Queenvin

Queenvin
Sensasi


__ADS_3

Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.


"Aroma kulit yang sangat menenangkan," gumam pria tersebut seraya menghirup dalam dalam aroma kulit wanita yang berada di atas pangkuannya tersebut.


Setelah puas ia menghirup aroma tersebut. Kini bibirnya mulai mengecup ceruk leher wanita ini. Membuat Quini meremang sesaat sebelum akhirnya ia merasakan geli saat Vino menyesap kuat kulit lehernya, sehingga tanpa di sadarinya ia melenguh saat tangan kekar pria itu bergerilya di balik sexy dress nya yang serba kekurangan kain di sana sini.


Vino tersenyum smirk saat mendengar lenguhan dari wanita yang sedang ia cumbui saat ini. Lalu ia membuka paksa dress yang sudah separuhnya turun dari bahu wanita ini.


Sehingga tak ada lagi sehelai benangpun yang tertutupi di tubuh yang masih terlihat indah meskipun sedikit kurusan dari yang sebelumnya ia lihat terakhir kalinya.


Vino meminta pada wanita bayarannya untuk melakukan sesuatu seperti biasanya tanpa memperdulikan wanita itu suka atau tidak. Bukan ia tidak tau jika dari raut wajahnya wanita itu sangat kepayahan dalam mengulum miliknya hingga ia mendapatkan puncak kepuasannya yang pertama untuk malam ini.


"Kamu memang pintar dan berpengalaman," ucap pria tampan itu seraya melepaskan semua atribut yang melekat di tubuhnya.


Sementara Quini yang terbatuk-batuk serta merasakan mual karena harus menelan cairan yang sengaja di tumpahkan ke mulutnya dengan menahan kepalanya tanpa memberikannya jeda untuk bernafas barang sedetikpun.

__ADS_1


"Sialan," umpatnya ke pada pria itu.


"Brengsek kamu, pak," makinya di hati.


Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Sebab jika ia terdengar memaki pria ini, sudah pasti akan menimbulkan masalah baginya.


Quini terhenyak kaget saat tubuhnya tiba-tiba mengudara di atas bahu pria yang tak lain adalah dosennya sendiri dengan tubuh yang melengkung ke belakang membuat Quini sulit mengatur nafasnya.


"Awww ... " pekiknya lebih kuat saat tubuhnya di banting ke atas ranjang dalam keadaan telungkup.


Sedangkan Vino sendiri merasakan sensasi luar biasa setiap kali ia bercinta dengan partner sexnya yang ini. Sensasi hentakan demi hentakan hingga mencapai puncak kenikmatan yg membuat dirinya terus ketagihan.


Wanita ini mampu mengimbangi dirinya yang terus-terusan meminta untuk melakukan apa yang dia inginkan dalam fantasinya.


"Ohh ... Sial. Dia begitu nikmat," desisnya saat ia mencapai puncaknya yang ketiga.

__ADS_1


Sementara Quini yang masih tahap pemulihan dari sakit yang di deritanya tempo hari kini semakin lemah karena rasa lelah yang ia rasakan untuk mengimbangi partner sexnya kali ini.


Ia di tuntut untuk lebih dominan kali ini meskipun ia tak cukup tenaga untuk memuaskan hasrat pria ini. Quini merasa tenaganya telah habis di kuras hingga ia merasa tak bertulang. Meskipun ia sudah berteriak untuk berhenti tetapi pria ini tetap tak perduli. Quini benar-benar di paksa bercinta hingga yang entah ke berapa kalinya.


Pria ini benar-benar berhenti setelah ia merasa puas dan lelah setelah merasakan sensasi beberapa kali. Seperti biasa Vino berlaku egois dengan memilih tidur tanpa mau berbagi selimut dengan Quini yang sudah merasakan hawa dingin menusuk- nusuk tulangnya.


Matanya mulai panas di sertai suhu tubuhnya yang mulai menghangat. Quini masuk ke kamar mandi dan memilih rebahan di dalam bathtub hangat seraya mengompres tubuhnya sendiri agar suhu tubuhnya tidak semakin tinggi.


Bagaimanapun ia takut jika harus berakhir lagi di rumah sakit lantaran penyakit tipes yang di deritanya yang belum melewati masa pemulihan pada umumnya.


Quini merasa lemah dan tak bertenaga. Ia akhirnya tertidur tanpa dirinya tau jika sebenarnya ia tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir kecil dari hidung mancungnya.


Yok ke next chapter


...----------------...

__ADS_1


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ketiga ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉


__ADS_2