
"Jadi dia bos lo Ayy.. Trus lo duduk disini dibolehin.." tanya Ratih penasaran
"Ya.. sebentar aja" jawab Rere pelan.
"Trus.. " kata Cici mengharapkan cerita tentang pemecatan Bagus berlanjut, sambil mengusili Erlin yang fokus memperhatikan Dimas
"Ya.. gak pake terus.. Dia tahu kalo Bagus suka main ijin gak masuk kerja dengan alasan yang gak masuk akal. Jadi ya dipecat deh" jelas Rere
"Bener tuh bos lo.. gue demen tuh bos disiplin kayak dia" gereget Cici merasa jengkel sudah mempermainkan Rere temannya.
Masalahnya tidak sekali Rere di jahatin sama Bagus. Menurut Cici, Bagus sengaja melakukan itu karena cintanya di tolak oleh Rere. Dan teman temannya pun setuju jika Rere tidak pantas berpacaran dengan Bagus yang terkenal gonta ganti pasangan.
Terdengar pintu di buka dari luar. "Selamat malam..." spontan Rere menyapa pengunjung yang baru datang. Dilihatnya segerombolan orang masuk, Rere langsumg pamit kepada teman temannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Jam menunjukan pukul 21.30. waktu persiapan caffe akan tutup. Rere membereskan semuannya dan mulai merapikan kursi serta meja, menyapu dan mulai mengepel. Teman kerja lainnya sedang membereskan dapur mini dan mencuci perabot yang harus di cuci.
Teman teman Rere menunggu di mobil karena caffe sudah mulai di tutup. Selesai beberes semuanya, Rere menuju loker untuk mengambil beberapa benda yang ia simpan disana. Tiba tiba mata Rere tertuju pada Dimas yang sedang berdiri di ujung lorong loker.
"oo' Bapak.. maaf saya tidak lihat" ketika Rere hendak menutup lokernya.
"Jangan panggil Bapak.. panggila saya Dimas, jam kerja sudah selesai. Saya antar ya.. sudah malam" kata Dimas
"Maaf Pak.. eh.. Dimas, saya bawa sepeda" beralasan mencoba menolak tawaran Dimas
"Sepeda kamu sepeda lipat kan.. bisa nanti masuk bagasi" kata Dimas
"Eh.. itu pak..eh maksud saya Dim.. saya bareng sama temen temen.. mereka menunggu saya di luar" tolak halus tapi jelas oleh Rere.
"Ooohh... oke kalo gitu. Hati hati ya.."
"Ahh.. iya. Bapak eh.. kamu juga hati hati.." jawab Rere dengan gugup
Rere langsung meninggalkan caffe menunj parkiran yang sudah sedari tadi di tunggu teman temannya. Sepeda Rere lipat dan masuk ke bagasi kemudian segera masuk mobil sebelum Dimas keluar.
"Kenapa sih lo Re..." tanya Erlin yang hampir terjatuh karena Rere tiba tiba menyerobot masuk ke kursi belakang yang sudah di buka nya namun langsung ditutup begitu saja oleh Rere.
Erlin akhirnya duduk dÃsamping Cici yang mengemudi. "Biasanya juga lo yang di depan Re.. kenapa tiba tiba....." belum selesai Erlin mengajukan pertanyaan sudah di potong oleh Rere. "Ayo Ci.. go!!!"
__ADS_1
"Cici yang sedikit bingung dengan Rere segera melajukan mobilnya meninggalkan caffe menuju kost"
Dalam perjalanan..
"Kenapa sih lo.." tanya Cici
"Gue gak enak aja sama Pak Dimas. mendadak dia mau anterin gue pulang alasan sudah malam" terang Rere.
"whhhaaaaatttt" pekik Erlin dan Ratih bersamaan dan lagi lagi tepat di kedua telinga Cici.
"Kebiasaaannn!!!!!" teriak Cici spontan. "Kalian mau ganti kalo telinga gue soak.. "
"Maaf... " kata Erlin dan Ratih sambil senyum senyum jahil.
"Trus lo bilang apa.." tanya Cici lagi
"Ya.. gue bilang kalo gue bawa sepeda.. eh tapi dianya ngotot dan tahu kalo sepeda gue lipat..ntar masukin bagasi, gitu katanya. trus gue bilang aja kalo kalian tunggu gue, akhirnya dia menyerah" Rere menjelaskan.
