
Sejenak Alia tersadar.
" Mungkin sudah saatnya aku kembali ke masa ku sendiri." Ucap Alia.
Saat Alia memejamkan mata, tiba tiba seseorang menariknya ke dalam pelukannya.
Tanpa aba-aba lagi, Edmund langsung mencium bibir Alia.
Cuph
Cuph
Cuph
Alia yang terkejut segera mencoba untuk melepaskan diri.
Namun Edmund justru semakin mempererat pelukannya.
Makin lama, Edmund mengigit bibir bawah Alia sehingga Alia membuka mulutnya.
Edmund dengan leluasa menjelajah deretan gigi Alia yang rapi.
Ciuman itu turun ke leher.
Edmund membawa Alia hingga tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur.
Entah sejak kapan Alia dan Edmund berada diatas tempat tidur. Seingat Alia, dia sedang berada dibalik tenda dan sedang memperhatikan Devian pergi.
" Katakan apa yang ingin kau katakan?" Tanya Edmund.
" Apa?" Tanya Alia tidak mengerti.
" Bukankah kau mengatakan ingin sesuatu. Dan kenapa kau terlihat terkejut dengan ciuman ku. Bukankah kita sudah sering melakukan nya?" Ucap Edmund.
Alia menatap Edmund, lalu tersenyum.
" Ini yang aku inginkan." Ucap Alia sambil memegang dada Edmund.
Edmund mundur, lalu membuka gesper nya dan meninggalkan celana panjang yang selalu dia kenakan.
Deg
Deg
Deg
Apa ini, apa aku kembali ke masa dimana aku meminta Edmund untuk datang dan menemani ku di malam kedua orang tuaku pergi untuk mengurus sesuatu?. batin Alia.
Edmund membuka pakaian dan tersenyum lalu Edmund kembali mendekati Alia.
Alia sontak mundur, dia ragu dengan Edmund yang ada di depannya.
Namun lain dengan Edmund yang langsung kembali ******* bibir Alia.
" Ed...."
Edmund tidak mengindahkan panggilan Alia. Tangganya mulai bergerak menelusuri tubuh Alia.
Alia mulai terbuai.
" Sentuh aku Edmund." Pekik Alia kemudian.
Edmund hendak menyentuh buah kenyal Alia.
Alia sudah memejamkan mata,
" Belum saatnya." Bisik Edmund kemudian bangkit dari tubuh Alia.
" Bukankah kita sudah menjadi tunangan?" Ucap Alia yang mulai mengerti jika dia kembali ke masa itu.
" Tunggulah satu minggu lagi setelah kita melakukan pemberkatan." Ucap Edmund.
" Pemanasan sedikit tidak apa apa ka?" Ucap Alia sambil meninggalkan pakaian yang tersisa.
Glek !!!
Sesuatu dibawah sana mengeras dan menegang dengan sempurna.
" Alia, kau sangat nakal." Ucap Edmund yang langsung kembali ******* bibir Alia.
Dan malam itu, mereka memadu kasih, memetik keindahan sebelum waktunya.
Alia begitu menikmati permainan dan sentuhan demi sentuhan Edmund. Dan melakukan pelepasan bersama.
" Aku mencintaimu." Bisik Edmund.
" Aku juga."
Mereka tertidur dengan posisi Edmund memeluk Alia dari belakang.
Tengah malam, Alia terbangun dan melihat Edmund masih tertidur pulas. Edmund tersenyum dan mencium sekilas bibir nya.
Alia berjalan menuju kamar mandi, dia melihat bagian dada yang padat berisi dengan tanda cinta dari Edmund.
Alia memejamkan mata, seperti mencoba mengingat peraduan mereka semalam.
Alia seperti ingin mengulangi nya lagi dan lagi. Walaupun bagian inti nya terasa perih karena ini adalah kali pertama Alia melakukan nya. Tapi nyatanya Alia menginginkan nya lagi dan lagi.
