
#hai readers. selamat menikmati episode kali ini ya. moga enjoy.
Saat Devan mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan tersenyum sinis tiba tiba sebuah bogem mentah mendarat di pipi kanannya.
"Vino". pekik Qini kaget melihat apa yang di lakukan tunangannya pada Devan.
Qini melihat Devan terhuyung sesaat sebelum pria itu berdiri tegak kembali, begitu pun Vino yang memang menunggu pria itu berdiri tegak kembali agar Ia bisa melihat reaksi rasa sakit dari wajah pria yang mengejeknya barusan.
Devan menyeka sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. lalu Devan tertawa kecil seraya menatap Vino yang masih terlihat marah pada dirinya.
ia berdecih lalu menatap Qini yang juga terlihat raut kesal pada dirinya. tetapi Devan tak memperdulikan atas sikap dua sejoli tanpa rasa cinta itu. baginya telah menunjuk kan sikap dari ketidakdewasaan Vino di depan Qini sudah cukup.
"cuma segitu kemampuan kamu untuk bersaing dengan orang yang di cintai tunangan kamu itu". ucap Devan sarkas.
Vino mengepal kuat tangannya dengan tatapan nyalang ke arah netra Devan yang juga menatap Vino.
"Vin". tegur Qini saat melihat raut wajah Vino yang semakin tak bersahabat.
"Vin. ayok pulang. ga usah di ladeni". ajak Qini seraya menarik lengan Vino.
Qini takut jika Vino akan berbuat lebih kasar lagi pada Devan. Qini mulai merasa cemas akan terjadi sesuatu yang lebih mengkhawatir kan. makanya ia bersikeras mengajak Vino keluar dari sini.
"Vin".
Vino melirik Qini yang terlihat khawatir jika dirinya akan berbuat lebih kasar pada mantan pacarnya itu lalu kembali menatap Devan yang terlihat meremehkan dirinya.
"heh. aku ga perlu bersaing sama orang seperti kamu yang hanya bisa mengganggu hubungan orang lain. yang hanya mampu membuat kecewa banyak orang yang telah mencintai kamu dengan tulus. dari sini aku bisa lihat bahwa kamu tidak lebih dari seorang pecundang yang bersembunyi atas nama cinta. sementara kamu sendiri tidak pernah menghargai cinta itu sendiri". cibir Vino seraya melangkah berlalu meninggalkan Qini dan Devan yang berdiri mematung setelah mendengarkan pernyataan Vino barusan.
Qini melirik Devan lalu berjalan perlahan meninggalkan Devan sendirian di taman tepi kolam rumah ini. Qini berusaha mengejar Vino yang berjalan cepat ke arah mobilnya. tetapi langkahnya di cegah oleh Devan saat itu juga.
"Qin. biarkan". ucap Devan seraya menahan lengan Qini menghadap padanya.
"apaan sih Van. lepaskan!". Qini berucap dengan kesal.
__ADS_1
"dia lagi marah. mending kamu jangan ngejar dia dulu". ujar Devan yang tak ingin Qininya pergi.
Untuk kali ini ia akan menggunakan strategi nya walaupun harus bersikap egois dan licik dengan membiarkan Vino pulang sendirian tanpa Qini. jadi dengan begitu pria muda yang berada di bawah lima tahun darinya akan berfikiran jika Qini lebih memilih dirinya di bandingkan tunangannya sendiri.
"itu bukan urusan kamu Van. lepasin Van. aku bilang lepasin". ucap Qini yang terus memberontakkan dirinya dari genggaman Devan.
Devan tak perduli malah ia semakin mempererat genggamannya pada lengan Qini.
"kamu bener bener egois Van. dasar gilak kamu tau ga". ucap Qini yang tak mau kalah dari pria ini
Dengan sekuat tenaganya akhirnya ia pun bisa lepas dari pria ini meskipun Devan sendiri yang melepaskan genggaman tangan nya dari lengan Qini karena ia juga tak mau Qini merasa kesakitan karena dirinya.
"tolong jangan pernah hubungi aku lagi". ucap Qini kesal lalu segera berlalu dari hadapan pria itu.