"waahhh.. kayaknya bakal ada yang melepas jomblo nya neh..." ejek Ratih
"Sapa.. gue.. noh Erlin noh yang ngebet" sewot Rere merasa tersindir.
"No" jawab Cici menirukan suara cowok yang memposisikan dirinya adalah Dimas.
Tawa pun pecah dalam mobil yang melaju lambat.
Dikamar kost Rere dan Cici. Rere sudah membersihkan dirinya dan hendak menunaikan sholat Isyak, dan Cici baru akan membersihkan dirinya.
Mereka menyelesaikannya bersamaan. "Kuliah jam berapa besok Ayy" tanya Cici memecah kesunyian kamar.
"Pagi. Ada apa. Asa yang bisa saya bantu nona..." canda Rere
" Gak.." sambil tertawa melihat tingkah konyol temannya. "Gue tanya aja"
__ADS_1
"Btw, lo mau apakan tu si bos Dimas" tanya Cici penasaran.
"Diapakan bagaimana maksud lo..." pasang tampang telmi
"Hhhhhhhaaah Rere.. jangan kayak Erlin ma Ratih deh.. gak pantes seorang asdos belagak telmi" sungut Cici dan hanya di beri senyum simpul oleh Rere.
"Tidur yukk... sumpah gue ngantuk.. pake banget. Good night. Mimpi indah" to the point
"Yaaahhkk... Ayyy" Cici tidak terima di cuekin atas penasarannya
"Besok aja kita bahasnya. sueer gue ngantuk" sela Rere
"Janji ya... lo utang penjelasan ma gue" dan hanya di beri acungan jempol oleh Rere. Akhirnya mereka pun tertidur dengan cepat.
Seperti biasa, alarm Rere berbunyi pukul 3 dini hari. Rere segera membaca doa bangun tidur, beranjak mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat sunnah malam. Dalam doa kali ini Rere meminta untuk tetap menetapkan hatinya supaya bisa fokus pada kuliahnya. Cumlaude adalah impianya dan bisa bekerja seperti orangtuannya yaitu di dunia pendidikan.
Tak terasa air mata Rere menetes pelan membasahi pipinya. Ia teringat sosok teman dekatnya semasa SMP. Ia kangen dan rindu. Apa kabarnya, dan bagaimana keadaannya sekarang, dimana sekarang dia... pertanyaan itu terus mengusik Rere hingga ia tertidur di atas sajadahnya.
Adzan subuh membangunkan Rere yang meringkuk dalam mukenahnya. Ia segera bangun, mandi, sholat subuh lanjut membaca Qur'an. Dan sholat dhuha pastinya. Aktivitas pagi selalu Rere jalankan tepat waktu. Lanjut membuka agenda kecilnya melihat dan menyusun kegiatan hari ini. 'Bismillah' batinnya 'semoga hari ini lancar.amiin' doanya sambil menutup agendanya.
"Ci... lo kuliah jam berapa.. sudah setengah 8 lebih neh.."
"Heemmm... tar agak siangan jam 10"
"Ya udah.. gue brangkat duluan ya..Assalamualaikum"
"Heemm... waalaikumsalam" sambil menarik kembali selimutnya.
Rere meninggalkan kamar kost nya lanjut mengayuh sepedanya dengan kencang mengingat matabkuliah pagi ini adalah si dosen yang terkenal killer dan pelit angka. Butuh waktu 15 menit Rere sampai di kampusnya. Segera ia memarkirkan sepedanya dan berlari menuju ruang kelasnya. Dan benar saja, tidak lama setelah Rere menemukan tempat duduk yang pas untuk menghindari kontak mata dengan si dosen, dosen pun masuk.
"Selamat Pagi..."
"Pagi Pak..." hampir bersamaan
Materipun diberikan dan tiba tiba.. "Ayyu.. jelaskan materi hal.231 kedepan"
__ADS_1
Deng... 'Oh My God'.. jantung Rere berpacu keras membuka materi yang diminta dosen. Sepintas Rere membaca cepat dan dengan berat melangkah maju ke depan kelas mencoba menerangkan apa yang ia pahami.