
Hai my reader. I am coming back. happy reading.
"diam kamu Chan!. kamu ga perlu berkomentar apa pun mengenai aku dan Vino. aku ga butuh itu". ketus Qini sambil menatap sinis pada pria itu.
lalu ia pun berlalu dari hadapan Chandra dan meninggalkan kantor milik mantan tunangan nya itu.
Qini menghela nafasnya sesaat sebelum ia memulai untuk mengemudikan mobilnya. ia teringat kembali bagaimana pertengkaran hebat terjadi di antara mereka bertiga hanya di karenakan sebuah kesalahpahaman yang mengakibatkan ia di campakkan oleh Vino.
beberapa bulan sebelumnya..
Devan kembali datang menghampiri Qini dan membujuk wanita itu agar mau kembali di sisi nya seperti yang pernah ia ucapkan tempo lalu saat pria itu nekat membawa mantan pacarnya itu keluar dari rumah sakit setelah acara syukuran yang di laksanakan di sebuah aula rumah sakit.
Devan membawa Qini ke suatu tempat di pinggiran pantai yang sunyi di mana hanya ada mereka saja di tempat ini seraya Devan mencoba mengulang kisah manis mereka di tempat seperti ini.
Sementara dari dalam mobilnya Devan. Qini dengan perasaan yang gusar menatap layar ponsel setelah bersusah payah merangkai kalimat yang baik yang ia kirim kan pesan pada tunangannya beberapa detik lalu. Qini berharap Vino membalas pesannya meskipun hanya dengan kata "iya saja".
akan tetapi pesannya hanya di baca saja tanpa ada pergerakan di layarnya jika tunangannya itu akan mengetikkan sesuatu.
"maaf mas aku terpaksa berbohong. aku akan segera menjumpai kamu mas jika pria ini telah selesai denganku. aku janji mas akan menyelesaikan semuanya saat ini juga". gumamnya di hati dengan perasaan khawatir.
Sementara Qini yang merasa tak enak hati karena telah meninggalkan Vino di parkiran tanpa memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya. ia terpaksa harus berbohong pada Vino saat itu
Devan mengambil sikap masa bodo saat melihat apa yang di lakukan Qini dengan ponselnya. mau wanita ini akan menghubungi tunangannya kek atau pun polisi.
Devan bahkan tak perduli. tak ada rasa gentar sedikit pun atas apa yang ia lakukan sekarang meskipun sebelumnya Qini berteriak mengancam dirinya dengan melaporkannya ke polisi atas tindakan penculikan atau pun melaporkan dirinya pada calon suaminya itu. yang penting ia berhasil membawa kabur wanita ini dan meluruskan apa yang menjadi akar masalah mereka dulunya.
mobil berhenti di suatu tempat yang sepi. Devan sengaja membawa Qini ke pinggir pantai di mana tak ada orang yang datang ke sini lantaran pinggiran pantai ini sering di jadikan tempat latihan para tentara.
__ADS_1
sedangkan Qini merasa semakin kesal di buat oleh pria ini saat ia memperhatikan keadaan di sekeliling pantai yang sepi.
"katakan apa maumu Devan?!.
Devan tak menjawab pertanyaan dari mantan pacarnya yang sebenarnya telah ia lamar dengan cara sederhana meskipun tak resmi di beberapa tahun lalu.
"Devan. jawab aku?!". teriak Qini kesal.
"kenapa kamu ga pernah membalas surelku? Devan menjawab dengan pertanyaan yang menyudutkan wanita ini.
Qini terdiam lalu mengalihkan pandangan nya ke arah lain. seketika ia teringat pada satu surel yang ia dapatkan setahun setelah Devan meninggalkannya. hanya saja karena ia masih terlalu sakit hati dan kecewa pada saat itu sehingga ia tak mau menanggapi surel tersebut. di tambah lagi ia telah berganti email dan menghapus email lamanya di setiap aplikasi yang ia pakai.
"apa urusanku harus menjawab surel orang yang telah meninggalkanku seenak hatinya".
jawab Qini datar.
"aku tidak memiliki niat sedikitpun untuk meninggalkanmu waktu itu". ucapnya pelan bernada sendu.
Qini bergeming.
"aku harus merahasiakan tujuan kepergian ku saat itu, karena itulah aku terpaksa harus merahasiakan semua darimu demi misi negara. setelah hampir selesai barulah aku bisa menghubungimu melalui surel yang ku kirimkan padamu". jelas Devan.
"yah. sebuah surel yang memutuskan pacar nya secara sepihak tanpa memikirkan betapa han...akh.. sudahlah. tak perlu kita membahas masa lalu lagi". ucap Qini yang tak ingin melanjutkan kalimatnya kembali.
sumpah demi apapun ia tak mau mengingat betapa hancur dan sakit hati dirinya saat itu. ia merasa telah di bodohi oleh pria yang ia percayai dan juga yang pernah ia cintai hingga ia rela berkorban apa saja demi kelanggengan hubungan asmara mereka.
"maafkan aku Qin. aku bersalah padamu". ucap Devan tulus.
__ADS_1
Qini bergeming menatap deburan ombak yang saling mengejar satu sama lain untuk tiba di tepi daratan dan menghantam apa saja yang menjadi penghalangnya. sedangkan Devan menatap paras cantik yang sering ia nikmati kala mereka masih bersama. dengan gerakan perlahan Devan mendekati wajahnya ke wajah Qini sehingga jarak di antaranya menjadi sejengkal lalu berbisik di telinga wanita itu.
"kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Qin".
Qini masih bergeming menatap hamparan lautan yang dulunya sering mereka singgahi bersama kala waktu senggang. darahnya berdesir saat merasakan deru nafasnya Devan yang hangat di telinganya. pria ini mampu membangkitkan kenangan lamanya saat mereka bermesraan.
"aku merindukanmu Qin".
Qini bergeming. ia tak menanggapi setiap perkataan Devan tetapi tak juga bisa menolak apa yang pria itu lakukan padanya saat jemari nya mulai menyibak rambutnya dan menjepit kannya ke belakang telinganya. perasaan ini tak bisa ia biarkan begitu saja. ia tak boleh terbawa hanyut kembali ke masa lalu.
Qini menggeleng di hatinya saat tangan Devan mulai terangkat dan menyentuh kepala nya.
"bawa aku kembali ke rumah sakit Dev jika sudah tak ada lagi yang kita bicarakan." ucap Qini tegas.
Qini memang bermaksud menghindari pertemuan ini agar gelenyar gelenyar aneh yang timbul dari perasaan yang entah apa namanya ini tidak sampai berkelanjutan lebih dalam lagi. sebab ia takut jika terhanyut dalam situasi yang terbawa perasaan ini.
"apa kamu yakin Qin?". tanya Devan memastikan pendengarannya.
"ya Devan. kita akhiri semua sampai di sini saja Devan. jika kamu ingin memperbaiki semuanya, itu sudah sangat jauh terlambat Dev".
Devan bergeming menatap wajah yang mulai terlihat kesal itu. kali ini ia akan mengalah pada wanita itu dengan membiarkan kembali pada temannya yang di telah di jadikan calon suami baginya Qini. tetapi bukanlah Devan namanya jika ia tak mendapatkan apa pun dari pertemuan singkat ini.
"baiklah. tetapi ini belum selesai Qin. aku akan memperjuangkan kamu lagi". ucapnya tegas dan terdengar ego.
Yok ke next chapter
...****************...
__ADS_1
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.