Radio Cinta

Radio Cinta
part. 31


__ADS_3

Rere tiba di caffe siap untuk bekerja. Hari ini banyak sekali pengunjung yang keluar masuk. Hingga ia tidak tahu jika ponselnya bergetar


"Ayy.. tolong meja yang disana" kata Dimas meminta


Rere melihat meja yang di tunjuk dan segera menghampiri. Ternyata salah satu dari beberapa orang di meja itu adalah Sakha


Sakha juga terkejut melihat Rere yang berdiri melayaninya. Namun dengan profesional Rere tetaplah seorang pelayan


"Ada yang bisa saya bantu.." tanya Rere


"Saya pesan coke nya lagi ya.. 4, sama kentang juga 4 " kata salah satu orang


"Baik.. tunggu sebentar"


Tidak lama Rere datang membawa pesanan yang diminta. Memberikan nota nya dan,


"Sisanya lo ambil" kata Sakha melebihi uang yang ditagihkan


Rere sedikit menahan emosi. Ia kembali ke kasir dan menerima uang kembali dari Dimas, dan berjalan menuju meja Sakha


"Maaf, ini kembaliannya" dengan cepat Rere berbalik meninggalkan Sakha dan temannya


'Huuufffttt' desah Rere tanpa sadar menghadap Dimas


"Ada apa??" tanya Dimas khawatir


"Rere yang tersadar bila ada Dimas langsung menggelengkan kepalanya. Khawatir Dimas tahu permasalahannya


Rere meminta ijin untuk sholat magrib, meski pengunjung masih sangat ramai. Karena waktu magrib akan segera berakhir. Dimas memberikan ijinnya


'Ya.. Alloh.. kenapa Engkau pertemukan aku dengan Sakha dalam keadaan seperti ini. Hinakah aku.. sampai dia seperti itu. salahkah aku.. sampai dia merendahkanku..' tiba tiba air matanya menetes pelan


Ia segera melanjutkan pekerjaannya seusai berdoa. Caffe masih sangat ramai meski hingga akan tutup


Seperti biasa, Rere merapikan meja meja dan membersihkan setiap sudut ruang


Saat di loker,


"Lo gak pa pa.." tanya Dimas


"Hemm.. gak pa pa. kenapa ya.."


"Agak aneh aja wajahnya" kata dimas khawatir


"Gue baik baik aja. Makasih sudah khawatir" dengan senyum yang dipaksa

__ADS_1


Di parkiran caffe, Sakha berdiri di dekat sepeda Rere


"Sakha"


"Ayy.. lo butuh uang.. hah. Lo jalan sama dia hanya ngejar hartannya. Gue juga punya kog. Lo butuh berapa sebut" katanya yang langsung emosi


"Maksud lo..??"


"Gak usah jadi sok suci deh.. jadi bener kata Sisca, lo asdos matre. Lo jadi asdos karena butuh uang kan. Lo juga sampe kerja disini" katanya blak blak an


Rere menghela nafas panjang dengan tangannya yang sudah meremas erat ujung bajunya menahan emosi


"Sudah bicaranya.." tanya Rere datar


"Kenapa.. lo punya alasan buat ini. Lo cari cowok tajir buat nanggung hidup lo kan..haaah"


"Anda benar. jadi permisi. saya mau pulang" dengan wajah menahan emosi dan nada suara yang ditahan


"Dasar, asdos kere..!!!" meneriaki Rere yang berlalu


Rere mencoba menahan tangisnya, namun tidak bisa. Ia mengayuh sepedanya lebih kencang berharap supaya angin malam yang menerpa wajahnya lah yang dapat menghapus air matanya


Dimas ternyata mendengar semua obrolan Sakha dan Rere. Dimas keluar dari pintu samping menghampiri Sakha


"Tolong jaga ucapan anda jika berbicara dengan seorang wanita. siapapun dia" kata Dimas yang melenggang meninggalkan Sakha dengan bingung


Rere menghentikan sepedanya di toserba 24 jam. Ia mengambil beberpa ice cream membayar dan memakannya di teras toserba. 1, 2, 3 dan ini yang ke 4.


