
Hai reader..selamat membaca kembali ya?. moga happy.
Sarah bergegas membuka pintu belakang mobil agar Quini bisa di pindahkan ke brankar dorong untuk segera di tangani di dalam ruang gawat darurat tersebut.
"Cepat gantungkan infusnya segera," titah seorang dokter jaga pada perawat yang sedang menangani Quini.
Sarah memperhatikan cara tenaga medis di rumah sakit ini bekerja. Lalu Sarah teringat pada sampel darah milik karibnya yang di ambilnya atas titah pak Vino pada saat Quini di tangani di klinik kampus. Ia mengeluarkan sampel darah tersebut dari kantong tuniknya.
"Dok," panggilnya pada seorang Dokter jaga yang baru saja selesai menangani karibnya itu.
"Ini sampel darahnya pasien untuk di periksa. Pak Vino yang suruh begitu," ujarnya seraya menyerahkan sampel darahnya Quini pada Dokter tersebut.
"Oh, iya. Baik. Terima kasih ya," ucap dokter tersebut pada Sarah.
"Dek, Ga usah lagi ambil darahnya. Udah di ambil duluan sama Dokter Vino i," serunya pada perawat yang tadinya ingin mengambil darahnya Quini seraya menunjukkan satu tabung yang berisi darahnya Quini.
"Ini tinggal kamu bawa ke Lab, dan bilang sama petugasnya kalau saya butuh hasilnya sekarang juga ya," titahnya pada seorang perawat yang masih muda tersebut.
"Baik, Dokter" jawab sang perawat.
Sepeninggalnya perawat tersebut Sarah di minta oleh salah satu petugas administrasi untuk mengisi kelengkapan administrasi pasien.
"Ya Ampun ... Tasku ketinggalan pula di klinik kampus," ucap Sarah saat tersadar jika ia tak sengaja meninggalkan tasnya di klinik kampus lantaran terburu-buru mengejar dosennya yang akan membawa Quini ke rumah sakit.
"Maaf ya mbak, tas saya ketinggalan di kampus jadi saya harus balik ke kampus dulu sebentar buat ambil tas saya," ucap Sarah.
"Baik mbak, tapi sebelum itu mbaknya harus sign sidik jari dulu ya," ucap petugas tersebut.
Tanpa banyak bertanya Sarah pun melakukan apa yang di minta oleh petugas tersebut. Mungkin itu adalah metode baru untuk mengidentifikasikan keluarga atau wali dari pasien jika kelupaan membawa identitas pasien.
Lalu Sarah kembali ke kampus untuk mengambil tasnya kembali. Belum pun ia keluar dari rumah sakit tersebut, Sarah harus kembali ke ruangan darurat tadi karena seorang perawat memanggilnya dan memintanya untuk menemui dokter yang menangani karibnya tadi.
__ADS_1
"Silahkan duduk mbak," titah perawat tersebut seraya mempersilahkan Sarah untuk duduk pada sebuah kursi di mana seorang dokter yang memeriksa karibnya tadi menunggunya.
"Anda keluarganya pasien, kan?" tanya dokter pria yang termasuk kategori ganteng menurut pandangan wanita yang baru pertama kali melihatnya.
"Iya," sahut Sarah singkat.
"Sudah berapa lama sebenarnya pasien mengalami demam tinggi?" tanya dokter yang beridentitas dr. Chandra pada jas putih yang di pakainya sekarang ini.
"Sudah dua hari Dokter," jawab Sarah.
"Ga pernah di obati?" tanya Chandra saat setelah ia membaca hasil dari Laboratorium.
"Ada juga sih. Cuma yah sebatas untuk menurunkan panas dan nyeri di lambungnya saja, karena teman saya pikir ia hanya mengalami kondisi tersebut karena masa haidnya" jawab Sarah jujur.
Chandra menggeleng pelan seraya memperhatikan hasil lab dari pasien yang di rujuk oleh Vino.
