Queenvin

Queenvin
Pasca Bencana


__ADS_3

Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy


" Ayaaaaaaah.... Abaaaang" gumamnya dalam isaknya.


lalu perlahan kedua kelopak matanya terbuka dengan air matanya yang telah membasahi bantal yang ia tiduri.


Sinar mentari pagi menyeruak masuk dari celah gorden jendela kamar yang di tempati nya bersama pria yang mengontrak tubuhnya semalam. cahaya mentari pagi itu membuat pemilik manik yang sebenarnya langka itu tetapi harus ia tutupi dengan softlens nya yang berwarna coklat gelap yang kebanyakan pribumi Indonesia memilikinya membuka matanya secara perlahan.


Seorang wanita cantik mengerjapkan kedua netranya untuk mengkondisikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. ia menoleh ke samping untuk memastikan pria yang menidurinya semalam telah pergi seperti biasanya dan meninggal kan check untuk dirinya atas pelayanannya tadi malam.


Wanita itu segera bergegas pulang setelah ia membereskan pakaiannya untuk menjenguk ibunya yang masih dalam perawatan di rumah sakit pasca operasi.


Saat tiba di rumah sakit ia tersenyum melihat wajah ibundanya yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"sudah lama di sini nak?" tanya ibunya.


"belum bun. bunda udah makan?. aku bawain bunda bubur ayam yang biasa bunda pesan kalau lagi pingin. bunda makan ya" ucapnya seraya membuka tutup makanan yang berisikan bubur ayam yang biasa bundanya makan jika tak berselera terhadap makanan apa pun.


Ibunya tersenyum dan mengangguk lemah seraya menatap ke wajah putrinya yang terlihat lelah.


"kamu capek kan?. pulanglah dan istirahat di rumah. bunda ga apa apa di sini". ujarnya pada putrinya.


"ga Bun. bentar lagi aja pas mau masuk kuliah" sahut wanita itu seraya tersenyum.


"jangan terlalu keras bekerja. Ingat kesehatan nak" pesan si ibu.


"ya Bun. tenang aja. Yang penting bunda sehat dulu lalu bisa kembali ke rumah" ujar nya pada sang bunda sembari tersenyum.


"iya bunda memang sudah kangen sama rumah meskipun kecil. Meskipun cuma ngontrak tapi bunda kangen suasana rumah" ucap sang bunda.


"ya kalau begitu semangat dong bunda untuk sembuh" ucapnya penuh harap.


kedua ibu dan anak itu pun tersenyum di pagi yang cerah itu. Bagaimana pun mereka berdua masih bersyukur masih di beri kesempatan untuk bisa saling melihat satu sama lain.

__ADS_1


Baik sang bunda dan wanita itu sama sama takut dulunya jika tak bisa melihat salah satu anggota keluarga intinya lagi.


Saat itu mereka berdua sama sama putus asa saat musibah terjadi yang menewaskan jutaan umat manusia di daerah mereka. Mereka berdua pikir jika mereka akan menjadi seseorang yang sebatang kara di dunia ini. Sudahlah miskin harta malah di tambah miskin keluarga pula.


Saat itu seluruh umat yang tinggal di daerah itu sedang di uji kesabarannya dalam menghadapi musibah yang melanda negeri mereka. Baik ibunya maupun wanita itu selalu berdoa di barak pengungsian agar di beri kesempatan untuk bertemu dengan salah satu anggota keluarga nya lagi meskipun tidak lengkap seperti sedia kala.


Ternyata Allah maha mendengar doa orang orang yang pasrah akan musibah. Beberapa hari pasca musibah mereka di pertemukan kembali oleh Allah ketika mereka akan di ungsikan menjadi satu dapur di sebuah Desa yang terletak jauh dari tempat bencana.


Mereka berdua begitu terharu dalam bahagia serta Isak tangis dan airmata yang bercampur kesedihan di karenakan mereka tak berhasil menemukan anggota keluarganya yang lain.


