
Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.
Sarah terjaga dari tidurnya saat matahari mulai memasuki kamar hotel di mana dirinya menginap untuk menjaga Quini jika terjadi apa-apa pada Karibnya itu.
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi saat tiba-tiba ponselnya berdering. Sarah pun segera menerima panggilan masuk dari nomor ponsel yang tak di ketahui nya.
"Ya, hallo" sapanya saat ia menggeser layarnya.
"Maaf, apakah ini dengan mbak Sarah?" tanya seseorang dari seberang ponselnya.
"Ya betul, saya Sarah. Kenapa ya?" tanyanya penasaran.
"Kamu dari pihak rumah sakit K-Commerce Hospital memberitahukan jika ada seorang teman anda yang bernama Sarita sedang di rawat di rumah sakit ini" ucap petugas rumah sakit tersebut.
Seketika ia teringat pada Quini yang menggunakan nama palsu Sarita pada saat penandatanganan kontrak. Sama seperti dirinya yang tak menggunakan nama lengkap nya pada penandatanganan kontrak tempo lalu.
"Baiklah saya segera ke sana" jawab Sarah yang langsung bergegas keluar dari kamar tersebut saat ia selesai menutup ponselnya.
"Waduh ... Bisa kacau ini. kalau dia sakit lagi," gumamnya khawatir seraya mencampakkan tasnya ke samping jok.
Lalu Sarah pun menstarter mobilnya seraya menggerutu pada dosennya yang keterlaluan memaksa Quinita untuk melayani pria itu.
"Dasar dosen cabul. Ga tau apa kalau mahasiswinya itu baru aja keluar dari rumah sakit" gerutu Sarah sembari netranya tak lepas pada jalanan yang mengarah ke rumah sakit di mana sebelumnya Quini dirawat.
__ADS_1
Sarah berjalan dengan tergesa-gesa setelah turun dari mobilnya dan menemui petugas rumah sakit yang kebetulan merawat Quini yang baru saja memindahkan Quini ke ruangan VIP atas arahan Dokter Vino.
"Oh ..ya? Makasih mbak. Makasih" sahut Sarah lega setelah mendengar kabar dari Quini bahwa ia sudah melewati masa kritisnya semalam berkat pertolongan dosen cabulnya yang tak lain adalah partner sexnya Quini juga.
Sarah masuk ke ruangan yang mewah untuk seseorang yang seperti dirinya yang hanya mampu membayar kamar VIP seadanya jika pun ia harus di rumah sakit.
"Hem ... Baik bener pria itu. Mau juga ngasih kamar begini untuk perempuan yang tak ada arti apapun bagi seorang Dokter Vino selain kepuasan *** yang di dapatnya selama ini. Syukurlah jika Quini bisa bekerja dengan baik" gumam Sarah di hatinya seraya melihat ke sekeliling kamarnya.
Dering ponsel menghentakkan dirinya dari lamunan. Pupil netranya melebar sesaat saat melihat panggilan masuk dari bundanya Quini.
"Ya Ampun. Aku lupa kalau bunda pasti mencari-cari kami karena pagi ini kami udah menghilang dari rumah" gumamnya seraya menggigit bibir bawahnya.
Sarah masih memikirkan alasan apa yang tepat untuk menjawab telpon dari bundanya Quini ini. Hingga akhirnya ia pun terpaksa mengangkat di karenakan sudah lebih dari tiga kali bundanya Quini menelponnya.
"Kalian ada di mana? kenapa di kamar ga ada?" tanya Dyah dari seberang ponselnya Sarah.
Baru juga Sarah menjawab pertanyaan nya Dyah, seorang perawat masuk dan memanggilnya dirinya untuk meminta dirinya agar menemui seorang Dokter yang kini bertugas menangani Karibnya itu.
"Siapa itu Sarah?" tanya Dyah saat mendengar kata "dokter" dan juga "pasien" dari seseorang yang menyapa Sarah.
"eng ... Itu ... "
Sarah harus menjeda kalimatnya lantaran ia bingung harus berkata jujur atau berbohong dulu pada Dyah, agar tidak menimbulkan kepanikan pada wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Apa kalian saat ini ada di rumah sakit ya?" terka berdasarkan instingnya yang datang secara tiba-tiba.
Sarah bergeming.
"Sarah" panggil Dyah saat teman dari anaknya itu tak menjawab.
"I-iya, Bun. Kami di rumah sakit" jawab Sarah yang terpaksa harus berkata jujur.
"Apa Quini sakit lagi ya?" tanya Dyah memastikan.
"I-ya, Bun. Quini semalam panas lagi badannya. Maaf ya bun. Aku bawa Quini diam-diam tanpa ngasih tau bunda. Karena aku takut bunda panik" sahut Sarah yang terpaksa berbohong agar wanita itu tidak shock.
"Ya sudah. Bunda ke sana sekarang" ucap Dyah sembari menutup ponselnya.
Beberapa saat kemudian ...
Dyah tiba di rumah sakit setelah mendapatkan kabar jika putrinya di rawat lagi dikarenakan demam tinggi. Dyah sebisa mungkin menahan air matanya saat melihat selang infus melekat kembali di tangan kecil putrinya yang terlihat kurus itu.
"Quin" desisnya seraya menatap wajah putrinya yang pucat.
Yok ke next chapter
...----------------...
__ADS_1
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ketiga ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