
Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.
Saat Sarah melihat Quini meletakkan mangkok buburnya di atas nampan yang berada di sampingnya, lalu meminum air putih hangat hingga habis. Quini langsung mengelap mulutnya setelah gelas bening tersebut ia letakkan di samping bubur yang bersisa banyak.
Ia merasa heran melihat Quini membiarkan makanan kesukaannya yang sengaja bundanya masak untuk Quini agar karibnya itu bisa berselera makan, setelah semalaman Quini mengeluarkan isi perutnya.
"loh kok udahan Ta?. Di makan lagi kenapa buburnya. Masa cuma tiga sendok," protes Sarah saat Quinita tak menghabiskan makanannya yang masih banyak sisa tersebut.
"Udah cukup Sar. Lagian ini bukan bubur ayam kan, tapi bubur udang, aku ga suka di campur dengan bubur ginian," jawab Quinita yang mulai eneg saat melihat udang yang nongol di antara nasi yang sudah di lembek kan tersebut.
"Kok ga suka sih. Padahal udang kan enak juga Ta. Lebih banyak gizinya malah," ucap Sarah saat melirik sejumlah udang yang berukuran sedang yang sengaja ia kupas kulitnya agar mudah Quinita memakannya.
"Enggak Sar," tolak Quini seraya bangun dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"hem ... ya udahlah," gumam Sarah seraya membawa nampan ke dapur setelah Quini menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sementara di dalam kamar mandi Quinita merasakan perih pada perutnya yang sedari tadi sejak ia bangun dari tidurnya. Rasa kram kembali datang membelit kuat perutnya saat ini.
Quini meringis kesakitan menahan kram yang tiba-tiba muncul, apalagi di tambah rasa perih yang seperti mengikis dinding rahimnya. ia mencoba menuntaskan hajatnya untuk meredakan rasa mulas yang mendera.
Setelah di rasa lega barulah ia mandi karena merasa dirinya belum begitu bersih dari sisa-sisa percintaan dengan tuannya semalam.
Meskipun tubuhnya merasakan hawa dingin yang menyelinap di dalam kulit putih mulusnya, tetapi ia tetap melanjutkan niatnya untuk mensucikan dirinya meskipun ia tau bahwa apa yang di lakukannya tak akan pernah di maafkan oleh Tuhannya selama ia terus hidup dalam gelimang dosa.
Ia mandi dengan niat doa untuk mensucikan tubuhnya meskipun ia tau apa yang di lakukannya semalam adalah jauh dari kata Suci. Ia berniat seraya mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari gayung yang di tampungnya pada keran PDAM.
"Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari fardhol lillaahi ta'aala. Artinya: Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardhu karena Allah".
__ADS_1
"Ya Rabbi maafkanlah hambaMu ini yang selalu saja melakukan perbuatan yang Engkau benci. Berilah aku kesempatan untuk bisa bertaubat nanti," ucapnya di hati seraya terus mengguyur tubuhnya dengan air dingin meskipun tubuhnya mulai menggigil.
Selang beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan melangkah ke lemari untuk memakai setelan yang rapi dan sopan seperti biasanya saat ia mengikuti jadwal kuliah.
"Ta," panggil Sarah saat melihat karibnya itu menggunakan pakaian rapi seperti hendak berangkat ke kampus.
"Mau kemana?" tanya Sarah heran.
"Ya ke kampus lah. Kan hari ini ada jadwal mata kuliah. Masa kamu lupa Sar?" jawab Quinita dengan nada lemah.
"Iya memang, tapi kamu kan lagi sakit. Ngapain maksain diri buat datang sih. Aku kan bisa bilang ke dosennya kalau kamu lagi sakit hari ini, Ta," ujar Sarah yang keberatan jika Karibnya itu harus hadir di kampus lantaran masih terlihat sakit.
"Ga apa-apa Sarah. Aku udah cukup kuat kok. Sayang aja kalau aku bolos hari ini dan ga full ilmunya, apalagi dosen yang satu ini mengambil nilai kita dari presentasi kehadiran juga selain hasil ujian," jawab Quini seraya tersenyum meskipun rasa nyeri masih mendera di perut nya.
Akan tetapi ia harus bertahan demi kuliahnya yang tinggal sedikit lagi. Lagi pula mata kuliah hari ini adalah mata kuliah utama di semester ini. Jadi Bagaimanapun ia harus tetap semangat menjalaninya meskipun dalam keadaan sakit.
"Kamu yakin Ta?" tanya Sarah memastikan.
"Ya udah aku tanya bunda dulu. Kamu di ijinkan sama bunda apa enggak untuk ke kampus hari ini" ujar Sarah yang hendak melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya Dyah.
Akan tetapi baru juga selangkah ia berjalan Quini sudah mencegah Karibnya itu dengan menarik lengannya sambil berkata,
"Jangan Sarah"
Sarah langsung menoleh ke arah Quini seraya mengernyitkan dahinya dan bertanya,
" kenapa Ta?"
__ADS_1
"Ga perlu minta ijin sama bunda, kamu cukup meyakinkan bundaku aja dengan mengatakan kalau aku udah sehat. Jadi akunya bisa kuliah hari ini" ucap Quini meminta tolong pada Karibnya itu agar mau menolongnya dengan saran darinya.
"Kamu ini ya Ta. Paling bisa deh menyembunyikan fakta, apa lagi sama orang tua," omel Sarah yang kurang setuju soal ide dari Karibnya itu.
"Ayoklah Sarah. Tolong aku kali ini ya" ujar Quini seraya merengek.
Sarah bergeming seraya menghela nafasnya lalu bergumam sembari menganggukkan kepalanya pelan.
"Makasih Sarah, kamu emang temenku yang Ter the best deh," ucap Quini dengan kata-kata manisnya untuk merayu dan memuji Karibnya itu.
Sarah menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya, lalu Sarah menemui Dyah untuk berpamitan pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu untuk meminta ijin agar Quini ikut dengannya ke kampus hari ini, walaupun awalnya Sarah sedikit sulit mendapatkan ijin dari bundanya Quini itu.
Akan tetapi karena Quinita yang memintanya sendiri serta menunjukkan semangat di wajahnya yang masih terlihat sedikit pucat itu, akhirnya Dyah pun mengijinkan putrinya itu berkuliah hari ini.
"Ya sudah, hati-hati. Tolong jaga Quini ya nak Sarah," pinta sang Bunda.
"Iya, bun" sahut Sarah.
Keduanya pun berpamitan dengan mencium telapak tangannya Dyah sebelum masuk ke mobilnya Sarah.
Sementara Dyah menunggu mobilnya Sarah keluar dari halaman rumah kontrakannya. Di mana Quini juga ada di dalamnya, lantaran putrinya itu nekat tetap pergi kuliah meskipun sudah di larang olehnya, dikarenakan putrinya itu baru keluar dari rumah sakit kemarin sore.
"Semoga Quini ga apa-apa di kampusnya" doanya di hati.
Dyah pun kembali masuk ke rumah untuk memasakkan sesuatu untuk Quini di siang hari nantinya. Walaupun ia selalu di larang oleh putrinya itu untuk bekerja di dapur tapi ia tetap melakukan rutinitas tersebut. sebab ia sudah lama tak memasakkan sesuatu yang lezat untuk putrinya yang telah bekerja keras selama ini demi memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.
Ke chapter selanjutnya yok?
__ADS_1
****************
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.