Sementara masih di area parkir setelah ia melontarkan kata pedas untuk Devan. Vino masih menunggu Qini di depan mobilnya Qini. ia masih berharap tunangan nya itu segera menyusul dirinya untuk menjelaskan atas apa yang di lakukannya hari ini. ia masih berharap wanita itu mau pulang bersama dengannya malam ini.
Vino berdecih saat melihat ke arah pintu keluar dari taman tersebut tak satu pun tanda tanda jika tunangannya itu akan keluar dari sana.
"****". makinya saat menyadari akan kebodohannya menunggu wanita yang tak ada sedikitpun rasa cinta untuk dirinya di hati wanita itu.
"Vino". panggil Qini di balik jendela kaca mobilnya Vino.
Vino menurunkan kaca jendela mobilnya dan bertanya dengan sikapnya yang dingin "ada apa?".
"aku pulang sama kamu". jawab Qini berharap ia di beri tumpangan meskipun ia kesini dengan mobil pribadinya.
Vino menarik miring sudut bibirnya. lalu menghela nafasnya sejenak.
"kamu pulang sendiri aja". titahnya dingin.
"ga. aku mau pulang sama kamu". bantah Qini sembari memutari mobilnya Vino.
lalu Vino keluar dari mobilnya meskipun ia telah mencoba menahan amarahnya yang telah sedari tadi ia tahan. Vino tersenyum meskipun terpaksa lalu meminta kunci mobil nya Qini. Qini pun memberikannya tanpa ragu. hatinya sedikit lega saat Vino menutup mobilnya setelah menaikkan kaca jendela mobilnya kembali.
__ADS_1
Vino berjalan menuju ke mobil nya Qini yang di susul Qini di belakang langkah Vino. pria itu langsung membuka pintu mobilnya Qini dan menunggu Qini untuk masuk ke mobilnya sendiri. melihat hal tersebut Qini pun mengerti jika tunangannya itu tak mau pulang dengannya malam ini.
"Vino?!". tegurnya pada pria yang menatap dingin dirinya.
"masuk".
"ga Vin. aku mau pulang sama kamu". bantah Qini seraya menutup pintu mobilnya.
Vino melirik ke pintu mobil yang di tutup Qini dengan tangannya sendiri. lalu menatap Qini dengan tatapan dingin.
"oh ya?. lalu mobilnya kamu biar di bawa pulang sama Devan dan kalian akan bertemu lagi di belakang aku kan pasti nya". ucapnya yang sengaja menyudutkan Qini.
"Vin??".tegur Qini dengan pupil netranya yang melebar.
Vino semakin memiringkan senyumnya.
"udah ciumannya??. atau mau di lanjutkan kembali. silahkan". ucapnya sarkas.
plak. sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya Vino yang tanpa di ketahui oleh kedua nya ada sepasang mata yang menatap senang akan perbuatan Qini terhadap Vino barusan. Dialah Devan yang setelah Qini pergi pria itu pun langsung menyusul Qini ke parkiran hanya untuk melihat dengan siapa Qini akan pulang mengingat wanita itu datang ke sini sendirian dengan mobilnya.
Vino berdecih seraya menatap tajam pada wanita yang sempat di kagumi nya itu. ia pun melangkah kembali ke mobilnya. sementara Qini berusaha mengejar Vino untuk menjelas kan apa yang terjadi di hari ini.
"Vino. tunggu. ini ga seperti yang kamu tuduh kan. aku sama Devan ga ngelakuin apa pun Vin. sumpah".
Vino yang mendengar kata sumpah dari mulut Qini seketika berbalik menghadap wanita itu seraya menatap kesal.
"ga usah bersumpah sumpah segala Qin. cukup banyak yang aku tau saat kamu tak menceritakan apa pun padaku mengenai kamu selama ini. jika aku tidak menyusul kamu ke sini. mungkin aku tidak tau seberapa banyak kebohongan yang akan kamu lakukan di kemudian hari Qin". ucapnya yang sengaja menyudutkan Qini.
"Vin??".
Yok ke next chapter
...****************...
__ADS_1
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.