Radio Cinta

Radio Cinta
part. 9


__ADS_3

Sebelum panggilannya ditutup, Rere sempat mendengar obrolan Pak Hadi dan Seorang yang sepertinya dokter


"Sudah siap Pak.."


"Ya.. siap Dok. Bismillah"


"Sabar ya Pak.. Monggo..."


tuut..tut..tut.. panggilan telp terputus


'siap apa' batin Rere


"Ayy.. lo kenapa" tanya Sakha yang khawatir setelah mendengar Rere hanya mengucap salam saat menerima panggilan telp.


"Ahh... gak. Gue ke ruang dosen dulu ya.. Assalamualaikum. byy" Rere segera merapikan barang bawaannya dan segera meninggalkan Sakha mode penasaran.


Rere bergegas menuju ruang dosen. Dilihatnya laptop yang ada di meja Pak Hadi. Rere berpamitan pada dosen se tempat untuk mengambil laptop milik Pak Hadi yang tentu saja sudah mendapat ijinnya.


Laptop Pak Hadi Rere bawa naik ke ruang kelas 2.4. Dilihatnya semua mahasiswa sudah banyak yang hadir. Dengan malu namun pasti Rere memasuki ruang tersebut dan menuju arah podium. Rere sudah paham materi yang akan diberikannya dikelas ini di semester 7.


"Assalamualaikum.. Selamat Siang. Mohon maaf sebelumnya karena saya akan menggantikan kelas Pak Hadi siang ini. Dan terimakasih banyak atas kerjasama teman teman semuanya".


"Materi kali ini adalah melanjutkan materi sebelumnya yaitu Psikometri"


Rere mulai menjelaskan dengan sesekali matanya tertuju pada sosok yang tepat didepannya. Ya .. dia adalah Sakha.


"Sekian materi dari saya. Apakah ada pertanyaan tentang materi terkait" Tanyanya sopan namun tegas


"Aman.."Jawab salah satu mahasiswa


"Udah punya cowok belum" tanya salah satu mahasiswa cowok


"Baik. kalau aman, saya akan akhiri kuliah siang ini. Assalamualaikum. Selamat siang" katanya cepat.


"Yyaaaahhhh....." kegaduhan dalam ruanganpun terjadi. Banyak mahasiswa yang menantikan jawaban asdos nya apakah ia sudah mempunyai cowok. Namun Rere bergegas meninggalkan ruangan 2.4 menuju ruang 2.1 untuk melanjutkan mengajarnya di semester 1.




'Alhamdulillah..' Rasa syukur tak henti hentinya Rere ucapkan. Meski berat namun tetap ia harus mensyukurinya.


Rere melangkahkan kaki nya menuju parkiran jurusan. Ia mengambil ponselnya dan mulai mencari nama yang hendak ia hubungi.



tuuut...tuut...tuutt..


"Asslamualaikum" suara dari sebrang telp


"Waalaikumsalam. Bunda apakabar.. ayah juga apakabar" tanya Rere yang menelp bunda nya.


__ADS_1


Tak terasa 20 menit sudah Rere berbincang dengan bunda nya di telp sambil mengendari sepeda lipatnya. Rere pun tiba di caffe tempat kerja paruh waktunya.



Rere mengakhiri panggilannya dengan bundanya. Dan mulai memarkir sepedanya.



truuut..truuut..truuuut


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.. Ayy hari Jumat malam ada acara kah" tanya suara di sebrang to the point


Rere melihat ke arah layar dan tertera nama Cahyo disana.



"Ehh..Kak Cahyo.. maaf kak.. Ayyu kerja." jawabnya terbata bata. "emmm makasih banyak ya kak sudah gantiin kita siaran." sambung Rere.


"Kamu libur kapan." tanya Cahyo lagi


"Hari kamis kak" langsung dijawab tanpa ada curiga.


"Ok. Hari kamis kakak jemput kamu di jurusanmu. pulang jam berapa???"


"hoook... eee..mmm... maaf Ayyu belum tahu. Karena Ayyu harus menyesuaikan dengan jadwal ngajar, menggantikan Pak Hadi" jelasnya.


