
Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.
"Bunda udah tidur, kan?" tanya Quini memastikan.
"Udah, ayok" jawab Sarah lalu mengajak Quini naik ke mobilnya.
Quini pun diantar oleh Sarah pada malam itu juga setelah wanita itu berdandan seperti biasanya. Kali ini Sarah menemani Quini hingga Karibnya itu selesai dalam tugasnya malam ini. Sarah sengaja memesan sebuah kamar untuk menunggu Karibnya itu hingga dosen cabulnya itu benar-benar pergi dari hotel ini.
"Aku berada di kamar ini sampai pak Vino pergi," ucap Sarah setelah mendapatkan kunci kamarnya.
"Makasih," ucap Quini.
Lalu keduanya masuk ke lift menuju ke lantai di mana dosen cabulnya berada. Quini masuk ke kamar di mana partner sexnya berada.
Saat berada di dalam kamar tersebut. seorang pria tampan yang tak lain adalah Dosennya sendiri telah menunggunya dengan netranya yang menatap tajam pada pintu kamar.
"Ohh ... Kamu sudah datang?" ucap pria tersebut seraya netranya yang tak lepas dari penampilannya Quini malam ini.
"I-iya," jawab Quini singkat dan pelan.
__ADS_1
"Kesini!" titahnya seraya menepuk kedua pahanya.
Quini menelan kasar salivanya sesaat sebelum ia melangkah kakinya secara pelan-pelan ke arah dosennya itu untuk mengulur waktu agar cepat berlalu, sehingga malam ini pria itu tak terlalu banyak menyentuh dirinya seperti biasanya.
Bahkan keterlambatan dirinya pun memang sengaja ia lakukan karena Ia belum merasa begitu fit. Apalagi ia baru saja selesai haid. Quini takut jika partnernya itu melakukan lebih dalam dan lama bisa-bisa ia akan
"ahh ... Amit-amit deh. Jangan sampai kejadian. Aku belum siap," bathinnya seraya menggeleng kepalanya pelan dengan netranya terpejam saat ia membayangkan sesuatu di luar dugaannya dan juga rencana hidupnya.
Sementara Vino mulai kesal saat melihat Quini menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menutup kedua matanya. Ia menarik miring sudut bibirnya dengan netra yang menyorot tajam pada wanita yang ia bayar mahal selama ini.
Vino merasa kesal karena wanita ini sudah mulai berani membangkang dirinya mentang- mentang kontrak mereka akan berakhir tak lama lagi.
Quini tersentak saat bentakan Vino yang di tujukan padanya. Lalu menundukkan wajahnya seraya berjalan ke arah pria yang selalu menyeramkan baginya jika sudah harus melaksanakan tugasnya.
Saat ia sudah berada dekat dengan pria itu, tangannya langsung di tarik oleh Vino dan langsung di dudukkan di atas pangkuannya.
"Mengapa terlambat?" tanya Vino dengan mendekati bibirnya di telinga partner sexnya.
"Ma...macet," jawab Quini gugup dengan dadanya yang mulai berdebar-debar di karenakan takut.
__ADS_1
Quini terdiam seraya berdoa di dalam hatinya agar pria ini tidak menghukum dirinya terlalu berat seperti yang sudah-sudah.
"Ohh ... Macet," desis Vino yang menghirup ceruk leher wanita ini secara pelan.
Lalu ia membuka mulutnya dan langsung menggigit pelan daun telinganya Quini.
"Akh ..." pekik Quini saat ia merasakan gigitan nya Vino di daun telinganya.
"Kenapa, hmm?" tanya Vino yang berlagak tak tau.
Padahal ia memang sengaja melakukannya karena ia tertarik pada aroma khas yang tersembunyi dari tubuh wanita ini. Walaupun semprotan parfum dan Baluran lotion mendominasi indera penciumannya. Akan tetapi tidak bisa menutupi aroma dari kulit mulus wanita ini.
Aroma kulit yang mengingatkannya pada seseorang yang ia rindukan. Pria itu terus mencumbui Quini seraya menghirup dalam-dalam aroma khas dari kulit Quini yang tersembunyi.
Sementara Quini mematung dalam diam dan menerima dalam kegundahannya atas apa yang di lakukan pria ini padanya.
Yok ke next chapter
...----------------...
__ADS_1
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ketiga ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