Rahasia Cinta Alia

Rahasia Cinta Alia
Panggilan tetua


__ADS_3

Tetua berjalan mendekati Alia dan berkata.


" Alia, kau harus bisa menemukan jalan untuk kembali ke masa mu sendiri. Pilihan mu yang memilih untuk menjadi manusia biasa dan membangkitkan kembali Devian telah membuat waktu menjadi kacau. Kau kini terjebak di tengah tengah dunia masa lalu dan masa depan. Ingatlah Alia jangan terlalu terbuai dengan kisah yang kau ulang. Kau harus menemukan cara untuk bisa kembali ke masa mu sendiri."


Alia Langsung terbangun begitu mendengar suara tetua.


Alia melihat sekitar.


" Aku pikir aku sudah kembali ke masa ku sendiri. Tapi ternyata aku masih jauh dari masa ku sendiri." Ucap Alia.


Saat Alia bangkit, tiba-tiba angin kencang masuk ke dalam kamar, mengejutkan Alia


Angin dari luar itu masuk dan membentuk sebuah tornado kecil. Alia dengan sigap berdiri, bersiap akan sesuatu hal buruk yang mungkin terjadi atau saja itu adalah pintu menuju ke masa nya sendiri.


Tapi Alia salah.


Pusaran tornado itu perlahan memudar, dan siapa sangka yang ada dibalik itu adalah Devian.


" Devian.." Pekik Alia.


" Devian?"


" Alia, aku bisa datang kesini karena aku mendengar bisikanmu dan rasa penyesalan yang kau rasakan. Tapi maaf, Alam kita sudah berbeda." Ucap Devian seraya mengangkat tangan nya, hendak menyentuh wajah Alia.


" Alia, berjanjilah kau tidak akan pernah lagi menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi." Ucap Devian.


" Devian, aku...."


" Sttt, jangan berkata apa-apa lagi. Aku mohon, kau adalah manusia paling luar biasa yang pernah aku temui. Kau harus melanjutkan hidupmu. Jadilah manusia yang memiliki keberanian besar agar kau siap menjadi pelindung manusia yang lainnya."


" Devian, ijinkan aku memeluk mu untuk terakhir kalinya. Ijinkan aku melepaskan beban kerinduan yang telah lama bersemayam di dalam hati. Dan ijinkan aku memeluk mu untuk menebus rasa bersalah ku karena telah membuat diri mu tiada." Lirih Alia dalam deraian air mata.


" Apa kau masih ingat dengan kata kunci nya?"


" Kata kunci apa?" Tanya Alia yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Devian.


" Saat kau ingin mencoba mencari tahu sebuah kebenaran. Apa kata kunci yang harus kau tahu dan rasakan agar bisa mendapatkan nya?"


" Keinginan dan harapan." Ucap Alia.


" Sekarang cobalah itu padaku."


" Tapi, hal itu hanya berlaku saat aku akan membuka kunci dari buku yang berisi tentang Valkyrie Light."


" Alia, kau adalah Valkyrie Light itu. Semua pengetahuan ada dan mengalir dalam darah mu. Hanya saja mungkin kau masih harus banyak belajar tentang tata cara menggunakan nya. Percaya lah, dengan niat tulus, keinginan dan harapan, kau akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan."


" Aku tidak yakin aku bisa melakukannya."


" Cobalah, dan lihat sendiri keajaiban yang akan kau ciptakan." Ucap Devian meyakinkan Alia, karena sesungguhnya Devian juga sangat merindukan Alia dan ingin memeluk nya untuk terakhir kali agar jiwa Devian dapat pergi ke alam yang jauh dibawah sana.


" Devian."


Devian tersenyum. Dia mulai memegang kedua pipi Alia, dan mendekatkan bibirnya.


Dekat....


Dekat....


Dekat....


Sangat dekat, dan....


Brak !!!


Mereka berdua terjatuh di atas sofa.


Devian dan Alia yang hampir saja menyatukan bibirnya.


" Devian, kau hidup?" Ucap Alia ketika dia mulai sadar.


" Tentu saja. Aku masih hidup Dan aku akan menghabiskan waktu bersama mu." Ucap Devian yang sudah mencium Alia.


Rasa canggung tiba-tiba tercipta di antara Alia dan Devian ketika mereka selesai bercumbu.


" Bukankah kau ingin merasakan sesuatu yang selalu ingin kau lakukan dengan ku?" Ucap Devian yang membuat Alia terkejut.


Devian tersenyum dan berjalan maju, satu tangannya menutup kembali jendela yang terbuka karena angin.


Alia melihat sekitar, dia tidak ingat ini dimana. Ini seperti di sebuah vila atau rumah yang ada di pegunungan.


" Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Devian.


" Tidak ada, aku hanya berpikir bagaimana untuk menghentikan waktu hari ini. Karena aku masih tidak mengerti kenapa kita ada disini." Ucap Alia .


Devian tersenyum dan mendekati Alia. Alia menatap wajah Devian. Di usapnya kedua pipi Devian.


" Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Karena itu kita ada disini.." Ucap Devian saat dirinya tengah memandangi wajah Alia.


