
Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.
Vino memperhatikan daftar nama-nama mahasiswa yang akan ia bimbing untuk tahap skripsinya. mungkin awalnya biasa saja, di karenakan nama yang terdaftar sudah pernah ia baca sebelumnya hingga akhirnya netranya terpaku pada satu nama yang membuat ia penasaran selama ini.
Sebuah nama yang di pernah ia cari-cari sejak kejadian musibah bencana alam beberapa tahun silam.
Beberapa tahun yang lalu ...
Kevin berencana kembali ke daerah di mana ia di lahirkan dan besarkan di sana dengan banyak suka dan dukanya dikarenakan kedua orangtuanya pun masih berada di sana.
Masih sama seperti biasanya, ia berharap kepulangannya kali ini bisa membawa kebahagiaan untuk dirinya dan juga gadis yang selalu menemani hari-harinya sedari kecil hingga dewasa.
Walaupun sekarang ini mereka harus bertemu dua kali dalam setahun dan itupun secara sembunyi-sembunyi. Hal ini terjadi karena mereka dipisahkan oleh jarak.
Kevin tiba di kota yang selalu memberikannya masa kecil yang bahagia dengan seorang gadis kecil yang ceria di pagi ini setelah ia melakukan perjalanan semalam suntuk. Ia mendekati gerbang istana setelah turun dari kendaraan yang terdiri dari tiga roda.
Belum pun ia hendak memulai meminta ijin kepada salah satu pengawal istana, agar di bukakan pintu untuknya yang ingin masuk ke istana untuk bertemu dengan orang-orang yang di sayangnya, pintu gerbang sudah di buka dari dalam. Kevin langsung di sambut oleh pria paruh baya yang tak lain adalah Appanya sendiri.
"Appa!" serunya seraya tersenyum kepada Appanya.
Appanya yang sudah tersenyum saat mendengar kabar kepulangan putranya itu hari ini. Ia memang sudah menunggu kepulangan anaknya itu di dekat gerbang istana sedari tadi, agar nantinya ia bisa langsung menyambut Kevin saat turun dari becak.
"Anak Appa" sambut Fendy sumringah sembari membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk putra satu-satunya itu.
"Ayok, kita masuk" ajaknya yang langsung menuju ke rumahnya yang berada tepat di belakang taman istana ini.
Kevin menarik kedua sudut bibirnya Saat melewati taman yang dulunya sering ia habiskan bersama dengan sahabat kecilnya yang cantik jelita keturunan putri raja. Ia teringat bagaimana masa kecilnya yang mereka habiskan dengan penuh canda tawa, walaupun banyak pengawal yang mengawasi mereka berdua.
"Quin" desisnya sembari tersenyum-senyum membayangkan bagaimana polah tingkah nya Putri raja yang Badung itu saat harus mengendap-endap keluar dari istana hanya untuk bertemu dirinya.
Setibanya di rumah Kevin beristirahat di kamarnya untuk melepaskan rasa lelah dan penat akibat perjalanan yang memakan waktu satu harian sehingga membuat tubuhnya terasa kaku lantaran ia tidak bisa merebahkan tubuhnya dengan leluasa di dalam bus yang di tumpanginya.
Beberapa jam kemudian ...
__ADS_1
Kevin terjaga dari tidurnya ketika saat matahari mulai turun perlahan mendekati waktu Ashar. Ia keluar dari kamarnya saat mencium harum masakan khas daerah ini yang paling di sukainya.
Kevin berjalan ke dapur dan mendapati Ammanya di sana tengah mematikan kompor sebagai tanda jika masakannya telah selesai.
"Amma," panggilnya pelan seraya mendekati Ammanya itu.
Meylin menoleh ke belakang dan tersenyum saat melihat putranya ada di hadapannya kini.
"Hai Ya Kevin, sudah bangun sayang?" tanyanya.
"Amma sudah selesai bekerja di dapur istana?" tanya Kevin heran.
Ia merasa heran lantaran hal ini dari kebiasaan Ammanya yang selalu pulang lebih sore di setiap harinya.
"Haiyya, Amma sudah minta ijinlah, mau pulang cepat hali ini. karena Amma mau masakin yang kamu sukak sayang," jawab Meylin.
