Queenvin

Queenvin
Quini pingsan


__ADS_3

Hallo readers.. selamat menikmati episode ini ya. moga enjoy.


"Sarah, aku ga apa-apa", bantah Quini sambil membuka safebeltnya kembali.


"Ayok kita masuk sekarang," ajaknya pada Sarah seraya membuka pintu mobil bersiap- siap hendak turun dari mobilnya Sarah.


Saat ia mengeluarkan satu kaki kirinya dan bertumpu di lantai parkir dengan tubuh yang masih berada di dalam mobil, ia di cegah oleh Sarah dengan menahan lengan kanannya.


"Ta, nanti kamu kayak kemaren lagi lho," ucap Sarah mengingatkan kondisinya Quini pada saat berada di toilet.


"kan cuma itu doang, selebihnya aku kan bisa tahan. Lagian aku bawa obatnya kok," bantah Quini kembali lalu keluar dari mobilnya Sarah.


Sarah yang melihat Karibnya itu keluar dari mobilnya pun ikut keluar dari mobilnya dan segera mengunci pintu mobilnya saat melihat karibnya itu sudah bersiap-siap melangkah meninggalkan parkiran.


" Kamu tuh ya. Bandel banget sih, Quin" celetuk Sarah sewot yang tergesa-gesa melangkah untuk menyamai langkahnya Quini agar bisa beriringan.


Sementara Quinita tersenyum simpul sambil menahan rasa nyeri di kepalanya. Terserah ia mau di marahi oleh Sarah saat ini. Yang terpenting untuk hari ini ia bisa mengikuti mata kuliah yang sedikit nilainya yang ia dapat saat semester ganjil yang lalu.


Akhirnya Sarah mengikuti kemauan Karibnya itu untuk mengikuti mata kuliah yang di ajari oleh dosen baru mereka. Mereka berdua berjalan menuju ruang kuliah umum di mana seluruh mahasiswa yang akan mengikuti kajian dari dosen terganteng saat ini telah antusias menunggu di sana.


Tetapi belum pun mereka sampai di ruang tersebut. Tiba-tiba Quini harus menghentikan langkahnya saat itu juga lantaran ia merasa pandangannya mulai berkunang-kunang, belum lagi seperti ada Palu yang menghantam kepalanya yang sebenarnya sudah ia rasakan nyerinya sedari tadi. Hanya saja sekarang ini nyerinya itu lebih terasa.


Quini tertinggal beberapa langkah dari Sarah yang sedang memainkan ponselnya di karena kan sedang sibuk membaca pesan masuk di grup se-angkatan kuliahnya yang berkeluh kesah tentang judul skripsi yang di tolak bahkan harus ada yang di ganti.


"Sarah," panggil Quini pelan seraya melihat punggung Karibnya yang terus menjauh.


"Sarah," panggilnya sekali lagi dengan nada yang semakin melemah sehingga siapapun yang berada paling dekat dengannya pun tak bisa mendengarnya.


Quini yang tak sanggup berdiri lagi di karena kan pandangannya yang semakin rabun dan mulai menggelap. Hingga akhirnya ia pun menyerah pasrah atas apa yang terjadi dengan tubuhnya nanti, sehingga tanpa sadar ia pun jatuh pingsan di mana ia berdiri saat ini juga.

__ADS_1


Tetapi belum sempat tubuh Quini menyentuh ke lantai koridor kampus, sebuah tangan kekar menahan tubuhnya dan langsung membawa tubuh kurus itu ke gendongan seorang pria yang paling ganteng menurut mahasiswa di kampus itu.


Sementara Sarah yang baru saja tersadar jika Quini tak lagi berada di sampingnya itu berhenti seketika. Ia pun segera menoleh pandangannya ke segala arah untuk mengetahui keberadaan sang sahabat.


Saat itulah netranya terpaku pada sebuah pemandangan aneh tapi manis yang ada di depannya. Di mana kini karibnya itu berada di dalam gendongan seorang dosen ganteng alias partner sexnya Quini.


