
" Selamat pagi sayang..." Ucap Edmund saat Alia baru saja membuka mata.
" Hai.." Ucap Alia yang masih setengah sadar.
Samar samar, pandangan Alia mulai jelas. Alia melihat Edmund membawa nampan berisi makanan dan segelas susu hangat.
" Astaga, harusnya kau tidak perlu melakukan ini." Ucap Alia yang terharu karena Edmund sudah menyiapkan makanan dan membawanya ke sini bahkan sebelum Ayuna benar-benar bangun.
" Mulai sekarang, setiap kamu membuka mata aku akan ada disini bersama dengan makanan karena boleh sekarang aku akan memastikan bahwa kamu mengkonsumsi banyak makanan yang sehat dan bernutrisi."
" Uh, so sweet sekali. Terima kasih ya.."
Alia memeluk Edmund, sebelum akhirnya mulai menghabiskan makanannya dibawa oleh Edmund.
" Hmm, enak."
" Kau mau lagi?"
Alia mengangguk.
" Tunggulah disini. Aku akan membawakannya lagi untuk mu."
" Tidak perlu, aku bisa sendiri." Cegah Alia.
" Sttt,n tolong izinkan aku membantumu. Bagaimana pun juga sekarang kau sedang hamil dan kau juga masih harus memberi ASI kepada kedua putra dan putri kita jadi aku tidak ingin kamu merasa kelelahan."
" Hmm, baiklah." Ucap Alia mengalah.
Setelah kepergian Edmund, Alia berdiri dan melihat kedua putra dan putrinya. Dan Alia sedikit terkejut karena mereka berdua sudah segar.
" Hmm, kalian sangat wangi. Apa kalian sudah mandi?"
Lia dan Lio menatap Alia dengan senyuman. Lalu Alia menggendong mereka berdua hendak membawanya ke kasur, agar Alia bisa dengan leluasa bermain bersama mereka berdua.
Bersamaan dengan itu, Edmund yang masuk ke dalam kamar menjadi terkejut karena melihat Alia menggendong Lia dan Lio secara bersamaan.
"Sayang, apa yang kau lakukan?"
Dengan cepat Edmund meletakkan nampan itu di atas meja dan mengambil Lia dari gendongan Alia.
" Aku hanya akan memindahkan mereka ke kasur kita jadi aku bisa dengan leluasa bermain dengan mereka, apakah salah?" Ucap Alia.
" Tidak. Hanya saja, sekarang kau tidak perlu membawa mereka berdua secara bersamaan. Aku tidak ingin kau merasa kelelahan dan terjadi sesuatu kepadamu."
" Bagas, kau terlalu berlebihan. Aku baik baik saja."
" Alia..."
" Baiklah baik. Aku tidak akan menyentuh mereka secara bersamaan lagi." Ucap Alia mengalah.
Dia sebenarnya heran dengan sikap over protektif pada selama beberapa hari ini. Ya walaupun Alia tahu hal itu untuk kebaikan dirinya dan juga bayi yang sedang dikandung. Tapi terkadang Alia merasa bahwa Edmund terlalu berlebihan.
Alia menata Edmund yang telaten menyuapi kedua buah hatinya. Alia merasa sejak dirinya hamil Edmund seperti mengambil alih pekerjaan Alia.
__ADS_1
" Edmund, apa kau yang memandikan mereka?" Tanya Alia sesaat setelah dia menghabiskan roti isi buatan Edmund.
" Ya, tadi popok mereka bocor, aku pikir daripada menggantinya sekalian saja aku memandikan mereka."
" Kenapa tidak membangunkan aku?"
" Ah, aku tidak tega membangunkanmu tidur sangat lelap aku tahu semalam si kembar agak rewel. Lagipula jika hanya memandikan aku bisa."
" Aku tahu, tapi setidaknya bangunkan aku, jadi aku bisa membantumu untuk memandikan mereka."
" Sayang sudah aku bilang kan jika hanya memandikan si kembar aku bisa. Yang tidak bisa aku lakukan hanya ketika si kembar ingin minum ASI."
" Baiklah. Sekarang kemari biarkan aku yang menyuapi si kembar."
" Tidak perlu, yang perlu kau lakukan hanyalah mandi dan berdandan. Aku ingin kau terlihat cantik hari ini."
