
" Alice, aku sudah melalui banyak hal. Aku selalu banyak bermain-main sehingga Aku terjebak di dunia yang aku sendiri tidak tahu berada di mana. Sesekali aku berada di masa lalu kemudian di masa depan sehingga aku merasa tidak berada di antara keduanya. Aku harap setelah kamu menerima pesanku ini kamu akan dapat membantuku untuk kembali ke masa ku sendiri." Ucap Alia dalam nadi Devian.
Alia kemudian meniupkan angin di wajah Devian.
Perlahan, Devian mulai membuka mata.
" Devian, kau sudah sadar?" Tanya Alice saat melihat Devian membuka mata.
" Apa yang terjadi?, kenapa aku bisa tidak sadarkan diri?. Apa seorang vampir bisa tidak sadarkan diri?" Tanya Devian.
" Ya, bukankah kau habis berkelahi?" Tanya Alice.
" Berkelahi?. benarkah?. Tapi Kenapa aku tidak ingat?, Ya, walaupun aku merasa seperti aku bangkit kembali dari kematian." Ucap Devian.
Kau memang terbangkit kembali dari kematian Devian. Hanya saja kau tidak menyadari itu. Alia telah mengorbankan cintanya dan juga tanggung jawabnya yang besar demi bisa membuatmu bangkit kembali. Batin Alice.
" Dimana yang lain?" Tanya Devian.
" Mungkin sedang berburu dan aku yakin mereka akan kembali beberapa saat lagi."
Devian meregangkan seluruh tubuhnya. Dia benar-benar merasa seolah dirinya pernah mati.
" Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alice yang saat itu bisa mendengar apa yang sedang dipikirkan oleh Devian.
" Ya. Hanya saja, ah lupakan. Bisakah aku kembali ke kamarku?" Tanya Devian.
" Tentu saja." Ucap Alice.
Devian segera masuk ke dalam kamarnya. Disana, Devian mengelilingi seluruh kamarnya mengobrak-abrik seluruh barang-barangnya. Entah Apa yang sedang Devian lakukan, dia seperti sedang mencari sesuatu tapi tidak ada yang tahu itu hingga tidak sengaja mata Devian melihat sebuah foto.
Devian memandangi foto itu sebelum akhirnya membawa foto itu kepada Alice.
" Alice, Apa kau tahu siapa ini?" Tanya Devian sambil menunjukkan sebuah foto.
Deg !!!
" Dari mana kau dapatkan foto ini?" Ucap Alice sambil meraih foto yang tidak lain milik Alia.
" Aku tidak tahu, foto ini ada di dalam kamar ku."
" Apa kau tidak ingat ini?" Tanya Alice yang mencoba memancing ingatan Devian.
" Tidak, memangnya dia siapa?"
" Dia adalah wanita yang dulu tinggal disini." Ucap Alice.
" Benarkah?, Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat nya?" Pekik Devian.
" Ah sudahlah. Apa kau mau berburu dan menyusul anggota keluarga yang lain?" Tawar Alice.
" Tentu."
Devian lebih dulu keluar rumah. Sementara Alice melihat foto Alia, sebelum akhirnya menggunakan kekuatannya untuk membakar foto Alia.
Semoga setelah ini kau menemukan cinta sejati. Batin Alice sambil mengejar Devian.
Semua keluarga Devian bahagia saat melihat Devian sudah tersadar. Dan seperti Devian. Tidak ada yang menyadari bahwa sebelumnya Devian mengenal Alia dan pernah menjadi saksi dari cinta mereka berdua.
Keluarga Charlie kembali seperti sebelumnya. Menjalani aktivitas seperti biasa.
Devian.
Tentu saja dia sendiri. Tidak berniat mencari pasangan seperti saudaranya yang lain. Karena memang telah ditakdirkan bahwa Devian akan menjalin cinta terlarang dengan yang terpilih.
Edmund dan Alia kini telah berada di salah satu toko perhiasan.
Setelah memilih cincin yang tepat. Mereka menghabiskan waktu berdua dengan jalan jalan dan menonton bioskop.
Edmund sangat menikmati hari hari bersama dengan Alia. Tapi tidak sebaliknya.
Alia justru mengingat akan Devian. Tiba-tiba saja, hatinya seolah-olah meronta ronta ingin bertemu Devian.
