
" Karena emang aku yang pantas untuk pergi bersamamu."
" Jangan mulai.."
" Haha, baiklah baiklah. Jadi apakah sekarang kau sudah siap untuk berburu vampir?" Tanya Edmund.
" Entahlah. Aku tidak yakin cara ini akan berhasil."
" Alia, kau hanya perlu percaya kepadaku."
" Huft, baiklah."
Alia lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol panggilan kepada Edmund.
" Oke, sudah tersambung dan pergilah berjalan di bawah sinar matahari. Karena Vampir itu akan datang dari arah yang berlawanan denganmu."
" Baiklah."
Alia terlihat berulang kali menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia mulai berjalan seperti apa yang dikatakan oleh Edmund.
Sambil terus berbicara dan canda tawa dengan Edmund, Alia juga terus mengawasi bayangan setiap orang yang lewat.
" Aku menemukannya aku menemukan seseorang yang tidak memiliki bayangan." Ucap Alia.
" Dimana tepatnya aku melihatnya?"
" Arah jam 2."
" Oke aku juga melihatnya dan pastikan kau dapat menghitung jarak antara dirimu dan dirinya dengan benar."
" Akan aku pastikan."
Alia kembali berjalan sambil terus mengawasi gerak-gerik Vampir itu. Dan saat jarak antara Alia dan vampir itu tepat 10 meter.
" Aku akan menutup teleponnya sekarang."
" Pasukan bergerak dalam hitungan ketiga." Seru Edmund.
Satu....
Dua...
Tiga....
Alia mulai khawatir. Kenapa dia tidak melihat Edmund atau yang lainnya bergerak. Sedangkan vampir itu sudah semakin dekat kepada nya.
" Edmund, kau dimana?, sebenarnya apa yang kau rencanakan bukankah tadi kau mengatakan jika akan memblokir akses jalan vampir itu padaku di dalam jarak 10 meter?" Lirih Alia sambil terus mengawasi vampir yang semakin mendekati nya.
Vampir itu terlihat tersenyum jahat karena sebentar lagi dia akan dapat mengantongi identitas dari Alia.
Tidak kan hanya mengantongi, tapi vampir itu berniat untuk membawa Alya pergi dengan cepat.
Namun sebelum vampir itu menjalankan rencananya, Edmund dan para pemburu vampir lainnya sudah berada di sekeliling vampir itu.
Dengan kekuatan dan ketangkasan yang dimiliki Edmund dan pemburu vampir lainnya.
Mereka berhasil melumpuhkan vampir itu. Alia kini dapat tersenyum lega karena akhirnya Edmund dan teman-temannya berhasil menangkap vampir yang nyari saja membawa Alia pergi.
Edmund lalu memerintahkan teman-temannya untuk membawa Vampir itu ke markas.
Ya, mereka sengaja tidak memusnahkan Vampir itu karena Edmund akan menginterogasinya di markas mencari informasi tentang siapa saja dan berapa jumlah vampire Origin yang ikut masuk ke kota mereka.
__ADS_1
" Edmund, Kenapa kau sangat lama, aku takut."
" Tidak apa apa. Ayo segeralah masuklah setelah itu aku akan mengajakmu ke markas."
" Baiklah."
" Alia tunggu." Panggil Edmund saat Alia mulai berjalan menuju kelasnya.
Alia berhenti dan menoleh ke arah Edmund.
" Jangan beritahu siapapun tentang ini. Kejadian ini cukup kau dan aku yang tahu."
" Oke."
" Ya sudah. Sampai jumpa saat jam pulang sekolah. Aku akan menunggumu di belakang kelas."
Alia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala menanggapi ucapan dari Edmund.
" Alia.."
" Ya?"
" Ah tidak jadi, pergilah."
Edmund memandangi kepergian Alia, Edmund seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa.
Alia lalu segera masuk kedalam kelasnya karena pelajaran akan dimulai dalam 5 menit.
Didalam kelas, kejadian yang baru saja menimpanya membuat Aliya tidak bisa fokus pada pelajaran.
Dia terus aja membayangkan apa yang akan Edmund lakukan kepada Vampir itu. Dan kalau saja Edmund tidak memperingatkan Aliya untuk tidak memberitahu kepada siapa pun kejadian tadi. Mungkin Alia sudah menceritakannya kepada kedua sahabatnya itu. Karna Alia tidak bisa menyembunyikan apapun dari mereka.
Bell berbunyi tanda pelajaran terakhir sudah selesai.
