Queenvin

Queenvin
Draft


__ADS_3

Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.


"Vin"


Suara Fadil yang telah di hafalnya betul membuatnya segera menoleh kepada pria yang melambaikan tangan padanya. Vino pun segera melangkah menghampiri karibnya yang katanya akan menjemput dirinya kembali setelah jadwal mengajarnya selesai.


"gimana kantor?" tanya Vino saat ia telah berada dekat dengan karibnya.


"Oalah baru juga di tinggalin sebentar tu kantor, udah di tanyakin lagi. Kayak ga ada pertanyaan Laen aja" gerutu Fadil.


"basa basi" sahut Vino datar.


Fadil mencebikkan bibirnya sebentar sebelum ia melajukan mobilnya menuju ke sebuah bangunan yang sebagiannya telah di sulap menjadi ruang praktek dokter dan apotik.


Sesampainya di sana dua pria tampan itu turun dari mobilnya lalu masuk ke bangunan yang telah di cat rapi dengan dominan putih.


Vino melihat sudah mulai ada aktivitas pelayanan dari rumah sakit yang mereka bangun meskipun hanya sebatas rawat jalan dan inap biasa.


Fadil dan Vino berjalan mengelilingi bangunan yang sebenarnya akan di jadikan hotel dulunya tetapi di karenakan kurangnya pasokan Dana akhirnya proyek tersebut terbengkalai begitu saja selama hampir tiga tahun. Hingga akhirnya tercetuslah ide untuk membuat sebuah rumah sakit untuk mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan di kota ini.


Lalu Vino melewati ruang poli kesehatan di mana seluruh para Dokter spesialis di undang untuk membuka prakteknya di sini. Hingga ia sampai di depan pintu ruang praktek dari dokter spesialis internist. Vino membaca nama dari dokter yang berpraktik di sini.


"Mantanmu. Dia cukup banyak membantu. Karena Dia yang pertama kali buka lapak di sini. Terus ngajak dokter yang masih kurang jadwal prakteknya buat gelar lapaknya di sini. Makanya Rumah sakit kita udah mulai aktif dan rame" tukas Fadil menjelaskan.


Vino bergeming seraya menatap sebuah plang nama yang bertuliskan nama lengkap mantan tunangannya dulu beserta gelar yang telah di dapatkannya selama ini. Gelar yang selalu mereka perjuangkan bersama sama meskipun berbeda jurusan.


"dr. Qini Maharni Sp.PD" gumamnya.


Lalu pria itu pergi meninggalkan ruangan tersebut dan melihat ruangan yang lainnya untuk mengetahui sejauh mana perkembangan rumah sakit yang di bangun bersama dengan teman-temannya.


"kita butuh tenaga medis lagi Vin. Karena ruangan Lab sudah bisa di operasikan Minggu ini" ujar Fadil yang melihat penanganan proyek ini secara langsung.


"Ya udah rekrut aja lagi. Tapi tetap seleksi yang berkompeten di bidangnya. Untuk fresh graduate pending dulu karena Rumah sakit kita butuh yang berpengalaman dulu di masing masing bidang" jawab Vino.

__ADS_1


"So pastilah"


"kita ke ruang pertemuan. Panggil mereka semua" titah Vino.


"oke"sahut Fadil seraya menghubungi para anggota agar berkumpul di sebuah ruang yang masih kosong yang lebih cocok di sebut Aula.


Di satu ruangan Vino di hadapkan kembali pada wanita yang pernah menjadi semangat hidupnya ketika ia di rundung duka karena kehilangan orang orang yang pernah dekat dengannya dulu.


Sementara Qini mencoba memberikan senyum untuk pria yang pernah ada dan dekat di dalam hidupnya, meskipun Vino hanya menanggapinya dengan dingin.


"Baik. Tanpa harus membuang buang waktu lagi kita mulai saja rapat kita hari ini ya" ucap Fadil sebagai pembuka acara meeting di sore ini.


Rapat di mulai dari mendengarkan laporan perkembangan proyek yang sedang mereka jalankan hingga persetujuan untuk merekrut tenaga medis yang baru khusus di bagian lab.