Alia lalu mendekati Edmund, dan memberinya kejutan.
" Hmmphh.." Edmund mende_sah dalam mata tertutup. Alia tersenyum karena melihat Edmund masih mengira bahwa yang tengah Alia lakukan adalah mimpi.
" Damn Hmshit." Pekik Edmund saat Alia memperkeras hisapannya dan langsung membuka mata.
" Kejutan." Ucap Alia.
Edmund tersenyum dan kembali mengulang peraduan mereka.
Pagi harinya...
Alia tersenyum dan merasakan kehangatan yang begitu hangat.
Dia melihat Edmund masih memeluk nya dengan posisi kedua tangannya memegang adik kembar Alia.
Alia menutupi tubuhnya dengan selimut dan membuka tirai, membiarkan sinar matahari pagi menerpa tubuhnya.
Hangat !!!
Alia tersenyum, dan menyadari selama ini pikiran yang selalu teringat Devian hanya perasaan sesaat, mungkin karena sebelumnya pernah terjadi hubungan cinta diantara keduanya.
Tapi, setelah menyatu dengan Edmund membuat Alia sadar bahwa hubungan nya dengan Devian memang sepantasnya berakhir, karena manusia dan vampire tidak ada pernah bisa bersatu dan bersama.
" Sayang...."
Alia tersenyum dan membuka mata saat Edmund mencium bahunya.
__ADS_1
" Hai..." Sapa Alia.
" Apa tidurmu menyenangkan?" Tanya Edmund.
Alia mengangguk dan tersenyum.
" Sangat menyenangkan."
" Pergilah mandi, karena aku juga harus bersiap sebelum orang tuamu menyadari bahwa aku menginap di sini dan memanen madu sebelum pernikahan." Ucap Edmund sambil meninggalkan satu tanda kepemilikan di bahu Alia.
" Sebenarnya.... Orang tua ku akan pulang malam nanti. " Ucap Alia sambil memejamkan mata, menikmati kecupan Edmund.
" Karena itu aku memintamu datang." Pekik Alia.
" Jadi kau membuat ku cemas saat kau tiba tiba menghubungi ku humb???" Ucap Edmund sambil menarik paksa selimut Alia.
" Dan menggodaku sehingga aku terpaksa unboxing lebih awal." Imbuh Edmund sambil memberikan tatapan tajam.
"Ups, maaf." Ucap Alia sambil mundur , namun sayang, dibelakangnya adalah jendela dan Alia tidak bisa kemana mana.
" Ed, kenapa kau menatapku begitu?" Tanya Alia saat melihat sorot mata tajam Edmund.
" Aku akan menghukum mu ..."
" Apa, tapi.. Mmph."
Edmund langsung membungkam mulut Alia dengan bibirnya.
" Ini untuk hukuman karena berani membangkitkan gairahku." Ucap Edmund sambil kembali memberikan sentuhan ajaibnya kepada Alia.
" Aku siap."
Satu Minggu kemudian....
Pernikahan Edmund dan Alia digelar sangat meriah. Mereka menjadi raja dan ratu selama semalaman penuh.
Dan malam harinya mereka menghabiskan waktu untuk tidur, mengumpulkan tenaga, karena sepanjang malam mereka hampir tidak bisa duduk mengingat banyaknya tamu undangan.
Diluar kamar rumah Alia, kedua orang tua Alia dan Edmund sedang menguping.
Mereka sepertinya menunggu suara khas ketika seseorang sedang unboxing pertama.
" Kenapa senyap?" Ucap Albert
" Apa kamar Alia dilengkapi dengan kedap suara?" Papi Edmund.
" Tidak mungkin, kamar Alia adalah kamar pada umumnya yang tidak dilengkapi mode kedap suara. Jadi seharusnya jika mereka melakukan unboxing akan bisa terdengar dengan jelas dari sini." Ucap Emery.
" Tapi Kenapa sedari tadi kita tidak mendengar apapun?, apa mereka melakukannya di kamar mandi?" Ucap mami Edmund.
