
" Hai, boleh aku masuk?"
" Aa, emmm. Bukankah kau sudah ada didalam?" Ucap Alia.
" Hah maaf." Ucap Devian senyum sambil berjalan menuju Alia.
Pyaar...
Saat Devian akan duduk di atas meja tempat dimana Alia menyimpan air suci, Air suci itu tidak sengaja tersenggol oleh Devian yang pecah sehingga airnya mengenai kaki Devian.
" Argh..." Devian merintih kesakitan.
" Kau tidak apa apa?"
" Ya, apa isi dari botol itu?, apakah berharga karena aku tidak sengaja menjatuhkan nya." Ucap Devian.
" Oh itu adalah Air suci pemberian dari Gwen. Apa kau terluka?"
" Ya, sepertinya kakiku sedikit terkena dari pecahan botol itu." Ucap Devian berbohong, karena sesungguhnya sampai saat ini dia merasakan sakit yang luar biasa karena terkena air suci.
" Maaf, aku tidak bisa membantumu untuk membersihkan pecahan kaca ini karena aku fobia terhadap pecahan kaca." Ucap Devian lagi
" Tidak apa, biarkan saja aku akan meniru orang lain untuk membersihkan nanti." Ucap Alia sambil tersenyum, senyum yang menghangatkan hati Devian.
" Emm, aku belum mengetahui namamu, siapa namamu?" Tanya Devian.
" Panggil aku Alia."
" Alia.." Ucap Devian sambil tersenyum.
" Devian, Apa yang kau lakukan di tengah hutan begini apa rumahmu berada di sekitar sini?"
" Ya, kenapa?"
" Apa kau bersekolah di sekitar sini juga?"
" Ya, kenapa?"
" Apa kau yang menolongku mengobati lukaku dan mengembalikan ku kesini?"
" Ya, kenapa?"
" Kenapa tidak kau sendiri yang mengatakan kepada mereka Kenapa kau meninggalkanku berbeda tak begitu saja?"
" Karena Aku tidak ingin terlihat oleh manusia."
" Ha?"
" Mak.. maksud ku Aku tidak ingin terlihat oleh yang lain karena mungkin mereka menganggapku berbeda." Ucap Devian.
" Berbeda apa?, aku tidak melihat ada perbedaan di antara kita." Ucap Alia.
" Kita berbeda Alia, kau mungkin tidak akan bisa menerima dengan akal sehat siapa diriku sebenarnya."
" Memangnya kau siapa?, hantu?, vampir atau manusia serigala. haha ayolah kau tidak akan percaya kan jika mereka masih hidup di dunia modern seperti ini." Ucap Alia.
" Alia, aku seperti memimpikanmu selama berabad-abad ini."
" Tunggu, kamu mengatakan apa memimpikanku selama berabad-abad?, memangnya sekarang berapa usia mu, sehingga kau mengatakan seakan-akan kau telah hidup di masa yang lalu."
" Aa, maksudku aku telah memimpikanmu selama beberapa hari terakhir."
" Ah, seperti itu."
" Maukan kau menjadi temanku."
Alia tersenyum dan menjulurkan tangannya.
" Tentu.."
Dengan ragu ragu, Devian juga menjulurkan tangannya dan mereka saling berjabat tangan.
Alia terkejut merasakan sensasi dingin di tangan Devian, namun bagi Devian tangan Alia justru seperti sesuatu yang menghangatkan dirinya.
Devian lalu dapat mendengar pikiran dari orang-orang yang mulai mendekat yang berjalan menuju tempat kemah.
" Mereka sudah kembali.."
" Siapa?" Tanya Alia.
" Teman temanmu, Alia aku harus pergi mereka tidak boleh melihatku."
" Tapi Aku baru saja ingin mengenalkanmu kepada mereka."
" Mungkin lain kali." Ucap Devian yang bersiap untuk keluar dari tenda tempat Alia beristirahat.
" Devian, bagaimana jika aku ingin bertemu denganmu. Apa kau punya ponsel atau semacamnya agar aku bisa menghubungi mu?"
" Panggil saja aku maka aku akan datang kepadamu."
Wuushh...
Secepat kilat Devian pergi dari pandangan Alia.
" Siapa kamu sebenarnya Devian?" Lirih Alia sambil melihat botol yang berisi air suci itu pecah.
Tap
Tap
Tap
" Alia..." Sapa kedua teman Alia.
" Hai, kalian sudah kembali Kenapa begitu cepat?"
