
" Alia..."
Alia menoleh dan dia terkejut saat melihat Lucy dan Gwen sedang berada di Mall itu juga.
" Hai.."
Alia sangat antusias karena bertemu dengan kedua sahabatnya itu. Alia langsung melepas tangan yang sedari tadi bergandengan dengan Edmund.
Edmund merasa sedih karena sekarang dia tidak lagi menggenggam tangan Aliya.
Kenapa duo racun itu harus datang disaat yang tidak tepat, mereka sungguh merusak momen kebersamaan ku dan Aliya.
Saat Edmund tengah kesal dia mengalihkan pandangan ke arah lain dan dia seperti melihat sosok mencurigakan yang ada di tengah-tengah pengunjung Mall.
" Alia, bisakah kau tetap berada disini dengan kedua sahabatmu selagi aku pergi." Ucap Edmund sambil terus mengawasi orang mencurigakan yang diduga Gabriel.
" Memangnya kau mau ke mana?. Dan Kenapa kau terus melihat ke lantai bawah?" Tanya Alia yang ikut melihat ke lantai bawah. Karena penasaran Apa yang sedang dilihat oleh Edmund.
" Aku, aku sedang ingin membeli sebuah permen yang kelihatannya sangat limited edition. Dan penjual permen itu berada di tengah-tengah pengunjung jadi aku terus mengawasinya dan tidak ingin kehilangannya." Ucap Edmund dengan nada yang meyakinkan.
" Baiklah."
" Aku akan segera kembali dan pastikan kamu tetap berada disini sampai aku kembali."
" Baiklah."
Edmund segera berjalan cepat menuruni tangga. Dia memilih untuk turun lewat tangga agar dia bisa terus mengawasi gerak-gerik orang yang mencurigakan itu.
Orang itu memakai jubah di seluruh tubuhnya. Hal yang tidak biasa jika berkunjung ke mall.
Sepeninggal Edmund, Lucy dan Gwen menggoda Aliya.
" Jadi ini alasannya kamu tidak lagi mengajak kami jalan-jalan karena ternyata kamu sudah mempunyai teman kencan yang baru." Ucap Lucy.
" Jadi apakah saat siang hari kau berkencan dengannya dan malam hari berkencan dengan Devian." Kekeh Gwen.
" Oh tidak, Jadi kau berkencan dengan dua orang sekaligus dalam satu hari. Alia kau benar-benar membuatku iri." Imbuh Lucy.
" Apa?, tidak tidak bukan seperti itu Aku dan Edmund.."
Belum selesai Alia berbicara tiba-tiba Mall itu bergerak-gerak seperti sedang terjadi gempa bumi. Lalu listrik tiba-tiba mati dan membuat semuanya panas.
Hal itu tidak berlangsung lama karena setelah itu lampu kembali menyala dan tidak lagi terjadi gempa.
" Apa itu?" Tanya Lucy saat melihat asap keluar dari ventilasi udara.
Edmund yang baru saja tiba di lantai bawah mencium sesuatu yang sangat menyengat dan yang sangat dihafal.
" Ini adalah racun vampir." Lirih Edmund.
Pikiran Edmund langsung kepada Alia. Asap itu menyebar dengan cepat dan langsung membuat siapa saja yang menghirupnya menjadi pingsan.
" Alia..."
Edmund yang mengkhawatirkan keadaan Aliya langsung mengenakan jubah ajaibnya dan terbang menuju lantai di mana Edmund meninggalkan Aliya bersama dengan kedua sahabatnya.
" Asap apa ini?" Ucap lucy dan Gwen yang mulai terbatuk-batuk.
" Aku tidak tahu. Uhuk Uhuk.." Ucap Alia sambil mencoba mengipasi asap itu menjauh dari wajahnya.
Edmund langsung menggunakan jubah ajaib itu untuk menyingkirkan semua asap yang berada di sekitar Aliya dan kedua sahabatnya.
" Cepat ikut aku."
Edmund segera memerintahkan Aliya dan kedua temannya untuk mengikuti Edmund.
Edmund membawa mereka ke gudang penyimpanan.
" Tadi itu apa?"
" Aku tidak tahu yang jelas untuk sementara kita akan aman berada di sini."
Edmund membuka ventilasi udara itu agar lebih banyak udara yang masuk ke ruangan itu.
" Aku akan meminta bantuan kepada yang lainnya. Jadi aku harap kalian tidak akan mengganggu ku saat aku sedang mencoba berkomunikasi dengan mereka."
"Baiklah."
Lucy dan Gwen memilih untuk berada di belakang Aliya karena mereka sedikit terkejut dan takut saat melihat Edmund mengenakan jubah ajaib nya.
__ADS_1
Sekarang Edmund sedang duduk bersila dan memejamkan matanya. Mencoba berkomunikasi dengan Marcel dan meminta bantuan bahwa telah terjadi sesuatu di mall.
Marcel saat itu tengah bersama Albert yang sedang membahas kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika Gabriel menggerakkan pasukan vampirnya yang baru terkejut karena mendapat panggilan bantuan dari Edmund.
