
Cici membangunkan Rere dan meminta Cahyo untuk menunggunya di ruang tamu
"Ayy.. bangun.. Ayy" Cici menggoyang goyangkan pelan tubuh Rere. Rere menggeliat meluruskan tubuhnya yang tadi tidur dengan meringkuk
"Gue kerja nya ntar sore Ci, gue mau tidur lagi ya..." dengan suara parau khas orang tidur
"Ada Kak Cahyo diluar nungguin tuuhh.." kata Cici cepat sebelum Rere memejamkan mata kembali
Rere langsung duduk dari tidurnya. Dengan rambut yang acak acakan, ia mengucek matanya untuk menghilangkan kantuknya
"Mmm... denger kata Cahyo aja langsung bangun. dasar bucin" sungutnya
'hehehheee'
Rere mengambil hijab nya dan menemui Cahyo di ruang tamu. Cahyo sedang membuka laptopnya ketika Rere datang
"Kak.."
"Keluar yuk.. makan. laper" katanya datar diakhiri senyum tipis di bibirnya.
"Gak ah. tuuu.. bawa laptop, ntar Ayya di cuekin lagi" bibir monyongnya keluar dengan manja
"Gak. janji. ajak temen temen mu" pintanya
"Beneran.."
Cahyo hanya mengangguk. Rere langsung berlari menuju kamar Erlin dan Ratih. Lanjut ke kamarnya untuk mengajak Cici sekaligus membersihkan diri. Cahyo masih berkutat dengan laptopnya
30 menit mereka siap. Cahyo juga sudah menyelesaikan kerjanya, sehingga dia bisa menepati janjinya pada Rere untuk tidak mengabaikannya
Mobil berhenti di sebuah rumah makan. Sangat indah untuk berada di ibu kota. Ada kolam ikan, deretan gazebo dan banyak pohon pohon rindang.
Cici juga pertama kalinya datang kesana. Cici terkenal dengan cewek kuliner dikalangan sahabatnya karena dari kecil ia sering di ajak Papanya untuk makan disana sini, baik di pinggir jalan sampai resto mewah pernah dia cicipi, namun tidak disini
Cahyo memilih duduk di gazebo dekat kolam ikan. Ada kolam ikan koi dan ikan mas di sana. Cahyo mulai memilih menu makanan sendiri karena Rere dan sahabatnya sibuk memberi makan ikan
Makanan yang di pesan sudah dihidangkan di atas meja. Cahyo menghampiri Rere tepat dibelakangnya
"Katanya gak mau di cuekin, kog Ayyang yang cuekin kakak" Kata Cahyo menepati janjinya
'heheheheee'
"Ayo.. ajak teman mu makan" ajaknya lembut
"Ci, Er, Ra.. ayo makan dulu" ajaknya pada sahabatnya
Cahyo mempersilahkan sahabat Rere mengambil terlebih dahulu. Lanjut Rere hendak mengambilkan Cahyo, tapi dia menolaknya, sehingga Rere mengambil untuk dirinya sendiri
Rere dan sahabatnya asyik menikmati makanannya. Cahyo mengambil sendok dan duduk mendekat pada Rere. Mengambil sesendok dan memasukkannya dalam mulutnya
Erlin dan Ratih yang mengetahuinya hanya menggelengkan kepala. berbeda dengan Cici yang baru pertama kali melihat kejadian tersebut
"Ayy... Kak..."
__ADS_1
"Habiskan.." Kata Cahyo melanjutkan makannya
Rere hanya senyam senyum karena ini bukan yang pertama baginya. Dan lagi lagi Rere tidak bisa menolak perbuatan Cahyo
Tinggal minuman yang tersisa di meja bundar gazebo. Semua makanan sudah habis tak bersisa.
Cici ijin untuk ke toilet, sedang yang lain memanjakan mata ke kolam ikan. Cici merasa penasaran dengan sosok yang ada di bagian kasir. Seperti pernah melihatnya, tapi siapa yaa..