" Kami sangat mengkhawatirkanmu terutama saat kami melihat Edmund terus saja berjalan bolak-balik di sekitar tenda tempatmu beristirahat." Ucap Lucy
"Benarkah?"
" Ya, apa dia mengganggu mu?" Tanya Gwen.
" Tidak, jangankan untuk menganggu. Dia masuk ke dalam sini saja tidak. Karena sedari tadi Devian yang menemani ku."
" Devian?" Ucap Lucy dan Gwen saling berpandangan.
" Ya Devian. Orang sudah menyelamatkanku dan juga mengobati luka di kaki."
" Tapi, Kenapa dia tidak menelantarkanmu kepada kami Kenapa justru meninggalkanmu begitu saja?" Ucap Gwen.
" Hah, itulah yang aku tidak mengerti kenapa dia meninggalkanku begitu saja."
" Kau tidak bertanya kenapa?" Ucap Lucy.
" Sudah, tapi dia hanya mengatakan bahwa dia tidak ingin terlihat oleh orang yang ada di sini."
" Kenapa?" Ucap Lucy dan Gwen secara bersamaan.
" Aku juga tidak tahu, karena belum sempat aku mengobrol dengannya dia sudah pergi."
" Hmm, sungguh membuat penasaran. Eh, pecahan apa ini?" Ucap Gwen.
" Maaf Gwen, disaat Devian mendekat ke arahku, dia tidak sengaja menyenggol botol air suci milikmu."
" Hmm, sepertinya lain kali aku harus memasukkan air suci kedalam botol plastik saja." Ucap Gwen sambil membersihkan pecahan kaca.
__ADS_1
" Bagaimana lukamu, Apa kau masih merasakan sakit?" Tanya Lucy.
" Sedikit, aku hanya masih tidak bisa menggerakkan kakiku."
" Pelan pelan saja."
Alia hanya tersenyum, dia begitu beruntung memiliki kedua sahabat yang begitu perhatian kepadanya melebihi perhatian seorang saudara.
Malam harinya, Alia tidak dapat tidur. Dia masih memikirkan tentang Devian.
" Alia.."
Alia terjaga karena dia mendingan seseorang memanggil namanya. Namun Alia memutuskan untuk kembali tidur karena mungkin dia salah dengar.
" Alia..."
" Hah..."
Alia langsung terbangun dan terkejut karena tepat di samping luar tendanya berdiri sosok bayangan seseorang.
" Siapa?"
" Sttt, jangan berisik ini aku Devian."
" Devian?"
Alia tersenyum dan berusaha bangkit, dengan tertatih-tatih akhirnya Alia dapat berdiri dan berjalan keluar menemui Devian.
" Hai.." Sapa Alia.
" Bagaimana lukamu,?"
" Yaa seperti yang kau lihat."
" Devian, Kenapa tadi kau tiba-tiba pergi padahal aku berencana mengenalkanmu kepada kedua sahabatku."
" Itu, karena aku ada urusan mendadak. Aku lupa jika Aku punya sesuatu yang harus dikerjakan."
" Begitu.."
" Alia, apa kau ingin jalan jalan?" Tanya Devian.
" Apa?, sekarang? malam ini?"
" Ya. Karena aku hanya dapat keluar malam hari, aaa maksudku aku hanya free saat malam hari karena saat siang hari aku aku harus melakukan berbagai kegiatan ya kau tahu lah sekolah zaman sekarang tidak ada guru yang membiarkan muridnya dapat menikmati hari siang dengan santai."
" Ya kau benar."
" Jadi, Apa kau mau jalan-jalan denganku?"
Alia melihat kearah kakinya yang terluka, Devian yang mengerti langsung membopong tubuh Alia. Alia tersenyum.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu untuk mengenal satu sama.
" Siapa gadis itu?" Tanya Charlie.
" Apa gadis itu yang membuat Devian menjadi tidak betah di rumah?" Imbuh Cristin.
" Aaa... yap."
" Ya.."
" Betul."
" Yup." Ucap Alice, Elena, Harry dan Stefano secara bersamaan.
" Tapi, apa Devian yang sadar jika gadis itu adalah seorang manusia? Bagaimana jika wanita itu membongkar keberadaan kita?" Ucap Cristin.
" Kita akan membicarakan itu dengan Devian nanti. Sekarang lebih baik kita pulang sebelum ada yang menyadari jika kita berada di sini." Ucap Charlie.
Alice sekali lagi melihat kearah Devian dan Alia. Lalu Alice mendapatkan gambaran masa depan yang akan terjadi diantara mereka.
" Cinta dan pengorbanan." Ucap Alice.
