
Cahyo menghentikan mobilnya di rest area tol. Cahyo dan Rere hendak menunaikan sholat Dhuhur terlebih dahulu dan makan siang.
Erlin dan Ratih sudah memesan makanan. Rere dan Cahyo baru saja tiba dan melihat lihat apa yang ingin dimakannya
Rere memesan ayam geprek dan Cahyo memesan soto ayam. Cahyo melihat Rere makan begitu lahap membuatnya penasaran akan rasa makanan tersebut
"Kak.."pekik Rere ketika Cahyo mengambil nasi dan lauknya dari piring Rere. "Enak.." Dan terus di ulanginya lagi
Erlin dan Ratih saling beradu tatap dan dengan mulut menganga.
"Ayyu..."
"Kak Cahyo..."
Cahyo dan Rere langsung tersenyum bersamaan dan terus menyelesaikan makannya. Soto yang Cahyo pesan tidak dihabiskannya
Ketika akan meninggalkan rest area, Rere menunjuk drive thru. Perutnya masih lapar karena makan sepiring berdua dengan Cahyo
Cahyo melajukan mobilnya memesan beberapa makanan dan minuman, membayar, menerima pesanan lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Rere membagi minuman untuk Erlin dan Ratih dikursi penumpang. dan,
"Aaakkk...." Cahyo membuka mulutnya tanda ingin disuapin, sedangkan pandangan masih fokus menatap jalan
"Kak Jo.." menegur setengah berbisik
Erlin dan Ratih sama terperangah melihat kejadian dua insan di depan mereka
"Kak Cahyo..."
"Ayyy..."
Rere mengabaikan sahabat dan Cahyo yang mulutnya masih terbuka. ia menikmati makanya sendiri. Sesekali melirik Cahyo masih dengan mulut menganga
"Ayyy... noh, kasian" menunjuk arah Cahyo. Erlin tidak tega melihat Cahyo seperti itu
Dengan perasaan malu, akhirnya Rere menyuapi Cahyo dan di balas senyuman
"Makasih" katanya datar
Tidak lama...
"Aaakkk..."
'huufffttt' Rere menghela nafas dan menyuapinya kembali
Erlin dan Ratih terkekeh melihat dua manusia di depan. Namun tawanya ia tutup dengan tangannya, takut akan tatapan Cahyo yang sedingin es
Cahyo langsung menurunkan Rere di caffe, sedangkan sahabatnya dia turunkan di rumah kost
"Makasih Kak.." kata keduanya
"Hemm sama sama. Boleh minta tolong gak"
"Apa.."
"Ambilkan sepeda Ayya donk, saya antar kan ke caffe nya"
Sepeda dilipat Cahyo dan dimasukkan ke bagasi. Cahyo melaju ke caffe tempat Rere bekerja. Memarkirkan sepedanya dan masuk untuk memberikan kuncinya
"Selamat sore..hook"
__ADS_1
"Nih kuncinya" memberikan kunci pada Rere "Jangan macam macam" bisiknya sambil melirik ke arah kasir, siapa lagi kalau bukan Dimas
Meskipun percakapannya lirih, tapi Dimas mendengar semuannya. Dia merasa geram dan jengkel. Dia tidak bisa meluapkannya
Cahyo segera pergi setelah memberikan kunci pada Rere, karena dia ada rapat yang tertunda
Sikap Dimas menjadi lebih dingin sejak Rere menolak mengantarnya pulang. Namun tidak menjadi penghalang buat Rere karena ia juga tidak ingin mengecewakan perasaan orang lain
Seperti biasa, Rere membersihkan dan merapikan caffe ketika telah waktunya tutup. Ke ruang loker mengambil barang dan pulang dengan sepeda lipatnya
Dimas hanya bisa memandang masih dengan perasaan kecewa yang sangat. Dia membuntuti Rere sampai ke rumah kostnya
"Ayy..." jalan Rere terhenti ketika melihat Dimas berada di belakangnya
"Oo.. ada apa Dim.. ada yang salah kah dengan pekerjaan gue??"
