
" Hei, Stefano. Apa yang kau lakukan di sini bukan kah aku memintamu untuk pergi bersama dengan Edmund agar membantu menyelamatkan keluarga kita yang tengah bertarung dengan para zombie?" Ucap Devian sambil berjalan menghampiri Stefano yang terus berjalan mundur.
" Hei, Kenapa kau diam saja dan kenapa kau seolah menghindariku?"
Vampir yang mirip Stefano itu tidak berkata apa-apa. Dia hanya terus berjalan mundur hingga berada di balik sebuah pohon besar.
Alia cemas saat dirinya tidak lagi dapat melihat Devian. Sehingga Dia memutuskan untuk kembali menutup Perisai itu agar aman.
Devian terus mengikuti vampir yang mirip Stefano itu dan saat Devian yang telah menemukannya..
" Hai Devian..."
" Gabriel..."
Devian terkejut karena yang berada di hadapannya bukanlah Stefano. Melainkan Gabriel yang telah menyamar menjadi Stefano.
" Kenapa kau begitu terkejut saat melihat ternyata aku bukanlah Stefano?"
" Jadi ternyata kau sudah memiliki kekuatan bisa menjadi orang lain."
" Tidak juga. Aku hanya berdandan sedikit mirip dengan sepupumu itu. Dan tidak ku sangka kau akan dengan mudah tertipu. Hahah." Gabriel tertawa renyah.
" Apa yang kau inginkan?" Tanya Devian.
" Tidak ada. Aku hanya akan menyatu dengan mu."
" Apa maksudmu?"
........
" Roh agung, bagaimana caranya agar aku bisa masuk ke dalam tubuh vampir lain?" Tanya Gabriel sesaat setelah dia telah mendapatkan anugerah Roh.
" Kau harus menyentuh tepat di bagian jantung. Maka setelah itu, kau akan masuk ke dalam raga Vampir yang kau inginkan. Ingat, kau hanya dapat memasuki satu raga vampir dan hanya memiliki satu kesempatan. Jika kau gagal menggunakan kesempatan yang ada, maka kau tidak akan bisa lagi mengunakan anugerah itu lagi."
" Aku mengerti."
........
Dengan gerakan cepat, Gabriel menyentuh tubuh tepat di bagian jantung Devian. Dan seketika Devian dan Gabriel telah menjadi satu.
" Hei. Apa yang kau lakukan di dalam tubuhku keluarlah." Devian dalam raganya.
" Aku akan keluar begitu aku mendapatkan darah Aliya. Aku tahu aku akan sangat sulit untuk mendapatkannya sekalipun aku menggerakkan seluruh vampir di muka bumi ini. Dan kenapa aku harus bersusah payah jika aku telah menemukan cara terbaik dan praktis untuk bisa mendapatkan Alia dengan mudah." Ucap Gabriel.
" Kau. Jangan harap bisa menyentuhnya karena sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkan mu untuk menyentuhnya."
" Ohya, mari kita lihat siapakah yang akan menang dalam menguasai raga vampir mu ini. Kau atau aku. Hahaha."
Gabriel lalu menggunakan kekuatannya dan mampu mengendalikan tubuh Devian, sekarang tubuh Devian berjalan menuju rumah Aliya.
" Tidak tidak, Apa yang kau lakukan kau tidak boleh pergi ke sana." Devian mencoba menahan dirinya sendiri, Namun gagal.
" ha-ha-ha." Gabriel tertawa sambil terus berjalan mendekati rumah Aliya. Devian berusaha melawan namun dirinya tidak bisa melakukan apapun.
" Tidak, Tidak. Aku harus bisa mengeluarkan mu dari tubuhku." Pekik Devian.
Alia melihat Devian berjalan mendekat namun terasa ada yang aneh. Alia melihat Devian sedang melawan dirinya sendiri. Tanpa Alya tahu jika sebenarnya Devian tengah bertarung dengan Gabriel di dalam tubuhnya.
" Devian?, Apa yang dia lakukan?. Kenapa seolah-olah dia sedang berperang dengan dirinya sendiri, dan dimanakah Stefano? bukankah tadi ada sosok yang mirip dengan Stefano tapi kenapa Devian justru kembali ke sini seorang diri."
