Queenvin

Queenvin
Quini pingsan 2


__ADS_3

hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy


"Kamu ambil sampel darahnya lalu bawa ke Lab sekarang juga," titahnya pada Sarah kembali setelah ia mengetahui jika tekanan darah dari gadis yang pingsan ini masih di nyatakan kategori normal.


Sarah pun mengikuti saran dari dosennya tersebut. Ia pun segera mengambil darahnya Quini dengan menggunakan spuit injeksi setelah mendapatkan pembuluh darah di lengannya Quini yang terlihat urat nadinya.


"Kurus banget kamu Ta," bathinnya berbisik seraya melirik wajah tirus tersebut.


Sarah menghela nafasnya sesaat sebelum ia menancap pelan jarum spuitnya untuk menarik sedikit darah dari lengannya Quini.


Sedangkan Vino menelpon asisten yang ia tempatkan di rumah sakit miliknya untuk mempersiapkan kamar inap di rumah sakit mereka yang baru saja selesai di renovasi minggu lalu.


"hubungi Dokter Qinita sekarang. Katakan ada seorang pasien darurat yang harus ia tangani segera. Aku akan mengirimkan pasiennya ke sana sekarang juga," ucapnya pada asisten rumah sakit tersebut lalu menutup ponselnya segera.


Tanpa menunggu hasil lab yang akan di bawa oleh Sarah atas titahnya, Vino pun segera mengangkat tubuhnya Quini ke sebuah brankar beroda setelah pria itu memasangkan infus pada Quini.


"Loh, pak Vino. Itu pasiennya mau di bawa kemana?" tanya Sarah yang baru saja selesai dengan sampel darahnya Quini dan menutup bekas suntikannya di lengannya Quini dengan kapas beralkohol.


"Kamu ikut ke rumah sakit ya?, Temani dia sebentar. Nanti saya akan menyusul kalian setelah jam mengajar saya selesai," ucap Vino yang seraya melirik jam tangan mewah nya.


"Ta-tapi pak" ucap Sarah terbata-bata di karenakan ia masih belum mengerti apa yang di katakan oleh Dosennya itu barusan.


"Udah kamu tenang aja. Kamu Bawa aja gadis ini ke rumah sakit" ucap Vino sembari mendorong brankar beroda tersebut keluar dari ruang klinik kampus kedokteran fakultas tersebut.


"Sekalian bawa sampel darah yang tadi kamu ambil," titahnya lagi pada Sarah yang sebenar nya Vino sendiri memang tak mengenali Sarah.

__ADS_1


Pria itu memanggil Sarah di karenakan cuma Sarah yang menyusulnya ke klinik kampus. Lagian pun memang hanya Sarah yang ada di situ.


"Masih ada waktu," gumamnya di hati saat jam tangannya menunjukkan waktu lima belas menit lagi untuk ia mengisi jam mengajarnya hari ini.


Vino membawa brankar dorong tersebut ke arah parkiran di mana mobil pribadinya di parkir.


"Kamu bisa menyetir kan?" tanya Vino seraya membuka pintu mobilnya lalu menggendong Quini kembali serta memasukkan Quini ke jok belakang mobilnya secara perlahan.


Belum pun juga Sarah sempat menjawab, Vino telah memberikan kunci mobilnya Vino padanya dan menyuruh Sarah ke rumah sakit yang di maksudkan Vino.


"Kenapa harus kesana?" tanya Sarah heran sembari ia menatap kunci mobilnya Vino yang canggih.


"Ayok cepetan," ucap Vino dengan nada sedikit meninggi saat ia melihat Sarah hanya berdiam diri di samping mobilnya.


"Ingat pesan saya, kamu dengar?" pesan Vino tegas kepada gadis yang entah siapa nama nya itu seraya mengaktifkan fitur GPS yang terpasang di mobilnya yang juga terhubung dengan ponselnya tanpa sepengetahuan Sarah.


Dengan begitu, jika nantinya Sarah akan melenceng dari perintahnya. Vino dengan mudah akan menemukan keberadaan mobil nya itu dengan cepat.


