Queenvin

Queenvin
Semangatnya Quini


__ADS_3

Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.


Saat berada di kampus dan tengah mengikuti mata kuliahnya tiba-tiba Quinita di serang rasa sakit luar biasa pada perutnya dan juga kepalanya. Di tambah dengan rasa mual yang membuat ia ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Quini berusaha menahan rasa mual saat meminta ijin pada dosennya untuk ke toilet.


setelah mendapatkan ijin dari dosen yang dikenal killer oleh seluruh mahasiswa itu. Ia pun bergegas dengan langkah terburu-buru menuju toilet yang terdekat dari ruang kuliah nya saat ini.


Di sanalah ia menumpahkan semua isi perutnya yang hanya berisi dengan tiga sendok bubur udang yang di buat oleh Bundanya tadi pagi. Sakit kepalanya semakin menjadi-jadi serta membuat pandangannya jadi berkunang-kunang saat itu juga.


Sementara Sarah yang sudah tau kondisinya Quini sebelumnya segera menyusul karibnya itu ke toilet. Ia bergegas masuk saat terdengar suara orang mengeluarkan isi perutnya. Beruntung toilet sedang sepi dari aktivitas mahasiswi yang ingin berhajat di sini , sehingga ia tak merasa khawatir jika sekiranya ada mahasiswi yang berspekulasi macam-macam terhadap Quinita.


"Ta," panggil Sarah seraya mendekati Karibnya itu.


"Tuh, kan. Apa ku bilang? Harusnya kamu jangan ikut ke kampus dulu malah maksa. Jadinya begini, kan" keluh Sarah sembari mengelus tengkuk Quini dengan minyak kayu putih yang dibawanya atas arahan bundanya Quini.


"Kamu kayak ga tau dosen yang satu itu aja. Udah nilai pelit, toleransi sulit, bicaranya pun irit," Ucap Quini yang mengingatkan soal salah satu dosen yang di kenal killer oleh mahasiswa fakultas ini.


"Iya juga sih, Ta" sahut Sarah yang membenarkan pernyataan Karibnya itu.


"Gimana? Masih merasa mual?" tanya Sarah memastikan.


"Udah mendingan. Makasih ya?" jawab Quini.


"Ya udah yok. Kita pulang sekarang," ajak Sarah yang langsung menuntun Quini ke mobilnya yang ada di parkiran.


Keesokan harinya ...

__ADS_1


Quini yang mulai merasa sedikit memiliki tenaga bersiap ke kampus untuk mengikuti mata kuliahnya yang sempat memiliki nilai cukup di transkip nilainya pada semester lalu.


Walaupun tadinya ia sempat di larang oleh Bundanya agar jangan memaksakan dirinya untuk kuliah lantaran putrinya itu belum pulih seutuhnya. Apalagi semalam Quini mengalami demam tinggi hingga menggigil.


Beruntung Quini memiliki teman sebaik Sarah yang mau memeriksakan keadaan Quini di tengah malam buta dan memberikan pertolongan pertama pada putrinya itu.


"Nekat juga berangkat kuliah, Quin?" tanya Dyah kembali hanya sekedar memastikan tindakan anaknya itu.


"Iya, Bun" sahut Quini singkat.


"Ya sudah hati-hati. Jangan lupa di minum obatnya pas udah makan siang nanti. Udah selesai kuliah pulang terus, soalnya kamu belum sepenuhnya pulih," pesan Dyah pada putrinya sembari memberikan bekal makan siang untuk putrinya itu beserta obat-obatan yang di belinya dari Apotik berdasarkan resep obat dari dokter yang menangani putrinya yang terdahulu.


"Siap, bunda. Bundanya tenang aja, ya? Aku usahain cepat pulang kalau ga ada kuliah tambahan," jawab Quini sembari menoleh ke arah Sarah yang baru saja tiba dengan mobilnya yang di tepikan di pinggiran jalan lorong dari rumah kontrakannya yang berhalaman sempit.


"Aku berangkat bun" pamit Quini pada ibunya sembari mencium punggung tangan sang bunda.


