
Cici dan Ratih terus memandang sosok yang di tunjuk Erlin... "Bagus!!!" jawabnya bersamaan.
Cici pun geram dan terus mengumpat dalam hatinya membenarkan rasa curiganya yang terjawab. Dalam sekejap 'cekrek..cekrek..' Cici langsung memfoto setiap gerak yang dilakukan Bagas yang ternyata bersama seorang perempuan cantik yang mereka duga pasti ceweknya.
"Tuh cewek jelmaan bokap lo hah... dasar kunyuk .. cowok mesum.. kemaren gue lihat sama si B jurusan pangan, sekarang sama sapa lagi tuh..." cerocos Cici semakin geram sambil mengirim foto karyanya ke chat Rere.
"Udah ah yukkk... masuk. Udah mau mulai nih.." ajak Ratih yang berusaha meredamkan emosi Cici. Mereka bertigapun akhirnya masuk menonton film yang sudah lama ingin di tontonnya.
Di lain tempat...
"Hai... kamu Ayyu kan.." salah seorang cowok yang belum pernah Rere tahu menyapanya. Jika dilihat sepertinya dia pegawai caffe, tapi kenapa Rere belum pernah melihat wajahnya.
Rere pun hanya mengangguk kan kepalanya sambil berusaha mengingat siapa cowok ganteng yang ada di depannya saat ini. "Tolong kamu kerja sampai malam ya... karena sekarang lagi rame dan saya kekurangan pegawai. Bisakan.." tatapan meminta tolong pun jelas di wajahnya
"mmmm... tapi nanti ada Kak Bagus.." belum selesai Rere menjelaskan bahwa ia bertukar shift dengan Bagus, cowok itu pun menjawab "Bagus sudah saya pecat. Dia sudah ijin berkali kali dan ijinnya juga tidak masuk akal. Jadi bisa minta tolong... saya juga akan bantu kamu, dan saya juga sudah mulai mencari pegawai baru tapi belum dapat".
"Oooohh.. tapi maaf.. anda siapa ya.. apa saya pernah melihat anda" masih mode penasaran
"Ahhh... ya... maaf. Saya Dimas Wijaya. Kamu boleh panggil Dimas. Saya yang punya caffe ini" sambil mengulurkan tangannya dan disambut ragu oleh Rere.
"Ah... tapi maaf, saya masuk kerja atas izin Pak Dino." masih dalam mode tidak mengerti. Karena dulu yang mempekerjakannya adalah Pak Dino.
"Dino itu sahabat saya, dia harus balik ke Amrik untuk study nya.. jadi supaya caffe ini tetep jalan, ya mau g mau saya sendiri yang harus turun" jelas Dimas. "Gimana..mau ya sampai malam.." pintanya lagi dengan wajah berharap.
"Eh... baik Pak.. tapi maaf saya izin sholat dulu ya.." sambil menunjuk tangannya ke arah jam tangannya. Dimas pun hanya menganggukan kepalanya tanda mengizinkan.
'Alhamdulillah..... gila.. resek..' Rere mengumpat dalam hatinya. Setiap Rere kesal selalu memuji nama Alloh dulu baru lanjut mengumpat apa yang ia rasakan. Karena semua pasti kehendak dari Alloh. Dan itu harus ia syukuri meski jiwa manusia nya yang kotor pasti ada di setiap insan.
Rere mengambil ponselnya dan melihat beberapa chat yang dikirim Cici padanya. Rere hanya manggut manggut dan berdoa dalam hatinya 'Ya Alloh.. semoga Engkau memaafkan Kak Bagus yang sudah berbohong padaku dan semoga Engkau melancarkan pekerjaanku menggantikan posisinya'
Yaa.. itulah Rere.. meski mengumpat tapi tetap mempunyai jiwa pemaaf. 'Alloh aja maha pemaaf kenapa kita tidak bisa memaafkan' itulah prinsip Rere.
__ADS_1
Selesai sholat Rere lanjut bekerja hingga adzan magrib pun tiba. Rere meminta izin ke Dimas untuk melakukan kewajiban hambanya sebagai seorang muslim.
