andalan untuk akhir Minggu ini di sebuah papan promosi yang memang sengaja di letakkan di pinggir jalan untuk menarik minat pelanggan dan pengunjung restoran.


Di saat itulah Devan melihat Qini di antara para tenaga medis yang tengah melakukan apa pun yang mereka suka di saat senggang tiba jika pasien darurat tak ada.


Tentu saja hal ini tak di sia siakan Devan dan segera menghampiri wanita itu saat ia tau jika Qini telah selesai bekerja hari ini.


"jawab!?". ucap Qini bernada ketus


Qini hanya melirik sinis lalu masuk ke mobil nya di ikuti Devan yang membuka pintu mobil nya Qini dan meletakkan makanan tersebut di samping Qini.


"di makan ya Sayang. jangan enggak". ucap nya seraya tersenyum lalu menutup pintu mobilnya Qini kembali.


jika bukan di karenakan harus kembali ke kantornya bisa jadi ia ikutan nekat masuk ke mobilnya Qini dan membawa wanita itu ke tempat yang hanya mereka berdua saja yang tau.


Qini menanggapi dengan lirikan kecil pada bungkusan makanan tersebut lalu segera pergi dari hadapannya Devan.


beberapa hari kemudian, lelaki itu nekat mendatangi Qini ke rumahnya dengan alasan yang sama membawakan makanan kesukaan Qini kembali. Qini pikir hanya sekedar datang membujuknya dengan makanan agar mau kembali lagi padanya.


ternyata Devan meminta dirinya untuk menemani pria itu ke sebuah acara keluarganya yang berada di luar kota. awalnya Qini memang menolaknya lantaran ia malas berurusan kembali dengan Devan.

__ADS_1


tetapi karena papanya Devan sendiri lah yang memintanya datang akhir nya wanita itu tidak bisa menolak jika sudah menyangkut pria yang sudah di anggap nya papa sendiri saat dulunya ia masih bersama dengan Devan.


Akhirnya Qini datang ke acara keluarganya Devan dengan mengendarai mobilnya sendiri.


sama seperti dulu waktu masih bersama pria itu. Qini di sambut baik oleh papanya dan juga keluarganya. selama dalam acara Qini banyak berbaur dengan keluarga besar papanya, itu di karenakan mereka baru ini melihat Qini kembali setelah sekian lama Devan bertugas ke luar negri untuk waktu yang lama.


Hingga di akhir akhir acara barulah Devan memiliki kesempatan untuk berduaan dengan wanita pertamanya itu di taman belakang di pinggiran kolam renang. Devan sengaja mengajak Qini duduk berduaan seperti ini agar suasana syahdu dan romantis bisa hadir kembali di antara mereka. paling tidak wanita itu bisa merasakan kembali kenangan kenangan manis mereka saat berada di rumah ini.


"jadi kamu ga pernah cerita sama mereka kalau kita udah lama putus dan aku udah bertunangan bahkan sebentar lagi mau menikah dengan orang lain". ujar Qini menanyakan rasa penasarannya akan sikap keluarga besarnya yang selalu menanyakan kapan rencana menikah dengan Devan.


"ga. ga pernah sekalipun dan ga berniat untuk memberitahukan pada mereka tentang nasib hubungan kita saat ini". jawab Devan santai.


"kenapa?. bukankah itu akan mempersulit kita nantinya".


Devan mengernyitkan dahinya lalu menatap wajah cantik yang berada di sampingnya.


"aku ga merasa di persulit kok dengan hubungan ini. karena aku masih merasa masih memiliki kamu". sahut Devan seraya menatap Qini secara intens.


sementara Qini terpaksa membuang wajah ke arah lain saat mengetahui Devan menatap dirinya sedemikian rupa. bukan karena ia tak suka di tatap oleh pria yang memiliki sorot mata elang tersebut. hanya saja ia tak mau terlihat kikuk karena tatapan Devan saat ini.


sedangkan Devan masih betah menatap Qini yang tengah berusaha menutupi sikapnya yang canggung karena aksinya barusan.


"kamu masih memiliki rasa cinta untuk aku kan?".


Yok ke next chapter


...****************...

__ADS_1


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.


__ADS_2