Karena penasaran dan keingintahuan Alia yang besar tentang apa yang terjadi kepada Devian. Dia memutuskan untuk turun dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Kini Alia sudah berada di hadapan Devian namun mereka terhalang perisai Alia.
Saat Alia hendak membuka perisai itu seperti biasanya, dia melihat mata Devian seolah-olah mengatakan agar Alia tidak melakukannya.
" Kenapa aku merasa jika Devian tidak ingin aku membuka periksa ini untuknya?" Lirih Alia.
" Alia. Kenapa kau tidak membuka nya untukku?. Bukalah agar aku bisa bersama denganmu sayang."
Alia mengerutkan dahinya karena ini adalah kali pertamanya Devian memanggil Alia dengan sebutan sayang.
" Alia. Jangan pernah membuka perisai ini, diriku bukanlah aku yang sebenarnya."
" Alia sayangku. Cepat bukalah perisai ini untukku, seperti yang biasa kau lakukan saat aku akan masuk dan keluar dari periksa ini."
" Jangan Alia, jangan."
Alia semakin bingung dengan tingkah laku Devian. Dia tidak mengerti apakah Devian sedang berakting atau sedang ingin bercanda dengan Alia.
Alia berjalan mundur karena dia merasakan ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada Devian.
Sementara itu, Gabriel yang sudah berada di tubuh Devian menjadi kesal karena Alia tidak kunjung membukakan perisai itu sehingga dirinya tetap berada diluar perisai dan tidak bisa mendekati Alia.
" Devian, apa kau baik-baik saja?" Tanya Alia sekali lagi karena ingin memastikan itu benar-benar Devian atau bukan.
" Sayang tentu saja ini aku dan aku baik-baik saja, sungguh."
" Ah Devian aku akan masuk ke dalam sebentar dan melihat apakah kedua temanku sudah sadar atau tidak setelah itu baru aku akan kembali padamu."
__ADS_1
" Ah sayang tunggu jangan tinggalkan. Aku juga ingin masuk ke dalam dan melihat apakah kedua temanmu itu sudah sadar atau belum. Alia... sayang.." Devian terus berteriak memanggil Alia dengan sebutan sayang.
Sementara Alia terus saja berlari masuk kedalam rumahnya hingga memancing rasa curiga dari pemburu vampir yang berjaga di sana.
" Alia apa ada sesuatu yang terjadi kenapa kau tidak membiarkan Devian masuk ke dalam?"
" Tidak, aku merasa dia bukanlah Devian yang kita kenal."
" Apa maksudmu?"
" Aku sendiri juga tidak dapat memastikannya dan aku harap kamu akan tetap mengawasinya sampai aku bisa memberitahu Edmund."
" Baiklah."
Alia segera masuk ke dalam kamarnya dan mencari ponsel, lalu segera menghubungi Edmund.
Namun karena saat itu Edmund sedang dalam perjalanan kembali, dia jadi menonaktifkan ponselnya.
" Ya Tuhan kenapa Edmund tidak dapat menerima panggilanku, apakah mereka masih melawan para zombie itu." Lirih Alia sambil berjalan mondar mandir di dalam kamar.
Sementara itu, Gabriel yang merasa frustasi langsung menyerang Devian.
Kedua Vampir itu berkelahi. Dan saat Devian akan berhasil melumpuhkan Gabriel. Edmund, Charlie dan lainnya tiba di sana. Marcel memilih untuk langsung kembali ke markas. Jadi mereka berpisah di jalan.
" Sial, Kenapa di saat seperti ini mereka harus datang.," Ucap Gabriel. Akhirnya dia memilih untuk membiarkan Devian menguasai raganya.
" Hei kemana kau pengecut. Kenapa kau lari dariku." Ucap Devian sambil memukuli dirinya sendiri.
Semua yang ada di sana menjadi heran dengan tingkah laku Devian.
" Devian, Apa kau baik-baik saja?" Tanya Harry.
" Ya, aku baik-baik saja hanya saja di dalam tubuhku ada...., eee. eee.eee.."