Hingga akhirnya rapat di tutup setelah banyak berdiskusi mengenai rencana yang akan mereka lakukan untuk kemajuan Rumah sakit yang baru mereka jalankan belum lama ini.


Mereka berpamitan satu sama lain termasuk Qini yang juga berpamitan pada Vino secara baik baik tetapi di tanggapi dingin oleh Vino.


"kamu tu dingin amat sama si Qini" celetuk Fadil.


Yang dalam" cibirnya seraya melirik Qini yang berjalan ke parkiran dengan ujung matanya.


"Ga usah begitu amat. Lagian kamu ga cinta cinta kali kan ma dia. Masa segitunya harus sakit hati berkali kali lipat. Ingat aja tentang persahabatan kita yang dulu fren. Ga baik menyimpan dendam lama lama. Bisa leveran ntar" ujar Fadil menasehati karibnya agar tak terlalu jatuh dalam dendamnya.


"Dasar teman durhaka. Doain aku sakit" ketus Vino seraya mendelikkan netra sipitnya.


"hehehe gak. canda. Yok ngopi" ajak Fadil.


"Ga. Kita ke King's Club yok" jawab Vino yang berakhir mengajak karibnya itu ke tempat favoritnya mereka jika ingin membutuhkan refreshing seluruh tubuhnya.


Yang dengan kata lain melampiaskan hasrat pada wanita secara semi semi saja. Jika sudah berlanjut mereka akan menghubungi partner mereka agar datang untuk melayani nafsu birahi mereka berdua.


"oh no no no no. Aku mau belajar menahan diri untuk ga ke tempat gituan lagi. bagus nya kita ngopi aja.Okey?" ucap Fadil yang spontan menolak ajakannya Vino.

__ADS_1


"heh. Tumben. Bukannya kamu masih punya kontrak sama partner kamu barang sebulan lagi. Yah manfaatkanlah sepuasnya sebelum berganti dengan yang baru" tukas Vino.


"heh. Kamu ga tau ya. Semalam kan itu perempuan udah aku putusin sepihak kontrak nya" tukas Fadil lugas.


"hah??. Serius kamu?. Kenapa? Udah bosen banget ya sama tu perempuan?" tanya Vino penasaran.


"hmm... Satu sisi iya juga. Tapi satu sisi lain aku kepingin menjalani kehidupan baik mulai dari sekarang".jawab Fadil jujur.


"wahh.. hahahaha.. serius kamu?" tanya Vino tak percaya jika karibnya ini akan berhenti dari dunia malamnya.


"Iya" sahut Fadil mantap seraya mengangguk kan kepalanya pasti.


"wahh..aku jadi sendirian dong sekarang" celetuk Vino sedikit kecewa karena tak memiliki teman lagi untuk di ajak berbuat dosa.


Akan tetapi pria itu juga tak ingin melarang jika seseorang ingin berubah ke arah yang lebih baik. Hanya saja ini seperti kebalikan dari dirinya. Di mana dulunya ia yang sering menghindari ke tempat tempat laknat seperti itu malah sekarang dirinya yang ketagihan untuk datang ke sana.


Ia terkekeh geli kala mengingat dirinya sendiri yang ternyata bisa melenceng dari hidupnya yang dulu begitu teratur dan disiplin pada dirinya sendiri.


"kenapa kamu?" tanya Fadil heran.


"enggak. Ga apa apa. Ya udah yok ngopi" jawab Vino seraya merangkul leher karibnya itu menuju parkiran.


Kali ini ia akan menahan sedikit hasratnya untuk menemui partner sexnya yang selalu membuat ia terpuaskan demi karibnya yang mengambil keputusan untuk bertaubat.


"Oh ya. Ngomong ngomong kamu kesambet jin apa sih bisa kepikiran untuk menyudahi hobi kamu yang doyan maen cewek?" tanya Vino penasaran.


"hehehe. Kepo" cibir Fadil dengan kekehan nya.


"sialan lu" umpat Vino kesal.


Sedangkan Fadil hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.


Ke chapter selanjutnya ya??

__ADS_1


****************


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.


__ADS_2