
Rere segera menuju ke dapur tempat bunda memulai aktivitasnya di pagi hari sebelum subuh
Taat beribadahnya Rere memang ajaran orang tuanya. Rere mencontoh mereka yang selalu bangun malam untuk mengerjakan sholat dan tidak meninggalkan waktu subuh
'nanti rejekinya di patok orang' kata Ayah jika menasehati Rere
Adzan Subuh sudah berkumandang. Cahyo keluar kamar hendak ke kamar mandi tamu
Rere langsung lari tunggang langgang ketika melihat Cahyo berdiri di depan dapur melihat Rere tidak mengenakan hijabnya
Kamar mandi tamu dekat dengan dapur. Bunda langsung menegur Rere yang tidak hati hati. Rere langsung mengambil hijabnya yang ia tinggal di sholatan
Lepas berwudhu, Ayah, bunda, Rere dan Cahyo melakukan sholat subuh berjamaah
Cahyo tidak bisa mencium pucuk kepala Rere karena takut sama ayahnya. Jadi dia hanya mengelus pelan kepala Rere ketika akan meninggalkan sholatan, karena Rere yang terakhir
Rere membantu bunda memasak di dapur. Ayah menonton TV sambil berbincang bincang dengan Cahyo
"Kamu sama Cahyo ada apa?" tanya bundanya
"Ada apa gimana sih bund.."
"Kalian pacaran??"
"Khan gak boleh bund. Tepatnya pe-de-ka-te bund.. Rere mengeles kata pacaran"
"Nikah aja sana kalo sudah cocok"
"Bunda..!!" nada yang sedikit dikeraskan membuat Cahyo dan Ayah melihat ke arah dapur
Bunda terkekeh tapi Rere tidak, ketika tatapan ayahnya mencoba ingin tahu. Ayah Rere sangat kepo jika masalah keluarganya
Ayah mendekat ke arah dapur dan bertanya. Tapi Rere mencoba memberi kode ke bunda supaya tidak cerita
"Ayah akan disini terus sampai kalian cerita!!" katanya
"Sini yah.." kata bunda merasa tidak enak jika masak nanti di gangguin terus
"Bunda..." Rere memohon agar bunda tidak bercerita
"Ahh... bunda...bundaa....."
Cahyo yang melihat Rere merengek manja tersenyum lebar. 'Lucu' gumamnya
Ayah terkekeh setelah medengar dari bundanya dan menuju sofa TV lagi menemani Cahyo
__ADS_1
Rere memasang muka cemberut. Sesekali ia memotong motong sayur dengan kasar
Bunda makin terkekeh melihat putri cantiknya itu merajuk. "Ayy, tolong ambilkan garam"
Rere beranjak dari duduknya dengan malas dan mengambilkan apa yang diminta bundanya dan duduk kembali
"Bunda sama Ayah ok" jawab bunda berbisik lalu kembali terkekeh
"Bundaaaaaaaa......" kian menjadi rengeknya. Bibir mungilnya dimajukannya lebih panjang tanda tak senang dengan sikap bundanya
"Sudah..sudah..." kata ayah yang melerai dari jauh
"Ayyang tolong goreng ikannya" bunda mengakhiri kekehnya dengan meminta Rere menggoreng ikan untuk sarapannya
Rere menyusun makanan di atas meja. Menu sarapan sudah lengkap disana. Karbohidrat, sayur, ikan, buah dan susu -buat Rere-
Bunda menyuruh Rere membangunkan teman temannya untuk sarapan bersama, tapi Rere menolak.
"Biarkan saja dulu bunda mereka tidur, kasian capek" kata Rere memberikan alasan
Ayah, Bunda, Cahyo dan Rere sarapan bersama tanpa sahabat Rere karena Ayah Bunda akan pergi bekerja
Ayah dan Bunda membersihkan diri dan berganti pakaian hendak mengajar hari ini.