" Albert Aku harus pergi sekarang karena aku ingin mengurus sesuatu."
" Baiklah."
Marcel tidak mengatakan jika dia harus membantu Edmund. Karena dia tahu jika dia mengatakan bahwa Edmund dan Alia sedang dalam bahaya Albert pasti akan membuat seluruh isi markas itu menjadi gempa dan menggerakkan seluruh pasukannya untuk menyelamatkan Aliya.
Marcel tidak ingin mengambil resiko, karena dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan kekacauan di mall itu. Jadi dia akan melihatnya sendiri.
" Alia.."
Alice yang saat itu tengah bersantai tiba-tiba mendapat penglihatan bahwa Edmund, Alia dan kedua temannya sedang terjebak di sebuah Mall. Dimana hampir seluruh manusia yang berada di mall itu telah berubah menjadi zombie karena menghirup racun vampir.
" Alice, Apa kau mendapat penglihatan tentang Aliya?" Tanya Devian.
" Dia, dia bersama dengan kedua temannya terjebak di mall. Dimana seluruh manusia yang berada di mall itu telah berubah menjadi zombie karena menghirup virus vampir."
" Tapi siapa yang melakukan itu?" Tanya Elena.
" Aku rasa pastilah Gabriel yang berada di balik semua ini." Ucap Devian .
" Kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo kita segera menyelamatkan Alia."
Sreekkk...
Srrkk...
SREKKK ..
Alia, Gwen dan Lucy mendengar suara dinding yang dicakar cakar. Serta suara raungan aneh yang berada di balik pintu.
Alia segera memasang kunci double dari pintu itu dan mengintip dari celah kecil yang berada di pintu tersebut.
" Zombie???" Pekik Alia.
Brak !!!
Brak !!!
Brak !!
" Oh my God, itu apa?" Tanya Lucy yang mulai panik.
" Aku rasa itu hanyalah sekumpulan manusia yang terhipnotis." Ucap Alia yang tidak ingin kedua temannya merasa lebih histeris saat mengetahui yang berada di balik pintu itu adalah segerombolan manusia yang telah menjadi zombie karena menghirup gas racun vampir.
" Apa yang harus kita lakukan?, Edmund masih belum bisa untuk di ajak komunikasi." Ucap Gwen.
" Ed,, sepertinya kita punya masalah." Teriak Alia saat dia sudah tidak bisa menahan pintu itu lebih lama lagi.
Edmund segera tersadar dan membantu Alia mempertahankan pintu, agar tidak rusak karena desakan para zombie.
" Ed, Kenapa semua manusia itu bertingkah seperti zombie, sebenarnya apa yang telah terjadi kepada mereka?" Tanya Alia yang setengah berbisik kepada Edmund karena tidak ingin teman-temannya mengetahui tentang apa yang terjadi sebenarnya.
" Karena mereka memang telah menjadi zombie."
" Apa?"
" Gas tadi adalah gas racikan vampire di mana saat manusia menghirup nya itu seperti virus yang akan membuat mereka menjadi zombie."
" Apa. Lalu Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
" Aku sudah meminta bantuan kepada markas pusat, dan mereka akan segera datang untuk menyelamatkan kita. Aku rasa sebentar lagi Devian juga akan datang ke sini."
" Apa kau juga memberitahunya jika kita terjebak di sini di tengah para zombie?" Tanya Alia.
" Apa kau lupa jika Alice bisa melihat masa depan?. Aku yakin dia bisa menebak apa yang terjadi sekarang."
" Ah iya kau benar. Lalu Apa yang harus kita lakukan selagi menunggu mereka semua datang untuk menyelamatkan kita." Tanya Alia.
Edmund diam dia tampak memikirkan sesuatu untuk mengulur waktu agar pintu ini tetap kokoh sampai datang bantuan.
" Edmund, Kenapa kau terdiam pikirkanlah sesuatu untuk menahan mereka." Ucap Alia yang mulai geram karena melihat Edmund terus saja terdiam dan tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Alia tidak tahu jika sebenarnya Edmund tengah berpikir cara agar pintu itu tetap kokoh sampai bantuan datang.
" Alia, gunakan kemampuanmu untuk membuat perisai di sekitar kita."
" Apa? Tapi, aku tidak bisa."
__ADS_1
" Kenapa?"
" Aku hanya bisa membuat Perisai itu dalam keadaan tenang. Dan sekarang aku sungguh merasa panik dan gelisah."
" Kalau begitu kau harus coba untuk tenangkan dirimu dan melupakan semua rasa gelisah."
" Bagaimana cara nya?" Ucap Alia.
Edmund melihat Lucy dan Gwen yang sedang terduduk diam dan memainkan ponsel sepertinya mereka tengah menghubungi seseorang yang bisa dihubungi. Namun sayangnya nya ponsel mereka tiba-tiba tidak dapat digunakan.
" Aku tahu, Kemarilah."
