Rahasia Cinta Alia

Rahasia Cinta Alia
Alia - Edmund


__ADS_3

" Alia....."


Lucy dan Gwen langsung berhamburan memeluk Alia. Mereka sangat antusias bertemu kembali dengan Alia.


" Hai.." Sapa Alia yang merasa sedikit canggung.


" Alia, apa kau tidak mengingat kami?" Tanya Lucy.


" Hmm, maaf tidak bermaksud untuk melupakan kalian tapi aku tidak bisa mengingat apapun. Walaupun aku tahu bahwa foto kalian berdua lah yang paling banyak mengisi album fotoku." Ucap Alia sambil menunduk sedih.


" Tidak apa. Kami akan berusaha membuatmu untuk mengingat kami kembali." Ucap Gwen yang memeluk Alia.


Mereka bertiga kemudian berjalan naik ke atas, dan berjalan menuju kamar Alia. Disana Lucy dan Gwen mulai bercerita tentang persahabatan mereka.


Panjang lebar lucy dan Gwen bercerita. Namun Alia yang hilang ingatan itu serasa begitu tidak bersemangat. Dia merasa ada sesuatu dari dirinya yang hilang dan merasa sesuatu itu tidak akan pernah bisa kembali.


" Alia, apa kau mendengarkan kami?" Tanya Gwen saat melihat Alia hanya terdiam dan memejamkan mata.


" Ya, tentu saja. Aku hanya mencoba untuk mengingat apa yang bisa ku ingat." Ucap Alia


Lucy dan Gwen saling berpandangan sebelum akhirnya mereka menghampiri Alia dan memeluknya.


" Kami mendoakan mu agar cepat mengingat kembali." Ucap Lucy.


" Terima kasih."


Edmund berada di sebuah perpustakaan besar yang berada di pusat kota untuk mencoba mencari tahu tentang Valkyrie Light. Namun seberapapun Edmund berusaha. Edmund tidak akan pernah menemukannya karena segala sesuatu yang berkaitan dengan Valkyrie Light ada di perpustakaan rumah Alia.


Edmund yang mulai frustasi karena tidak menemukan apa pun memutuskan untuk pergi menemui Alia saja.


Hari yang sudah mulai senja membuat Lucy dan Gwen pamit pulang. Bersamaan dengan keluarnya Lucy dan Gwen, mobil Edmund memasuki halaman rumah Alia.


" Alia, kami pulang dulu. Hubungi kami jika kau perlu sesuatu." Ucap Lucy.


" Tentu." Ucap Alia tersenyum dan bergantian memeluk Lucy dan Gwen.


" Lo, kalian mau kemana?" Tanya Edmund kepada Lucy dan Gwen.


" Kami mau pulang karena hari sudah mulai senja." Ucap Lucy.


" Kalian tidak menginap?" Tanya Edmund.


" Tidak. Aku rasa kamu tahu alasannya." Ucap Gwen sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Alia sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


Edmund mengerti, mungkin Lucy dan Gwen merasa asing dengan Alia. Seperti halnya yang dirasakan oleh Edmund. Mereka semua berpikir jika Alia yang sekarang seperti enggan untuk bersikap ramah. Mereka tidak tahu, jika dibalik sikap diam dan cuek nya Alia tersembunyi luka dan kesedihan yang amat dalam.


" Edmund, kau datang?" Tanya Alia saat kedua sahabatnya telah meninggalkan rumah.

__ADS_1


" Ya, tentu aku disini. Apa kau tidak ingin aku berada disini?"


" Ah tidak. Aku merasa jauh lebih baik saat kau ada di dekat ku. Aku merasa kehadiran mu membuat seolah-olah kesedihan di dalam diriku berkurang." Ucap Alia.


" Kemarilah. Ku berikan bahu ku agar kau bisa bersandar."


Alia dengan semangat menghampiri Edmund, dan meletakkan kepalanya di bahu Edmund.


" Terima kasih karena sudah ada dan bersedia menemaniku." Ucap Alia.


" Sama sama."