" Hmm, apa selama ini aku tidak terlihat cantik?"
" Cantik. Hanya saja, sedikit emmm ya begitulah. Sejak mengurus si kembar aku melihat dirimu tidak lagi berdandan untukku. Kali terakhir aku melihatmu cantik dengan make up adalah saat kita melakukan waktu berdua."
" Apa kau ingin melakukan waktu berdua lagi?" Bisik Alia.
Seketika badan Edmund seperti kesetrum. Dia merasa sesuatu dibawah sana terbangun hanya dengan bisikan Alia.
Alia tersenyum melihat perubahan dari wajah badan selalu segera berlalu meninggalkan Edmund untuk menuju kamar mandi.
" Papi...papi..." Oceh Lia.
" Aaak ak..." Imbuh Lio
Sementara Alia yang mendengar obrolan Bagas dengan kedua bayinya menjadi terkekeh.
" Hmm, Tidak ada salahnya jika aku yang memulai lebih dulu. Lagipula ini sudah lebih dari 1 pekan sejak kami menghabiskan waktu berdua. Dan aku juga sedikit heran kenapa dia tidak pernah memintanya sakit aja sedang bersantai di malam hari.." Lirih Alia, sebelum akhirnya memutuskan untuk segera mandi dan berdandan untuk Bagas.
Setelah selesai menyuapi si kembar, Alia segera memberi mereka ASI.
" Sayang, Kenapa kau hanya mengenakan handuk kimono?"
" Memangnya kenapa?"
" Ya, tidak apa apa sih. Hanya saja setelah bisikanmu tadi aku jadi sedikit lebih bergairah terutama saat melihatmu hanya mengenakan handuk kimono. Rasanya seperti aku ingin memakanmu saat ini juga."
" Sttt, ada kembar." Ucap Alia.
" Hmm, baik lah. Kalau begitu aku akan menidurkan Lia dan memberinya ASI pada botol yang sudah aku hangatkan tadi."
" Terima kasih ya.."
" Apapun untuk mu sayang..."
Lia dan Lio yang sudah menghabiskan makanannya dan meminum ASI, membuat mereka cepat sekali kembali tertidur.
Lalu Alia segera memasang pompa asi elektronik pada kedua sisinya. Dan mulai memarah untuk tetap menjaga stok asinya melimpah.
__ADS_1
" Glek.."
Edmund melihat dua gundukan itu sedang diperah oleh pompa asi elektronik. Alia tersenyum melihat tingkah Edmund.
" Sebaiknya aku segera membawa bekas makanan ini ke dapur." Ucap Edmund.
Alia tersenyum dan mengangguk.
Dan saat Edmund berjalan menuju dapur dia tidak sengaja bertemu dengan sang Mama yang baru saja selesai makan.
" Ed, di mana Alia?. Kenapa dia tidak turun untuk sarapan?. Dan apakah anak anak sudah tidur?."
" Mereka baru saja tidur ma, dan Alia sedang memerah ASI."
" Begitu.."
" Iya begitu."
" Lalu, apa kau tidak akan sarapan?"
" Aku akan mengajak Alia untuk makan pagi di luar boleh kan mah, Jadi aku minta tolong kepada Mama untuk menjaga si kembar."
" Boleh."
" Yes."
Emery mengerutkan dahinya saat Edmund bersorak gembira.
" Maksud Edmund, yea.. Emm, sebaiknya Edmund kembali ke atas untuk memberitahukan Alia."
Emery tersenyum dan menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah laku Edmund.
Ceklek...
Dengan hati-hati Edmund membuka pintu dan melihat Alia sudah selesai bersiap, Alia terlihat begitu cantik dan mempesona dengan balutan dress berwarna pink. Sangat kontras dengan kulit putih mulus Alia.
" Sayang, kau terlihat sangat cantik."
Alia tersipu malu mendengar pujian dari Edmund.
Edmund mencium leher Alia. Alia memejamkan mata.
" Apa kau siap untuk waktu berdua kita?" Tanya Edmund.
" Aku mencintaimu sayang. Dan aku menginginkan mu sekarang.." Bisik Edmund.
Ketika mereka akan memadu kasih, Alia bangun kembali.
" astaga, tadi itu apa?, kenapa aku kembali ke masa lalu dan seolah aku berada di masa depan!"
----------------
----------------
__ADS_1
----------------