
Rere berlari sampai teras depan jurusannya. Dia duduk di bangku dekat parkiran sambil mengepalkan tangannya memukul mukulkan kepalannya pada jidatnya. Berulang ulang membuat Cahyo yang melihat kejadian itu langsung turun dari mobil menghapirinya.
Telapak tangan Cahyo ia tempelkan di dahi Rere, otomatis Rere merasakan ada sesuatu di dahinya. Ia membuka mata dan melihat Cahyo sudah ada di depannya
Dengan segera Rere menghentikan tingkahnya. Cahyo segera menarik lengan Rere menuju mobilnya. Seperti kala itu, Rere menurut saja seperti di tarik oleh magnet yang kuat.
Sakha melihat dari kejauhan merasa geram dengan apa yang dilihatnya diparkiran, 'kenapa dia boleh dan gue dilarang. dia cowok lo' batin Sakha
Mobil Cahyo lajukan dengan kecepatan sedang. Rere sedikit menghadapkan diri nya ke pintu melihat ke luar jendela sampingnya. Mata nya terus tertutup. Pasrah kemana Cahyo akan membawanya.
Cahyo menepikan mobilnya ke minimarket dan turun dari mobilnya meninggalkan Rere. Rere membuka matanya dan akhirnya menutup nya kembali.
Tak lama Cahyo datang dengan membawa se kantong kresek ice cream.
"Ayy... " panggilnya
Rere membuka mata dan di dapatinya tepat di matanya sebuah kresek. Masih penasaran apa yang diberikannya...
"Ambil.. makan.. biar adem" Cahyo mulai melajukan mobilnya kembali setelah sekantong ice cream Rere terima.
Rere membuka isi kantong dan melihat ada 3 ice cream dan semuanya adalah ke sukaannya. 'Kog Kak Cahyo tahu ini semua kesukaanku. Apa dia juga suka ini maka nya beli banyak' batinnya
"Dimakan.. bukan diliatin aja"
"Hoookkk... iya. Kak Cahyo mau" mengambil satu ice cream dari kantong
"gak.. habiskan, buat kamu semua" jawabnya sederhana
Rere bengong mendengar ucapan Cahyo. Tanpa komando lagi Rere melahap ice cream tersebut. 1, 2 dan ini yang ke 3.
Jika sedang emosi yang teramat berat, Rere memang mencari ice cream sebagai penawarnya. Dengan harapan mulut dan hatinya ikut adem. Namun pertanyaannya, kenapa lagi lagi Cahyo tahu.
Tiga ice cream dengan cepat sudah berpindah ke perut Rere. Dan mobil pun berhenti di sebuah mall besar. Cahyo memarkirkan mobilnya. Turun dan membukakan pintu untuk Rere.
Rere merasa terhormat sehingga pipi nya mulai merah merona.
"Kita mau ngapain disini Kak" tanya Rere berjalan masuk menuju pintu utama mall
"Ke toko buku. Gak papa kan"
"Heeemmm... " jawab Rere pasti. Karena Rere juga senang, sudah lama ia tidak pergi ke toko buku.
Cahyo langsung menuju ke bagian informasi mengambil pesanan yang jauh jauh hari sudah ia pesan lanjut menunggu Rere di area kasir. Sedangkan Rere masih memanjakan matanya melihat banyaknya buku buku baru yang tersusun rapi di rak.
Rere mengambil satu buku yang menurutnya sangat ingin ia baca. Namun alangkah terkejutnya ketika ia sadar ranselnya ia tinggal dalam mobil.
Rere berlari kecil menghampiri Cahyo meminta bantuannya untuk membayarkan bukunya dulu dan akan menggantinya nanti. Cahyo hanya mengangguk saja dan berjalan ke arah kasir.
"Nonton yuk.." ajak Cahyo
Dan hanya di anggukin setuju oleh Rere. Lagi lagi ia tersenyum karena sudah lama juga ia tidak nonton karena kesibukannya
Cahyo membeli tiket, popcorn dan soda. Rere hanya duduk manis melihat Cahyo yang berjalan mondar mandir. Entah kenapa, hatinya sangat bahagia.
