
Beberapa detik kemudian, Lucy dan Gwen terkejut karena melihat Alia berada di sana dan sedang ikut bercanda tawa bersama dengan mereka.
" Alia, sejak kapan kamu berada di sini?" Tanya Lucy.
" Iya, bukankah kami tadi kau sedang berada bersama dengan Devian dan keluarganya?. Kenapa tiba-tiba sekarang kamu berada di sini bersama dengan kami?"
" Jangan bercanda deh. Apa kalian lupa jika kalian sendiri yang mengajak aku untuk bergabung bersama dengan kalian."
" Apa?" Gwen dan Lucy saling menatap, mereka sama sekali tidak mengingat jika mereka telah mengajak Alia.
" Ah jika kalian tidak ingat. Aku akan kembali bersama dengan Devian, karena aku rasa, aku sudah cukup lama bercanda tawa dengan kalian." Ucap Alia sambil berlalu meninggalkan Lucy dan Gwen yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
" Lo, dimana Alia?" Tanya Veronica yang baru saja datang membeli minuman.
" Dia sudah kembali kepada Devian dan juga keluarganya." Ucap Lucy.
" Eh, apakah kamu tadi melihat kami berdua berjalan menghampiri Alia dan mengajaknya kemari?" Tanya Gwen sambil menerima botol berisi air yang diberikan oleh Veronica.
" Iya, bukankah kalian sendiri yang mengatakan kepadaku jika kalian akan membawa Alia datang ke sini." Ucap Veronica sambil mulai meminum minumannya.
" Kenapa kami bisa tidak ingat jika kami sendirilah yang mengajak Alia?"
" Ah sudahlah mungkin kalian terlalu asyik bercanda tawa sehingga lupa akan kejadian yang baru saja terjadi." Ucap Veronica.
" Ah iya, mungkin saja."
Alia lalu berjalan dan menghampiri Devian yang terlihat tengah berbincang-bincang dengan Edmund.
" Alia, Apa kau sudah selesai dengan teman-temanmu?" Tanya Devian.
" Ya, dan kenapa Edmund ada disini?" Tanya Alia.
" Ya, aku tadi tidak sengaja melihat keluarga Devian yang juga berada di sini jadi aku pikir akan bergabung bersama dengan mereka." Ucap Edmund.
" Lalu dimana mereka sekarang?"
" Aku rasa mereka akan mengembalikan baju yang mereka pinjam dari salah satu butik yang berada tidak jauh dari rumahmu." Ucap Devian yang tidak ingin Aliya tahu bahwa sebenarnya seluruh keluarganya sedang pergi untuk berburu hewan di hutan yang berada di kota Washington DC.
" Ah, jadi semua pakaian yang mereka pakai adalah milik butik?"
" Ya."
" Wow. Bagaimana mereka melakukannya." Pikir Alia.
Lalu Devian memilih untuk mengajak Aliya berkeliling dan menikmati keindahan taman alun-alun kota itu. Devian juga memberikan kode kepada Edmund agar mengikuti kemana langkah Devian dan Alia pergi.
Mereka kemudian pergi, bukan untuk menikmati indahnya taman, melainkan untuk mencoba mencari keberadaan Gabriel dan mencoba mencari apakah ada suatu pergerakan yang mencurigakan.
Namun, walaupun mereka sudah berkeliling hampir dua kali mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Mereka tidak tahu jika Gabriel sudah membawa semua manusia-manusia itu dalam ruangan yang berada di bawah tanah tepat di bawah alun alun kota itu.
Gabriel ternyata telah menemukan tempat bawah tanah yang berada tepat di bawah alun-alun kota itu yang dulunya adalah tempat persembunyian yang aman saat dunia sedang berada di krisis dan perang di mana-mana.
Gabriel membuat semua manusia manusia itu berada di bawah alam sadarnya. Lalu Gabriel menuangkan darahnya ke sebuah uap air sebelum akhirnya dia menyebarkan uap itu ke seluruh ruangan. Seketika semua manusia yang berada di sana pingsan. Tidak butuh waktu lama mereka kembali bangkit dan telah menjadi seorang vampir.
Tiba tiba gembulan asap muncul di hadapan Gabriel. Siapa lagi jika bukan roh sihir terkuat yang telah memberikan kekuatan kepada Gabriel.