Cici terus memperhatikan orang tersebut
"Pak Dimas, ini berkas yang bapak minta. Silahkan di tanda tangani di sini" ucap salah satu keryawan disana
"Hemm.." mengambil berkas, gerakan mata membaca dan gerakan tangan membubuhkan tanda tangan
"Terimakasih Pak. Oh ya.. untuk neracanya saya sudah email ke Bapak"
"Ya.. terimakasih. Tolong panggilkan OB untuk membenahi ini" sambil menunjuk sesuatu
'Apa Dimas yang punya resto ini yaa...'
"Lo disini Ci.." berjalan mendekat ke arah Cici
"Eh.. Pak DimDim.., eh Pak Dimas" merasa kikuk
"Sama siapa??!"
"Sama temen temen" jawabnya singkat sambil menunjuk arah dimana mereka makan. Maaf, saya permisi" kata Cici mengakhiri obrolannya
'Gila.. kalo pake setelan jas begitu DimDim ganteng juga' batin Cici gemes
Cici kembali menghampiri sahabatnya. Dilihatnya Rere yang sibuk berdua dengan Cahyo, bersenda gurau.
"Lo lama banget Ci" tanya Ratih
"Gue habis ketemu sama DimDim" jawab Cici santai dan berbisik. Khawatir di dengar Rere
"Truusss" tanya Erlin yang juga penasaran
__ADS_1
"Kayaknya dia yang punya resto ini"
"Whaattt" dengan suara yang keras dari keduanya, lagi..dan lagi
Posisi Cici yang berdiri ditengah tengah mereka akhirnya harus menerima teriakan di kedua telinganya
"Ra.. Er" teriak Cici yang kali ini benar benar membuat Rere dan Cahyo tak bisa mengabaikannya
Cici berlari mengejar Erlin dan Ratih. Ingin sekali rasanya Cici membunuh mereka berdua
Rere yang tidak mengetahui sebab apa mereka berteriak tapi Rere tahu kenapa Cici sampai marah seperti itu. Rere dan Cahyo terkekeh melihat Cici dengan ngos ngos an mengejar mereka
"Ammpuuunn.. Ampuun Ci.. sumpah ampuun" Kata Erlin
"Maaf Ci... " ucap Ratih sambil berteriak dari kejauhan
Dimas akhirnya mendengar suara itu. Dicarinya sumber suara dan melihat Cici yang berlari mengejar sahabatnya dan, Rere yang duduk dekat kolam dengan Cahyo.
Akhirnya Cici menyudahi mengejarnya dengan tidak satupun yang tertangkap
Cici mengambil minumnya dengan kasar. "Awas kalian" dengan ancaman membunuh
"Peace.. please peace" kata Ratih sambil mengangkat dua jarinya ke atas
Cici mengabaikan Ratih dan Erlin. Menikmati kolam ikan yang ada di depannya bersama Rere yang berusaha menenangkan Cici dengan menepuk bahunya
'Lucu' senyum Dimas melihat Cici
Setiba di rumah kost, Cici langsung masuk kamar dan mengabaikan semuanya. Di dalam perjalanan tadi, Cici juga diam tak bersuara meski sahabatnya menggodanya, termasuk Cahyo
Cahyo meminta ijin untuk pulang segera karena dia harus bekerja.
Rere membersihkan dirinya dikamar mandi, sholat dan duduk di ranjang Cici.
"Kenapa sih Ci.. gue tahu, pasti mereka teriak bareng di kuping lo kan.. masak lo gak paham juga sih sama mereka yang biang resek. maafin lah.."
"Sebel gue... ini kuping gak ada serepnya Ayy.." sungutnya menjadi
"Sabar cantik... gue tahu mereka gak akan pernah sengaja kalo kita gak suka. Pasti mereka gak sengaja. Mang habis ngobrolin apa siihh, sampe histeris gitu..??!"
"Dimas"
"Dimas...??!!"
"Hemmm.. gue lihat Dimas tadi disana. Dan kayaknya dia yang punya Resto itu" jawabnya singkat
'Oooo...'
__ADS_1