Rahasia Cinta Alia

Rahasia Cinta Alia
Bukan Devian yang sebenarnya


__ADS_3

Saat Edmund bermaksud untuk menghampiri Devian, Tiba tiba saja Edmund melihat Devian sudah tidak ada di sana.


" Kemana perginya Devian?, bukankah tadi dia berada di sini?"


Edmund berjalan dan keluar dari tempat persembunyiannya. Lalu betapa terkejutnya dia saat melihat Devian yang kini berdiri di hadapannya.


" Devian, kau mengagetkanku saja." Ucap Edmund sambil melihat ke mata Devian yang terlihat berbeda.


Jika biasanya mata Devian akan terlihat berwarna kuning keemasan saat siang hari. Dan ke coklatan saat malam hari. Namun sekarang matanya terlihat merah.


" Kau.., sejak kapan kau berada di sana?"


" Sejak tadi."


" Jadi kau telah mendengar semuanya?" Tanya Devian dengan nada yang terdengar seperti marah.


" Memangnya kenapa jika aku telah mendengar semua yang telah kau katakan tadi. Apa masalahnya untukmu bukankah sekarang kita adalah partner?"


" Aku bukan partner karena aku bukanlah Devian yang sesungguhnya."


Tanpa pikir panjang lagi Devian yang tidak lain telah dikendalikan oleh Gabriel langsung menyerang Edmund.


Brak...


Edmund yang tidak siap atas serangan mendadak yang dilakukan oleh Devian langsung terpental sangat jauh.


Mereka kedua kemudian terlibat perkelahian yang cukup menantang.


" Edmund kau harus pergi dari sini."


" Tidak, dia harus mati disini karena dia telah mengetahui sebuah rahasia besar yang mungkin akan dia beritahukan kepada semuanya."


" Apa?, Devian bisakah kamu menjelaskan kepadaku sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Edmund di sela-sela pertempuran mereka.


" Devian, apakah ini benar-benar kau?"


" Jangan banyak bicara dasar kau pemburu vampir sialan." Ketus Devian dengan penuh amarah.


Gabriel sudah tidak tahan segera menggunakan kekuatannya untuk melumpuhkan Edmund.


Edmund terkapar tidak sadarkan diri. Lalu Gabriel yang masih berada dalam tubuh Devian segera mengangkat Edmund dan membawanya ke markas Gabriel yang berada di di bawah alun-alun kota.


Alice seketika mendapatkan pandangan tentang Edmund yang berkelahi dengan Devian dan Devian membawanya ke sebuah ruang bawah tanah yang berada tepat di bawah alun-alun kota Washington DC.


" Devian, sebenarnya apa yang telah terjadi kepada Devian. Kenapa dia berkelahi dengan Edmund dan membawanya ke ruang bawah tanah?" Ucap Charlie.


" Aku tidak tahu, aku tidak dapat lagi melihat ataupun menelusuri di mana keberadaan Devian. Aku hanya dapat menemukan keberadaan Edmund yang sekarang telah dikelilingi oleh...."


Alice yang tadinya memejamkan mata kini tiba-tiba saja membuka matanya dan terdiam sehingga dia tidak melanjutkan perkataan yang tadi.


" Alice. Apa yang mengelilingi Edmund." Tanya Charlie.


" Lautan vampir Slave."


" Apa?"


Semua yang ada di sana terkejut karena Alice mengatakan jika Edmund berada di di tengah lautan vampir slave. Jika Alice mengatakan ratusan atau ribuan, itu masih dapat mereka semua bayangkan. Tapi karena Alice sudah menyebut lautan maka itu artinya jumlah mereka tidak dapat lagi untuk bisa dibayangkan.


" Aku harus segera memberitahu Marcel tentang ini." Ucap Charlie.


" Aku akan ikut denganmu mereka mungkin tidak akan percaya sebelum aku sendirian menunjukkannya kepada mereka." Ucap Alice.


" Baiklah. Kalau begitu aku dan Alice akan pergi untuk memberitahukan hal ini kepada Marcell. Yang lainnya tetap di sini dan selalu waspada. Jika Devian datang kesini bersikaplah biasa dan pura-pura bahwa kalian tidak mengetahui apapun." Pinta Charlie. Karena dia takut Devian akan melakukan sesuatu yang lebih buruk kepada keluarganya.