Devian yang seolah-olah sudah sangat candu dengan rasa bibir Alia, segera mendekatkan bibirnya.


Cup


Akhirnya mereka melakukan penyatuan bibir. Devian yang sebelumnya tidak pernah mengerti rasa bibir membuat nya begitu menikmati civman itu. Perlahan Devian memundurkan Alia, hingga Alia jatuh duduk di atas sofa.


" Jadilah milikku Alia.." Bisik Devian


Alia sontak terkejut, dia ragu dengan Devian yang ada di depannya. Devian yang lepas kendali.


Namun lain dengan Devian yang langsung kembali ******* bibir Alia. Membuat Alia tidak berkutik.


" Devian...."


Devian tidak mengindahkan panggilan Alia. Tangganya mulai bergerak menelusuri tubuh Alia.


Alia mulai terbuai.


" Stop Devian." Pekik Alia kemudian.

__ADS_1


Devian terus menjelajah tubuh Alia yang masih berpakaian lengkap.


" Belum saatnya." Bisik Alia yang mencoba bangkit dari tubuh Devian.


" Bukankah kita sudah menjadi tunangan?" Ucap Devian yang membuat Alia semakin tidak mengerti.


" Devian.. Akh.." Alia kembali terkejut saat Devian merobek pakaian nya.


" Pemanasan sedikit tidak apa apa ka?" Ucap Devian sambil meninggalkan pakaian yang tersisa.


Glek !!!


Sesuatu dibawah sana mengeras dan menegang dengan sempurna.


" Devian, kau sangat nakal." Ucap Alia yang langsung syok saat Devian ******* leher Alia dengan rakus


Dan malam itu, mereka memadu kasih, memetik keindahan. Alia begitu terbuai hingga dirinya mereka senjata Devian menusuk dirinya.


Alia begitu menikmati permainan dan sentuhan demi sentuhan Devian. Dan melakukan pelepasan bersama.


" Aku mencintaimu." Bisik Devian.


" Aku juga."


Mereka tertidur dengan posisi Devian memeluk Alia dari belakang.


Tengah malam, Alia terbangun dan melihat Devian masih tertidur pulas. Alia tersenyum dan mencium sekilas bibir Devian.


Alia berjalan menuju kamar mandi, dia melihat bagian dada yang padat berisi dengan tanda cinta dari Devian.


Alia memejamkan mata, seperti mencoba mengingat peraduan mereka semalam.


Alia seperti ingin mengulangi nya lagi dan lagi. Walaupun bagian inti nya terasa perih karena ini adalah kali pertama Alia melakukan nya. Tapi nyatanya Alia menginginkan nya lagi dan lagi.


Alia lalu mendekati Devian, tiba-tiba Alia teringat bahwa Devian adalah seorang vampir. Tapi Kenapa Devian yang justru bertindak seperti manusia. Bahkan saat percintaan, Alia melihat Devian memejamkan mata seolah-olah menikmati permainan mereka. Devian juga berkeringat.


" Hmmphh.." Devian mende_sah dalam mata tertutup. Alia tersenyum karena melihat Devian masih mengira bahwa yang tengah Alia lakukan adalah mimpi.


" Damn Hmshit." Pekik Devian saat Alia menyentuh miliknya dan langsung membuka mata.


" Devian kau terbangun.." Ucap Alia.


Devian tersenyum dan kembali mengulang peraduan mereka.


Pagi harinya...


Alia tersenyum dan merasakan kehangatan yang begitu hangat. Namun saat Alia membuka mata, yang ada disampingnya adalah Edmund.


Dia melihat Edmund masih memeluk nya dengan posisi kedua tangannya memegang adik kembar Alia.


Alia menutupi tubuhnya dengan selimut dan membuka tirai, membiarkan sinar matahari pagi menerpa tubuhnya.


Hangat !!!


Alia tersenyum, dan menyadari selama ini pikiran yang selalu teringat Devian hanya perasaan sesaat, mungkin karena sebelumnya pernah terjadi hubungan cinta diantara keduanya.


" Sayang...."


Alia tersenyum dan membuka mata saat Edmund mencium bahunya.


" Hai..." Sapa Alia.


" Apa tidurmu menyenangkan?" Tanya Edmund.


Alia mengangguk dan tersenyum.


" Sangat menyenangkan."


" Pergilah mandi, karena aku juga harus bersiap sebelum orang tuamu menyadari bahwa aku menginap di sini dan memanen madu sebelum pernikahan." Ucap Edmund sambil meninggalkan satu tanda kepemilikan di bahu Alia.


" Sebenarnya.... Orang tua ku akan pulang malam nanti. " Ucap Alia sambil memejamkan mata, menikmati kecupan Edmund.


" Karena itu aku memintamu datang." Pekik Alia.


" Jadi kau membuat ku cemas saat kau tiba tiba menghubungi ku humb???" Ucap Edmund sambil menarik paksa selimut Alia.


" Dan menggodaku sehingga aku terpaksa unboxing lebih awal." Imbuh Edmund sambil memberikan tatapan tajam.


"Ups, maaf." Ucap Alia sambil mundur , namun sayang, dibelakangnya adalah jendela dan Alia tidak bisa kemana mana.


