Rahasia Cinta Alia

Rahasia Cinta Alia
Penjara Gabriel


__ADS_3

Marcel segera memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Edmund.


Sementara Charlie dan yang lain mencari keberadaan Devian.


" Alia, jika Devian datang kesini. Bersikaplah seperti biasa,oke." Ucap Alice. Alia hanya mengangguk.


" Tapi, Aku sungguh takut jika berada di dekatnya. Aku merasa seperti diriku sendiri dalam bahaya. Aku tidak lagi merasa nyaman seperti saat aku bersama dengan Devian yang asli." Ucap Alia.


" Kamu tenang saja kami akan berjaga di luar rumahmu. Dan akan langsung membantumu ketika kau memerlukan bantuan kami " Ucap Charlie


" Baiklah, terima kasih itu sedikit membuatku merasa lebih baik."


" Aku akan tetap berada di sini untuk melindungimu." Ucap Alice.


" Terima kasih Alice." Ucap Alia, lalu mereka berdua berpelukan.


Malam harinya, Alia masih belum mendapatkan kabar tentang keberadaan Edmund. Hal itu membuat Alia sedikit merasa khawatir.


Alice memilih bersembunyi di loteng, agar saat Devian itu datang dia bisa memastikan siapa sebenarnya yang menjadi Devian.


Alia lalu lihat sosok Devian berada di pembatas perisai rumahnya. Alia benar-benar yakin jika sosok itu bukanlah Devian yang sebenarnya karena Alya tidak dapat lagi merasakan keberadaan Devian saat dia datang ke rumahnya.


Alia mencoba mengendalikan perasaannya karena dia mengingat apa yang diucapkan Alice, bawa Aliya harus bersikap biasa ketika Devian itu datang.


Alia membukakan pintu perisai dan mengkode kepada penjaga untuk terus mengawasi gerak-gerik Devian.


" Itu memang benar-benar Devian aku bisa memastikan jika vampir itu benar-benar Devian. Tapi, kenapa aku merasa ada sosok yang tengah mengendalikan tubuh dan raga Devian."


Alice tiba-tiba mendapat gambaran tentang bagaimana Devian bisa bertingkah aneh.


" Gabriel, jadi Gabriel yang menyatu di dalam raga Devian. Aku harus memberitahu Charlie dan yang lainnya." Ucapa Alice.


" Hai.." Sapa Alia, saat Devian sudah berada di hadapannya.


" Hai, Apa kamu merindukanku?" Devian langsung memeluk Aliya, hal itu tentu saja membuat Alia merasa terkejut. Karena sebelumnya Devian tidak pernah se reflek ini memeluk Aliya.


Tanpa Alia tahu, jika Gabriel yang yang berada di tubuh di Devian itu begitu menikmati aroma dari tubuh Aliya. Gabriel dapat merasakan kekuatan Valkyrie Light yang ada di dalam tubuh Alia yang semakin bertambah.


" Devian, apakah kau tahu keberadaan Edmund?" Tanya Alia yang masih berada di pelukan Devian.


Devian langsung melepaskan pelukannya dan menatap Aliya.


" Alia, Kenapa kau justru bertanya orang lain di saat pertemuan kita?"


" Ya, bukankah di awal pertemuan kita selalu membahas tentang orang lain. Kenapa kau bisa lupa?" Ucap Alia yang sukses membuat Devian diam.


" Edmund berada di tempat aman jadi kamu tidak perlu khawatir karena aku dapat memastikan bahwa dia baik-baik saja." Ucap Devian.


" Bukan seperti itu. Aku harus tahu keberadaan Edmund, karena semua orang mencari-cari keberadaan dirinya. Aku juga merasa kasihan kepada kedua orang tua Edmund." Ucap Alia


" Huft, Aliya aku tidak bermaksud menyembunyikan Edmund. Dia yang menggangguku jadi aku menempatkannya di tempat aman. Tidak ada orang yang dapat menemukannya." Ucap Devian yang tanpa sadar telah memberitahukan bahwa sebelumnya telah terjadi sesuatu antara dirinya dan juga Edmund.


" Devian, memangnya perselisihan apalagi yang terjadi diantara kalian. bukankah sebelumnya kalian sudah menjadi teman yang baik?" Tanya Alia.


Karena Devian yang sebenarnya adalah Gabriel itu tidak ingin Alia curiga. Dia akhirnya terpaksa memberi tahu keberadaan Edmund.


" Aku bisa memberitahukan keberadaan Edmund, asal kau mau ikut denganku." Ucap Devian.


" Baiklah."


