Queenvin

Queenvin
Momen terakhir


__ADS_3

Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.


Saat itu....


Quini memeluk erat ibundanya sebelum ia di berangkatkan ke daerah barat untuk menjalani masa hukumannya di karenakan ia telah melanggar kesepakatan dengan sang ayah.


Demi menyelamatkan Wak Banun dan juga keluarganya Kevin dari pengusiran yang telah di tetapkan oleh aturan kerajaan. di usir dari lingkungan kerajaan berarti akan berakhir menjadi seseorang yang pembangkang.


itu berarti mereka nantinya akan kesulitan dalam mencari pekerjaan karena masyarakat sekitar pastilah telah mengecap jelek nama mereka semua sehingga mereka enggan menerima seseorang yang telah di keluarkan dari istana secara paksa.


akhirnya Quini harus rela mengikuti titah sang ayahanda. Quini melakukannya lantaran ia tak ingin menghancurkan nama baik mereka gara gara ulahnya sehingga mau tak mau ia pun harus rela menerima hukuman dari ayahnya.


akhirnya Quini hidup dalam lingkungan di bawah pengawasan dan kekuasaan sang nenek yang berada di wilayah selatan. hidup dalam aturan yang lebih ketat dari sang ayahandanya buat.


waktu berlalu terlalu lamban baginya saat ia berada di tempat itu. Quini yang dasarnya memiliki sifat ceria merasa mulai bosan pada peraturan sang nenek yang di anggapnya diktator itu.


Satu semester telah di laluinya dalam sunyi dan sepi di pengasingan. ia mencoba menghibur dirinya dengan berbicara pada pekerja di sana meskipun secara sembunyi -sembunyi. akan tetapi hal itu tetap saja tak menutupi rasa sunyi serta rindunya pada orang orang yang berada di istana ayah nya.


Bahkan di saat liburan semester genap pun tiba. Ia berpikir dengan kedatangan kedua orangtuanya dan juga kedua Abangnya di kediaman sang nenek adalah untuk menjemput dirinya pulang ke istana nya sang ayah.


tetapi nyatanya ayah atau pun bundanya hanya datang untuk menjenguk dirinya saja bukan untuk menjemputnya pulang. Ia hanya bisa memeluk bundanya sebentar saja sebelum bunda dan ayahnya kembali pulang ke pusat pemerintahan yang berada di ibu kota provinsi ini.


"jaga diri baik baik Quin. patuhi titah nenekmu jika nanti kau ingin kembali lagi ke istana", pesan Faisal saat pria paruh itu akan kembali bersama istrinya ke istananya mereka.


"iya ayah", sahut Quini.


"bunda pulang ya nak. jaga diri kamu baik baik di sini. jangan lupa berdoa setelah sholat. minta kemudahan atas segala urusan kamu", pesan Dyah pada Quini sembari memeluk putri semata wayangnya itu dengan tenggorokannya yang tercekat.

__ADS_1


"iya bunda", sahut Quini di dalam pelukannya sang bunda dengan netranya mengkristal.


lalu ibu dan anaknya itu melepaskan pelukan nya seraya masing masing menghapuskan titik bulir bening di ujung mata mereka.


"Abang pulang ya. jaga diri baik baik. patuhi segala aturan di sini jika kamu ingin cepat cepat di pulangkan", ucap Abangnya yang pertama.


Quini menanggapinya dengan anggukan seraya tersenyum kecil. lalu di susul oleh abangnya yang kedua sembari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk adik satu satunya itu.


"ingat apa kata ayah dan bunda ya dek", pesan nya.


"iya bang", sahut Quini sembari tersenyum.


kemudian seluruh keluarga inti melihat ke arah Quini kembali sebelum mereka semua nya masuk ke mobil. tiba tiba hatinya Quini terkesiap saat semuanya menoleh ke Quini kembali seraya melambaikan tangan mereka masing masing.


Entah mengapa perasaan hatinya Quini tiba tiba merasa tak enak setelah kepergian keluarga intinya itu. ia merasa seolah olah ini adalah momen pertemuannya yang terakhir.