Edmund merangkul pundak Alia dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


Hari berganti hari. Satu bulan sudah berlalu, namun Alia masih belum bisa mengingat tentang dirinya sendiri. Hal ini justru berdampak positif bagi Edmund yang bisa semakin dekat dengan Alia.


Alia begitu senang saat Edmund datang, dan keluarga juga sudah mengijinkan Alia keluar dari rumah dan pergi bersama Edmund.


" Alia, kenapa disaat aku sudah tidak lagi mengharapkan cintamu, kau justru semakin dekat denganku. Bagaimana jika aku kembali mencintaimu dan mengharapkanmu lagi?" lirih Edmund saat mereka tengah berada di taman untuk menghabiskan waktu sore bersama.


" Pulang yuk, aku sudah lelah." Ucap Alia.


" Yuk."


Alia mengandeng tangan Edmund mereka bersama-sama keluar dari area bermain. Alia menunjuk ke sebuah stan es krim. Hari itu, Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan kekasih.


" Alia, Apa kau tidak punya keinginan untuk mendapatkan kembali ingatanmu?" Tanya Edmund disela-sela kegiatan mereka yang memakan es krim.


" Tidak begitu. Hanya saja apakah tidak ingin mengingat tentang sesuatu yang mungkin menjawab atas kegundahan mu setiap malam?"


" Hmm, aku memang begitu ingin tahu kenapa setiap malam aku merasa gelisah. Setiap malam aku seperti merindukan kehadiran seseorang. Tapi aku merasa jika sebenarnya yang aku rindukan adalah kehadiranmu." Ucap Alia sambil tersenyum manis ke arah Edmund.


" Alia, kenapa kau selalu memberikan senyuman manja seperti itu kepadaku?" Tanya Edmund yang tidak tahan lagi untuk tidak mencubit pipi Alia.


" Aw, sakit tahu." Ucap Alia sambil memasang wajah cemberut.


" Udah yuk pulang." Ajak Edmund.


" Yuk."


Edmund berdiri untuk membayar es krim yang telah mereka habiskan. Saat Edmund pergi ke meja kasir, mata Alia tidak sengaja menangkap sosok yang tiba-tiba membuatnya teringat akan kebersamaan nya bersama dengan Devian. Bayangan sekilas tiba-tiba datang di pikiran Alia.


" Alia." Edmund lambaikan tangan di di hadapan Aliya saat Edmund melihat Alia merenung.


" Ed, kau mengagetkan ku." Ucap Alia tersenyum. Namun pandangannya tetap tertuju pada seseorang yang kini telah pergi.


" Ada apa, kamu mencari siapa?" Tanya Edmund yang juga ikut menoleh ke arah pandangan Alia.

__ADS_1


" Ah tidak ada. Tadi aku hanya melihat seseorang yang sepertinya sangat familiar denganku. Tapi aku tidak mampu untuk mengingatnya." Ucap Alia.


" Aku pikir apa. Ya sudah pulang yuk." Ajak Edmund. Alia mengangguk.


Mereka kemudian saling berpegangan tangan dan berjalan menuju mobil. Di dalam perjalanan, Alia terlihat diam dan mulai memikirkan tentang bayangan yang baru saja dia lihat saat melihat seseorang yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk tadi.


Hmm, sebenarnya apa yang membuatku tidak bisa mengingat kejadian sebelumnya. Dan apakah seseorang tadi juga pernah dekat denganku. Kenapa wajahnya seakan-akan mampu membawa ku mengingat tentang kejadian sebelum aku kehilangan ingatan. Batin Alia


Alia terus berperang dengan pemikirannya sendiri hingga tidak terasa mereka sudah sampai di rumah Aliya.


" Kau mau masuk?" Tanya Alia.


" Tidak, aku harus kembali ke markas untuk mengajarkan pasukan pemburu vampir yang baru." Ucap Edmund.


" Hmm, bukankah kamu mengatakan jika vampir sudah tidak ada lagi. Kenapa masih banyak orang yang masuk yang tertarik untuk menjadi pemburu vampir?" Tanya Alia.