" Hmm, mungkin saja." Ucap Emery sambil mencoba membuka gagang pintu dengan perlahan.
Ceklek....
" Astaga pintu nya tidak dikunci." Ucap Emery.
" Ckckck, bagaimana bisa anak-anak teledor sehingga tidak menutup pintu di malam unboxing mereka?" Ucap Albert tentunya dengan suara lirih karena takut Alia dan Edmund mendengar mereka.
" Apa tidak apa apa, mengintip malam unboxing mereka?" Ucap mami.
" Kita tidak mengintip hanya memastikan mereka sedang bermain di atas tempat tidur atau di dalam kamar mandi." Ucap papi.
Mereka berempat kemudian mengendap-ngendap berjalan menuju kamar Alia.
Lampu gelap, Hanya menyisakan lampu tidur yang membuat pandangan mereka terbatas.
" Zzzzz....."
" Aku mendengar nya..."
" Zzzzzzzzzzzz....."
" Aku juga."
Karena semakin penasaran dengan suara yang tidak biasa. Mereka mencoba mengedarkan pandangan mencari keberadaan Aliyah dan Edmund.
Dan...
Tentu saja mereka terkejut karena mendapati Alia sedang tidur di atas tempat tidur sambil mendengkur, sementara Edmund tidur di sofa.
Mereka berempat saling berpandangan sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar.
" Apa mereka tidak tahu caranya unboxing?"
Tiba tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran tetua.
" Apa yang sedang kalian lakukan?"
" Tetua?" Semua orang berpandangan lalu tetua meniupkan sesuatu yang membuat mereka semua tertidur.
Dengan kekuatan ajaib. Tetua membuat semuanya melayang dan kembali ke kamar masing-masing
Tetua lalu berjalan mendekati Alia dan berkata.
" Alia, kau harus bisa menemukan jalan untuk kembali ke masa mu sendiri. Pilihan mu yang memilih untuk menjadi manusia biasa dan membangkitkan kembali Devian telah membuat waktu menjadi kacau. Kau kini terjebak di tengah tengah dunia masa lalu dan masa depan. Ingatlah Alia jangan terlalu terbuai dengan kisah yang kau ulang. Kau harus menemukan cara untuk bisa kembali ke masa mu sendiri."
Alia Langsung terbangun begitu mendengar suara tetua.
Alia melihat sekitar.
" Aku pikir aku sudah kembali ke masa ku sendiri. Tapi ternyata aku masih jauh dari masa ku sendiri." Ucap Alia.
Saat Alia bangkit, tiba-tiba angin kencang masuk ke dalam kamar, mengejutkan Alia
Angin dari luar itu masuk dan membentuk sebuah tornado kecil. Alia dengan sigap berdiri, bersiap akan sesuatu hal buruk yang mungkin terjadi atau saja itu adalah pintu menuju ke masa nya sendiri.
Tapi Alia salah.
Pusaran tornado itu perlahan memudar, dan siapa sangka yang ada dibalik itu adalah Devian.
" Devian.." Pekik Alia.
" Devian?"
" Alia, aku bisa datang kesini karena aku mendengar bisikanmu dan rasa penyesalan yang kau rasakan. Tapi maaf, Alam kita sudah berbeda." Ucap Devian seraya mengangkat tangan nya, hendak menyentuh wajah Alia.
" Alia, berjanjilah kau tidak akan pernah lagi menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi." Ucap Devian.
" Devian, aku...."
" Sttt, jangan berkata apa-apa lagi. Aku mohon, kau adalah manusia paling luar biasa yang pernah aku temui. Kau harus melanjutkan hidupmu. Jadilah manusia yang memiliki keberanian besar agar kau siap menjadi pelindung manusia yang lainnya."