Tapi, itu tidak mungkin. Devian tidak akan mengenali Alia, bahkan mungkin Devian bisa saja langsung memakan Alia karena Alia adalah manusia. Atau mungkin, Devian akan menghindari Alia, karena memang vampire seperti Devian dan keluarganya, yang mengklaim mereka sebagai vampir vegetarian. Tidak akan pernah berurusan dengan manusia.
Karena itu, mereka tinggal di hutan, sehingga tidak akan ada yang menyadari bahwa mereka sebenarnya seorang vampir.
" Alia, apa yang sedang kau pikirkan?, apa kau tidak suka film yang sedang kita tonton?" Tanya Edmund.
" Tidak, aku hanya tidak percaya jika sebentar lagi kita akan menjadi pasangan." Ucap Alia sambil tersenyum.
Edmund menarik Alia agar dirinya bersandar pada nya.
Cup
Edmund mengecup kening Alia. Dipegangnya tangan Alia.
" Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Tapi percayalah cintaku begitu besar dan aku yakin kita akan saling mencintai dan menjaga satu sama lain." Ucap Edmund.
Alia menatap Edmund. Tanpa basa-basi lagi Edmund menyambar bibir Alia.
Bukannya mengingat moment saat dirinya dan Edmund melakukan ciuman. Alia justru mengingat saat dia menghabiskan waktu semalam bersama dengan Devian.
Alia langsung melepaskan diri dari Edmund.
" Ini tempat umum." Bisik Alia kepada Edmund.
Edmund hanya tersenyum kemudian mencium kening Alia
Alia menyandarkan kepalanya di bahu Edmund.
Mereka menikmati acara bioskop. Walaupun Alia masih terus saja memikirkan tentang Devian.
Satu Minggu kemudian,...
Alia dan Edmund sudah resmi menjadi tunangan
" Selamat ya sayang." Ucap Emery
" Terima kasih ma." Ucap Alia.
" Semoga setelah ini kamu akan menjadi istri yang baik untuk suami mu." Ucap Emery.
Alia hanya tersenyum, sambil melihat Edmund yang kini menjadi tunangan nya.
Malam harinya, Alia tidak bisa tidur. Dia berdiri di balkon kamarnya. Menikmati cahaya rembulan sambil memandang cincin yang melingkar di jari manisnya.
" Aku sudah menjadi milik Edmund. Tapi kenapa hati dan pikiran ku tertuju pada Devian." Pekik Alia
__ADS_1
Alia juga tidak habis pikir kenapa dia masih mengingat tentang dirinya yang sebelumnya mengemban tanggung jawab sebagai Valkyrie Light. Kenapa dia tidak bisa melupakan kejadian itu sama seperti semua orang yang melupakan bahwa Alia sebelumnya adalah yang terpilih.
Ini sungguh menyiksa Aliya, terutama saat dia menyadari bahwa Devian kini telah bangkit.
Alia tidak bisa membohongi hatinya, Devian adalah Cinta pertamanya. Walaupun sebelumnya Alya telah melupakan Devian, tapi kembali ke masa lalu dan memperbaiki keadaan itu justru membuat Alia membuka kembali kisah cintanya dan perasaan yang ada padanya.
" Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak boleh memikirkan pria lain sementara aku sudah menjadi milik Edmund. Aku harus melakukan sesuatu."
Alia mengambil ponselnya dan menghubungi Edmund.
Edmund yang berada di markas langsung meluncur menemui Alia.
" Ada apa?, apa semuanya baik-baik saja?." Ucap Edmund saat dia baru tiba kamar Alia.
Alia tersenyum dan berjalan mendekati Edmund
" Aku hanya takut sendirian di rumah, kamu tahu kan, orang tuaku pergi untuk urusan yang aku sendiri tidak tahu dan tidak ingin tahu."
" Ohya, Sejak kapan Aliya yang pemberani menjadi penakut?" Tanya Edmund sambil tersenyum dan memeluk pinggang Alia.
" Sejak menjadi tunangan mu." Bisik Alia yang mengalungkan tangannya ke leher Edmund.
Alia kemudian teringat bahwa dirinya pernah melakukan sesuatu yang memicu hasrat sek sual dengan Edmund.
Alia mendekatkan wajahnya ke wajah Edmund.
Dekat....
Dekat....
Dekat....
Cup
Bibir mereka menyatu.
Perlahan...
Pelan....
Ciu man itu berubah menjadi lautan hasrat yang membara untuk keduanya.