Film yang di tonton telai usai. Cahyo mengajak Rere untuk sholat magrib karena sudah hampir mendekati isyak
__ADS_1
"Ayyu tunggu di situ ya kak.." saambil menunjuk bangku kosong
Cahyo langsung mengiyakan. Dia paham kalau Rere pasti sedang berhalangan. Tidak mungkin Rere menolak ajakan sholatnya jika ia tidak sedang berhalangan
Tempat Mushola berada di tingkat paling tinggi mall tersebut. Rere melihat setiap gerak Cahyo dari tempat duduknya
Rere sangat terpesona pada Cahyo sejak pandangan pertama. Saat ia datang mendaftar di UKM Radio. Sikap nya yang dingin, tegas dan berwibawa di takuti dan di segani teamnya. Namun tidak dengan Rere. Bukan takut tapi lebih kepada menghormat.
Badan nya tinggi, ramping, rambut nya sedikit gondrong tapi tidak mengurangi ketampanannya. Manis dan yang membuat Rere tergila gila adalah ketika Cahyo tersenyum lebar. Benar benar mengingatkannya akan sosok dia.
"Tunggu Isyak sekalian ya.. sudah mepet" pinta Cahyo manis pada Rere.
"Heemmmmm" jawabnya sederhana
"Habis ini makan yuk.. laper" manja Cahyo yang mengusap perut nya.
'kenapa kata katanya manja begitu' batin Rere
Adzan Isya pun berkumandang. Selesai adzan Cahyo langsung melaksanakan sholat Isya tanpa berjamaah. Setelah selesai, mereka berjalan menuju food court yang ada di sana.
"Mau makan apa..???" tanyanya lembut
"Sama aja sama Kak Cahyo.." sambil duduk di bangku yang kosong
"Mmmmm.... itu mau??" sambil menujuk hotplate
"Boleh" jawab Rere sambil tersenyum
__ADS_1
Merekapun menikmati makan sambil mengobrol ringan dan sesekali tertawa lepas
Dilain tempat..
Sejak pukul 3 sore, Dimas terus menelpon Rere untuk mengajaknya keluar. Ia rela menutup caffe hari itu. Namun si empunya nomor masih tidak bisa untuk di hubungi.
Dimas segera melajukan mobilnya memarkirkannya di depan rumah kost Rere. Dia mencari sosok yang kira kira bisa memberi jawaban dimana dia harus menemui Rere.
"Maaf.. kamar Ayyu sebelah mana ya.." tanyanya pada seseorang.
"Ayyunda.." tanya balik seseorang itu
"Ahhh..iya. Ayyunda Renata" kata Dimas memastikan
" Itu.. di lorong belok kiri. Kamarnya paling pojok" memberikan petunjuk
"Ok.. terimakasih"
'Waahhh... ganteng nya.. cowok Ayyu kah..' bisiknya pada temannya
'Mana mungkin.. Ayyu kan gak pernah pacaran'
'Nah itu cowok kenapa cari Ayyu sampe kost..'
'mmmm.. bodo ah..'
tok..tok..tok..
Cici membukakan pintu. Dan alangkah terkejutnya ia saat didepannya adalah DimDim..
"Lo.. Eh.. maksud saya Pak Dimas.. cari siapa ya.." tanya Cici kikuk
"Ayyu ada.." langsung to the point
"Ee.. Ayyu pergi. Sekarang libur kerjanya Ayyu kan.. jadi dia sudah ada janji sama temennya" Cici memberikan sedikit penjelasan
"Kemana.." tanya Dimas masih penasaran
"Bilangnya siih.. ketoko buku. Cuma dimana nya saya gak tahu" kata Cici
"Ponselnya dibawakan.. kog gak bisa di hubungi" tanya Dimas lagi
"Eee... itu... ponselnya... almarhum"
"haaahhh.. maksudnya" masih tidak mengerti maksud Cici kata almarhum
"Ituu... rusak, pecah, berantakan, dan sudah tidak bisa dipakai lagi." jawab Cici singkat padat jelas.
"Ooooo... kog bisa.."
"Ponselnya terbang bebas dari lt.2"
"Mmm.... Oke. Makasih banyak ya.."
__ADS_1
Akhirnya Dimas mengerti maksud temanya kemaren dengan kata 'almarhum' Ponselnya rusak
'huuuufft... ' Dimas menghela nafas dengan sangat panjang. Dan memutuskan untuk pulang kerumah karena sudah memulangkan karyawan caffe nya jadi dia tidak mungkin membuka caffe nya kembali.