
Alia membuka mata, dia melihat Edmund berada di depannya.
Alia melihat ke sekeliling mereka masih berada di dalam kamar.
" Ed, apa yang terjadi?" Tanya Alia.
" Seharusnya aku yang bertanya apa yang terjadi kepadamu sehingga kamu berteriak dalam tidur." Ucap Edmund.
" Aku bermimpi, tunggu. Kita ada di mana?"
" Tentu saja kita sedang berada di rumahmu Apa kau tidak ingat jika semalam kita baru saja menikah. Dan saat aku akan mengajakmu untuk turun dan makan, kamu memintaku untuk membuat kami sedikit tanda cinta karena kamu melihat bahwa orang tua kita datang dan masuk ke dalam kamar."
" Lalu?"
" Ya, lalu aku memberikan beberapa tanda di lehermu, tapi ternyata sesuatu di bawah sana meronta-ronta ingin keluar. Jadi kita melakukannya lagi dan lagi. Dan kau tertidur kembali karena kelelahan. Saat aku baru saja selesai mandi aku mendengar kamu berteriak, Karena itulah aku segera datang ke sini dan melihat Apa yang terjadi padamu."
Alia tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Edmund yang mengerti langsung berhamburan memeluk Alia.
Akhirnya aku kembali ke masa ku sendiri. Batin Alia.
" Alia..." Ucap Edmund sambil berusaha melepaskan pelukannya.
" Tunggu tetaplah seperti ini Kamu tidak tahu apa yang sudah aku lalui."
" Apa?" Tanya Edmund.
Alia melepaskan pelukannya lalu dia menatap Edmund.
" Apa ku yakin jika ini adalah hari pernikahan kita?" Tanya Alia memastikan, karena Alia masih takut ini adalah bagian dari halusinasinya lagi.
" Tentu saja, malam tadi seharusnya menjadi malam pertama kita. Lalu kau memintaku untuk memberikan tanda karena orang tua kita masuk untuk melihat apakah kita sudah melakukan unboxing atau belum. Tapi ternyata kita melakukannya lagi Dan lagi lalu kau tidur." Ucap Edmund.
" Lalu saat aku masih berada di kamar mandi aku mendengar teriakanmu." Imbuh Edmund.
" Huft, jadi..."
Alia selalu mengatakan tentang dirinya yang seolah-olah berada di masa lalu kemudian berada di masa depan dan kembali ke masa-masa di mana dirinya belum menjalin hubungan dengan Edmund.
" Edmund, kau masih ingat kan jika di dunia kita tidak mungkin hanya ada kita pasti ada makhluk lain seperti vampir zombie dan lainnya.".
" Alia aku rasa Kau hanya mimpi buruk." Ucap Edmund.
" Tidak, aku tidak sedang bermimpi buruk aku bersungguh-sungguh. Edmund kau adalah seorang pemburu vampir dan aku sebelumnya adalah Valkyrie Light."
" Alia tenanglah. Ada apa denganmu?"
" Edmund kau harus percaya padaku dan kau harus membantuku untuk bertemu dengan tetua, tetua mungkin mempunyai cara agar aku bisa benar-benar melupakan bahwa sebelumnya aku adalah Valkyrie Light."
Edmund tiba-tiba dia membisu. Hal itu tentu saja membuatitu tentu saja membuat Alia merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres.
" Edmund.." Panggil Alia sambil melambaikan tangan kearah Edmund.
Melihat Edmund tidak merespon. Alia langsung menggenggam tangan Edmund dan berbisik.
" Aku akan membawamu ke masa lalu dan ke masa depan agar kau percaya bahwa aku terjebak di dunia yang aku sendiri tidak tahu. Setelah kau melihat apa yang akan aku perlihatkan kepadamu harus membantuku menemui tertua."
...----------------...
Edmund dan Alia kini telah berada di salah satu toko perhiasan.
Setelah memilih cincin yang tepat. Mereka menghabiskan waktu berdua dengan jalan jalan dan menonton bioskop.
Edmund sangat menikmati hari hari bersama dengan Alia. Tapi tidak sebaliknya.
Alia justru mengingat akan Devian. Tiba-tiba saja, hatinya seolah-olah meronta ronta ingin bertemu Devian.
Tapi, itu tidak mungkin. Devian tidak akan mengenali Alia, bahkan mungkin Devian bisa saja langsung memakan Alia karena Alia adalah manusia. Atau mungkin, Devian akan menghindari Alia, karena memang vampire seperti Devian dan keluarganya, yang mengklaim mereka sebagai vampir vegetarian. Tidak akan pernah berurusan dengan manusia.