Satu tahun setelah bencana itu berlalu tak menyurutkan langkah ibu dan anak itu melanjutkan kehidupan yang baru meskipun tanpa harta. Ibu dan anak itu saling memberi semangat apa lagi sang bunda yang berjuang untuk mendukung penuh cita cita anak yang tertinggal satu satunya.


Tiga bulan kemudian...


Sebuah surat kembali datang dari universitas ternama di Indonesia yang di tujukan kepada pria yang baru saja tiba di kantor cabangnya yang berada di negara ini.


"apa lagi ini?", tanya pria itu pada sekretaris nya saat melihat sebuah amplop cokelat yang berasal dari salah satu universitas tempat ia menimba ilmu dasar dari keahliannya di bidang medis meskipun sekarang ia lebih banyak menghabiskan waktunya di beberapa kantor dari usaha yang ia jalani bersama sang mama.


"oh ya udah. kamu boleh keluar", titahnya.


tak lama kemudian Fadil datang seperti biasa dan menyapa karibnya yang baru saja tiba. ia melihat sebuah surat yang berstempel universitas tempat di mana mereka menimba ilmu untuk jenjang akademiknya.


"undangan apa ini Vin?" tanya Fadil seraya mengambil amplop yang berwarna coklat tersebut.


"undangan mengajar di fakultas" sahutnya.


"terus kamu menolak nya lagi?" sombong amat sih kamu" cibir Fadil saat ia mengingat kelakuan temannya ini yang sudah dua kali menolak tawaran mengajar di fakultas mereka dulunya.


"ingat ya Vin. kesempatan ga bisa datang berkali kali apa lagi kamu udah pernah menolak rezeki sebelumnya.


Vino bergeming sesaat lalu melanjutkan pekerjaan yang di bawa oleh sekretarisnya.


"eh Vin. kok ga di tanggepin sih" celetuk Fadil.

__ADS_1


"ya udah kamu aja yang ngajar gantiin posisi aku" jawabnya


"hehehe seandainya di perbolehkan tukar guling sama fakultasnya. why not?" sahut Fadil sembari terkekeh.


Vino melirik tajam ke pada temannya ini lalu mencibir


"bilang aja mau nyari daun muda buat kamu tiduri lagi karena kontrak kalian udah mau habiskan?"


Fadil menyengir kuda.


"ya lanjutkan saja kembali sama perempuan kamu itu" ucap Vino menyarankan karibnya itu.


"hehe..mana enak kalo cuma dapat lobang yang sama. lagian aku mau nyari perempuan yang shalihah kok. kali aja adik adik leting kita yang kebanyakan dari daerah masih orisinil. Kayak saudara aku" ujarnya yang teringat pada saudaranya yang memperistri seorang perempuan polos yang berasal dari luar kota Jakarta.


"hah. yang kemaren baru resepsi?" tanya Vino memastikan.


"ya" sahut Fadil mantap.


Vino terkekeh geli saat mendengar jawaban karibnya yang begitu percaya diri.


"kamu tau kenapa sepupu kamu itu bisa mendapatkan perempuan shalihah dan juga keluarganya yang Sholeh. itu lantaran teman dan juga lingkungan pergaulan tempat dia berada adalah orang orang seperti mereka semua termasuk sepupu kamu itu yang selalu hidup dengan berpedoman pada ajaran agamanya. nah kamu??? cibir Vino mengingat kan atas kelakuan bejatnya Fadil di luar lingkungan keluarga dan kantornya.


"kamu pernah dengar ga kalimat ini "pasanganmu adalah cerminan dari tingkah lakumu" lanjutnya.


Sementara Fadil hanya bisa bergeming saat mendengar pernyataan dari Vino barusan. ia memang tak menampik hal tersebut bahwa pergaulan dan juga lingkungan yang kita geluti akan mempengaruhi kita dalam mendapatkan jodoh.


"Jadi kalau kamu mau dapat pasangan yang shalihah ubah dulu kelakuan kamu Dil" ucap Vino seraya memberikan saran setelah ia mengkritik karibnya itu.


Ke chapter selanjutnya ya??


****************


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.

__ADS_1


__ADS_2