"Ayok, kita makan" ajak Meylin.
Lalu Meylin memindahkan hasil masakannya di atas piring dan mangkok saji. Kevin pun menuruti apa yang di titahkan oleh Ammanya.
Beberapa menit terlewati setelah mereka makan siang tapi menuju sore bersama. Remaja itu meminta kedua orangtuanya beristirahat dulu lantaran mereka telah bekerja seharian mencari nafkah agar bisa menyekolahi dirinya.
Sementara dirinya membantu berbenah rumah seraya menunggu gadis kecilnya datang dengan caranya yang suka mengendap-endap. Hingga sore tiba bahkan hingga menjelang Maghrib pun belum ada tanda-tanda jika Quininya akan datang dengan wajahnya yang sumringah hanya demi untuk melihat dirinya pulang.
"Dia kemana ya?" tanyanya di hati saat berdiri di teras rumahnya sembari menatap ke arah taman di mana istananya Quini terlihat dari sini.
Kevin terus menunggu di teras rumah hingga Maghrib tiba barulah remaja itu masuk ke rumah dengan pikirannya yang penuh tanda tanya akan kabarnya Quini.
"Tumben," desisnya di hati seraya menutup pintu rumahnya karena Adzan telah berkumandang dan saling bersahutan dari mesjid ke mesjid yang lainnya.
Hal yang aneh ia rasakan hari ini adalah saat di mana Quininya tak menemui dirinya ketika ia pulang untuk liburan seperti biasanya.
Harusnya Quini sudah tau jika liburan semester ini memang waktunya Kevin untuk pulang menghabiskan waktu bersama dengan gadis kecilnya itu meskipun mencuri-curi waktu datang kerumahnya.
__ADS_1
Akan tetapi suasana kali ini jelas tampak berbeda. Kevin merasa tak ada tanda-tanda kehadirannya Quini di istana ini. Tapi ia menafikan semua itu, di karenakan ia masih berharap gadis kecilnya itu akan datang di hari esok.
"Mungkin ia sedang sibuk karena harus mempersiapkan diri untuk ujian nasionalnya yang akan datang" batinnya berbisik yang masih berfikiran positif.
Sementara Meylin yang memperhatikan tingkah putranya yang terlihat gelisah itu lalu menghampiri suaminya dan menceritakan tentang tingkah putra mereka semenjak dari kepulangannya kemarin pagi.
"Hayya ... Amma. Biarkan saja dulu itu anaknya. Nanti sajalah kita cerita soal si Quini. Jangan di bikin resah si Kevin. Nanti dia kepikiran lagi," ucap Fendy.
"Tapi kalau nanti dia tau soal Quini yang sebenarnya dari orang lain bagaimana Appa?" tanya Meylin khawatir.
"Ya pastinya dia tanya kita lagi lah. Hayya ...
Amma, sudah tidak usah di pikirin lah. biar saja dulu itu si Kevin. Suruh dia istirahat dulu malam ini. dia kan belum cukup tidur itu. Di dalam bus mana bisa tidur nyenyak," ujar Fendy.
"Iya, sih" sahut Meylin membenarkan ucapan suaminya itu.
"Besok malam saja dia kita ajak ngobrol. Sekalian kita kasih tau tentang rencana kita Amma," lanjutnya.
"ya sudahlah. Tapi Bagaimana kalau Kevin keberatan dengan rencana kita Appa?. Itu berarti dia akan kehilangan kesempatan untuk bertemu Quini," ucap Meylin.
"Hayya ... Amma bilang mereka cuma teman main-main saja kan. Yah, tidak ada pengaruh lah kalaupun mereka tidak ketemu lagi. Memangnya itu tuan Raja apa mau sama kita orang begini hah?" kata Fendy mengingatkan istrinya akan statusnya mereka saat ini.
"iya sih, Appa" jawab Meylin yang tidak menampik akan pernyataan suaminya itu.
"Besok kita jelaskan semuanya sama Kevin" ucap Fendy.
Meylin hanya bisa terdiam sembari menatap suaminya itu. Iya masih ragu akan apa yang di ceritakan pada putranya besok tentang rencana mereka. Meskipun rencana mereka sudah dari dulu ia impikan.
Ke chapter selanjutnya yok?
****************
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.
__ADS_1