Tanpa semuanya tahu bahwa Alia mengetahuinya.
Ya. Karena Alia masih ada di masa lalu membuatnya bisa mendengar apapun yang dibicarakan.
" Dan Devian memilih untuk mengorbankan dirinya agar aku selamat dari gangguan Gabriel." Lirih Alia.
Alia lalu terbang mengikuti mereka karena ingin melihat apa yang dilakukan Devian.
" Devian.." Ucap Elena yang terkejut karena Devian tiba-tiba saja berada di Di hadapannya saat dia tengah duduk di atas balkon rumah.
" Ele, Apa yang kau lakukan disini?"
" Tidak ada, Aku hanya ingin menikmati malam ini dengan memandangi bintang-bintang."
" Huft.." Devian terlihat menghela nafas.
" Yang seharusnya berkata seperti itu adalah aku."
" Apa maksud mu?"
" Apa kau tahu, Charlie dan juga Christin telah mengetahui saat Kau bersama dengan manusia itu."
" Benarkah?"
" Ya, dan bersiaplah menjawab pertanyaan yang mungkin akan mereka tanyakan padamu." Ucap Elena
Lalu Devian dapat mendengar pikiran dari Charlie yang berjalan mendekat ke arahnya.
" Devian.."
" Charlie.."
" Bisa kita bicara sebentar."
Devian yang sudah dapat membaca pikiran dari Charlie, dengan santai berjalan mengikuti Charlie.
Mereka kemudian tiba diruang yang biasa mereka gunakan untuk membahas banyak hal.
" Aku rasa, kau pasti sudah tahu kenapa aku meminta mu untuk berbicara." Ucap Charlie. Charlie sendiri sudah mengetahui jika Devian pasti telah membaca isi dari pikirannya.
" Yup." Ucap Devian santai.
" Kalau begitu segera katakan, kenapa kau berteman dengan manusia?"
" Aku tidak tahu, aku hanya merasa telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang dariku."
" Tapi kamu harus tahu bahwa mereka adalah manusia, mereka bisa jadi ancaman untuk kita." Ucap Cristin.
" Tapi, aku tidak pernah mendengar pikiran jahat dari semua manusia yang ada disana. Hanya Alia yang tak bisa ku baca." Ucap Devian.
" Jangan jangan, dia adalah salah satu dari pemburu vampir." Ucap Elena.
" Tidak, aku tidak melihat nya sebagai pemburu." Sergah Alice.
" Apa maksud mu?" Ucap Elena.
" Malam itu, saat kita akan kembali ke rumah aku mendapatkan gambaran tentang masa depan Devian dan juga manusia itu. Aku melihat ada keindahan di sana, namun juga ada pengorbanan.,"
" Charlie aku mohon biarkan aku mendekatinya. Aku berjanji aku tidak akan membongkar identitas kepadanya." Pinta Devian.
" Baiklah."
__ADS_1
" Terima kasih."
Charlie menepuk-nepuk bahu Devian sebelum akhirnya dia bersama dengan istrinya masuk dalam rumah.
Satu persatu, yang lain juga pergi meninggalkan Devian.
Malam itu, Devian memilih kembali ke tenda Alia, Devian berada di sana sepanjang malam, tepatnya di atas pohon. Karena ada sesuatu yang membuat Devian tidak dapat mendekati Alia.
Hari berganti hari. Kaki Alia juga sudah tidak lagi terasa sakit. Jadi Alia kembali mengikuti kegiatan yang dilakukan saat siang hari. Dan saat malam hari Alia akan pergi bersama Devian tanpa ada siapapun yang mengetahui.
" Devian.."
" Ya..."
" Kali ini kau akan membawa ku kemana? dan Apa kau tidak lelah setiap malam ketika kita akan pergi kau selalu menggendongku dan akan terus begitu sampai kita kembali ke tenda ku."
" Emm, tidak."
Devian lalu menurunkan Alia saat mereka telah tiba di danau yang berada di tengah hutan. Danau yang indah, ditambah lagi sinar rembulan yang membuat cahayanya memantul dari air di dalam danau. Alia terpesona dengan keindahan danau yang ada di tengah hutan.
" Apa kau menyukainya?"
" Ya.."
Devian mendekat ke arah Alia, mengirup aroma yang begitu besar sehingga membuat Devian merasakan kenikmatan luar biasa.
" Alia, kau sebagai penawar racun bagiku Aku tidak bisa jauh jauh darimu." Lirih Devian.
" Apa maksud mu?" Ucap Alia.