" Hei Alia, apa rencanamu setelah ini?" tanya Gwen
" Aku akan pulang bersama dengan Edmund."
" Wow, sejak kapan kau membuka hatimu untuk Edmund?. Apakah Devian telah mengkhianatimu sehingga kau berpaling darinya?" Ledek Lucy.
" Ck, bukan sepertinya itu. Aku pergi dengan Edmund, karena aku ingin belajar beladiri dengannya."
" Apa?" Lucy dan Gwen terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Aliya.
" Kau bercanda kan?"
" Tidak, aku berkata yang sebenarnya. Ini juga atas permintaan kedua orang tuaku. Jadi mereka berjanji akan mengijinkan ku pergi ke mana saja asal aku mau belajar tentang bela diri."
" Wow fantastis. Negosiasi yang cukup adil." Ucap Gwen.
" Kalau begitu. Aku akan mendoakan agar kau bisa cepat menguasai ilmu beladiri yang akan kau pelajari nanti." Imbuh Lucy.
" Terima kasih teman teman."
" Sama sama. Kalau begitu kami akan pulang lebih dulu."
" Oke."
Sepeninggal teman-temannya Alia mulai mengemasi barang-barangnya dan berjalan ke belakang kelasnya.
Disana dia melihat Edmund sudah menunggu dirinya.
__ADS_1
" Kita ke markas sekarang?"
" Tentu."
Sepanjang perjalanan keluar dari halaman sekolah. Alia dan Edmund menjadi pusat perhatian para siswa yang lain membuat Alia merasa dan risih.
" Edmund, Apa kau tahu kenapa semua siswa dan siswi memandangi kita?. Oh tidak apakah ada sesuatu yang salah denganku?"
" Tidak, tidak ada yang salah denganmu. Apa kau masih belum menyadari jika sekarang kau berjalan dengan seorang pria yang paling tampan dan juga keren."
" Apa?, siapa?"
" Astaga Alia, aku.."
" Apa?. Dirimu? tampan? keren? Buahahahahah.. "
Edmund nantikan langkahnya dan menatap tajam Alia.
" Ck, aku rasa Alia harus operasi katarak. Bagaimana bisa dia tidak mengakui ketampanan dan kekerenan ku yang sangat hakiki ini?" Ucap Edmund sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Hahah.."
Alia masih terus tertawa sambil memandangi wajah Edmund.
" Alia, apakah masih tidak percaya atau tidak bisa melihat bahwa diriku ini tampan dan juga keren?" Tanya Edmund, dan sekali lagi Alia menggelengkan kepala sambil berusaha menahan tawanya.
Alia lalu terpesona dengan mobil mewah yang dibawa oleh Edmund.
" Wow Edmund?, apakah kau seorang Sultan kenapa kau bisa memiliki mobil mewah seperti ini?"
" Ya, aku mungkin bukan Sultan tapi aku bisa membeli barang apapun yang aku inginkan. Dan selamat, kau adalah orang pertama yang yang berhasil menumpang di mobilku. Karena selama ini aku tidak pernah mengizinkan seseorang untuk menaiki mobil kesayanganku yang satu ini."
" Ck, menumpang. Kau sendiri yang mengajak untuk pulang bersama mu kenapa kau menyebut diriku menumpang. Dan apa kerennya mobil ini aku rasa mobil ini sama seperti mobil-mobil yang lain pada umumnya."
"Ck dia akan mulai lagi. Huft, untung aku mencintainya jika tidak mungkin aku sudah menjadikannya salah satu koleksi kesayangan ku." Lirih Edmund.
" Hei sopir Apa yang kau lakukan kenapa kau terus sendiri di situ?. Apa kau tidak tahu jika mobil ini tidak bisa berjalan sendiri?" Ledek Aliya yang sedari tadi sudah memasuki mobil mewah milik Edmund.
" Tunggu, dia tadi menyebutku apa?. Supir?. Wajah tampan dan keren dipanggil supir?"
" Hei.., aku bisa membeku jika kau masih terus berdiri di sana." Teriak Alia.
" Benar benar sulit dipercaya. Aku tidak menyangka jika sisi lain Alia dipenuhi selera humor yang tinggi."
Edmund ke jalan menuju mobilnya dengan memasang muka cemberut seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh orang tuanya.
Sedangkan Alia justru tertawa melihat ekspresi yang tidak biasa ditunjukkan oleh Edmund.
...----------------...
...****************...
......................
...----------------...
......................
...****************...
......................
__ADS_1