"Ta," desisnya heran sembari mendekati Dosen yang kini sedang di dielu-elukan oleh para mahasiswi yang ada di sekitar mereka.


"Ya Ampun ... Ganteng buanget sih,"


"Ya Allah ... Ya Tuhanku. Maulah aku yang ada di dalam gendongannya si ganteng,"


"Ya Tuhan mana saja ... Di jodohkan dengan pak Vino aku mau ajalah,"


"Oh ... Pak Vinoku sayang. Aku jadi cemburu karena aku padamu bapak,"


Begitulah celetukan-celetukan dari para mahasiswi dari tingkat pertama hingga tingkat akhir seperti dirinya yang tengah kesengsem dengan dosen baru mereka.


Sarah hanya bergeming menatap dalam diam atas apa yang di lakukan Mr.Chow pada sahabatnya itu.


Sedangkan pria yang di sebut-sebutkan namanya oleh para mahasiswi itu tak ambil pusing dengan tingkah laku dan celetuk- celetukan para mahasiswinya itu. Ia lebih fokus ke pada seorang gadis yang baru saja terjatuh di depannya dan membawanya ke sebuah ruang klinik di kampus tersebut.


Sementara Sarah yang melihat karibnya itu di bawa oleh dosen cabulnya bergegas melangkah selebar dan secepat mungkin agar bisa menyamai langkah sang dosen.


"Mister, eh salah," ucapnya yang hampir salah menyebutkan nama Dosennya itu yang tidak pada tempatnya.


Sarah pun segera meralat ulang panggilan terhadap dosennya itu.


"Pak Vino," teriaknya saat dosennya itu hampir mencapai ruang di mana di jadikan sebagai tempat pertolongan pertama untuk para mahasiswi yang mengalami kecelakaan kecil.

__ADS_1


Sementara Vino terpaksa mendobrak pintu yang tertutup itu dengan kakinya. Lantaran kedua tangannya tak bebas bergerak di karenakan seorang gadis yang berada dalam gendongannya saat ini. Suasana di ruangan itu tampak sepi dari aktivitas tim klinis yang bertugas piket di hari ini.


Mungkin dikarenakan belum ada yang membutuhkan pertolongan medis, sehingga mereka yang bertugas jaga memilih menghabiskan waktunya di kantin dekat dengan ruangan ini.


Vino langsung mencari alat medis sebagai penunjang pertolongan pertama untuk gadis yang terbaring dengan kulitnya yang ia rasakan melewati batas suhu normal saat kulitnya tersentuh dengan kulit gadis itu.


"Pak Vino," panggil Sarah saat ia berada di satu ruangan yang sama dengan pria itu.


Vino melirik sekilas dan melambaikan tangan nya kepada mahasiswi yang memanggilnya untuk mendekat seraya berkata,


"Sini kamu sebentar. Tolong bantu saya,"


Vino menyerahkan alat Tensimeter digital pada Sarah dan memintanya untuk mengukur tensi darah dari Karibnya itu. Tanpa bantahan apapun Sarah pun melakukan apa yang di titahkan oleh dosen cabulnya itu. Ia mulai melingkarkan bantalan tensimeter tersebut untuk menekan lengan atasnya Quini agar ia bisa menemukan titik terakhir dari tekanan darah Karibnya itu.


"Normal pak," ucap Sarah pada dosennya.


Sementara Vino hanya bergeming tanpa merespon apa yang Sarah laporkan barusan seraya memeriksa keadaan gadis yang masih menutup matanya itu dengan stethoscope. Ia mencurigai sesuatu jika keadaan gadis ini sedang tidak baik.


"Ada yang lebih krisis di bandingkan demam dan pusing," pikirnya seraya memeriksa kedua mata Quini dengan senter kecil.


Tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari pingsannya maka Vino pun mengambil tindakan yang lain.


Lalu Vino memerintahkan pada Sarah untuk mengambil sampel darah dari gadis yang di tolongnya saat ini.


Ke chapter selanjutnya yok?


****************


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.

__ADS_1


__ADS_2