Edmund menggandeng tangan Aliya untuk ikut duduk bersama dengan kedua sahabatnya Lucy dan Gwen.
" Lu, Apa kau masih ingat tentang tata cara saat instruktur yoga memberitahu cara untuk menenangkan diri dalam situasi apapun?" Tanya Edmund sambil menatap Lucy.
" Tentu saja aku ingat Apa kau lupa jika aku adalah asisten instruktur yoga yang terkenal?" Ucap Lucy dengan bangga dan cepat.
" Bagus, kalau begitu aku ingin kau memimpin mereka termasuk juga diriku untuk melatih ketenangan dalam situasi ini." Ucap Edmund.
" Kenapa?" Tanya Lucy dan Gwen dalam waktu hampir bersamaan karena mereka sedikit heran kenapa dalam situasi genting seperti ini, Edmund justru meminta Lucy memimpin mereka untuk tetap membuat tenang.
" Kau tahu, bukankah lebih baik kita merasa tenang rileks dan santai jadi kita tidak akan merasa begitu panik dan begitu takut terhadap apa yang sebenarnya terjadi di luar sana." Terang Edmund.
" Aku setuju dengan Edmund, kejadian ini benar-benar membuat hatiku terguncang." Imbuh Gwen.
" Kalau begitu tunggu apa lagi Ayo kita segera mulai menenangkan diri dan merilekskan hati dan pikiran." Ucap Alia yang mulai paham maksud dari Edmund yang meminta Lusi untuk mengajarkan mereka semua teknik menenangkan diri dalam situasi yang genting seperti ini.
Edmund tersenyum kepada Aliya saat Alia telah mengetahui maksud dari tujuannya itu.
Lucy yang sudah mahir membuat ketenangan diri dalam situasi apa pun segera memerintahkan semua temannya untuk menutup mata dan menggerakkan bagian tubuhnya sesuai dengan apa yang akan dia katakan nanti.
Semuanya melakukan apa yang Lusi katakan terkecuali Edmund. Saat dia merasa Alia sudah merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Edmund mendekati Aliyah dan meminta Alia untuk membuat perisai di ruangan itu.
Alia yang sudah merasa jauh lebih tenang dengan mudah mengeluarkan dan membentuk perisai yang kokoh.
" Yes.." Edmund bersorak gembira saat mengetahui Alya telah berhasil membuat perisai di sekitar ruang itu, jadi untuk saat ini mereka tidak perlu khawatir karena Edmund yakin zombie itu tidak dapat menembus perisai yang telah dibuat oleh Alia.
Edmund menggunakan tekniknya untuk membuat Lucy dan Gwen pingsan.
" Edmund Apa yang kau lakukan pada kedua sahabatku?" Tanya Alia khawatir.
" Jangan khawatir, aku hanya membuat mereka tertidur dengan nyaman, karena aku yakin kau sendiri juga tidak ingin mereka mengetahui bahwa sebenarnya yang berada di balik pintu ini adalah segerombolan Zombie."
" Hmm, ya kau benar. Lalu apakah tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang untuk menghalangi para zombie itu sembari menunggu bantuan yang tak kunjung datang?"
" Tidak ada, kecuali kalau kau bisa mengeluarkan kekuatan yang berada dalam dirimu."
" Caranya?"
Edmund dengan ragu-ragu berdiri dan mulai memberitahu Aliya tentang apa yang harus dilakukan untuk mengubah kalung Aliya menjadi sebuah pedang yang dapat digunakan untuk memusnahkan para zombie itu.
Alia memejamkan mata sambil memegang kalung di tangan. Alia mulai membaca sebuah mantra yang muncul begitu saja di dalam kepalanya.
Cahaya mulai muncul, bersamaan dengan itu Devian dan keluarganya baru saja tiba di gedung itu dengan susah payah karena mereka harus menggunakan jubah khusus anti matahari agar tidak ada yang mengetahui bahwa mereka adalah seorang vampir.
" Alia dan lainnya berada di sebuah gudang penyimpanan yang ada di lantai delapan." Ucap Alice.
" Aku dan Harry akan menyelamatkan Alia dan temannya. Yang lain boleh ikut Charlie untuk mencari cara menghentikan gas beracun itu." Ucap Devian.
" Aku tahu di mana tempat gas Vampir itu berada." Ucap Alice.
" Kalau begitu tunggu apa lagi Ayo kita segera mencari dan menghentikannya." Ucap Cristin.
" Tunggu, Apa kau sudah membawa penawar dari gas Vampir itu?. karena akan sia-sia jika kita hanya mampu menghentikan penyebaran dari kesitu tanpa membawa penawarnya." Terang Charlie.
Disaat mereka berpikir dan baru sadar jika mereka sama sekali tidak mempunyai penawar dari gas Vampir itu. Marcel tiba-tiba datang dan hendak menyerang Charlie karena Marcell tidak mengenalinya dalam mantel anti matahari itu.
" Kyaaa....."
" Charlie awas...."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...