Dimas menghentikan mobilnya di toserba ketika melihat Rere disana. Dia duduk disebelah Rere dan mengambil kantong kresek yang ada di kursi


Dimas membuka kantong itu dan melihat isinya sampah ice cream. Merasa sadar ada seseorang disebelahnya, Rere mengambil kantong itu dari orang tersebut,


'hoook..'


"Dim.."


"Hemm.. lo gak pa pa.."


"Hemm.. ada apa.. butuh sesuatu disini?" tanyanya datar tanpa melihat ke arah Dimas


"Gak. gue khawatir aja sama lo. Gak pa pa tuu makan ice cream malam malam. banyak lagi"


"Biar adem." jawabnya singkat, dan Rere menduga Dimas tahu permasalahan Rere sehingga dia merasa khawatir kepadanya


Ice cream ke 4 sudah habis. Ia bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Dimas.

__ADS_1


Dimas hanya menganggukkan kepala dengan senyum lebarnya, namun tidak dilihat sama sekali


.


.


Good night Ci.. salam Rere untuk Cici yang sudah tertidur pulas karena waktu sudah menunjukan pukul 12 malam


Rere juga sudah bersiap dengan doa dan selimut tebalnya, karena hari ini cukup dingin baginya. Entah karena apa padahal hari ini tidak hujan


Alarm dini hari Rere berbunyi. Rere malakukan aktivitas pagi nya namun kali ini ia tidak melanjutkanbtidurnya. Iamembuka materi kuliah yang akan menjadi hari pertama UAS nya


Adzan subuh terdengar, Rere mengerjakan sholat subuh dan kembali pada meja belajarnya setelah berdoa


Beberapa saat kemudian,


"Assalamualaikum.. bunda.." Rere melakukan panggilan telp dengan bunyah karena merasa sesak dadanya atas kejadian malam tadi


"Waalaikumsalam Ayyang bunda. Sudah siap Ayy buat ujiannya"


"Sudah bund.. Insya Alloh. Doain Ayya ya bund.."


Agak lama Rere menelphon, karena hatinya benar benar sakit


"Bund.. Ayya mau tanya.." membuka suara atas kegalauannya


"Iya sayang.. ada apa??"


"Salah kah kalo Ayya kerja paruh waktu menjadi pelayan caffe??"


"Kamu kerja di caffe Ayy??" tanya bundanya agak kaget


Bunda Rere tahu jika Rere bekerja. Namun bundanya tidak tahu jika Rere bekerja menjadi pelayan di caffe. Karena jika nanti Rere bercerita, khawatir bundanya akan marah.


"Iya..bund.. maaf. Rere mengajar di bimbel hanya hari Sabtu. Lainnya Rere kerja paruh waktu di caffe" jawab Rere jujur pada akhirnya


Rere menceritakan lagi pada bundanya jika ia mendapat tawaran untuk mengajar bimbel di hari aktif, Senin sampai Sabtu. Dan bundanya lebih menyukai itu dari pada putrinya menjadi pelayan caffe


Akhirnya Rere memantapkan hatinya untuk menerima tawaran kerja di bimbel dan berhenti menjadi pelayan caffe setelah mengobrol panjang dengan bundanya


Ujian mata kuliah pertama Rere cukup padat. Hari ini saja Rere ujian 3 mata kuliah. Itu karena Rere juga mengambil hampir semua mata kuliah di semester 7


Rere sudah memarkirkan sepedahnya di parkiran jurusan. Waktu masih menunjukkan pukul 08.30. Ujian pertama Rere tepat pukul 9. Sehingga ia memutuskan untuk mengisi perutnya di kantin jurusan.


Suara Radio menemani sarapan rotinya. Suara Bima membuat hati Rere sedikit terobati dengan guyonan guyonan konyolnya

__ADS_1


Bima memang terkenal cowok yang humoris. Tidak ada yang tidak bisa dibuatnya becandaan. Jika bersama Bima pasti tertawa hingga meneteskan air mata


Begitupun saat ini 'pas sekali' batin Rere yang memang butuh hiburan


__ADS_2