Edmund mengunci pintu kamar Alia dan mengaktifkan mode kedap suara.
Alia melepaskan diri dari Edmund. Dia berjalan menuju jendela kamar yang sudah tertutup namun dengan tirai yang masih terbuka.
Edmund melepaskan jas dan berjalan mendekati Alia.
Cup
Satu tanda tercipta di bahu Alia.
Edmund menurunkan gaun Alia.
Disentuhnya punggung mulus milik Alia.
Alia langsung berbalik.
" Ed...." Panggil Alia
" Ya???..." Jawap Edmund sambil melepas tali hingga gaun Alia jatuh ke lantai. Kini Alia hanya mengenakan dress mini yang menutupi dada dan bagian sensitifnya.
" Aku...."
Tanpa aba-aba lagi, Edmund langsung mencium bibir Alia.
Ciuman itu turun ke leher.
Edmund membawa Alia hingga tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur.
" Katakan apa yang ingin kau katakan?" Tanya Edmund.
Alia menatap Edmund, lalu tersenyum.
" Ini yang aku inginkan." Ucap Alia sambil membuka gesper Edmund.
Edmund tersenyum lalu kembali ******* bibir Alia.
" Sentuh aku Edmund." Pekik Alia.
Edmund hendak menyentuh buah kenyal Alia.
Alia sudah memejamkan mata,
" Belum saatnya." Bisik Edmund kemudian bangkit dari tubuh Alia.
" Bukankah kita sudah menjadi tunangan?"
" Tunggulah satu minggu lagi setelah kita melakukan pemberkatan." Ucap Edmund.
" Pemanasan sedikit tidak apa apa ka?" Ucap Alia sambil meninggalkan pakaian yang tersisa.
Glek !!!
Sesuatu dibawah sana mengeras dan menegang dengan sempurna.
" Alia, kau sangat nakal." Ucap Edmund yang langsung kembali ******* bibir Alia.
Dan malam itu, mereka memadu kasih, memetik keindahan sebelum waktunya.
Alia begitu menikmati permainan dan sentuhan demi sentuhan Edmund. Dan melakukan pelepasan bersama.
" Aku mencintaimu." Bisik Edmund.
" Aku juga."
Mereka tertidur dengan posisi Edmund memeluk Alia dari belakang.
Tengah malam, Alia terbangun dan melihat Edmund masih tertidur pulas. Edmund tersenyum dan mencium sekilas bibir nya.
Alia berjalan menuju kamar mandi, dia melihat bagian dada yang padat berisi dengan tanda cinta dari Edmund.
Alia memejamkan mata, seperti mencoba mengingat peraduan mereka semalam.
Alia seperti ingin mengulangi nya lagi dan lagi. Walaupun bagian inti nya terasa perih karena ini adalah kali pertama Alia melakukan nya. Tapi nyatanya Alia menginginkan nya lagi dan lagi.
Alia lalu mendekati Edmund, dan memberinya kejutan.
" Hmmphh.." Edmund mende_sah dalam mata tertutup. Alia tersenyum karena melihat Edmund masih mengira bahwa yang tengah Alia lakukan adalah mimpi.
__ADS_1
" Damn Hmshit." Pekik Edmund saat Alia memperkeras hisapannya dan langsung membuka mata.
" Kejutan." Ucap Alia.
Edmund tersenyum dan kembali mengulang peraduan mereka.
Pagi harinya...
Alia tersenyum dan merasakan kehangatan yang begitu hangat.
Dia melihat Edmund masih memeluk nya dengan posisi kedua tangannya memegang adik kembar Alia.
Alia menutupi tubuhnya dengan selimut dan membuka tirai, membiarkan sinar matahari pagi menerpa tubuhnya.
Hangat !!!
Alia tersenyum, dan menyadari selama ini pikiran yang selalu teringat Devian hanya perasaan sesaat, mungkin karena sebelumnya pernah terjadi hubungan cinta diantara keduanya.
Tapi, setelah menyatu dengan Edmund membuat Alia sadar bahwa hubungan nya dengan Devian memang sepantasnya berakhir, karena manusia dan vampire tidak ada pernah bisa bersatu dan bersama.
" Sayang...."
Alia tersenyum dan membuka mata saat Edmund mencium bahunya.
" Hai..." Sapa Alia.
" Apa tidurmu menyenangkan?" Tanya Edmund.