" Guru, Aku tidak menyangka jika guru akan datang tanpa ku panggil."
" Ya, aku datang untuk melihat keberhasilan mu dalam membentuk sebuah pasukan dalam waktu sekejap. Aku tidak menyangka jika kamu akan menggunakan kesempatan ini untuk membentuk sebuah pasukan."
" Tentu saja, Devian boleh bekerja sama dengan para pemburu vampir untuk memusnahkan pasukanku yang sebelumnya. Tapi mereka tidak tahu jika aku bisa dengan mudah membuat pasukan yang baru. Hahaha hahaha." Ucap Gabriel sambil tertawa penuh kemenangan
" Bagus, Dan aku harap kau tidak akan lupa dengan janjimu jika kau telah berhasil menangkap manusia yang memiliki darah murni itu."
" Jangan khawatir guruku aku akan menepati janjiku dan aku akan membangkitkanmu kembali sehingga kita berdua bisa menguasai dunia ini."
" Aku akan menunggu waktu itu tiba. Dan satu lagi kau hanya bisa menggunakan anugrah yang aku berikan kepada satu orang. Jika kau sudah menggunakan anugerah itu pada orang lain maka kau tidak akan bisa menggunakannya lagi."
" Aku mengerti dan aku tahu siapa orang yang pantas untuk aku rasuki tubuhnya sehingga aku akan dengan mudah mendapatkan Aliya." Ucap Gabriel yang kembali tertawa penuh kemenangan disertai kebulan asap pertanda roh itu telah pergi.
Gabriel lalu memandangi pasukan vampir yang baru saja dia ciptakan.
" Hei dengar.. Aku adalah pemimpin kalian dan kalian harus mematuhi apa yang aku perintahkan. Sekarang Aku ingin kalian kembali berbaur dengan manusia itu, dan kembali ke sini dengan membawa satu manusia lagi. Sehingga jumlah pasukan ku akan semakin bertambah banyak."
Para vampir baru itu segera melakukan apa yang Gabriel perintahkan. Vampir slave itu segera kembali bergabung bersama dengan manusia-manusia lainnya dan mulai melancarkan aksinya membawa satu persatu manusia itu ke bawah tanah untuk dijadikan bagian dari mereka.
" Devian, rasakan pembalasanku."
..
" Apa kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan?" Tanya Edmund kepada pemburu vampir yang dia perintahkan untuk mencari sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang mencurigakan.
" Tidak ada."
" Mungkin kita harus menunggu hingga terlihat pergerakan dari Gabriel." Ucap Devian.
" Devian, sebenarnya apa yang kau bicarakan Edmund. Kenapa aku merasa kalian sedang mengintai sesuatu?" Tanya Alia.
__ADS_1
" Tidak, kami hanya membicarakan hal mengenai penjagaanmu yang sepertinya harus diperketat."
" kenapa?"
" Tidak ada. Kami hanya mengantisipasi akan terjadi sesuatu yang lebih berbahaya karena sampai sekarang kami masih belum bisa menemukan Gabriel."
" Jadi begitu. Tapi dalam pengelihatan ku, aku melihat bahwa Gabriel terluka parah siapa tahu saking parahnya luka yang dialami dia tidak dapat bertahan lalu mati."
" Alia, 1 hal yang harus kamu pelajari dalam dunia perang melawan vampir. Yaitu Jangan pernah merendahkan lawan siapapun itu."
" Okey." Ucap Alia yang merasa bahwa apa yang dikatakan Devian ada benarnya.
Lalu Alia merasa bahwa dirinya harus belajar banyak tentang tata cara melawan vampir. Jadi Alia bisa membantu jika suatu saat Gabriel akan mengerahkan orang-orangnya untuk menangkapnya lagi.
" Alia, Apa yang kau pikirkan?" Tanya Devian saat melihat Alia terdiam.
" Tidak, aku hanya berpikir mungkin aku harus belajar tentang tata cara melawan vampir jadi di saat aku dalam kondisi terdesak aku bisa melawan mereka."
" Alia, yang harus kau lakukan adalah belajar bagaimana menjaga dirimu tetap tenang. Karena kekuatan dalam darahmu akan muncul saat kau benar-benar merasa tenang dan bisa berpikir dengan jernih."