Devian tersenyum jahat, akhirnya dia dapat membawa Alia keluar dari rumah ini. Sehingga dia dengan mudah dapat meminum darah Alia.


" Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo segera tunjukkan keberadaan Edmund."


" Hmm, sepertinya kau sangat menghawatirkan Edmund. Aku jadi berpikir sebenarnya kau itu mencintai Devian atau Edmund." Ucap Gabriel yang tanpa sadar menyebut nama Devian.


Sontak saja hal itu membuat Alia memandang Devian dengan tatapan tajam.


" Maksud ku, sebenarnya kau lebih mencintai aku atau Edmund?" Tanya Devian.


" Devian, kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu selalu membandingkan diri dengan Edmund?. Kenapa aku merasa seolah-olah kalian tengah berselisih lagi?"


" Itu, itu... Ah, lupakan saja lebih baik sekarang ayo kita pergi. Bukankah kau bilang ingin menemui Edmund kan?" Ucap Devian.


" Baiklah tunggulah di luar. Aku akan segera menyusulmu karena aku harus berpamitan kepada kedua orang tuaku."


" Baiklah." Gabriel terpaksa menuruti apa yang dikatakan Alia. Karena dia tidak ingin lagi Alia merasa curiga jika sebenarnya dia bukanlah Devian yang asli.


Alia segera keluar dari kamar begitu mengetahui Devian itu telah pergi.


" Alia.." Panggil Alice begitu Alia keluar dari kamar.


" Alice, kau mengejutkanku."


" Alia, aku tahu siapa sebenarnya sosok Devian itu."


" Siapa?"


" Gabriel."


" Apa, bagaimana bisa?"


Alice lalu menceritakan apa yang bisa dia lihat.


" Dia mau menunjukkan keberadaan Edmund padaku."


" Pergilah, kau harus selalu waspada. Karena aku dapat mengetahui jika Gabriel mempunyai niat jahat terhadapmu."

__ADS_1


" Apa tidak ada cara untuk membuat Devian yang asli tersadar?" Tanya Alia.


" Ini mungkin terdengar gila, tapi cobalah untuk memegang dadanya."


" Baiklah akan aku coba."


" Aku akan memberitahu Charlie dan Marcel tentang hal ini. Dan Kau tidak perlu cemas karena kami akan berada tepat di belakangmu." Ucap Alice yang dapat membaca kecemasan di wajah Alya.


Mereka berpelukan sebelum akhirnya Alia berjalan keluar dan menemui Devian.


...----------------...


" Akhirnya kau datang juga setelah sekian lama aku menunggu." Ucap Devian sambil tersenyum smirk. Saat melihat kedatangan Alia.


" Kau sudah siap?" Tanya Devian lagi. Alia tersenyum dan mengangguk.


Devian lalu mengangkat tubuh Alya dan terbang melewati pohon satu ke pohon yang lainnya. Alia menoleh kebelakang dan dia dapat melihat Alice yang seakan-akan memberi tahu kepada Aliya agar dia harus bisa selalu tenang.


Alia terus memandangi wajah Devian, lalu tiba-tiba Alia teringat akan pesan Alice, yang mengatakan jika Alia harus menyentuh dada Devian.


Hal itu mungkin bisa membuat Devian yang asli tersadar, karena Devian yang asli sekarang sedang sangat lemah.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Alia yang berniat memegang dada Devian tiba-tiba menghentikan niatnya.


Tidak, aku tidak boleh melakukannya sekarang, karena jika aku menyentuhnya sekarang dan Devian yang asli tersadar. Aku tidak akan bisa menemukan keberadaan Edmund. Lebih baik aku menunggu hingga aku benar-benar mengetahui keberadaan Edmund.


Beberapa saat kemudian, Alia dan Devian tiba di alun-alun kota.


" Devian apa kau sedang mengerjaiku?" Tanya Alia.


" Tidak, untuk apa aku mengerjaimu. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau ingin mengetahui keberadaan Edmund."


" Iya, tapi kenapa kita sekarang berada di alun-alun kota?"


" Itu karena Edmund memang berada disini."


" Tapi aku tidak melihatnya." Ucap Alia


Devian lalu melihat ke sekeliling. Mungkin dia curiga atau mungkin dia takut ada seseorang yang berada di sana dan sedang mengintai mereka.


" Apa yang sedang kau cari?" Tanya Alia.


" Tidak ada. Ayo ikut aku." Ucap Devian setelah memastikan bahwa tidak ada seseorang yang mengintai mereka.


Devian mengajak Alia ke sebuah lorong yang Alia sendiri baru mengetahui jika di taman itu ada sebuah pintu rahasia. Mereka berjalan menelusuri tangga .