Leher Devian seakan-akan tercekik saat dia akan mengatakan jika di dalam tubuhnya ada Gabriel.
" Devian bercandamu sangatlah tidak lucu." Ucap Elena.
Devian menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah dia sedang berusaha melepaskan tangan yang mencekik lehernya.
Namun semua yang ada di sana menganggap apa yang dilakukan Devian adalah sebuah lelucon.
Edmund memutar malas bola matanya lalu segera masuk ke dalam rumah Aliya meninggalkan kan Charlie dan yang lainnya.
" Sudahlah Devian hentikan lelucon mu yang tidak masuk akal dan tidak menyenangkan itu. Sebaiknya kita segera kembali ke tempat persembunyian kita karena sebentar lagi kedua orang tua Alia akan datang." Ucap Elena.
Charlie dan yang lainnya mulai berjalan meninggalkan Devian. Stefano lah yang akhirnya menyeret tubuh Devian untuk ikut pulang bersamanya.
Srett ..
Seketika Stefano langsung menghentikan dirinya yang tengah menarik Devian. Dan menatap Devian dengan tatapan tajam dan tatapan yang sulit diartikan.
" Devian sejak kapan kamu jadi bucin?"
" Aku, ah itu bukan urusanmu yang penting sekarang aku harus kembali ke sana untuk bersama dengan Alia ku sayang." Lirih Devian.
" Tidak, Apa kau sudah lupa dengan perjanjian yang telah kau buat bersama Edmund."
" Perjanjian apa?"
Stefano mengerutkan dahinya ketika Devian menanyakan perjanjian apa yang telah dia buat bersama dengan Edmund.
Kenapa aku merasa jika Devian berbeda. Sebelum nya dia tidak seperti ini dan dia bukanlah vampir yang pelupa. Tapi sekarang dia dengan cepat dia melupakan perjanjian yang telah dibuat bersama dengan Edmund dan sejak kapan juga dia menjadi bucin.
" Devian, apa kau kau ingat dengan yang kau katakan sebelum kau menyuruhku untuk membantu Edmund?" Tanya Stefano yang sekali lagi ingin memastikan vampir yang berada di hadapannya benar-benar Devian.
" Aku, tentu saja aku ingat aku mengatakan kepadamu bahwa kau harus menghabisi zombie itu dengan segera."
Stefano kembali menatap Devian. Devian yang tersadar Gabriel telah membuat kacau semuanya kembali berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri.
" Stefano. Stefano ini aku, dan yang tadi bukanlah aku."
" Tadi aku."
" Bukan, tadi bukan aku."
" Iya aku."
" Tadi aku."
" Diriku."
Stefano yang melihat perdebatan Devian dengan dirinya sendiri menjadi semakin gila. Dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Devian sendiri dan menyusul keluarga yang lain.
Devian yang saat itu sudah berhasil menguasai raganya sendiri segera berjalan cepat menghampiri Stefano.
Saat Devian yang sudah hampir tiba di tempat persembunyian. Dia menghentikan langkahnya dan mengingat bahwa dalam tubuhnya ada Gabriel. Jika Devian meneruskan langkahnya menuju tempat mereka. Devian takut jika Gabriel akan menyerang dan menghabisi seluruh keluarganya.
Akhirnya dengan terpaksa Devian berlari dan masuk ke dalam hutan.
__ADS_1
" Hei berhenti kau akan membawaku kemana."
" Ketempat jauh." Ucap Devian sambil terus berlari sebelum Gabriel mengambil alih tubuhnya lagi.
" Argh..."
Dan benar saja Gabriel sudah meronta-ronta dan berusaha untuk menguasai raga Devian yang lagi.
Namun, ketika Gabriel telah menguasai raga Devian mereka kini telah berada di sebuah gua di dalam hutan.
" Dasar vampir tidak berguna." Geram Gabriel.
" Aku harus mencari cara untuk memisahkan diri dari Gabriel." Ucap Devian. Dia berusaha berkomunikasi dengan keluarganya. Namun karena saat ini di dalam tubuhnya terdapat 2 vampir. Membuat Devian tidak bisa menghubungi keluarganya.
