
Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.
seminggu kemudian ...
Vino kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pekerjaannya di Singapura. Seperti biasa ia kembali di hadapkan pada jadwal mengajarnya di kampus yang kini menjadi alumninya.
Tetapi sebelum itu ia harus menemui seseorang yang tak lain adalah partner *** nya untuk mengetahui kondisinya secara langsung setelah wanita itu di serang tipes tiga hari yang lalu saat bercinta dengannya.
Vino menunggu partner sexnya itu di tempat biasa. Di sebuah kamar hotel yang selalu ia pesan saat ia ingin meluapkan hasratnya pada wanita bayarannya.
Sementara Quini yang di antar Sarah ke tempat di mana Dosen cabulnya membuat janji memasuki kamar hotel setelah berpamitan pada Sarah.
"Semoga kali ini kamu ga apa-apa" ucap Sarah seraya menatap Quini yang menghilang di balik pintu.
Sebenarnya Sarah ingin sekali protes pada pria itu. Akan tetapi ia bisa apa mengingat ini adalah perjanjian kontrak antara Quini dan Dosen cabulnya itu. Sarah pun tidak bisa seenaknya ikut campur selama Quini tak pernah mengajukan keluhan akan rasa sakitnya jika sudah bercinta dengan pria yang membayarnya.
Sarah masih merasa khawatir pada Karibnya itu, walaupun sebelumnya ia telah menyuntikkan multivitamin pada Quini agar sahabatnya itu dapat bertahan dengan kondisi tubuhnya yang baru saja di pulangkan dari rumah sakit.
Apalagi saat ia teringat bagaimana tanda dari sisa percintaan di kulitnya Quini yang masih membekas. Itu berarti si Dr. Vino alias Mr. Chow sangat ganas jika sudah menyangkut urusan ranjang.
Masih mending partner sexnya dulu, Fadil. Se-nafsu apapun pria itu. Akan tetapi masih bisa memperlakukan dirinya secara manusiawi. Dan saat mencapai ******* mereka selalu saja dapat merengkuhnya bersamaan.
"Ahh ... Jadi teringat mas Fadil," gumamnya saat teringat pada pria itu.
Sarah akhirnya memilih masuk ke kamar hotel yang tak jauh dari kamarnya Quini yang akan melayani partner sexnya kembali pada malam ini.
__ADS_1
Sementara di sebuah kamar hotel yang biasa Vino pesan untuk melampiaskan hasratnya. Pria bermata sipit itu menatap dalam-dalam wajah dari wanita yang ia bayar untuk melampiaskan hasratnya selama setahun.
"Are you okay for tonight?" tanya Vino dengan netra yang tak lepas dari wajah yang masih terlihat tak bersemangat di balik dandanan nya yang glamour.
"Eung ... Ya. I am okey?" jawab Quini ragu dengan wajah yang sedikit menunduk.
"Are you sure?" tanya Vino memastikan.
"Ya," sahut Quini singkat sembari menggigit bibir bawahnya.
Sebenarnya Quini sendiri belum siap jika harus melayani pria yang ada di hadapannya ini. Akan tetapi ia takut jika harus menolak pria ini, mengingat peraturan dalam perjanjian yang harus mewajibkan dirinya patuh atas segala perintah pria ini.
Tingkat ia sedikit membangkang saja, pria ini memberinya hukuman. Apalagi jika ia terang-terangan menolak keinginan pria yang selalu saja bernafsu jika sudah bertemu. Pastilah akan menimbulkan malapetaka baginya.
Semenjak insiden malam itu. Vino tak ingin mengambil resiko untuk bercinta dengan wanita yang memiliki riwayat medis yang dapat menularkan penyakitnya ke orang lain.
Beruntung baginya ia masih bisa terhindar dari penyakit menular tersebut setelah ia segera memeriksakan dirinya malam itu. Di tambah ia meningkatkan gaya hidup sehat setelah kejadian malam itu.
Jadi untuk sementara ini, Vino terselamatkan dari penyakit yang di bawa oleh partner *** nya ini.
"Kau terlalu memaksakan dirimu lady" ucap Vino dingin.
Lalu Vino mengeluarkan satu lembaran Check yang bernilai sepuluh kali lipat dari yang biasa ia tulis setiap kali ia mengeluarkan untuk wanita yang ada di hadapannya ini.
"Ini. mulai malam ini kontrak kita selesai," ucap Vino seraya meletakkan satu lembar kertas tersebut atas meja sofa yang ada di hadapan mereka berdua.
__ADS_1
Quini langsung mengangkat wajahnya menatap ke arah pria itu. Ia masih tak percaya pada apa yang di dengarnya malam ini. Pria itu telah membebaskan dirinya dari kontrak laknat yang hampir menyiksanya setiap waktu.
"Tu-tuan yakin?" tanya Quini memastikan.
"Ya" sahut Vino singkat.
" Malam ini kau ku bebaskan. Gunakan uang yang ku berikan untuk mengobati penyakitmu. Beristirahatlah dan Jangan memaksakan dirimu untuk mencari uang dengan cara yang beresiko, apalagi bisa membahayakan orang lain," lanjut Vino yang bernada lebih ke peringatan di bandingkan saran.
Vino memang sengaja memberikan peringatan pada wanita itu agar penyakit yang di deritanya tidak merugikan orang lain yang menggunakannya.
Lalu pria itu bangun dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Quini yang masih termangu di tempatnya dengan hati yang bersorak senang setelah mengintip sejumlah nominal yang hampir tak pernah ia bayangkan sama sekali akan di milikinya.
Setelah kepergian pria itu, Quini memungut kertas yang sangat berharga baginya. Ia tersenyum dan menangis haru saat ini. ia tak tau harus berkata apa. Apakah ini musibah sekaligus berkah bagi dirinya lantaran penyakitnya membuat dirinya bebas dari kontrak laknat tersebut.
Quini menangis sejadi-jadinya untuk malam ini. Ia menangis karena merasa bahagia. Karena untuk malam ini dan seterusnya ia tidak akan di pusingkan lagi dengan uang ataupun kewajiban.
Quini berucap syukur dalam tangis harunya meskipun itu pantas atau tidak ia mengungkapkan kalimat suci tersebut. Tetapi ia yakin bahwa Tuhannya akan memaafkan setiap dosa dari umatnya.
Quini langsung menghubungi Sarah, sahabatnya yang selalu setia menemani dirinya selama ini.
Ke chapter selanjutnya yok?
****************
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.
__ADS_1