Karena itu, mereka tinggal di hutan, sehingga tidak akan ada yang menyadari bahwa mereka sebenarnya seorang vampir.
" Alia, apa yang sedang kau pikirkan?, apa kau tidak suka film yang sedang kita tonton?" Tanya Edmund.
" Tidak, aku hanya tidak percaya jika sebentar lagi kita akan menjadi pasangan." Ucap Alia sambil tersenyum.
Edmund menarik Alia agar dirinya bersandar pada nya.
Cup
Edmund mengecup kening Alia. Dipegangnya tangan Alia.
" Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Tapi percayalah cintaku begitu besar dan aku yakin kita akan saling mencintai dan menjaga satu sama lain." Ucap Edmund.
Alia menatap Edmund. Tanpa basa-basi lagi Edmund menyambar bibir Alia.
Bukannya mengingat moment saat dirinya dan Edmund melakukan ciuman. Alia justru mengingat saat dia menghabiskan waktu semalam bersama dengan Devian.
Alia langsung melepaskan diri dari Edmund.
" Ini tempat umum." Bisik Alia kepada Edmund.
Edmund hanya tersenyum kemudian mencium kening Alia
Alia menyandarkan kepalanya di bahu Edmund.
Mereka menikmati acara bioskop. Walaupun Alia masih terus saja memikirkan tentang Devian.
Satu Minggu kemudian,...
Alia dan Edmund sudah resmi menjadi tunangan
" Selamat ya sayang." Ucap Emery
" Terima kasih ma." Ucap Alia.
" Semoga setelah ini kamu akan menjadi istri yang baik untuk suami mu." Ucap Emery.
Alia hanya tersenyum, sambil melihat Edmund yang kini menjadi tunangan nya.
Malam harinya, Alia tidak bisa tidur. Dia berdiri di balkon kamarnya. Menikmati cahaya rembulan sambil memandang cincin yang melingkar di jari manisnya.
" Aku sudah menjadi milik Edmund. Tapi kenapa hati dan pikiran ku tertuju pada Devian." Pekik Alia
Alia juga tidak habis pikir kenapa dia masih mengingat tentang dirinya yang sebelumnya mengemban tanggung jawab sebagai Valkyrie Light. Kenapa dia tidak bisa melupakan kejadian itu sama seperti semua orang yang melupakan bahwa Alia sebelumnya adalah yang terpilih.
__ADS_1
Ini sungguh menyiksa Aliya, terutama saat dia menyadari bahwa Devian kini telah bangkit.
Alia tidak bisa membohongi hatinya, Devian adalah Cinta pertamanya. Walaupun sebelumnya Alya telah melupakan Devian, tapi kembali ke masa lalu dan memperbaiki keadaan itu justru membuat Alia membuka kembali kisah cintanya dan perasaan yang ada padanya.
" Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak boleh memikirkan pria lain sementara aku sudah menjadi milik Edmund. Aku harus melakukan sesuatu."
Alia mengambil ponselnya dan menghubungi Edmund.
Edmund yang berada di markas langsung meluncur menemui Alia.
" Ada apa?, apa semuanya baik-baik saja?." Ucap Edmund saat dia baru tiba kamar Alia.
Alia tersenyum dan berjalan mendekati Edmund
" Aku hanya takut sendirian di rumah, kamu tahu kan, orang tuaku pergi untuk urusan yang aku sendiri tidak tahu dan tidak ingin tahu."
" Ohya, Sejak kapan Aliya yang pemberani menjadi penakut?" Tanya Edmund sambil tersenyum dan memeluk pinggang Alia.
" Sejak menjadi tunangan mu." Bisik Alia yang mengalungkan tangannya ke leher Edmund.
Alia kemudian teringat bahwa dirinya pernah melakukan sesuatu yang memicu hasrat sek sual dengan Edmund.
Alia mendekatkan wajahnya ke wajah Edmund.
Dekat....
Dekat....
Dekat....
Cup
Bibir mereka menyatu.
Perlahan...
Pelan....
Ciu man itu berubah menjadi lautan hasrat yang membara untuk keduanya.
Edmund mengunci pintu kamar Alia dan mengaktifkan mode kedap suara.
Alia melepaskan diri dari Edmund. Dia berjalan menuju jendela kamar yang sudah tertutup namun dengan tirai yang masih terbuka.
Edmund melepaskan jas dan berjalan mendekati Alia.
Cup
Satu tanda tercipta di bahu Alia.
Edmund menurunkan gaun Alia.
Disentuhnya punggung mulus milik Alia.
Alia langsung berbalik.