" Devian, ijinkan aku memeluk mu untuk terakhir kalinya. Ijinkan aku melepaskan beban kerinduan yang telah lama bersemayam di dalam hati. Dan ijinkan aku memeluk mu untuk menebus rasa bersalah ku karena telah membuat diri mu tiada." Lirih Alia dalam deraian air mata.
" Apa kau masih ingat dengan kata kunci nya?"
__ADS_1
" Kata kunci apa?" Tanya Alia yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Devian.
" Saat kau ingin mencoba mencari tahu sebuah kebenaran. Apa kata kunci yang harus kau tahu dan rasakan agar bisa mendapatkan nya?"
" Keinginan dan harapan." Ucap Alia.
" Sekarang cobalah itu padaku."
" Tapi, hal itu hanya berlaku saat aku akan membuka kunci dari buku yang berisi tentang Valkyrie Light."
" Alia, kau adalah Valkyrie Light itu. Semua pengetahuan ada dan mengalir dalam darah mu. Hanya saja mungkin kau masih harus banyak belajar tentang tata cara menggunakan nya. Percaya lah, dengan niat tulus, keinginan dan harapan, kau akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan."
" Aku tidak yakin aku bisa melakukannya."
" Cobalah, dan lihat sendiri keajaiban yang akan kau ciptakan." Ucap Devian meyakinkan Alia, karena sesungguhnya Devian juga sangat merindukan Alia dan ingin memeluk nya untuk terakhir kali agar jiwa Devian dapat pergi ke alam yang jauh dibawah sana.
Selama ini raga Devian memang sudah hancur, tapi jiwa nya tidak bisa pergi dari dunia ini karena Alia masih belum mendapatkan kembali ingatannya dan Alia masih berada dalam lubang penyesalan.
Saat Alia mengatakan bahwa dia mencintai Devian, akhirnya Devian dapat hadir dihadapan Alia.
" Pejamkan matamu, dan tata niat atas apa yang kau inginkan. Ingat, tetaplah dalam zona tenang." Ucap Devian.
Alia menghela nafas dan memejamkan mata. Hati dan pikirannya tertuju pada satu keinginan. Yaitu dapat bersama Devian untuk hari ini saja, guna melepaskan beban penyesalan dan kerinduan.
Tiba-tiba Alia merasa dirinya berada di sebuah Padang yang luas, lalu dua orang yang dulunya adalah pemilik dari kekuatan yang kini berada di dalam darah Alia berjalan mendekati Alia dan berkata,
" Sebelum nya tidak pernah ada dalam sejarah kami. Seorang manusia meminta agar seorang vampir dibangkitkan kembali dalam waktu yang singkat. Tapi karena niatmu tulus maka aku akan mengizinkanmu untuk bersama dengan Devian dalam waktu semalam. Gunakanlah waktumu dengan Devian baik mungkin. Karena setelah matahari terbit lagi maka Devian tidak akan ada di dunia mulai baik raga maupun jiwanya."
Cahaya terang kemudian menyilaukan pandangan Alia. Lalu Alya merasakan ada tangan lain yang menyentuh tangannya. Perlahan Alia membuka mata, dan pemandangan yang ada di hadapannya benar-benar membuat Alia bisa tersenyum.
Perlahan raga Devian terbentuk sempurna dan kedua insan itu kini saling berpelukan.
" Devian."
" Alia, kau berhasil. Kau membuat para leluhurmu mengizinkan aku untuk berada di dunia ini walaupun untuk satu malam."
" Oh Devian, Maafkan aku seandainya saja aku dapat membedakan mandi dirimu dan juga mana Gabriel. Pasti saat itu aku akan memisahkan raga kalian sebelum aku menghancurkan Gabriel."
" Sudah lah, Jangan pernah lagi menyesali apa yang sudah terjadi."
" hiks hiks..." Alia menangis dalam pelukan Devian.
Devian tersenyum dan mendekat erat tubuh Aliya. Manusia pertama yang membuat Devian merasakan cinta.
" Alia..." Panggil Devian setelah mereka cukup lama saling berpelukan.