" Baiklah." Ucap Cristin.


Charlie dan Cristin saling berpelukan dan berciuman sebelum akhirnya mereka berpisah.


Karena Charlie dan Alice tidak mengetahui di mana markas Marcel. Mereka memutuskan untuk mendatangi rumah Aliya dan memberitahu Albert.


Ketika mereka telah tiba disana. Charlie segera mendekat kepada pemburu vampir yang berjaga di rumah itu, yang menyampaikan tujuannya bahwa mereka ingin bertemu dengan Albert guna membicarakan sesuatu yang sangat penting dan sangat mendesak.


Tak lama kemudian Albert keluar seorang diri dan langsung membuat pintu dari perisa itu sehingga Charlie dan Alice bisa masuk ke dalam.


" Ada hal penting apa yang harus kalian sampaikan saat ini juga?" Tanya Albert.

__ADS_1


Tanpa berbasa-basi lagi Alice segera meraih tangan Albert dan menujukan apa yang baru saja dia. Untuk sesaat Albert benar-benar kagum dan terpukau terhadap keahlian yang dimiliki oleh Alice.


" Jadi Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Albert setelah sadar bahwa sekarang situasinya menjadi semakin rumit.


" Kita harus segera menemui Marcell dan membuat rencana yang tepat. Karena jika sampai Gabriel melepaskan seluruh vampir slave itu, maka bisa dipastikan itu akan mengancam seluruh populasi di kota ini." Terang Charlie.


" Kalau begitu kita tidak perlu membuang waktu lagi. Ayo, apakah sepeda membawa kalian menemui Marcel."


Albert langsung mengajak Alice dan Charlie untuk masuk kedalam mobilnya lalu mereka sama-sama berangkat menuju kediaman Marcel.


Sementara itu, Gabriel yang kini sudah sepenuhnya menguasai raga Devian. Segera berjalan kembali untuk menemui Alia.


" Malam ini adalah gerhana bulan. Kau harus bisa mendapatkan darah Valkyrie Light itu." Ucap roh ketika Gabriel baru saja memenjarakan Edmund.


" Hari ini, bagaimanapun caranya aku harus bisa membawa Alia keluar dari rumah itu." Lirih Gabriel.


Gabriel yang baru saja tiba di rumah Aliya sedikit terkejut karena sekarang sudah banyak pemburu vampir yang berjaga di sana.


Gabriel selalu melihat Alia yang mengantar kepulangan kedua sahabat. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Gabriel segera menghampiri Alia. Dan kini dia bersikap seolah-olah dirinya memang benar Devian.


" Alia hai." Sapa Devian yang telah sepenuhnya dikuasai oleh Gabriel.


" Devian, Apa itu benar-benar kau?" Tanya Alia memastikan bahwa vampir yang berada di hadapannya memang benar-benar Devian.


" Ya ini aku, Maafkan soal tingkah laku yang tadi. Aku rasa aku terkena demam vampire sehingga aku bersikap seperti vampir yang memiliki 2 kepribadian ganda."


" Pffft, demam vampire apakah itu ada dan nyata?" Tanya Alia.


" Ya, beberapa dari kami umumnya mengalami demam vampir ketika kami telat untuk meminum darah hewan. Alia bisakah kita segera masuk karena aku merasa banyak mata yang siap untuk membasmi ku di sini." Ucap Devian palsu sambil mengawasi ke seluruh penjaga yang berada di rumah itu.


" Baiklah ayo, aku juga tidak mengerti kenapa setelah papa izin untuk pergi para penjaga di sini semakin banyak."


Alia lalu menggandeng tangan Devian membawanya masuk ke dalam.


" Akhirnya sebentar lagi aku bisa mendapatkanmu.." lirih Devian palsu.


Alia tidak bisa menyadari bahwa Devian yang kini sedang berada dengannya bukanlah Devian yang sebenarnya. Melainkan Gabriel yang telah memasuki raga Devian.


Mereka berdua kini telah berada di balkon kamar Alia. Tempat Dimana mereka biasa menghabiskan waktu berdua.