Dan benar adanya bahwa liburan semester ini ia tak bisa bertemu dengan kokonya meski pun kokonya itu pulang ke istananya hanya sebentar saja karena ada sesuatu yang akan di urus Kevin. begitulah menurut yang ia dengar dari abangnya yang kedua yang sempat bertemu dengan Kevin di istana.


Tapi untuk momen yang ini Quini berfirasat lain di hati meskipun ia mencoba menafikan semua hal buruk di dalam pikiran nya saat ini dengan melangkah masuk ke dalam istana neneknya yang akan mengurung dirinya lagi entah untuk berapa lama.


Satu semester ia lewati lagi dalam kesepian dan hanya di temani para pelayan istana sementara sang nenek terlalu sibuk mengatur masyarakat di dalam pemerintahannya.


Lambat laun tanpa di sadari hal ini membuat perubahan pada sikap nya Quini yang dulunya seorang yang ceria menjadi seseorang yang pemurung dan tak banyak bicara.


Hingga akhirnya kelulusan di sekolah menengah pertamanya pun tiba. Quini di janjikan untuk pulang ke keluarga intinya atas ijin sang nenek. lalu dalam pengawasan dan pengawalan yang ketat atas titah sang nenek akhirnya Quini di kawal pulang ke keluarga intinya.


sebelum ia pamit pulang pada neneknya ia memperhatikan keseluruhan istana sama seperti saat ia di asa

__ADS_1


selama dalam perjalanan Quini banyak melihat ke arah luar jendela setelah fajar pagi mulai menyingsing di mana hamparan laut biru membentang indah di samudra luas wilayah pesisir barat ini.


Akan tetapi di saat ia memperhatikan sesuatu di kejauhan Quini melihat kejanggalan pada air laut yang surut yang ia perkirakan sejauh beberapa ratus kilometer dari bibir Pantai.


kelopak matanya semakin melebar tatkala ia melihat ketinggian ombak yang melebihi dari dari biasanya. lalu secara tiba tiba supir yang membawa dirinya segera berbelok masuk ke arah jalan yang menjauhi pantai meskipun seraya berteriak padanya agar berpegang erat pada sesuatu karena ia akan menancapkan gas mobilnya lebih dalam.


"pak!" teriak Quini saat jalan yang akan di lewati semakin menanjak naik seiring ombak menghantam daratan di belakang mereka.


Quini memberanikan diri untuk menoleh ke belakang hanya untuk memastikan kawalan mobilnya juga mengikuti supirnya ini.


pupil netranya semakin melebar seiring debaran jantungnya semakin kuat Kala ia menyaksikan ombak raksasa menghantam apa saja yang di lewatinya dengan sekali gulungan.


Bukan hanya itu saja, Quini harus melihat beberapa mobil serta kendaraan yang melintas di jalan yang sama dengan dirinya satu persatu menghilang dari pandangannya saat gelombang air laut beranjak naik ke permukaan.


"pak lebih cepat!!" teriak Quini semakin keras saat ia melihat di belakangnya air laut terus melaju melebihi dari kekuatan mobil formula sekalipun.


Mobil yang di larikan supirnya Quini kini berpacu dengan waktu gelombang air laut yang semakin mengejar. meskipun entah berapa kali dirinya dan sang supir terantuk pada dinding mobil lantaran jalan yang mereka lintasi masihlah terhitung curam di karenakan kondisi jalan yang belum di aspal.


Untungnya sang nenek memberikannya seorang supir yang handal dalam mengendarai mobilnya meski pun jalan semakin sempit dan menanjak bahkan terjal tetapi itu tidak menyurutkan keberanian pak supir dalam mengendarai mobilnya hingga di titik penghabisan jalan sang supir nekat menerobos jalan setapak hingga ke puncak bukit.


Dari sinilah Quini bisa melihat dengan jelas bahwa sang penguasa alam menunjukkan kemurkaannya pada manusia dengan menaikkan gelombang pasang air laut yang menenggelamkan daratan di sekitarnya.


Quini terhenyak saat menyadari jika saat tadi nya ia begitu menikmati pemandangan alam di saat fajar tiba ternyata itulah momen terakhirnya melihat dan menikmati alam yang indah itu sebelum sang penguasa mengambil nya kembali atas keindahan yang di nikmati nya dua jam yang lalu.


Ke chapter selanjutnya ya??


****************

__ADS_1


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.


__ADS_2