Radio Cinta

Radio Cinta
part. 6


__ADS_3

Rere dengan santai menuju toilet dan mengambil air wudhu. Setelah merapikan baju dan hijabnya ia keluar lalu menuju ruang sholat. Ketika akan membuka pintu ia mendengar seseorang melantunkan ayat suci Al-Quran dengan merdunya. Rere membuka pelan pintu ruang mushola dan mendapati sosok yang ia cari tadi.


Rere menikmati alunan merdu suara Cahyo, hingga tiba tiba seseorang mengejutkannya dari belakang. "Ayy.. masuk kagak.. bengong di pintu" Rere menoleh kebelakang dan mendapati Satria tengah berdiri tepat dibelakangnya.


"Ahh.. iya.. gue mau sholat. Lo" tanya Rere bingung


"Ya sholat juga lah.. bareng yuk" sambil melangkah masuk keruangan dan melihat Cahyo yang sudah menghentikan membaca Al-Quran.


"Eh.. Kak Cahyo.. sudah sholat kak" tanya Satria.


"Belum. Ayo sholat bersama" ajaknya sambil menatap Rere.


Cahyo mengambil barisan Imam. Hati Rere sudah mulai gak karuan. 'duuhhh.. bismillah lillah karna Alloh' batinnya berusaha mengkhusyukan sholatnya.


Selesai salam. Mereka sama berdoa. Tak lama Cahyo dan Satria meninggalkan Rere yang masih khuyuk untuk berdoa. 'Alhamdulillah' ucapnya setelah melakukan sholatnya. Rere bergegas merapikkan alat sholatnya kemudian keluar hendak menuju kantin.


Arah tatapannya tertuju di ruang tunggu Radio. Ia melihat Satria tengah berbicara di ponselnya dengan suara terdengar sedikit bergetar seolah menahan tangis. 'ada apa ini.. baru lihat gue satria nangis. biasanya cowok berandal model dia baik baik saja'


Dengan pelan Rere berjalan mendekati Satria dan mendapatinya telah menutup telp nya.


"Sat.. Kenapa lo. Lo gak lagi nangis kan.." tanya Rere bingung harus mulai dari mana


Satria adalah rekan UKM Radio jurusan hukum semester 5.


"Gak lah... nangis. Gue gak papa.. Nehh.. ada debu tiba tiba masuk gak permisi" jawab Satria sekenanya.


" Yakin... mau dibantuin ato ditemenin" tanya Rere meyakinkan sambil duduk dekat Satria


"Bener Ayy.. gue gak papa." sambil terus memainkan ponselnya tak ingin kesedihannya terlihat di hadapan Rere.


"Ok. Gue harap lo baik baik saja teman.Q. Gue kantin dulu ya... ikut gak.." jawab Rere sambil menggoda berharap Satria kembali ceria.


"Gak. thanx" jawabnya singkat


"Ok. By.." Rere beranjak dari duduknya meninggalkan Satria yang masih mengotak atik ponselnya.


'Semoga lo bener bener baik baik saja ya Sat..' doa kecil Rere


Tiba di lt.2 gedung UKM, Rere dikejutkan oleh Cahyo yang bersandar pada pegangan tangga. Rere menghentikan langkahnya dan memandang intens ke arah Cahyo. Seketika wajahnya merona tatkala Cahyo melihat ke arah Rere dan mata mereka saling menatap. Ditambah senyum pamungkas Cahyo yang benar benar membuat Rere meleleh.


"Kak..."


"Kantin yukk.."


Cahyo melanjutkan langkah kakinya menuruni anak tangga keluar gedung UKM menuju kantin.


Rere dari belakang seperti terkena magnet yang kuat, diam tak berkata hanya mengikuti arah jalan Cahyo.

__ADS_1


"Mau pesan apa..??" tanya Cahyo memulai percakapan


"Ee.. soto ayam aja Kak."


"Minum"


"Eee.. es jeruk"


"Kamu cari tempat duduk gih.. kakak yang bayar"


Dan reflek Rere pun meninggalkan Cahyo untuk mencari tempat duduk buat makan mereka. Entah kenapa Rere seperti terhipnotis ketika dekat dengan Cahyo. Seperti mengingatkannya saat ia SMP. Sosok itu.


Tak lama Cahyo datang dengan membawa nampan berisi 2 nasi soto dan 2 es jeruk.