" Ed...." Panggil Alia
" Ya???..." Jawap Edmund sambil melepas tali hingga gaun Alia jatuh ke lantai. Kini Alia hanya mengenakan dress mini yang menutupi dada dan bagian sensitifnya.
Membuka sesuatu yang sebenarnya sudah pernah mereka lakukan.
...----------------...
" Selamat pagi sayang..." Ucap Edmund saat Alia baru saja membuka mata.
" Hai.." Ucap Alia yang masih setengah sadar.
Samar samar, pandangan Alia mulai jelas. Alia melihat Edmund membawa nampan berisi makanan dan segelas susu hangat.
" Astaga, harusnya kau tidak perlu melakukan ini." Ucap Alia yang terharu karena Edmund sudah menyiapkan makanan dan membawanya ke sini bahkan sebelum Ayuna benar-benar bangun.
" Mulai sekarang, setiap kamu membuka mata aku akan ada disini bersama dengan makanan karena boleh sekarang aku akan memastikan bahwa kamu mengkonsumsi banyak makanan yang sehat dan bernutrisi."
" Uh, so sweet sekali. Terima kasih ya.."
Alia memeluk Edmund, sebelum akhirnya mulai menghabiskan makanannya dibawa oleh Edmund.
" Hmm, enak."
" Kau mau lagi?"
Alia mengangguk.
" Tunggulah disini. Aku akan membawakannya lagi untuk mu."
" Tidak perlu, aku bisa sendiri." Cegah Alia.
" Sttt,n tolong izinkan aku membantumu. Bagaimana pun juga sekarang kau sedang hamil dan kau juga masih harus memberi ASI kepada kedua putra dan putri kita jadi aku tidak ingin kamu merasa kelelahan."
" Hmm, baiklah." Ucap Alia mengalah.
Setelah kepergian Edmund, Alia berdiri dan melihat kedua putra dan putrinya. Dan Alia sedikit terkejut karena mereka berdua sudah segar.
" Hmm, kalian sangat wangi. Apa kalian sudah mandi?"
Lia dan Lio menatap Alia dengan senyuman. Lalu Alia menggendong mereka berdua hendak membawanya ke kasur, agar Alia bisa dengan leluasa bermain bersama mereka berdua.
Bersamaan dengan itu, Edmund yang masuk ke dalam kamar menjadi terkejut karena melihat Alia menggendong Lia dan Lio secara bersamaan.
"Sayang, apa yang kau lakukan?"
Dengan cepat Edmund meletakkan nampan itu di atas meja dan mengambil Lia dari gendongan Alia.
" Aku hanya akan memindahkan mereka ke kasur kita jadi aku bisa dengan leluasa bermain dengan mereka, apakah salah?" Ucap Alia.
" Tidak. Hanya saja, sekarang kau tidak perlu membawa mereka berdua secara bersamaan. Aku tidak ingin kau merasa kelelahan dan terjadi sesuatu kepadamu."
" Bagas, kau terlalu berlebihan. Aku baik baik saja."
" Alia..."
" Baiklah baik. Aku tidak akan menyentuh mereka secara bersamaan lagi." Ucap Alia mengalah.
__ADS_1
Dia sebenarnya heran dengan sikap over protektif pada selama beberapa hari ini. Ya walaupun Alia tahu hal itu untuk kebaikan dirinya dan juga bayi yang sedang dikandung. Tapi terkadang Alia merasa bahwa Edmund terlalu berlebihan.
Alia menata Edmund yang telaten menyuapi kedua buah hatinya. Alia merasa sejak dirinya hamil Edmund seperti mengambil alih pekerjaan Alia.
" Edmund, apa kau yang memandikan mereka?" Tanya Alia sesaat setelah dia menghabiskan roti isi buatan Edmund.
" Ya, tadi popok mereka bocor, aku pikir daripada menggantinya sekalian saja aku memandikan mereka."
" Kenapa tidak membangunkan aku?"
" Ah, aku tidak tega membangunkanmu tidur sangat lelap aku tahu semalam si kembar agak rewel. Lagipula jika hanya memandikan aku bisa."
" Aku tahu, tapi setidaknya bangunkan aku, jadi aku bisa membantumu untuk memandikan mereka."
" Sayang sudah aku bilang kan jika hanya memandikan si kembar aku bisa. Yang tidak bisa aku lakukan hanya ketika si kembar ingin minum ASI."
" Baiklah. Sekarang kemari biarkan aku yang menyuapi si kembar."
" Tidak perlu, yang perlu kau lakukan hanyalah mandi dan berdandan. Aku ingin kau terlihat cantik hari ini."
" Hmm, apa selama ini aku tidak terlihat cantik?"