" Ed, kenapa kau menatapku begitu?" Tanya Alia saat melihat sorot mata tajam Edmund.


" Aku akan menghukum mu ..."


" Apa, tapi.. Mmph."


Edmund langsung membungkam mulut Alia dengan bibirnya.


" Ini untuk hukuman karena berani membangkitkan gairahku." Ucap Edmund sambil kembali memberikan sentuhan ajaibnya kepada Alia.


" Aku siap."


Edmund langsung menyerang Alia dengan sangat brutal. Alia sangat kewalahan menghadapi Edmund.


" Ed, kau saat kasar."


" Aku Devian, kenapa kau memanggilku Edmund?"


Alia terkejut. Dia berusaha melepaskan diri namun Devian menggempurnya semakin keras. Alia yang tidak kuasa memilih memejamkan mata sambil meremas sprei.


" Devian...." Pekik Alia saat merasakan milik Devian masuk sangat dalam.


Goyangan berhenti.


" Alia, kenapa kau menyebutku Devian?. Aku Edmund." Ucap Edmund.


Alia membuka mata. Kali ini yang ada dihadapan benar benar Edmund.

__ADS_1


" Maaf." Ucap Alia.


Edmund pergi dari tubuh Alia.


Alia merasa bersalah, dengan cepat Alia memeluk Edmund dari belakang dan mengocok batang Edmund.


" Maafkan aku. Aku hanya sedang berada dalam masa dimana aku tidak dapat membedakan antara kenyataan dan halusinasi." Ucap Alia.


Edmund berbalik badan dan tersenyum smirk. Dia langsung menggendong tubuh Alia dan menancapkan miliknya.


" Kau milikku Alia. Hanya milikku." Ucap Edmund sambil bermain permainan panas dengan posisi berdiri.


Alia melihat dari kamar luar, kedua orang tua Alia dan Edmund sedang menguping.


Mereka sepertinya menunggu suara khas ketika seseorang sedang unboxing pertama.


" Kenapa senyap?" Ucap Albert


" Apa kamar Alia dilengkapi dengan kedap suara?" Papi Edmund.


" Tidak mungkin, kamar Alia adalah kamar pada umumnya yang tidak dilengkapi mode kedap suara. Jadi seharusnya jika mereka melakukan unboxing akan bisa terdengar dengan jelas dari sini." Ucap Emery.


" Tapi Kenapa sedari tadi kita tidak mendengar apapun?, apa mereka melakukannya di kamar mandi?" Ucap mami Edmund.


" Hmm, mungkin saja." Ucap Emery sambil mencoba membuka gagang pintu dengan perlahan.


Ceklek....


" Astaga pintu nya tidak dikunci." Ucap Emery.


" Ckckck, bagaimana bisa anak-anak teledor sehingga tidak menutup pintu di malam unboxing mereka?" Ucap Albert tentunya dengan suara lirih karena takut Alia dan Edmund mendengar mereka.


" Apa tidak apa apa, mengintip malam unboxing mereka?" Ucap mami.


Alia benar benar dapat melihatnya walaupun dirinya masih beradu panas dengan Edmund.


Kini Edmund langsung menjatuhkan diri Alia ke atas sofa.


Pergulatan panas masih terjadi.


" Kita tidak mengintip hanya memastikan mereka sedang bermain di atas tempat tidur atau di dalam kamar mandi." Ucap papi.


Mereka berempat kemudian mengendap-ngendap berjalan menuju kamar Alia.


Lampu gelap, Hanya menyisakan lampu tidur yang membuat pandangan mereka terbatas.


" Kenapa tidak ada suara?" Ucap Albert.


" Hmmm hmmm....."


" Aku mendengar nya...


" Mendengar apa?"


" hmmmmmhmmm....."


" Aku juga."


" Aku tidak dengar." Ucap papi.


Karena semakin penasaran dengan suara yang tidak biasa. Mereka mencoba mengedarkan pandangan mencari keberadaan Aliyah dan Edmund.


Dan...


Tentu saja mereka terkejut karena mendapati Alia sedang tidur di atas tempat tidur sambil mendesah, sementara Edmund terus menggempur nya.


Glek !!!!


Mereka menelan ludahnya


Mereka berempat saling berpandangan sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar.


" Apa mereka tidak tahu cara mengunci pintu dan menekan tombol kedap suara?"


Tiba tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran tetua.


" Apa yang sedang kalian lakukan?"


" Tetua?" Semua orang berpandangan lalu tetua meniupkan sesuatu yang membuat mereka semua tertidur.


Dengan kekuatan ajaib. Tetua membuat semuanya melayang dan kembali ke kamar masing-masing


Tetua melihat ke arah Alia yang masih digempur oleh Edmund.


Alia ingin berkata sesuatu tapi tiba-tiba suaranya menghilangkan.


"Kembali lah Alia. Kau sudah pergi terlalu jauh. Kau terus mengulang kisahmu." Ucap tetua sebelum menghilang.


Alia menatap Edmund.


Edmund tersenyum dan masih terus melakukan aksinya.


" Seseorang tolong aku ..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2