
"Oh.. Ayyu.. Ada apa"
"Maaf Bu.. Boleh Ayyu minta ijin tidak mengikuti mata kuliah Ibu" tanyanya sopan
"Kenapa memang nya" sedikit tidak senang
"Saya menggantikan kuliah Pak Hadi di lt.3 Bu.." jawab Rere pelan
"Oke.. silahkan. Saya hanya akan memberikan sedikit materi dan quis" sambil mengambil selebaran kertas di map yang ada di tangannya. "Silahkan" sambil menyodorkan secarik kertas pada Rere
Rere mengambilnya dan...
"Kamu silahkan kerjakan quis dari saya. Batas pengumpulannya saya kasih sampai jam 2. lewat itu saya anggap kamu bolos" Jelas Bu Sita.
"Baik Bu.. terimakasih atas pengertiannya" Rere pun meminta ijin meninggalkan ruang dosen. Berjalan cepat menuju lt.3
Masih ada waktu 10 menit sebelum kelas dimulai. Rere duduk bersila di lantai luar ruang 3.2. Ia membuka laptopnya mengambil pena dan mulai mengisi jawaban atas 10 soal yang tertera.
Banyak mahasiswa yang lalu lalang memperhatikannya. Namun tidak satupun yang dilihat oleh Rere karena ia tidak ingin membuang waktunya.
Seorang mahasiswi menghampirinya..
"Ehh lo.. mau ngajar apa ngerjakan tugas lo sendiri.." tanya nya dengan sinis
"Eh.. maaf. Spontan Rere melihat arah jam tangannya yang ternyata sudah lewat 5 menit dari jadwal seharusnya"
"Di depan podium Rere berulang meminta maaf karena kelalaiannya" dan mulai menjelaskan materi yang sudah di siapkan Pak Hadi.
Mata kuliah selesai pukul 12.30.
Setelah mengakhiri kuliahnya Rere tidak beranjak dari ruang kelas. Ia kembali duduk bersila di lantai di sudut ruangan. Menyelesaikan quis yang masih tersisa 6 soal.
Sakha masih terus memperhatikan Rere. Ingin sekali ia membantu tapi apa daya dia kalah cerdas dengan Rere. Salah salah Rere nanti malah akan ilfiil melihatnya jika tujuan baiknya membantu malah mempermalukan dirinya sendiri.
"Heeeiii... Bu Asdos" sengit mahasiswi tadi
"Ah.. ya.." Rere melihat ke arah sumber suara
"Kalo gak mampu g usah sok sok an deh. lepas tuh status asdos lo... " eneg gue katanya sambil berlalu meninggalkan Rere
Selama ini Rere tak pernah meladeni siapapun dan apapun yang mereka lontarkan kepada dirinya. Selama itu baik, Rere akan terus jalani semaksimal diri nya bisa. Ia menjadi asdos juga bukan kehendaknya. Ia langsung di pilih oleh Pak Hadi sendiri saat itu ketika ia duduk di semester 3.
Rere masih melanjutkan quis nya. Karena tersisa waktu hanya 15 menit lagi. Jam 1 siang Rere harus mengajar kembali. Itu artinya ia tidak akan punya waktu untuk menyerahkan lembaran quis nya.
15 menit telah berakhir, Rere juga sudah selesai mengerjakan semua quis nya. Ia segera mengemas barang barang nya dan berlari menuruni anak tangga menuju ruang dosen.
Dilihatnya Bu Sita sedang menikmati makan siangnya.
"Siang Bu sita.." Sapa Rere sopan sambil berjalan menuju mejanya.
"Hmmm... ada apa" tanya Bu Sita masih dengan nada ketus nya
"Maaf Bu.. Hanya menyerahkan lembar quis." Jawab Rere merendah
__ADS_1
"Oh..oke. saya terima. silahkan saja taruh di situ" sambil menunjuk ke tumpukan lembaran quis milik teman teman sekelasnya.
"Baik Bu. Terimakasih. Saya permisi. Selamat siang" ucap Rere sambil meninggalkan ruang dosen.
Rere pun berlari kencang menaiki anak tangga lagi menuju lt.3. Ketika sudah berada di lt.3 ia berjalan sambil menetralkan nafasnya yang tersengal sengal. Ia berjalan memasuki ruang kelas 3.2. Dilihatnya sudah banyak mahasiswa yang berkumpul menantikan dirinya. Ya.. Rere terlambat 10 menit dari jadwal seharusnya.