Alia mengangguk dan tersenyum.
" Sangat menyenangkan."
" Pergilah mandi, karena aku juga harus bersiap sebelum orang tuamu menyadari bahwa aku menginap di sini dan memanen madu sebelum pernikahan." Ucap Edmund sambil meninggalkan satu tanda kepemilikan di bahu Alia.
" Sebenarnya.... Orang tua ku akan pulang malam nanti. " Ucap Alia sambil memejamkan mata, menikmati kecupan Edmund.
" Karena itu aku memintamu datang." Pekik Alia.
" Jadi kau membuat ku cemas saat kau tiba tiba menghubungi ku humb???" Ucap Edmund sambil menarik paksa selimut Alia.
" Dan menggodaku sehingga aku terpaksa unboxing lebih awal." Imbuh Edmund sambil memberikan tatapan tajam.
"Ups, maaf." Ucap Alia sambil mundur , namun sayang, dibelakangnya adalah jendela dan Alia tidak bisa kemana mana.
" Ed, kenapa kau menatapku begitu?" Tanya Alia saat melihat sorot mata tajam Edmund.
" Aku akan menghukum mu ..."
" Apa, tapi.. Mmph."
Edmund langsung membungkam mulut Alia dengan bibirnya.
" Ini untuk hukuman karena berani membangkitkan gairahku." Ucap Edmund sambil kembali memberikan sentuhan ajaibnya kepada Alia.
" Aku siap."
Satu Minggu kemudian....
Pernikahan Edmund dan Alia digelar sangat meriah. Mereka menjadi raja dan ratu selama semalaman penuh.
Dan malam harinya mereka menghabiskan waktu untuk tidur, mengumpulkan tenaga, karena sepanjang malam mereka hampir tidak bisa duduk mengingat banyaknya tamu undangan.
Diluar kamar rumah Alia, kedua orang tua Alia dan Edmund sedang menguping.
Mereka sepertinya menunggu suara khas ketika seseorang sedang unboxing pertama.
" Kenapa senyap?" Ucap Albert
" Apa kamar Alia dilengkapi dengan kedap suara?" Papi Edmund.
" Tidak mungkin, kamar Alia adalah kamar pada umumnya yang tidak dilengkapi mode kedap suara. Jadi seharusnya jika mereka melakukan unboxing akan bisa terdengar dengan jelas dari sini." Ucap Emery.
" Tapi Kenapa sedari tadi kita tidak mendengar apapun?, apa mereka melakukannya di kamar mandi?" Ucap mami Edmund.
" Hmm, mungkin saja." Ucap Emery sambil mencoba membuka gagang pintu dengan perlahan.
Ceklek....
" Astaga pintu nya tidak dikunci." Ucap Emery.
" Ckckck, bagaimana bisa anak-anak teledor sehingga tidak menutup pintu di malam unboxing mereka?" Ucap Albert tentunya dengan suara lirih karena takut Alia dan Edmund mendengar mereka.
" Apa tidak apa apa, mengintip malam unboxing mereka?" Ucap mami.
" Kita tidak mengintip hanya memastikan mereka sedang bermain di atas tempat tidur atau di dalam kamar mandi." Ucap papi.
Mereka berempat kemudian mengendap-ngendap berjalan menuju kamar Alia.
Lampu gelap, Hanya menyisakan lampu tidur yang membuat pandangan mereka terbatas.
" Kenapa tidak ada suara?" Ucap Albert.
" Zzzzz....."
" Aku mendengar nya..."
" Zzzzzzzzzzzz....."
" Aku juga."
Karena semakin penasaran dengan suara yang tidak biasa. Mereka mencoba mengedarkan pandangan mencari keberadaan Aliyah dan Edmund.
Dan...
Tentu saja mereka terkejut karena mendapati Alia sedang tidur di atas tempat tidur sambil mendengkur, sementara Edmund tidur di sofa.
Mereka berempat saling berpandangan sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar.
" Apa mereka tidak tahu caranya unboxing?"
...----------------...
Alia teriak frustasi karena dia terus saja terjebak dalam masa yang berulang-ulang.
" Hiks, Aku harus bagaimana. Aku bahkan merasa bahwa diriku sudah tidur dengan Devian. Nyata kah atau hanya sebagian dari halusinasi ku. Alice, semoga kau dapat membaca pesanku dan dapat membantuku untuk keluar dari ini."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...