'hooook... waalaikumsalam' jawabnya lirih hampir dalam hati



Rere yang di ruang loker terkejut saat ia hendak menutup lokernya.


"Ayy.. hari sabtu malam ada acara gak. Kamu kerja pagi kan.." tanya Dimas


"Eh.. Bapak. Iya, saya sabtu memang kerja pagi, tapi maaf saya harus mengajar di bimbel sore sampai malam" jawab Rere pasti tanpa keraguan.


"Aaahhh... padat juga ya jadwal kamu" tanya Dimas berusaha mengorek informasi kapan waktu luang Rere.


"Mmm.. ya. Maaf Pak, saya ke depan dulu" berlalu meninggalkan bosnya



"Selamat malam".. sapa Rere ketika pengunjung caffe datang. Hingga waktu tutup caffe pun tiba. Rere berusaha segera menyelesaikan tugasnya sebelum bosnya. Rere menuju loker dan tiba tiba perut Rere mulas, membuatnya harus lama berjongkok untuk menetralkan rasa sakitnya.



"Ayy.. lo kenapa" suara Dimas membuat Rere tak bisa berkutik "Lo sakit" tanyanya lagi. "Itu keringat dingin lo keluar" tak ada jawaban apapun dari Rere karena tak tahan atas sakitnya.



Dimas pun membantunya duduk di sofa dekat ruang kerjanya. Meninggalkannya untuk membuat teh manis hangat dan meminta Rere untuk segera meminumnya. Rere pun segera meminumnya ketika teh itu disodorkannya tepat di depannya.

__ADS_1



Beberapa saat perut Rere sudah mulai di kondisikan dan Rere sudah bisa bergerak.


"Trimakasih Pak" ucap Rere


"Ya. Kamu gak papa.. apa saya antar ke rumah sakit" tanya Dimas khawatir


"Aahh.. tidak usah Pak. saya lagi pertama datang bulan. Dan ini biasa bagi saya." jawabnya dengan sedikit malu.



"Ooo... Ok. Aku paham. Baik kalau gitu, mari saya antar pulang. Saya selesaikan dulu sebentar ya" pinta Dimas


"Eehh.. Tidak perlu di antar Pak. Saya sudah sehat kog. Saya pulang sendiri saja. Saya bawa sepeda." tolak Rere sambil berdiri dari sofanya yang langsung di hempaskan pelan oleh Dimas untuk duduk kembali di sofa.


"Tunggu.. hanya sebentar" kata Dimas menegaskan


Rere tak bisa berkutik lagi. Badannya juga lemas karena ia ingat ternyata ia juga belum makan dari pagi.



Sampai di parkiran caffe, sepeda Rere Dimas lipat dan dimasukkannya dalam bagasi mobilnya. Rere diminta Dimas untuk masuk ke dalam mobilnya. Ditengah jalan Dimas menepikan mobilnya dan keluar menuju warung yang ada di pinggir jalan. Dia memesan nasi goreng 2 bungkus dengan 2 kantong kresek. Setelah di tangan, dia melajukan mobilnya kembali menuju kost Rere.



Dimas mengeluarkan sepeda Rere dan tak lupa 1 kantong kresek nasi goreng.


"Dimakan ya..." ucapnya lembut


"Eh.. ah..ya.. terimakasih Pak" sambutnya


"Kog Pak mulu sih" katanya sedikit merajuk


"Ahh.. ya.. Terimakasih banyak Dim. Assalamualaikum" Rere menuntun sepedanya masuk dalam rumah kostnya.


Dimas kemudian melaju meninggalkan area tersebut. Tanpa diketahui keduanya ada 3 pasang mata yang terus melihat dengan curiga.



Setelah membersihkan diri di kamar mandi. Rere terkejut saat ia keluar dari kamar mandi. 3 sahabatnya sudah berada di pintu kamar mandi yang sengaja menunggu Rere keluar dari dalam sana.



"kalian.. bikin jantungan aja" kata Rere sedikit syock



Rere pun ditarik oleh Erlin yang sudah sangat amat penasaran pake banget untuk duduk di atas ranjang Cici. Karena yang terdekat dengan kamar mandi.



"Lo jadian sama bos Dimas" Tanya Erlin tanpa basa basi.

__ADS_1


__ADS_2