"Lho.. sama" heran Rere


Cahyo hanya tersenyum lebar. 'Ternyata belum' batin Cahyo


"Ada kuliah lagi" tanya Cahyo di sela makannya


"Heemm.. habis ini, jam 1. Kakak gak ada kuliah" tanya Rere dengan gelas ditangannya hendak meminum es jeruknya.


"Sudah habis. Mau sidang. Dateng ya"


"uhuuk..uhuuukk.." Rere tersedak minumnya sendiri tatkala ia mendengar kata 'datang ya'. Apakah ini sebuah pertanda baginya 'aahhh...' ia membuyarkan sendiri obrolan hatinya


"Kenapa.. gak papa"


"Kapan kakak sidang"


"Jumat ini"


Setelah mereka mengobrol dan menghabiskan makan siang, Rere segera pamit karena ada jadwal kuliah. Rere mengucap terimakasih karena sudah di traktir makan siang. Cahyo pun hanya menganggukkan kepalanya dan tentu saja andalan mautnya tersenyum lebar.


Rere setengah berlari supaya tidak terlambat sampai kelasnya.


Selesai jam kuliah, Rere menuju musholah jurusan untuk menunggu waktu Ashar. Dalam diamnya ia berfikir tentang apa yang baru saja ia alami. 'Dateng .. ke sidang ..' tiba tiba ia tersenyum sendiri membayangkan senyum lebar Cahyo.


Adzan Ashar pun berkumandang. Segera setelah mengambil air wudhu, Rere mengerjakan sholat Ashar, berdoa dan beranjak menunju caffe tempat kerja paruh waktu.


Setiap sore Rere harus bekerja paruh waktu dari hari Senin sampai Jumat. Libur di hari Kamis, Sabtu masuk pagi dan untuk sementara full di hari Minggu sampai mendapat pengganti Bagus. Rere mengambil sepeda lipatnya dan mulai mengayuh. Namun ada sepasang mata yang terus mengawasinya dari kejauhan.




"Selamat sore".. sapa Rere kepada pengunjung yang baru tiba. Rere mencatat pesanannya dan menyerahkannya ke meja kasir dan mulai meracik pesanan tersebut. Tidak lama pesananpun selesai dan sudah dibawa oleh empunya.

__ADS_1



"Maaf ya Ayy... saya belum dapat pengganti Bagus" sambil melirik ke arah Rere. "Iya Pak.. gak papa." ucapnya. Namun batinnya meronta. 'Ya Alloh semoga Pak Dimas segera mendapatkan pengganti Kak Bagus' doa kecil Rere



Waktu berjalan cukup cepat. Tidak terlalu ramai pengunjung caffe, sehingga Rere masih bisa menyambi untuk membuat proposal magang. Ya.. Rere berencana untuk mengajukan magangnya bulan ini di RS Swasta di kota ini.



Rere meminta izin untuk sholat magrib terlebih dahulu dan melanjutkan aktivitas nya. Hingga waktu sudah menunjukan pukul 21.30 yang artinya persiapan untuk tutup caffe.



Selesai semua, Rere langsung mengambil sepeda lipatnya dan bergegas meninggalkan caffe sebelum bos nya menghentikannya seperti dulu.



Dan benar saja, dalam perjalanan pulang,..truuut..truuut..


"Asaalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.. dimana kamu"


Rere melihat ponselnya dan tertera nama bos nya disana


"Ahh.. saya dijalan Pak. Maaf apakah ada yang terlupakan" Rere memberhentikan sepedahnya sedikit khawatir apa ada yang salah saat dirinya menutup caffe karena ia sadar ia menyelesaikannya tadi dengan terburu buru.


"Oh. gak ada. Saya kira kamu masih di caffe"


'Alhamdulillah' batin Rere


"Maaf Pak. Saya terburu buru"


"Ya sudah. Hati hati dijalan. Jangan panggil Pak ketika sudah off" pintanya.


"Eehhh ya.. Dim. Assalamualaikum" Rere mencoba mengakhiri kecanggunganya di telp.


"Ya. Waalaikumsalam" jawab Dimas



Setiba di kamar kost.. Rere menjumpai Cici sedang serius menatap laptopnya.



"Assalamualaikum.. serius amat neng gelis"

__ADS_1


"Hmmmm.. baru pulang" tanpa menoleh ke arah orang yang di ajak bicara


"Hmm.. Gue mandi dulu ya" yang hanya di angguki kepala oleh Cici tanpa menoleh sedikitpun.


__ADS_2