...----------------...
...****************...
" Jadi, apa kita bisa mempercayai mereka sekarang." Tanya Edmund saat dirinya sedang meminta izin Marcel untuk membiarkan keluarga Devian menempati rumah bawah tanah yang dulunya adalah markas pemburu vampir.
" Jika memang benar Gabriel sedang membentuk pasukan vampir slave. Maka kita tidak ada pilihan lain selain memercayai mereka. Tapi kita harus selalu waspada." Tekan Marcel.
Edmund mengerti. Lalu dia segera memberi tahu kabar bahwa Edmund telah mendapat persetujuan dari Marcel, agar Devian dan keluarganya bisa tinggal sementara waktu di kota ini.
" Charlie, apa sekarang kita bisa mempercayai mereka?" Tanya Harry saat mereka diantara ke rumah bawah tanah oleh Edmund dan beberapa pemburu vampir lainnya.
" Tidak ada alasan kita untuk tidak mempercayai mereka. Karena sekarang kita harus fokus untuk mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dia mengerahkan pasukannya." Ucap Charlie.
" Dan aku yakin, jika memang mereka mempunyai niat yang tidak baik kepada kita, Alice sudah melihat nya." Ucap Cristin sambil tersenyum kearah Alice.
" Yang dikatakan Cristin benar. Jadi untuk sementara sebaliknya kita fokus mempersiapkan diri." Imbuh Alice.
" Ini tempat nya, semoga kalian suka dan betah." Ucap Edmund saat mereka sudah sampai di rumah bawah tanah.
" Terima kasih."
" Sama sama."
Edmund dan para pemburu vampir lainnya yang sengaja mengikuti Edmund kemudian pamit dan pergi meninggalkan keluarga Devian.
" Hmm, tempatnya lumayan juga dan tidak terlalu buruk." Ucap Elena setelah dia berkeliling.
Devian terlihat memikirkan sesuatu entah apa yang dia pikirkan sehingga membuat seluruh keluarganya menjadi fokus menatap dirinya.
" Devian, Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Charlie.
" Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan kira-kira apa yang dilakukan Alia sekarang."
Charlie menepuk-nepuk bahu Devian sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berkeliling dan melihat seluruh ruangan yang ada di rumah itu.
" Aku tahu sebenarnya kau menghawatirkan nya. Tapi yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja dan tidak akan terjadi sesuatu pada Alia." Ucap Alice.
Devian tersenyum dan mengagumi Alice yang mempunyai kemampuan membaca masa depan.
" Ayo sebaiknya kita ikut mereka berkeliling dan berkenalan dengan rumah baru yang akan kita tempati." Ucap Alice.
" Ayo."
Keluarga Devian sibuk berkeliling dan mulai beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.
Edmund diperintahkan Marcel untuk merekrut banyak orang menjadi pemburu vampir, karena Marcel takut jika pasukan baru yang sedang disiapkan oleh Gabriel jumlahnya berkali-kali lipat dari pasukan Gabriel sebelumnya.
Sementara itu. Alia mulai belajar ilmu beladiri dengan kedua orangtuanya.
.....
" Alia, Kenapa akhir-akhir ini kau tidak pernah lagi mengajak kami jalan-jalan." Ucap Lucy saat mereka tengah istirahat di jam sekolah.
" Iya, biasanya kau selalu mengeluh karena sepanjang hari hanya diam di rumah."
" Aku memiliki kesibukan akhir-akhir ini jadi aku tidak lagi merasa bosan berada di rumah."
" Ohya, memangnya Apa yang membuatmu sibuk?" Tanya Lucy.
" Ya, siapa lagi kalau bukan berkencan dengan anak sultan itu." Goda Gwen.
" Maksud mu Devian?"
" Iya, dan Apa kalian tahu aku seperti merasa jatuh cinta pandangan pertama kepada sepupu Devian yang bernama Stefano." Ucap Gwen sambil membayangkan wajah dan senyuman yang diperlihatkan Stefano kepadanya pada malam pergantian tahun baru itu.
" Aku rasa kau tidak akan benar-benar menyukainya jika kau tahu siapa sebenarnya Stefano itu." Ucap Alia.
__ADS_1
" Apa maksud mu?, memangnya sebenarnya dia siapa makhluk halus? hantu jadi-jadian?" Kekeh Lucy
" Uh, apakah dia seorang vampir?" Imbuh Gwen.