"I-iya, pak" sahut Sarah gugup lantaran baru kali ini ia mengendarai mobil mewah yang harganya mungkin sepuluh kali lipat dari mobilnya yang masih berharga standar, di mana anak kuliahan yang lainnya pun kebanyakan membawa mobil seperti dirinya juga.


Akhirnya Sarah mulai menstarter mobilnya Vino dan meninggalkan dosennya itu dalam keadaan membingungkan dirinya yang coba fokus menyetir, tetapi sesekali pikirannya ke pria yang menjadi partner sexnya karibnya itu selama ini.


"Apakah memang begitu sifat aslinya?, atau pria ini sengaja berbuat baik di depan semua orang. Apalagi di depan para mahasiswi yang cantik-cantik seperti tadi," gumamnya di hati seraya memikirkan tindakan Hero sang dosen cabulnya.


"Hemm ..., atau jangan-jangan ia bertindak sebagai superhero supaya pria itu dengan mudah mencari mangsa baru untuk nantinya bisa di jadikan partner sexnya yang baru. Apa lagi masa kontrak karibnya itu akan segera berakhir tak lama lagi," Sarah berfikir seraya menatap jalanan yang tak pernah lengang dari lalu lalang kendaraan kecuali di saat lewat tengah malam.

__ADS_1


Lalu ia berdecih saat pikirannya berspekulasi tentang dosen cabulnya itu terhadap tindakan yang mencari perhatian seluruh mahasiswi cantik yang ada di kampusnya, terlebih pada adik-adik letingnya yang masih terlihat norak jika menyangkut soal penampilan pria yang sepantaran dengan Dosennya itu.


Sarah tersenyum miring saat ia semakin yakin dengan pemikirannya sendiri tentang Mr Chow alias pak Vino yang kini mulai mencari perhatian para adik-adik letingnya yang kebanyakan masih berfikiran polos, apalagi mereka yang berasal dari daerah pelosok negeri yang terpilih sebagai mahasiswi terbaik untuk menimba ilmu di universitas ini, untuk menggantikan posisi karibnya yang kini sedang terbaring pingsan di jok belakang mobil yang di Kendarainya.


"Yah, sudah pastilah itu. Pria cabul itu akan mencari mangsa baru. Makanya aksi dari Dosennya yang tadi itu pastilah untuk mencari perhatian para mahasiswinya" gumamnya di hati.


"Modelan pria seperti itu tak mencari perhatian. Cih impossible banget sih. Dasar mesum. Cih, " cibir Sarah mengingat masa kontrak kerjasama karibnya dengan pria itu yang akan segera berakhir tak lama lagi.


Beberapa menit dan blok jalan telah terlewati tanpa ia sadari. Bermodalkan alamat dan nama rumah sakit yang disebutkan oleh Vino, akhirnya Sarah membelokkan mobilnya Vino ke halaman rumah sakit lalu menghentikan mobilnya tepat di depan ruang IGD dari rumah sakit yang bernama "K-Commerce Hospital".


"wow," desisnya kagum pada bangunan mewah yang tampak seperti hotel tetapi yang dijumpainya adalah sebuah rumah sakit yang belum sepenuhnya selesai dan masih terlihat dalam tahap proses penyelesaian dekorasi di salah satu ruangan yang berada di sudut gedung.


Sarah membuka pintu mobilnya lalu keluar dari sana saat beberapa tenaga medis keluar dari ruangan tersebut sembari mendorong brankar ke arahnya.


"Mana pasiennya pak Vino?" tanya salah satu perawat yang celingak-celinguk ke dalam mobil yang ia kendarai.


"Oh, iya. Sebentar," ucap Sarah yang tersadar dari lamunannya tentang kekagumannya pada rumah sakit yang baru ia ketahui ini.


Sarah pun segera membuka pintu belakang mobil untuk menunjukkan pasien yang di minta oleh perawat tersebut.


Ke chapter selanjutnya yok?


****************


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.

__ADS_1


__ADS_2