Siapa yang tidak kenal Pak Hari Widodo, ayah Rere. Dia pemilik sekolah swasta yang terkenal di kota. Dan saat ini masih aktif mengajar di SMP Negeri di desannya
Bunda mengajar menggunakan Sepeda motor dan Ayah menggunakan sepeda lipatnya. Meskipun dirumah Rere masih ada 2 motor dan 2 mobil. Lebih tepatnya sederhana
"Ayyang. nanti tolong mampir ke Pak Darto ya.. suruh untuk petik buah" amanat bunda
"Iya bund.."
Ayah dan Bunda meninggalkan Cahyo dan Rere di depan TV setelah bersalaman dan berpamitan
"Kak Cahyo gak kerja?"
"Nanti jam 9 aja berangkatnya. Cuma rapat aja" katanya mengganti saluran TV
Rere bangkit hendak pergi ke rumah Pak Darto
"Rere tinggal dulu Kak ya.. mau ke rumah Pak Darto"
"Ikuut..!"
Akhirnya mereka pergi berdua. Karena rumahnya tidak terlalu jauh, mereka berjalan kaki menikmati udara yang masih segar
__ADS_1
"Kak Rereee...." sapa gadis kecil yang Rere lewati
"Haaii.. Septi.. apa kabar sayang"
Rere menghampiri gadis kecil itu yang hendak pergi ke sekolah. Rere merogoh kantong bajunya,
"Nanti traktir teman teman ya.." senyum Rere mengembang dan memberikan uang 20 ribu padanya
"Terimakasih Kak Rere..."
Gadis itu pergi dengan perasaan senang. Dermawan Rere memang menurun dari Bundanya
Bunda selalu berpesan, 'jangan takut untuk memberikan kebaikan pada orang lain, karena Alloh akan membalas kebaikan tersebut berlipat lipat'
"Assalamualaikum.. Pak Darto.."
"Waalaikumsalam.. Ehh.. non Rere, kapan datangnya??"
"Kemren Pak. Disuruh Bunda buat petik buah"
"Iya.. nanti Bapak kerumah. Masuk dulu yuk.."
"Kapan kapan aja Pak.. Teman teman Rere dirumah. Kasian nanti nungguin"
Setelah berpamitan, Rere dan Cahyo berjalan kembali ke rumah. Sepanjang jalan Rere menyapa ibu ibu, anak anak, bapak bapak yang ia lewati
Rere memang terkenal baik dan ramah di desanya selain cantik tentunya. Kembang desa tepatnya. Banyak Ibu dan Bapak yang ingin menjadikannya sebagai menantunya
'Wooo.. itu cowoknya. Ganteng. Pantes gak mau sama anakku"
'Ho.o.. anakku padahal yo suka sama Rere. ternyata dia sudah punya cowok tho'
-biasa..mak.mak tukang ngegosip-
Sahabat Rere sudah bangun ketika Rere dan Cahyo kembali. Rere menyuruh mereka untuk segera makan terlebih dahulu
Mereka menikmati makanannya. Sedangkan Rere dan Cahyo duduk depan TV. Cahyo sesekali mengelus kepala Rere yang diketahui oleh Ratih
"Gak usah jalan jauh dulu. Besok aja sama Kakak." Pesan Cahyo pada semuanya ketika akan berangkat ke kantor dari desanya. Mengingat kejadian semalam yang membuat Cahyo khawatir, sangat khawatir tepatnya
Akhirnya mereka bersantai ria di pekarangan Rere yang sangat luas. Mau berkebun boleh, ada tanaman tomat, cabai, terong dan beberapa lainnya
Mau kasih makan ikan juga ada, ikan nila dan gurami. Mau petik buah juga oke, ada mangga, jambu, starwberry, anggur
Mereka melihat pak Darto yang sedang memanen buah. Sahabat Rere sangat antusias untuk membantu.
__ADS_1
Pekerjaan Pak Darto jadi agak lama karena sebenarnya sedikit terganggu dengan bantuan mereka. Lebih tepatnya mereka mengganggu tugas Pak Darto. hehehehhee