Sementara itu, Edmund yang membuka ponselnya terkejut karena terdapat panggilan tidak terjawab dari Alia. Edmund lantas segera naik ke atas dan mencari Alia.
" Alia, kau dimana?" Tanya Edmund.
" Disini." Ucap Alia sambil berjalan menuruni tangga dan menemui Edmund.
" Alia kenapa tadi kau menghubungi ku. Apakah ada sesuatu yang penting?" Tanya Edmund begitu Alia telah sampai di hadapannya.
" Ya, sebenarnya tadi aku ingin mengatakan jika aku melihat sisi lain yang aneh dari Devian."
" Apa maksudmu?"
" Begini .."
Alia lalu menceritakan tentang apa apa saja yang terjadi pada Devian. Alia juga mengatakan seolah-olah dia melihat pada dua kepribadian pada Devian.
" Sejak kapan dia bersikap aneh?"
" Sejak dia melihat sosok seperti Stefano sedang berdiri di belakang perisai rumah ini."
" Kamu tenang saja. Aku akan segera mencari tahu."
Alia mengangguk lalu kembali ke dalam kamar nya karena Lucy dan Gwen telah sadarkan diri.
Edmund langsung menuju rumah dimana Devian dan keluarganya berada. Namun, betapa terkejutnya Edmund saat mengetahui bahwa keluarga Devian juga sedang mencari keberadaan Devian.
Edmund kemudian menceritakan keganjilan yang dilihat Alia.
Mendengar itu, Stefano juga menceritakan kejadian saat dirinya bersama dengan Devian.
" Aku rasa memang ada sesuatu yang tidak beres dari Devian." Ucap Charlie.
" Alice, bisakah kau mencari tahu keberadaan Devian" Ucap Edmund sambil menatap Alice.
Alice memejamkan mata, mencoba mencari keberadaan Devian dan mencoba berkomunikasi dengan Devian. Namun Alice tidak dapat menemukan petunjuk apapun.
" Aku tidak bisa menemukan Devian. Aku rasa memang ada sesuatu yang tidak beres. Seperti ada sesuatu yang merasuki nya sehingga aku tidak dapat menjangkau Devian " Ucap Alia.
" Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menunggu Devian datang dan mencari tahu sebenarnya apa yang telah terjadi kepada nya." Ucap Charlie.
Edmund kemudian pamit pulang. Sepanjang perjalanan Edmund mulai menerka nerka kiranya apa yang telah terjadi kepada Devian.
Mungkinkah Devian kini telah berniat untuk meminum darah Alia untuk kepentingan pribadi nya?. Tapi itu tidak mungkin. Devian begitu mencintai Alia.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawabannya. Edmund memilih untuk ke markas dari pada pulang ke rumah. Edmund yang sedang gabut jadi memilih melewati hutan untuk sampai ke markas.
Saat Edmund sudah tiba di tengah hutan. Samar samar dia mendengar suara mirip Devian.
" Aku yakin itu suara Devian. Tapi apa yang dia lakukan disini."
Karena penasaran, Edmund akhirnya berjalan mengendap-endap menuju sumber suara. Dan dia melihat dengan jelas, Devian seperti dua kepribadian yang berbeda.
" Menyingkirlah dari tubuh ku."
" Tidak akan pernah. Kau pikir kau siapa sehingga berpikir akan mengalahkanku."
" Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau menyentuh Alia sedikit saja."
" Aku tidak akan khawatir tentang hal itu karena jika terjadi sesuatu kepadanya maka kaulah yang akan disalahkan. Karena memang kau yang melakukannya."
" Brengsek kau Gabriel, keluar dari tubuh ku."
" Stt, berhentilah memberontak Devian. Kenapa kau tidak menyerah dan bergabung dengan ku saja. Bersama kita akan memulai revolusi yang baru. Dan Aku berjanji akan memberikanmu pangkat tertinggi jika kau membantuku untuk mendapatkan Alia."
" Persetan dengan janjimu."
Edmund merasa heran tatkala melihat Devian seperti berperang dengan dirinya sendiri.
" Sebenarnya apa yang terjadi kepada Devian dan kenapa tadi dia menyebut nama Gabriel?. Devian sedang berhalusinasi atau apa?" Gumam Edmund
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...