Quini pun masuk ke mobil Sarah dan meninggalkan bundanya yang masih menunggu kepergiannya ke kampus sembari melambaikan tangannya yang menonjolkan urat-urat tangannya yang tampak kasar.


Quini pun membalas lambaian tangan sang bunda saat Sarah menancapkan gas mobilnya setelah Karibnya itu berpamitan dengan Bundanya juga.


Beberapa saat kemudian ...


Mobil tiba di parkiran kampus. Lalu dua wanita cantik itu bersiap-siap untuk turun meskipun hari ini adalah mata kuliah yang mereka ikuti adalah sebuah mata kuliah di mana dosennya adalah si Doctor Vino alias Mr. Chow dari partner sexnya Quini.


Baik Sarah maupun Quini memang selalu menyiapkan mental sekeras baja saat harus berhadapan dengan pria yang di katakan paling ganteng di antara dosen muda yang menyandang status ganteng lainnya.


"Apa kamu udah siap, Ta untuk ketemu lagi dengan teman gulat kamu?" tanya Sarah saat melihat wajah tegang Quini ketika Karibnya itu hendak turun dari mobilnya.

__ADS_1


"Astaga naga ... Ini anak kenapa jadi kayak mayat berjalan," pekik Sarah saat melihat wajah cantiknya Quini yang tertutupi dengan warna putih yang memucat.


"Kamu sakit, Ta?" tanya Sarah sembari memegang jidat Quinita.


"Tuh, kan. Panas lagi," keluh Sarah seraya menarik lengan Quini untuk dibawa masuk ke dalam mobilnya dan menempatkan Karibnya itu di belakang jok mobilnya.


"Sarah kenapa akunya dibawa ke sini sih, Sarah?" tanya Quini dengan nada melemah.


"Hari ini kamu ga usah kuliah. Kita pulang sekarang. Supaya kamu bisa istirahat untuk memulihkan kondisi kesehatan kamu agar kembali normal" omel Sarah.


"Tapi jadwal kuliah pria itu akan tiba sebentar lagi, Sarah. Aku ga mau melewatkan satu mata kuliah apapun punya semester lalu Sarah. Aku ga mau mengulang untuk kedua kalinya," protes Quini saat Sarah yang telah selesai memasang safebeltnya.


"Jangan mengorbankan tubuh kamu hanya demi sebuah ambisi untuk mendapatkan nilai terbaik demi pajangan di transkrip nilai ijazah sarjana kita, Quinita" tukas Sarah sembari menatap Karibnya itu.


Quini hanya terdiam seraya menatap Sarah.


"Tadi pagi aku udah turuti maunya kamu. Sekarang kamu yang harus nurut sama aku. Jangan membantah lagi ya Quin. Mau masuk rumah sakit lagi?" tukas Sarah tegas seraya menutup pintu mobilnya.


Lalu wanita itu memutari mobilnya lalu duduk di area kemudi. Sarah pun bergegas menstarter mobilnya dan pergi dari kampus tersebut untuk membawa pulang Quini agar sahabatnya itu bisa beristirahat dengan tenang di rumahnya.


Sarah melirik Quini yang murung dari kaca spionnya. Ia tau sahabatnya itu masih ingin berada di kampus. Semangatnya memang tak pernah luntur jika menyangkut dengan kuliah. Meskipun terkendala dengan biaya, seorang Quini tak mau menyerah begitu saja hanya kekurangan dana untuk membayar semester nya.


Karibnya ini selalu saja mencari pekerjaan tambahan agar kuliahnya tetap terus di lanjutkan, meskipun harus di barengi dengan pengeluaran dana besar-besaran lantaran bundanya harus di rawat di rumah sakit selama bertahun-tahun.


"Aku salut sama semangat kamu, Quin. Tapi maaf aku harus tegas ke kamu untuk hari ini aja. Supaya kamu bisa beristirahat dulu hingga kamu benar-benar pulih," ucapnya di hati.


Ke chapter selanjutnya yok?

__ADS_1


****************


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.


__ADS_2