" Ya, walaupun Vampir sudah tidak ada setidak nya kita harus berjaga-jaga tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di kemudian hari. Dan katakan saja padaku jika kau sudah siap untuk datang ke markas. Dulu kau begitu bersemangat saat aku mengajakmu untuk ikut berlatih di pelatihan pasukan pemburu vampir." Ucap Edmund yang sedikit memancing memori dari Alia.


" Baiklah. Minggu depan bawa aku ke markas. Sepertinya minggu depan adalah waktu yang tepat karena minggu depan Lucy dan Gwen absen untuk datang ke rumahku. Jadi aku pasti akan merasa bosan di rumah sendiri." Ucap Alia sambil melepaskan sabuk pengamannya diambil siap untuk turun dari mobil Edmund.


" Baiklah. Sampai jumpa lagi." Ucap Edmund.


" Oke."


" Alia..." Panggil Edmund saat Alia sudah menurunkan satu kakinya dari mobil.


Cup


Tanpa disangka dan diduga-duga, Edmund mencium bibir Alia. Membuat Alia langsung memejamkan mata. Ciuman itu berlangsung singkat. Membuat wajah Alia memerah dan langsung keluar dari mobil Edmund.


Edmund tersenyum saat melihat tingkah Aliya yang berusaha menutupi wajahnya yang memerah dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Setelah memastikan bahwa Alia telah benar-benar masuk ke dalam rumah. Edmund segera meninggalkan rumah Aliya untuk menuju markas besar, karena hari ini markas kedatangan banyak sekali orang yang mau bergabung menjadi pemburu vampir.


Sementara itu, Alia terus saja tersenyum sambil memegangi bibirnya. Sesampainya di dalam kamar, Alia meletakkan tas kecil yang selalu dia bawa dan duduk di depan cermin.


" Aku dan Edmund sepertinya sudah sangat lama dekat. Tapi kenapa apa kami tidak berpacaran. Apa sebelumnya kami sedang PDKT atau apa memang hanya sekedar teman?. Jika teman, kenapa tadi Edmund menciumku. Dan Kenapa hatiku merasa begitu bahagia Edmund menciumku?. Aku merasa..., Hmm, mungkinkah rasa yang sedang aku rasakan ini adalah perasaan cinta? Kenapa aku merasa jika diriku aku juga memiliki perasaan seperti ini, tapi kenapa aku justru merasa bahwa perasaan bahagia ini bukanlah karena Edmund?. Jika bukan karena Edmund lalu karena siapa?. Bukankah teman laki laki ku hanya Edmund?"


Alia terus kembali berperang dengan pemikirannya sendiri. Hingga dia memutuskan untuk beristirahat. Dan Alia mulai bermimpi tentang sekilas bayangan saat Alia melakukan kegiatan sekolah di hutan Forks dan bertemu Devian. Hingga bayangan saat Alia berperang.


" Hah..."


Alia terkejut dan langsung terbangun, karena melihat dirinya seperti berada dalam suatu pertempuran besar. Alia melihat ke arah jam tangan. Ternyata dia masih tidur selama satu jam.


" Mama, dan Papa pasti belum pulang. Hah, sebaiknya aku pergi ke dapur untuk mengisi perutku. Mimpi ini merasa lapar." Ucap Alia yang langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan turun untuk menuju dapur.


Saat Alia melewati menuju ruang bawah tanah. Alia berhenti dan menyentuh pintu itu. Lalu ada bisikan yang seolah-olah mengajak Alia untuk masuk kedalam. Alia menyentuh tombol buka dan mulai memasukkan kode pintu. Alia seperti telah mengetahui kode pintu itu. Padahal saat sadar, Alia lupa akan pas kode untuk membuka pintu itu.

__ADS_1


Ceklek...


Pintu terbuka, Alia masuk ke dalam. Bersamaan dengan masuknya Alia. Tanda Trisula yang berada di bahu kiri Alia bersinar terang.


__ADS_2