"Oo.. nggak kog. Cuman ngobrol bentar boleh..??" tanyanya lembut
"Saya parkir sepeda kedalam dulu ya.." pintanya yang hanya di angguki kepala oleh Dimas
"Ada apa Dim?" ketika Rere sudah mendekat ke arahnya
"Duduk Ayy.." Rere pun duduk di kursi sebelah Dimas
"Maaf, sekali lagi maaf. Saya suka sama kamu" Dimas menyatakan perasaannya. Rere hanya terdiam
"Sejak pertama aku di sini, aku sudah jatuh hati padamu. Aku kira itu hanya perasaan suku biasa. Tapi makin kesini, aku memang suka sama kamu"
Rere diam menunduk tak bergeming. Tak berani menatap Dimas yang terus menatap dirinya. Tak ingin pula menyakiti perasaannya
"Ayy.. aku minta maaf. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja. Karena jujur, terasa sakit rasanya"
"Sekarang aku sudah lebih baik. Semoga kamu bahagia. Dan selalu bahagia"
"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Rere dengan tetap tidak ingin menatap Dimas
__ADS_1
Dimas meminta ijin untuk pulang. Dia bangkit, berjalan menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan pelan
Rere berjalan pulang dengan perasaan sedikit bersalah
'Apakah selama ini aku memberi harapan'
'Apakah aku tidak tegas sejak awal'
'Apakah aku berdosa hingga telah menyakiti perasaannya'
Rere memang tegas pada semua laki laki yang selalu dekat dengannya. Ketegasannya hanya untuk memberi jarak supaya tidak terjadi kejadian seperti saat ini
'Bagaimana dengan Sakha' Selama ini Rere selalu menghindar dan menjauh dari Sakha suyapa tidak menyakiti perasaanya
'Astagfirulloh.. aarrggghhhh'
Detik berganti detik, jam berganti jam, hari berganti hari. Rere melakukan aktivitas kesehariannya sama seperti biasanya
Sesekali mengisi siaran Radio, pergi ke perpus kampus, keluar bersama Cahyo dan bekerja paruh waktu
Dimas sudah mulai melupakan Rere. Namun Rere tetap ingin menjaga jarak supaya Dimas tidak salah mengartikan sikapnya
Rere mengayuhkan sepedah nya dengan santai menuju bimbel. Hari ini hari Sabtu, waktunya Rere untuk mengajar di bimbel
Sebenarnya ada tawaran untuk Rere mengajar selain hari Sabtu, karena Rere bekerja paruh waktu saat itu maka ia menolak
Tawaran itu datang lagi padanya, ia diminta untuk mengajar setiap hari kecuali hari minggu mulai pukul 5 sore sampai pukul 9 malam
Rere meminta ijin untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu
Setiba nya di kost pukul 9 malam Rere sangat senang karena Cici sudah datang.
"Cici..." memeluk sahabatnya. "Bagaimana Papa lo. Sehat"
"Sudah pulang. Dari hari Rabu kemarin sebenarnya. cuma gue belum tega ninggal Papa. Lo tahu sendiri, begitu gue tinggal ntar Papa mulai kerja lagi, gak mau istirahat dulu!!" Jelasnya agak sewot
"Alhamdulillah. Syukur deh. Gue mandi dulu ya. Gerah nih.."
"Hemm.."
Mereka langsung tertidur dalam kecapekan dan kepenatan aktivitas masing masing hari ini
"Good night Ci.."
"Good night Ayy.."
Rere berdoa dan segera menutup matanya
Alarm Rere berbunyi. Segera ia bangkit melakukan aktivitas dini harinya dan memutuskan untuk mencuci pakaian
Karena hari ini hari Minggu, kerja paruh waktu Rere baru akan dimulai nanti sore, ia ingin memanjakan tubuhnya di kasur ternyaman
"tok..tok..tok.." Cici yang sudah bangun membuka pintu dengan lebar karena ia pikir itu pasti pembuat onar Erlin dan Ratih, namun..
"Kak Cahyo.."
"Hai, sudah datang.."
"Hemm.. kemaren sore"
__ADS_1
"Ayya ada..."
Dengan pintu yang terbuka lebar, Cici menunjuk ranjang, Rere masih meringkuk dengan selimut tebalnya, dengan tanpa hijab terlihat rambut panjang indahnya terurai menutupi mukannya