Semua mahasiswa sudah mengetahui jika mata kuliah Pak Hadi yang menghandle adalah asdosnya yaitu Rere. Karena Pak Hadi harus istirahat total setelah menjalani operasi usus buntu.
"Assalamualaikum.. selamat siang. maaf saya terlambat 10 menit" sambil melihat jam tangannya
"Langsung saja, materi kira hari ini.. buka halaman..." sambil membuka halaman buku yang sudah ia beri pembatas buku. "167"
'Alhamdulillah....huuuffffttttt' Rere mengucap syukur sambil menghela nafas panjang. Ia merapikan buku, laptop dan alat tulisnya memasukkannya dalam tas ranselnya. Ia pandangi ponsel yang ia simpan di tempat pensilnya, sebelum menutup tas ranselnya. 'kapan gue ada waktu buat beli baru' tanya nya dalam hati.
Rere berjalan santai menuruni anak tangga. Sambil mengingat hal gila yang ia lakukan hari ini. 'Allohu Akbar' pekiknya dalam hati.
Entah berapa kali seharian ini Rere naik turun tangga 'makin langsing kali gue yaaa...' dalam batinnya. Rere menuju parkiran dan mulai mengayuh sepedanya menuju caffe
Rere menuju loker untuk menaruh barang barangnya dan mulai bekerja.
Dilihatnya sahabatnya sudah memesan sesuatu. Ia pun mengabaikan sahabatnya dengan memberikan pelayanan kepada seseorang yang sedang memesan minuman.
Ketika adzan magrib berkumandang, Rere meminta ijin untuk istirahat dan di setujui oleh Dimas, bosnya.
Rere ikut berkumpul dengan sahabatnya. Sesekali tawanya pecah bersama sahabatnya yang tentu saja menjadi tontonan pengunjung yang lain dan tentu saja bosnya.
Sejak Rere berkumpul dengan teman temannya, tatapan bos nya terus ke arahnya. Hingga Erlin sontak histeris..."OMG..." katanya
"Kenapa lo Er.. kesambet" Tanya Ratih yang terkejut melihat Erlin mendadak hiteris.
__ADS_1
"Eh... sini deh" sama merapatkan mukanya membentuk lingkaran kepala.
"Tuh bos Dim sejak lo kesini gue perhatiin ngliatin lo terus Ayy"
"Hahhh.." pekik Ratih yang hendak melihat Dimas, apakah betul yang dikatakan Erlin, namun langsung di jewer oleh Erlin
"Aaauuuuuu....."pekiknya "sakit tahu.." sambil memegang telinganya
"Lo sih... ngapain coba pake ngelihat. ntar ketahuan kalo kita lagi ngomongin tu bos" jawab Erlin pelan, yang langsung diangguki kepala si empunya telingan sambil monyong monyong.
"Udah ah.. gak usah bahas dia. Ntar makin jadi.." ide Rere mengakhiri pembahasan bab bos nya
"Telp lo mati kah... gue telp dari siang gak lo angkat angkat??" Tanya Cici mengalihkan pembicaraan
"Almarhum" jawab Rere cepat.
"Whhhaaaattttt" teriak Erlin dan Ratih bersamaan, dan untuk kesekian kalinya, mereka meneriakkannya tepat di kedua telinga Cici.
Tidak butuh waktu lama bagi Cici untuk menjewer satu telinga ke dua sahabatnya itu. Yang mana Erlin duduk di kanan Cici dan Ratih duduk di kiri Cici.
Rere hanya tertawa terpingkal pingkal mendengar Cici menghujat sahabatnya itu. Dan pastinya Dimas yang sedari tadi mendengar kata 'almarhum' masih penasaran. siapa yang dimaksud oleh Rere.
"Sudah..sudah.. gak enak sama bos gue. noooh diliatin banyak orang noooh" lerai Rere sambil melirik ke kanan dan kiri
huuufffttt... helaan kasar nafas Cici membuat ke tiga sahabatnya kembali terkekeh
"Trus... mang gak bisa di benerin tu hp" tanya Cici lagi masih mode jengkel.
__ADS_1