" Aku.., aku tidak bisa jauh darimu.." Ucap Devian.
Alia tersenyum.
" Devian, besok adalah hari terakhirku berada di hutan ini."
" Apa?"
" Ya, setelah itu aku akan kembali ke Washington."
" Tidak, kau tidak boleh pergi kau tidak boleh jauh dariku."
" Ayolah Devian. Ada apa dengan dirimu?, kau selalu menolak setiap kali aku memintamu datang di siang hari dengan berbagai alasan. Aku hanya ingin mengenalkan mu kepada kedua temanku."
" Aku tidak bisa."
" Kenapa?"
" Karena...." Devian menggantung ucapannya karena tiba-tiba dia teringat pesan dari Charlie untuk tidak memberitahukan identitas yang sebenarnya.
" Karena apa?"
" Alia, Aku tahu ini kedengarannya gila tapi aku rasa aku mencintaimu."
Alia hanya terdiam.
" Aku begitu terobsesi kepadamu, sungguh siang hari ku merasa tidak tenang. Aku selalu berharap bahwa matahari pagi tidak akan pernah bersinar sehingga aku bisa terus bersama denganmu."
Alia masih terdiam.
" Kita harus pergi. Ada seseorang disini." Ucap Devian sah dia tidak sengaja mendengar pikiran jahat dari Vampir lain.
" Dimana?, aku tidak melihat siapapun."
" Ayo, seseorang itu mencium aroma tubuhmu.,"
" Apa aroma ku begitu tidak enak?" Ucap Alia sambil menciumi kedua tangannya.
" Ayo, kita harus segera pergi."
" Tapi..."
Brug !!
Devian lagi lagi memukul tengkuk Alia. Saat Devian bersiap untuk pergi, Vampir itu sudah berada tepat di depan Devian.
" Hai bug, kau membawa santapan yang luar biasa. Aku dapat mencium dan merasakan bahwa di adalah manusia terlezat. Jadi bisakah kita berbagi."
" Aku bukan monster, aku pemangsa hewan bukanlah manusia. Dan Maaf karena aku harus segera pergi."
Wushh...
Brug !!!
" Alia.."
Devian berteriak karena saat dirinya hendak pergi menjauh vampir itu dengan cepat menarik kaki Devian sehingga Devian terjatuh dan membuat Alia terpental.
" Ah, ALIA... Nama yang indah." Ucap Vampir itu sambil berjalan cepat dan mendekati Alia.
" Jangan sentuh dia."
Brug !!!
Devian dengan gerakan kilat langsung menepis tangan dari Vampir itu dan memukul wajahnya.
" Hmmm, kau lumayan juga tapi Kau bukanlah tandingan ku."
Brug !!!
Brug !!!
Devian terlibat pertempuran yang sengit dengan vampir monster. Devian terus berusaha melindungi Alia yang masih pingsan.
Samar samar Alia dapat mendengar suara orang bertarung, perlahan dia membuka mata dan melihat bahwa Devian sedang bertarung dengan manusia bertaring.
" Devian??" Alia mencoba memanggil Devian namun suaranya sangat lemah sehingga Devian tidak dapat mendengarnya.
" Aku akan kembali, urusan kita belum selesai. Jangan menganggap dirimu yang menang. Aku akan memastikan bahwa manusia itu akan menjadi milikku." Ucap Vampir itu dan langsung terbang menghilang diantara kegelapan hutan.
Devian memeriksa nafas Alia, sebelum akhirnya dia mengangkat kembali tubuh Alia dan dan berjalan cepat sambil sesekali Dia terbang ke atas pohon untuk mempercepat langkahnya.
Wush ... Wush... wush...
Hembusan angin yang berhembus kencang dan menerpa wajah Alia, membuat Alia percaya bahwa dirinya benar-benar terbang di antara pepohonan. Namun, dia tidak berani membuka mata karena takut Devian akan tahu jika ternyata Alia sudah tak sadar dari pingsannya. Itu akan menggagalkan rencana Alia untuk mencari tahu siapa Devian sebenarnya.
Sesampainya ditenda, Devian meletakkan Alya dengan hati-hati di atas tempat tidurnya.
Alia merasa heran bagaimana Devian bisa melewati para penjaga yang berjaga di sekitar tenda.
Lalu, saat Devian benar-benar keluar dari tenda, Alia membuka mata dan segera mencari keberadaan Devian.
Wush...Wush..
Sejenak Alia tersadar.
" Mungkin sudah saatnya aku kembali ke masa ku sendiri." Ucap Alia.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...