Di kamar kost..
"Ayyy...." pintu kamar kost di buka Cici tapi alangkah terkejutnya ketika handle pintu tidak mau membukakan pintu untuk mereka. Rupanya keadaan pintu masih terkunci. Dan itu artinya Rere tidak ada didalam.
"aiik... kenapa Ci.. ayo buka"..pinta Erlin.
"Dikunci Er.."jawab Cici lemas
"Buka donk.." sambung Erlin
Cici langsung membuka tas slempang kecilnya dan... truuuutt...truuuut...
"Lho... kog malah buka ponsel.. buka pintu..." sewot Erlin yang masih belum deng.
"Ayy gak ada didalam Er..." jelas singkat Ratih dengan terus melihat Cici yang gusar
"Waalaikumsalam. Lo dimana Ayy.." tanya Cici
"Di caffe" jawab Rere seadanya
"whaaaaaaaatttttttt" sahut Erlin dan Ratih bersamaan
"yaaaahhhhkk.... jangan teriak di telinga kenapa...kebiasaan" sungut Cici
"maaf.." jawab ke duannya bersamaan
"Napa lo masih di caffe" tanya Cici penasaran
"Kak Bagus di pecat. Gak ada orang, caffe rame so...lembur" jawab Rere singkat padat jelas
__ADS_1
"Ok. Assalamualaikum" Cici memutus sambungan telp nya. 'oooo'.. Rere bingung dengan temannya. Tiba tiba menutup telp nya sebelum Rere menjawab salamnya.
Cici langsung menarik tangan ke dua sahabatnya menuju mobilnya dan melaju ke caffe tempat Rere bekerja. "Katanya lapar, mau makan.. kog keluar lagi.. mau kemana" tanya polos Erlin sambil menunjukan kantong kresek penuh makanan yang masih dipegangnya. Tak lama mereka sampai di parkiran caffe. Dan mereka segera turun mengerti maksud Cici.
"Selamat malam..." sapa Rere menyapa pengunjung caffe yang baru masuk. 'ooooo' kalian'.. suara lirih Rere. Namun didengar jelas oleh Dimas. Cici langsung menuju ke tempat pemesanan dan memesan beberapa minuman dan makanan ringan.
"Sampe jam berapa" tanya Cici
"Jam 10" jawab Rere dengan tangannya yang masih sibuk membuatkan pesanan temannya
"Makan yukk" aja Cici
"Di kost aja deh.. gak enak sama bos" sambil matanya melirik ke arah kasir.
"Duduk deh.. ntar gue anter". usul Rere. Cici pun mengangguk tanda setuju setelah melakukan pembayarannya di kasir.
Dimas yang sedari tadi mendengar percakapan mereka mengetahui situasinya dan membantu Rere menyelesaikan pesanannya. "silahkan kamu makan dulu sama teman temanmu. Mumpung caffe tidak terlalu rame" kata Dimas membuka suara ketika Rere hendak memberikan pesanan teman temannya.
"oooo'.. maaf Pak, nanti saja saya makannya"
"Gak papa... silahkan" Dimas menyunggingkan bibirnya tersenyum manis
"ehhh... ya. Baik Pak. Terimakasih"
Rere pun mengantar pesanan temannya dan ikut duduk bersama mereka menikmati makan malam yang Cici bawa.
Bukan Rere CS bila tidak ada ke hebohan di antara mereka. Sampai sampai mereka lupa jika Rere masih berstatus kerja dan tanpa sadar sedari tadi sorot mata Dimas tidak lepas dari Rere.
"yahkk.. sekarang lo jelasin kenapa Bagus sampe dipecat".. tanya Cici sambil menyomot kentang goreng dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Erlin dan Ratih hanya manggut manggut tanda setuju atas pertanyaan Cici.
"Jadi.. tuh cowok ternyata pemilik caffe" sambil melirik ke arah kasir. "trus..." belum selesai Rere menjelaskan sudah dipotong oleh Erlin
__ADS_1
"Waaahhh... gantengnya.. gak salah deh kalo dia pemilik caffe" matanya terus memperhatikan sosok yang ada di meja kasir.