" Wow, Devian sejak kapan kau mengetahui bahwa di alun-alun kota terdapat tempat ini?"


" Sejak lama."


Devian mengajak Alia berjalan ke lorong sebelah kanan. Karena jika melewati lorong kiri, Alia akan tahu jika disana lah para vampir slave berada dan hanya tinggal menunggu perintah Gabriel untuk mencari makanan, karena Gabriel sengaja tidak memberi mereka makanan agar mereka sangat agresif begitu Gabriel memerintahkan mereka untuk menyerang manusia.


Setelah berjalan cukup lama. Mereka tiba disebuah tempat mirip penjara bawah tanah. Disana Alia melihat Edmund tidak sadarkan diri.


" Edmund." Teriak Alia..


" Devian, apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Alia


" Aku tidak melakukan apapun, Edmund dulu yang memulainya, jadi aku tidak ada pilihan lain selain menempatkan nya disini." Ucap Devian tanpa ada perasaan bersalah.


Alia menyentuh dada Devian. Dan tiba-tiba, Gabriel yang berada dalam tubuh Alia merasa seperti terhempas.


Brug !!


Devian jatuh ketanah. Alia berusaha membuka pintu penjara, namun tidak berhasil. Alia mencari senjata untuk berjaga-jaga jika ternyata cara tadi tidak membuat Devian yang asli muncul.


Lama berkeliling. Alia tidak menemukan apapun selain sebuah tongkat kayu.


" Ergh..."


Devian mulai tersadar. Dan dia terkejut karena dirinya baru saja pingsan.


" Alia, apakah tadi aku pingsan?. dan kenapa kau menodongkan balok kayu itu kepada ku?" Tanya Devian yang heran melihat Alia menodongkan balok kayu kepada nya.


" Katakan, apa kau benar-benar Devian atau bukan?" tanya Alia.


Devian kini mengerti, bahwa Gabriel membawanya kemari. Pasti dia telah merencanakan sesuatu.


" Alia, ini aku benar Devian. Dan aku tahu ada sesuatu yang tidak beres terjadi padaku."


" Aku tahu. Alice sudah memberitahu bahwa didalam diri mu ada Gabriel."


" Apa dia telah melakukan sesuatu kepada mu?"


" Belum."


" Syukurlah. Alia, untuk sementara aku rasa kau harus menjauhi ku."


" Devian, bahas itu nanti saja. Sekarang lebih baik kita mencari cara untuk mengeluarkan Edmund." Ucap Alia sambil menunjuk ke arah Edmund yang masih tidak sadarkan diri.


" Ya kau benar."


Devian mencoba mematahkan gembok.


" Cepat Devian, karena aku takut kau akan kembali dikuasai oleh Gabriel." Ucap Alia.


Cetak !!!

__ADS_1


Gembok berhasil dipatahkan, Saat Alia masuk ke dalam. Tiba tiba raga Devian kembali dikuasai oleh Gabriel.


" Jadi, kau sudah menemukan cara untuk mengembalikan Devian ya, tidak semudah itu. Baiklah, kau yang memaksaku melakukan ini."


Gabriel membaca mantra, dan tiba tiba sebuah perisai menutupi penjara itu. Alia dan Edmund terkunci di dalam nya


" Tidak, tidak, tidak." Ucap Alia saat perisai itu telah menutup sempurna.


" Devian..." Teriak Alia.


Namun sekeras apapun Alia berteriak, Devian tidak akan bisa mendengar nya.


Alia kemudian menghampiri Edmund. Saat Alia akan menyentuh Edmund. Alia seperti tersengat aliran listrik.


" Argh..." Pekik Alia sambil meniup tangan nya.


" Ini pasti ulah Gabriel. Pantas saja sedari tadi aku meneriaki Edmund, tapi Edmund tidak dapat mendengar suara ku. Dia pasti berada dibawah mantra jahat Gabriel."


Alia menghela nafas, menyadari jika dirinya tenang dia bisa melakukan apapun yang ada di pikirannya.


Alia memejamkan mata dan menjulurkan tangannya melewati apa yang tengah melindungi Edmund dan berusaha menarik tangan Edmund keluar dari sana.


" Haaaaaahh..." Edmund berhasil keluar dari sana dan nafasnya seakan-akan dia baru saja selesai menyelam dalam waktu yang lama.


" Edmund., Apa kau baik-baik saja?"


" Alia, alia kau ada disini?. Alia Devian itu bukanlah Devian yang sebenarnya dia adalah Gabriel. Gabriel telah masuk dan bersatu dengan raga Devian." Ucap Edmund.


" Iya aku sudah mengetahuinya."