" Ya?" Alia melepas pelukannya dan menatap Devian.
" Dari dulu aku selalu ingin melakukan sesuatu terhadapmu."
" Apa itu?"
" Aku ingin mencium mu, bolehkah?"
Alia memandang wajah Devian, sebelum akhirnya mengangguk. Devian tersenyum. Dia mulai memegang kedua pipi Alia, dan mendekatkan bibirnya.
Dekat....
Dekat....
Dekat....
Sangat dekat, dan....
Brak !!!
Mereka berdua terjatuh di atas sofa.
Devian dan Alia yang hampir saja menyatukan bibirnya.
" Devian, kau hidup?" Ucap Alia ketika dia mulai sadar.
" Tentu saja.Tapi ini hanya akan bertahan untuk satu malam saja. Dan aku ingin menghabiskannya untuk bersama mu." Ucap Devian yang sudah mencium Alia.
Rasa canggung tiba-tiba tercipta di antara Alia dan Devian ketika mereka selesai bercumbu.
" Kau mau jalan-jalan?" Tanya Devian yang memecah keheningan di antara mereka.
" Baiklah, lagi pula aku sudah lama tidak merayap dari satu pohon ke pohon yang lain." Ucap Alia.
" Kalau begitu ayo."
Alia sudah setiap dan naik di punggung Devian. Devian membuka jendela dan saat Devian akan terbang ke pohon. Alia melihat Marcel dan beberapa orang yang lain.
" Devian tunggu, sebaiknya kita tetap berada di sini." Ucap Alia.
" Kenapa?"
" Masuk saja. Tiba tiba Aku merasa bahwa lebih baik kita menghabiskan waktu di kamar ini saja untuk mengenang apa-apa saja yang pernah kita lalui saat aku berada di sini."
" Bukankah tadi kau bilang bahwa kau rindu merayap dari satu pohon ke pohon yang lain?" Tanya Devian.
Alia menatap Devian sepertinya Devian tidak lagi bisa membaca ataupun mendengar pikiran dari orang lain. Itu mungkin karena sebenarnya Devian telah tiada, jadi yang hadir sekarang hanyalah raga dan jiwa Devian tanpa kekuatan yang pernah dimiliki Devian yang sebelumnya.
Alia turun dari gendongan Devian dan membalikkan tubuh Devian. Dipegangnya kedua pipi Devian.
" Bukankah kau ingin merasakan sesuatu yang selalu ingin kau lakukan dengan ku?" Ucap Alia.
Devian tersenyum dan berjalan maju, satu tangannya menutup kembali jendela.
Alia berpikir kenapa Marcel juga ikut datang kemari beserta beberapa pasukan.
" Apa mungkin Edmund yang mengajak mereka?, atau Marcel sendiri yang sengaja datang ke sini untuk melindungi. Karena bagaimanapun Forks adalah kota yang terkenal dengan banyaknya makhluk lain yang tinggal di sini." Pikir Alia.
" Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Devian.
" Tidak ada, aku hanya berpikir bagaimana untuk menghentikan waktu hari ini. Karena bagiku waktu satu malam tidak cukup untuk melepaskan rindu dan juga penyesalan atas apa yang telah aku lakukan." Ucap Alia berbohong.
Devian tersenyum dan mendekati Alia. Alia menatap wajah Devian. Di usapnya kedua pipi Devian.
" Aku mencintaimu..." Ucap Alia refleks saat dirinya tengah memandangi wajah Devian.
Devian yang seolah-olah sudah sangat penasaran dengan rasa bibir, segera mendekatkan bibirnya.
Cup
Akhirnya mereka melakukan penyatuan bibir. Devian yang sebelumnya tidak pernah mengerti rasa bibir membuat nya begitu menikmati civman itu. Perlahan Devian memundurkan Alia, hingga Alia jatuh duduk di atas sofa.
" Jadilah milikku Alia.." Bisik Devian
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...