" Cantik. Hanya saja, sedikit emmm ya begitulah. Sejak mengurus si kembar aku melihat dirimu tidak lagi berdandan untukku. Kali terakhir aku melihatmu cantik dengan make up adalah saat kita melakukan waktu berdua."
" Apa kau ingin melakukan waktu berdua lagi?" Bisik Alia.
Seketika badan Edmund seperti kesetrum. Dia merasa sesuatu dibawah sana terbangun hanya dengan bisikan Alia.
Alia tersenyum melihat perubahan dari wajah badan selalu segera berlalu meninggalkan Edmund untuk menuju kamar mandi.
" Papi...papi..." Oceh Lia.
" Aaak ak..." Imbuh Lio
" Ah iya sayang. Maaf ya, gara-gara Mami Papi jadi tidak berkonsentrasi pada kalian. Sekarang ayo kita habiskan sarapan lalu Papi akan mengantar kalian bermain bersama Oma. Karena papi akan berehem ehem.." Kekeh Edmund sambil terus menyuapi kembar.
Sementara Alia yang mendengar obrolan Bagas dengan kedua bayinya menjadi terkekeh.
" Hmm, Tidak ada salahnya jika aku yang memulai lebih dulu. Lagipula ini sudah lebih dari 1 pekan sejak kami menghabiskan waktu berdua. Dan aku juga sedikit heran kenapa dia tidak pernah memintanya sakit aja sedang bersantai di malam hari.." Lirih Alia, sebelum akhirnya memutuskan untuk segera mandi dan berdandan untuk Bagas.
Setelah selesai menyuapi si kembar, Alia segera memberi mereka ASI.
" Sayang, Kenapa kau hanya mengenakan handuk kimono?"
" Memangnya kenapa?"
" Ya, tidak apa apa sih. Hanya saja setelah bisikanmu tadi aku jadi sedikit lebih bergairah terutama saat melihatmu hanya mengenakan handuk kimono. Rasanya seperti aku ingin memakanmu saat ini juga."
" Sttt, ada kembar." Ucap Alia.
" Hmm, baik lah. Kalau begitu aku akan menidurkan Lia dan memberinya ASI pada botol yang sudah aku hangatkan tadi."
" Terima kasih ya.."
" Apapun untuk mu sayang..."
Lia dan Lio yang sudah menghabiskan makanannya dan meminum ASI, membuat mereka cepat sekali kembali tertidur.
Lalu Alia segera memasang pompa asi elektronik pada kedua sisinya. Dan mulai memarah untuk tetap menjaga stok asinya melimpah.
" Glek.."
Edmund melihat dua gundukan itu sedang diperah oleh pompa asi elektronik. Alia tersenyum melihat tingkah Edmund.
" Sebaiknya aku segera membawa bekas makanan ini ke dapur." Ucap Edmund.
Alia tersenyum dan mengangguk.
Dan saat Edmund berjalan menuju dapur dia tidak sengaja bertemu dengan sang Mama yang baru saja selesai makan.
" Ed, di mana Alia?. Kenapa dia tidak turun untuk sarapan?. Dan apakah anak anak sudah tidur?."
" Mereka baru saja tidur ma, dan Alia sedang memerah ASI."
" Begitu.."
" Iya begitu."
" Lalu, apa kau tidak akan sarapan?"
" Aku akan mengajak Alia untuk makan pagi di luar boleh kan mah, Jadi aku minta tolong kepada Mama untuk menjaga si kembar."
" Boleh."
" Yes."
Emery mengerutkan dahinya saat Edmund bersorak gembira.
" Maksud Edmund, yea.. Emm, sebaiknya Edmund kembali ke atas untuk memberitahukan Alia."
Emery tersenyum dan menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah laku Edmund.
Ceklek...
Dengan hati-hati Edmund membuka pintu dan melihat Alia sudah selesai bersiap, Alia terlihat begitu cantik dan mempesona dengan balutan dress berwarna pink. Sangat kontras dengan kulit putih mulus Alia.
" Sayang, kau terlihat sangat cantik."
Alia tersipu malu mendengar pujian dari Edmund.
Edmund mencium leher Alia. Alia memejamkan mata.
" Apa kau siap untuk waktu berdua kita?" Tanya Edmund.
" Aku mencintaimu sayang. Dan aku menginginkan mu sekarang.." Bisik Edmund.
" Edmund, Kenapa sangat sulit sekali menyadarkan mu. Aku berusaha memberitahumu di masa lalu tapi kau tidak mengingatnya sama sekali. Di masa depan kau juga sama, masih memerankan peran mu. Lalu aku harus bagaimana?" Pekik Alia.
...****************...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...