"Sebenarnya temen saya itu sakit apa sih, Dok?. Apa ada yang serius tentang kondisinya saat ini?" tanya Sarah penasaran dengan penuh rasa kekhawatiran.
"Habis ini setelah keluar dari rumah sakit. Tolong si pasien beristirahat total dan jalani pola hidup sehat. Jangan sampai merasakan lelah sehingga penyakit tipesnya kumat lagi," tukas Chandra yang menjelaskan kondisi pasien yang sebenarnya pada Sarah.
"Ja-jadi teman saya kena tipes dokter?" tanya Sarah shock.
"Iya," sahut dokter Chandra singkat.
"Ya ampun, Ta. pantesan aja," desisnya di barengi rasa kaget.
"Pantesan?" tanya dokter Chandra penasaran saat mendengar desisan Sarah.
"Iya dokter. Selama ini panasnya tinggi banget terus dia sering merasa mual lalu muntah. Kirain beneran senggugut karena siklus haid. Eh ga taunya dia lagi kena tipes"tukas Sarah menjelaskan kejadian dua hari belakangan tentang kondisi karibnya itu.
"Ya sudahlah. Saya sudah memberikan obat pereda panas dan nyeri melalui injeksi pada infusnya saat ini. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap. besok akan di jadwalkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengecek penyakit lainnya pada pasien sebelum terlambat," ujar Chandra yang menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Baik, dok. Makasih," sahut Sarah lemah.
Lalu ia menoleh ke arah Quini yang masih terbaring di atas brankar serta masih betah memejamkan matanya tanpa mau sedikitpun temannya itu membukanya.
"Ya, sama-sama," sahut Chandra yang terkadang mencuri pandang sesekali ke arah Sarah semenjak ia melihat Sarah berdiri di sudut ruangan lalu memberikannya sampel darahnya pasien.
Wajah Sarah cukup menarik perhatiannya saat ini. Bukan karena kecantikannya akan tetapi karena wajah itu seperti tak asing baginya. Chandra seperti pernah melihat raut wajah Ayu itu di sebuah tempat, tapi entah di mana Chandra pun tak ingat.
"Apakah dia gadis kecil itu?" tanyanya dengan netranya yang tak lepas dari wajah sendu Sarah yang menatap pasien yang di bawa oleh wanita itu.
Pikirannya menerawang jauh kembali ke masa dirinya dan juga teman-temannya mengikuti praktek kuliah kerja nyata di suatu perkampungan pedalaman yang berada di daerah Jawa Barat kala itu.
Kampung yang masih harus banyak di benahi dan di beri solusi tentang permasalahan sosial dan juga kebiasaan dari kampung tersebut. Di mana para gadis belia yang baru saja beranjak dewasa menjadi korban.
Chandra mengekori pergerakan Sarah dengan kedua matanya saat wanita itu keluar dari ruangan darurat ini menemani temannya yang akan di bawa ke sebuah ruang rawat inap di rumah sakit ini.
Netranya tak pernah lepas memandangi wajah Ayu Sarah hanya untuk memastikan gadis yang pernah ia lihat di perkampungan tempat ia melaksanakan tugas prakteknya tempo dulu.
"Apakah benar dia atau cuma perasaan aku saja?" tanyanya di hati sembari menggeleng pelan.
Chandra masih meragu lantaran penampilan gadis kecil itu sangat berbeda di bandingkan dengan wanita yang ia pandangi saat ini.
Akan tetapi jika di pikirkan lagi bukankah setiap orang bisa berubah seiring dengan bertambahnya usia. Baik dari segi pikiran dan juga penampilan.
Chandra terpaksa menghentikan lamunannya saat Seorang perawat memanggilnya untuk memeriksa kembali pasien yang baru saja tiba di ruangan tersebut.
Ke chapter selanjutnya yok?
****************
Readers...mohon dukungannya ya untuk novel ke empat ku ini. Tetap memberikan like, vote, komen dan masuk dalam favoritnya readers ya...please...😉.
__ADS_1