" Apa?, jika kau sudah mengetahuinya. Kenapa kau berada di sini?" Tanya Edmund yang tidak habis pikir kenapa Alia bisa terkurung bersamanya.


" Karena hanya dengan cara inilah aku dapat menemukanmu. Dan aku benar kan jika sekarang aku telah menemukanmu bahkan menyelamatkanmu dari entah apa itu tadi namanya yang membuatmu tidak sadarkan diri."


" Ya, untuk itu aku berterima kasih kepadamu."


" Sama sama. Tapi aku rasa kau harus berterima kasih kepadaku setelah kita berhasil keluar dari sini. Lihat, Devian. Ah, maksudku Gabriel telah membuat semacam perisai yang yang menutup kita dari luar."


" Apa.. Tidak mungkin."


Edmund berjalan mendekati perisai itu dan mencoba mengulurkan tangannya namun seperti saat Alia hendak menyentuh Perisai dan merasakan sensasi tersengat listrik. Itulah yang kini dirasakan oleh Edmund.


Edmund menggunakan jubah ajaibnya dan mengeluarkan pedangnya, dengan sekuat tenaga Edmund mencoba untuk menghancurkan Perisai itu. Namun sekuat apapun dia berusaha periksa itu jauh lebih kuat dari perkiraannya.


" Alia, Apa kau sudah mencoba untuk membuka periksa ini dengan kekuatan yang kau miliki?" Tanya Edmund.


" Tidak, karena aku tidak yakin jika aku memiliki kemampuan yang besar sehingga aku dapat menghancurkan periksa ini."


" Alia, Kau adalah manusia yang memiliki kekuatan 1000 dewa."


" Kau bercanda. Aku tidak memiliki kekuatan apapun selain membuat perisai dan mengeluarkan mu dari sana." Ucap Alia sambil menunjuk tempat di mana tadi Edmund berada.


" Memangnya tadi bagaimana caranya kau membebaskan aku dari mantra jahat yang membungkus ku?" Ucap Edmund yang penasaran sekaligus memancing agar Alia dapat menggunakan kekuatannya kembali untuk menghancurkan perisai yang telah dibuat oleh Gabriel untuk mengurung mereka dan membuat mereka tidak terlihat dari luar.


" Aku hanya memejamkan mata dan membayangkan jika aku dapat melewati perisai itu dengan mudah." Ucap Alia santai.


" Seperti apa?"


" Seperti ini. Aku memejamkan mata dan membayangkan jika aku bisa menembusnya." Ucap Alia sambil kembali memperagakan bagaimana caranya dia menyelamatkan Edmund.


Namun kali ini, Edmund membimbing tangan Alia agar menembus perisai yang dibuat oleh Gabriel.


" Wow..."


Alia terkejut karena saat dia membuka mata, perisai yang ada di hadapannya telah terbuka seperti pintu yang biasa dia buat agar Devian bisa memasuki periksa yang melindungi rumahnya.


" Aku benar kan, jika kau itu memiliki kekuatan 1000 dewa dalam dirimu hanya saja kau belum bisa merasakannya. Ayo sekarang kita segera keluar dari sini sebelum Gabriel mengetahuinya."


Edmund segera menarik tangan Alia untuk keluar dari penjara itu.


Sementara, Alice, Charlie dan lainnya baru saja tiba di ruang bawah tanah.


Alice melihat jika Alia telah dimasukkan ke penjara oleh Gabriel. Mereka kemudian mulai berpencar untuk mencari keberadaan Alia. Namun belum sempat mereka berjalan cukup jauh. Gabriel sudah menghadang mereka.


" Kalian kenapa bisa ada di sini?" tanya Devian.


" Sudahlah Gabriel jangan berpura-pura menjadi Devian lagi, kami sudah tahu jika kau yang mengendalikan raga Devian." Ucap Marcel.


" Benar, sekarang pergilah dari tubuh putraku itu." Ucap Charlie.


" Hmm, tidak sebelum aku melakukan apa yang ingin aku lakukan."


Tanpa menunggu waktu yang lama Gabriel segera menggunakan kekuatannya dan mengikat mereka semua lalu menyeretnya menuju penjara yang letaknya berada di tempat di mana Gabriel mengunci Alia dan Edmund.


Gabriel berjalan semakin dekat menuju penjara, sementara Alia dan Edmund juga berjalan ke arah Gabriel yang sedang menuju ke penjara dengan membawa semua keluarga Charlie dan Marcel yang telah diikat menjadi satu dan sudah berada dalam pengaruh mantra jahat Gabriel.


Akankah Alia dan Edmund dengan Gabriel??


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2