Queenvin

Queenvin
Mual


__ADS_3

Hai reader. I am coming back. happy reading. moga happy.


Sarah bergegas menstarter mobilnya setelah menerima telpon dari karibnya yang terdengar lemah. Ia merasa cemas saat akan keadaan karibnya itu. Apalagi saat ia di mintai tolong oleh Karibnya untuk menjemputnya di tengah malam seperti ini.


"Dia kenapa ya?. Apa Dosen gila itu menyakiti nya lagi malam ini?" tanyanya di hati.


Sarah membelokkan mobilnya ke halaman gedung King's Club seraya netranya mencari cari keberadaan Karibnya itu.


"Ta,"pekiknya saat melihat seorang wanita tengah bersandar di sebuah pilar sambil memeluk perutnya.


Sarah pun segera memarkirkan mobilnya yang yang tak jauh dari keberadaan Karibnya itu. Langkahnya tergesa-gesa menghampiri karibnya itu. Bagaimanapun ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Karibnya saat ini. Karena dari dialah yang mengajak Karibnya untuk bekerja seperti ini.


"Ta, kamu kenapa?" tanya Sarah begitu ia tiba di depan karibnya yang setengah sadar.


Sarah memegang dahi Karibnya itu dan terkesiap saat mendapati dahi Karibnya yang terasa panas dari suhu normal.


"Ya ampun Ta. Kamu sakit ya?. Bisa panas gini badannya Ta" serunya panik.


Wanita itu hanya bergeming dengan tatapan yang sayu melihat wajah Karibnya yang cemas.


"Ayok. Kita ke rumah sakit sekarang" ucapnya seraya menuntun Karibnya itu untuk berdiri.


Sarah membopong tubuh Karibnya itu untuk berjalan ke arah mobilnya dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil. Dengan segera ia membawa Karibnya itu menuju ke rumah sakit.


"kita pulang aja Sar" ujar Wanita itu lemah.


"kok pulang sih. Badan kamu panas banget Ta. Ga mungkin kamu di rawat di rumah dalam keadaan begini" bantah Sarah.


"Aku cuma sakit perut karena mau haid mungkin" jawab Wanita itu.

__ADS_1


"Masa sih?" tanya Sarah ragu akan kondisi Karibnya itu seraya melirik sesaat ke teman dekatnya itu.


"Iya" jawabnya lemah sembari terus memeluk erat perutnya yang semakin melilit sakit bercampur rasa ngilu di bawah perutnya.


Tetapi Sarah tak mempercayai perkataan Karibnya begitu saja. Ia menoleh ke arah wajah yang mulai pucat pasi itu.


"Ta. Wajah kamu pucat banget Ta. Mending kita ke rumah sakit aja sekarang. Jangan di tunda tunda ya?" saran Sarah yang semakin khawatir.


"Engga usah Sar. Aku mau istirahat di rumah aja. Besok pun aku udah pulih lagi kayak biasa" jawab wanita itu yang menolak secara halus saran dari Karibnya itu.


Ia takut jika di bawa ke rumah sakit dengan penampilannya yang seperti ini akan berdampak negatif nantinya saat orang orang di rumah sakit mengetahui wajah aslinya di balik make up tebalnya saat ini.


Sementara Sarah bergeming seraya memikir kan cara agar Karibnya ini mau di bujuk ke rumah sakit. selang beberapa detik kemudian suara orang mau muntah berasal dari Karib nya yang ingin meluapkan isi perutnya.


"Ta"pekiknya seraya menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu membuka kaca jendela dan pintu otomatisnya agar Karibnya itu bisa keluar dan memuntahkan isi perutnya yang sedang bergejolak saat ini.


Sementara Wanita itu semakin lemah setelah ia memuntahkan semua isi perutnya, walau pun denyut di kepalanya semakin terasa nyeri.


"Udahan Ta?" tanya Sarah saat Karibnya ini membalikkan tubuhnya masuk ke dalam mobil.


Wanita itu hanya menganggukkan pelan tubuhnya lalu berkata.


"Tolong bawa pulang aku sekarang ya?"


"Tapi Ta. Wajah kamu itu pucat banget Ta. Kita ke rumah sakit aja ya. Biar sekalian di check kamunya sakit apa. Kalau cuma kram karena mau datang haid rasanya ga mungkin banget bisa sampai parah begini. Soalnya kamunya ga pernah sampai begini kok kalau lagi senggugut Ta" Bantah Sarah yang merasa jika ada penyakit lain yang sedang di derita oleh Karibnya itu saat ini.


"Enggak Sar. Pikirkan tentang penampilanku sekarang ini Sar" ucap wanita itu.


Seketika ia teringat tentang penampilan akan karibnya sekarang ini. Mulai dari baju bahkan dandanannya malam ini. Meskipun karibnya ini telah mengguyur dirinya di bawah shower, tapi tampilan makeup tebal yang sengaja ia rias di wajah sahabatnya ini tak melunturkan hasil karyanya.

__ADS_1


Justru hal tersebut bisa mengundang banyak pertanyaan dari orang-orang yang berada di rumah sakit tentang status Karibnya ini yang berpakaian sexy dan berdandan glamor persis seperti pelacur yang sebenarnya.


Takutnya lambat laun wajah sebenarnya dari karibnya itu akan ketahuan oleh orang-orang yang bekerja di rumah sakit dan kemungkinan akan mempengaruhi karier mereka di masa depan nantinya.


Apa lagi status mereka yang masih seorang mahasiswi kedokteran yang nantinya butuh proses untuk melakukan praktek Dokter sebagai Dokter muda di salah satu rumah sakit. Semua bisa mempengaruhi jika identitas mereka sebagai penjaja **** ketahuan oleh pihak yang berhubungan dengan karier mereka di kedokteran nantinya.


Untuk itulah mereka selalu menyembunyikan identitas mereka yang asli dari dunia malam yang mereka geluti sekarang ini.


"Ya udah kalau kamu maunya begitu" sahut Sarah mengalah demi martabat karibnya.


Akhirnya Sarah memilih melajukan mobilnya ke jalanan menuju rumah kontrakan karibnya itu. Sesampainya di sana ia membantu Karib nya untuk turun dari mobilnya dan membopongnya masuk rumah.


"Pelan-pelan Ta" ujar Sarah saat Karibnya itu yang sedikit tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sehingga menyebabkan karibnya itu sedikit oleng.


Sementara wanita itu berusaha berdiri tegak dan berjalan sedikit cepat meskipun kepalanya terasa berat. Hal ini ia lakukan karena ia takut di lihat oleh ibunya saat ia pulang tengah malam dengan berpakaian seperti ini yang jauh dari kata layak sebagai seorang mahasiswi.


"Aku nginep di sini ya untuk malam ini aja. Takut nanti kamu kenapa napa. Soalnya bunda kamu kan belum sehat betul. Jadi biar entar akunya aja yang jelasin ke bunda kamu kenapa pulangnya malam-malam" ujar Sarah yang seolah tau jika sang bunda akan menanyakan tentang keadaan mereka sekarang ini.


Wanita itu hanya mengangguk lemah seraya menoleh ke arah Sarah sekilas lalu berjalan sempoyongan ke arah kamarnya. Ia ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya meskipun tak se empuk kasur yang berada di hotel. tapi cukup memberikannya sebuah kenyamanan selama ini.


Akan tetapi Baru juga ia akan membuka pintu kamarnya dengan tangannya yang berada di tuas pintu tiba-tiba....


"Dari mana kalian?"


Ke chapter selanjutnya yok?


****************


Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.

__ADS_1


__ADS_2