" Alia.."


Devian palsu itu mendekati Alia, semakin dekat, terus mendekat. Sangat dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.


Devian memegang wajah Alia. Alia menatap Devian, dan....


Alia mundur saat bibirnya dan Devian hampir menyatu.


" Kenapa?" Tanya Devian.


" Tidak apa apa, aku hanya sedikit lapar. Aku akan mengambil makanan dan segera kembali ke sini." Ucap Alia yang langsung pergi dari hadapan Devian.


Bukan tanpa alasan Alia pergi dari hadapan Devian yang sekarang. Pertama karena Alia tidak yakin bahwa yang ada di hadapannya itu benar-benar Devian. Kedua, Devian dan Alia tidak pernah sedekat itu. Walaupun mereka hampir menghabiskan waktu sepanjang malam bersama, tapi Devian tidak pernah sekali pun berniat untuk mengajak Alia bercumbu.


Alia menuruni tangga sambil sesekali melirik ke belakang karena dia takut Devian akan mengikuti nya. Dan benar saja, Devian sedang berada disana dan kini mengawasi gerak-geriknya.


Alia bersenandung ria seolah-olah dirinya tidak melihat Devian sambil terus berjalan menuju dapur. Di sana Alia melihat sosok Devian yang seakan akan terus memantau apa yang akan Alia lakukan.


" Sekarang aku bertambah yakin jika memang yang dihadapanku ini bukanlah Devian. Kenapa dia harus mengikuti ku secara diam-diam seperti ini. Ini bukalah sifat Devian yang sebenarnya." Lirih Alia.


Alia memejamkan mata dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke dalam kamar sambil membawa kentang goreng dan segelas minuman dingin.


Alia melihat Devian yang bergerak cepat begitu menyadari dirinya akan kembali naik ke atas. Disaat itulah Alia menggunakan kesempatannya untuk mencoba menghubungi Edmund.


Namun hingga Alia berada di luar pintu kamar nya. Edmund tidak menjawab panggilannya.


" Sebenarnya apa yang sedang dilakukan Edmund. Sebelumnya Edmund tidak pernah mengabaikan panggilanku kecuali dia sedang bertarung."


Segala pemikiran ini membuat Alia menjadi pusing dan tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Alia lalu memutuskan untuk masuk kamar.


" hai." Sapa Devian.


" Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Alia sambil mengerutkan dahinya ketika melihat Devian sedang membaca majalah wanita.


" Aku hanya tertarik dengan sampul majalah ini jadi aku berpikir untuk melihat apa yang ada di dalamnya." Ucap Devian sambil meletakkan kembali majalah itu dan berjalan menghampiri Aliya yang sedang meletakkan nampan berisi kentang dan juga minum ke atas meja yang ada di balkon kamar nya.

__ADS_1


" Alia, Apa yang kau bawa itu kenapa melihat enak?" Tanya Devian sambil ikut duduk disebelah Alia.


" Oh, ini hanya kentang goreng dan juga minuman dingin biasa."


" Boleh aku mencobanya?" Tanya Devian yang tentu saja membuat Alia terkejut karena inilah pertama kalinya Devian mengatakan ingin mencoba apa yang Alia makan.


" Apa kau yakin?, bukankah kau seorang vampir dan kau tidak bisa makan makanan manusia?" Tanya Alia.


" Ah iya aku lupa jika aku bukan manusia. Berada di lingkungan manusia terkadang membuatku lupa bahwa diriku ini adalah seorang vampir." Ucap Devian.


Alia tiba-tiba kembali teringat tentang vampire Origin yang dapat memakan makanan manusia di juga berjalan saat siang hari. Alia lalu menyadari bahwa ketika Devian berjalan menuju rumahnya dia tidak memakai jubah anti sinar matahari seperti yang dia kenakan saat menyelamatkan Aliya dan kedua temannya.


" Aku akan mengambil makanan lagi. Aku merasa begitu lapar sehingga tidak dapat menahan diri untuk tidak makan." Ucap Alia yang pura-pura menggoda Devian dengan kata-kata tidak kuasa menahan lapar.