" Kalau iya kenapa?" Ucap Alia.
Lucy dan Gwen menatap Alia sebelum akhirnya mereka berdua berpandangan dan tertawa renyah.
" Hahaha..."
" Hahahahah, Alia Alia. Bisa ngelawak juga." Ucap Gwen.
" Iya, hari gini mana ada vampir di muka bumi ini."
" hus, jangan ngomong begitu Jika ternyata memang tampil itu benar-benar ada dan sekarang sedang berada disekitar kita bagaimana?" Ucap Lucy sambil tertawa.
" Uh, aku pasti akan sangat takut.." Ucap Gwen sambil memperagakan seperti vampir yang siap memakan mangsanya.
" Terserah." Ucap Alia. Lalu Aliyah tidak sengaja melihat Edmund dan para pemburu vampir lainnya.
" Eh, aku duluan ya karena aku ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
" Baiklah. Hati hati."
Alia segera berlari meninggalkan kedua sahabatnya itu untuk mengejar Edmund, karena dari penglihatan Alia Edmund dan teman-teman pemburu vampir lainnya sedang terlihat seimbang dan gelisah.
" Edmund.." Panggil Alia sambil melambaikan tangan kearah Edmund.
Edmund menoleh dan lekas menghampiri Alia.
" Edmund ada apa?"
" Tidak ada apa apa." Ucap Edmund yang berusaha bersikap tenang agar Alia tidak curiga tentang apa yang sebenarnya dia rasakan. Namun bukan Aliya namanya jika tidak bisa menebak suasana hati seseorang.
" Edmund aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu."
" Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun memangnya aku bisa menyembunyikan sesuatu darimu?"
" Mybe. Jadi sebelum aku memaksamu lebih baik kamu katakan saja, apa yang sedang kamu pikirkan atau apa ada sesuatu yang terjadi?"
" Tidak ada, sungguh."
" Edmund.."
" Baiklah. Aku menerima setidaknya 100 laporan dari sekolah yang menyatakan muridnya hilang dalam perayaan malam tahun baru."
" Apa?"
" Bukan hanya itu, aku juga diberitahu Marcel bahwa polisi sudah menerima sekurang-kurangnya 700 kasus orang hilang di malam perayaan tahun baru itu."
" Tidak mungkin, Apa kau pikir Gabriel pelakunya?"
" Ya, dia pasti membuat para manusia itu menjadi vampir sekarang."
" Untuk apa?"
Edmund langsung menatap Alia , karena Edmund tidak sadar telah menyebut nama Gabriel serta manusia yang menjadi vampir.
" Ya, mungkin untuk diminum darahnya agar Gabriel bisa memulihkan keadaannya seperti sedia kala."
Alia mengkerutkan kedua alisnya sambil menatap tajam Edmund.
" Apa?" Tanya Edmund yang melihat tatapan tidak biasa dari wanita dihadapannya itu.
" Edmund, kenapa aku merasa kamu telah menyembunyikan sesuatu yang besar dan yang berkaitan dengan ku."
" Alia, sudahlah kau tidak perlu mengkhawatirkan hal ini yang harus kamu lakukan adalah terus belajar ilmu bela diri terutama ilmu ketenangan hati dan pikiran. Karena ketenangan adalah kunci dari segalanya."
" Aku tahu, hanya...."
" Alia, Aku harus pergi karena ada sesuatu yang mendesak dan harus aku selesaikan sekarang." Ucap Edmund yang tidak ingin berlama-lama berada di hadapan Aliya, karena Alia bisa membuat Edmund mengatakan segalanya kepada Aliya.
" Tapi..."
" Bye, sampai jumpa nanti di markas. Aku akan menemuimu sepulang sekolah nanti." Ucap Edmund yang sudah berlari menjauh meninggalkan Alya yang masih penasaran akan apa yang sebenarnya direncanakan oleh Gabriel.
" Apa hubungannya Gabriel dengan hilangnya para manusia itu?, Aku tidak yakin jika Gabriel akan memakan mereka semua dalam waktu semalaman. Aku harus mencari tahu sendiri."
...----------------...
......................
...----------------...
......................
...****************...
__ADS_1
......................
...----------------...