Devian tersenyum dan mengangguk serta mengizinkan Alia untuk kembali ngambil makanan. Dan kali ini ternyata Devian tidak mengikuti Alia.


Alia yang penasaran lalu mengendap-endap melihat ke balik pintu dan betapa terkejutnya Alya saat melihat Devian sudah menghabiskan kentang goreng yang berada di atas piring hingga tidak tersisa.


" Sekarang aku yakin jika yang sedang bersamaku saat ini bukanlah Devian. Tapi siapa?, dan kenapa wajah dan tubuhnya mirip sekali dengan Devian. Sebenarnya siapa dia?"


Saat Alia tengah berpikir dengan pemikirannya sendiri dia mendengar suara deru mobil dari orangtuanya.


Alia segera masuk ke dalam kamar dan memberitahu Devian bahwa orang tuanya sudah datang.


" Devian, kau harus pergi dari sini karena orang tuaku sudah datang."


" Kenapa?, bukankah bagus jika orang tuamu datang. Jadi aku bisa memperkenalkan diri secara formal." Ucap Devian dengan santai, benar-benar sangat berbanding terbalik dengan sikap Devian yang sebenarnya. Hal itu tentu saja membuat Alia semakin curiga bahwa yang di hadapannya ini benar-benar bukanlah Devian.


Alia berjalan mundur hingga dirinya berada di sebuah laci yang tidak jauh dari tempat tidurnya.


" Katakan, siapakah kau sebenarnya." Ucap Alia sambil mulai perlahan membuka lagi itu dan mengambil sesuatu di dalamnya.


" Alia. Apa maksudmu tentu saja aku Devian"


" Bukan, aku yakin kau bukanlah Devian. Jika memang kau Devian. Kenapa kau masih berada disini, bukankah ini masih waktu siang. Siang adalah bagian Edmund untuk datang kemari dan menjaga aku."


" Huft. Baiklah aku akan pergi aku hanya berpikir kamu akan senang jika aku dapat menemanimu lebih lama."


" Alia..."


Devian segera pergi begitu mendengar suara teriakan dari mama Aliya. Alia segera membukakan pintu perisai untuk Devian. Alia melihat dengan jelas Devian menerobos sinar matahari yang tersisa sebelum senja datang.


" Devian...."


----------------


Malam harinya, Charlie dan Alice datang menemui Alia untuk menanyakan sesuatu tentang Devian, karena Alice mendapat penglihatan bahwa Devian sedang berada bersama dengan Alia.


" Ya, tadi memang dia berada disini. Namun ada beberapa kejanggalan yang sepertinya memperkuat dugaanku bahwa yang tadi berada di sini bukanlah Devian yang sebenarnya." Ungkap Alia.


" Seperti apa?" Tanya Charlie penasaran.


" Pertama, dia mengajakku bercumbu. Hal itu tentu saja sangat berbeda dengan sebelumnya. Walaupun kami hampir menghabiskan waktu malam bersama. Tapi Devian tidak sekali pun mengajakku untuk bercumbu."


Charlie dan Alice sedikit terkejut dengan pernyataan pertama yang dilontarkan oleh Alia. Mereka sungguh terkejut karena Devian mampu menahan hasratnya. Ya, walaupun mreka seorang vampir tapi mereka juga mempunyai hasrat seperti layaknya manusia.


" Kedua, saat aku pamit keluar untuk mengambil makanan, dia mengikutiku seolah-olah dia curiga dan penasaran dengan apa yang akan aku lakukan. Dan yang paling membuatku terkejut adalah dia menanyakan apa yang ku bawa dan saat aku meninggalkannya dia telah menghabiskan makanan yang telah aku bawa." Lanjut Alia


" Hmm, ini menarik." Ucap Charlie.


Belum selesai mereka membahas tentang Devian. Mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Marcel yang menanyakan keberadaan Edmund.


" Apa?, Edmund tidak berada di rumahnya ataupun di markas?" Ucap Alia terkejut.


" Ya, aku sudah mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak ada jawaban. Aku pikir dia ada di sini."


" Tidak. Edmund tidak ada disini sejak siang, dan sejak Edmund mengatakan akan membantu membebaskan kalian." Ucap Alia


" Apaa????"


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2