
...Chapter 22. Utusan Asosiasi Pedagang ...
Setelah aku menyatakan perintah ku terhadap Keisha dan dia menerima nya. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan pembahasan besok hari.
Namun, Keesokan paginya. Seorang pria botak yang mengenakan pakaian pedagang dan dia pun tahu cara masuk ke Mansion Lantai satu.
"Permisi! Saya dari Asosiasi Pedagang!" ucap pria botak.
Aku yang saat ini duduk berhadapan dengan Keisha. Namun, perbincangan kami terhenti lantaran aku melihat seorang pedagang yang berada di balik pintu masuk Mansion lantai pertama. Lalu, aku pun memanggil Miku.
"Miku!"
Lalu dalam sekejap, Miku sudah berlutut di samping ku.
"Master!"
"Diluar ada tamu, hantarkan dia kesini!"
"Dimengerti!"
Setelah itu, sosok Miku menghilang dan dalam sekejap mata, Miku sudah berada di depan pintu dan membuka nya.
"Hai, aku Rama. Utusan dari Asosiasi Pedagang yang ingin membahas tentang pelelangan," ucap pedagang Rama.
"Aku tidak peduli. Master sudah menunggu anda! Mari ikut saya!" ucap Miku.
Lalu, Rama pun ikut dengan Miku sampai tiba ruang pertemuan yang mana dia melihat ku dan Keisha.
__ADS_1
Saat melihat ku, pria botak memberi salam perkenalan nya.
"Salam kenal, Tuan Nolan. Saya Rama utusan dari Asosiasi dan mengatasnamakan Nona Iris bertemu anda membahas perihal lelang," ucap Rama seraya membungkukkan badannya.
"Baiklah, aku mengerti. Terimakasih sudah mau datang. Duduklah!"
"Iya, baik," jawab Rama yang langsung duduk dihadapan ku dan disamping Keisha.
"Dan, apakah ada permasalahan?"
Rama menggelengkan kepalanya. "Bukan, semua nya lancar hanya saja kedatangan saya ingin melihat lokasi pelelangan. Bisakah Tuan Nolan menunjukkan nya kepada ku?"
Aku tersenyum dan beranjak dari kursi. "Aku mengerti. Jika begitu, ikuti aku!"
Sesaat aku mengatakan itu, Keisha dan Rama beranjak diri. Lalu, aku pun berjalan diikuti oleh Keisha, Rama dan Miku.
Lokasi pelelangan berada di lantai dua mansion dan tibalah di sebuah pintu dua yang memiliki motif garis emas ditengah nya. Lalu, pintu itu terbuka dengan sendirinya dan saat melangkah kedalam ruangan, Rama terkejut melihat aula yang begitu besar dan membuat nya terkagum.
"Wow ... ini tempat lelang terluas yang saya pernah lihat!" jawab Rama.
Mendengar itu, aku terkejut lantaran aula lelang yang ku buat sama seperti sebuah panggung Opera yang pernah ku kunjungi.
"Oh, benarkah. Aku tersanjung mendengar nya dan aku sengaja membuat tempat pelelangan sebaik mungkin."
Sebenarnya, ini jauh dari baik saat di dunia ku dahulu mungkin, di dunia ini tempat pelelangan sangat kecil hingga dia terkagum-kagum melihat ruangan ini.
Hal itu membuat ku senyum sendiri.
__ADS_1
Ditengah aku memikirkan itu, Petapa Agung menjawab nya.
Ding!
[Jawab. Tempat pelelangan yang umumnya dilakukan di dunia memiliki ukuran seperempat dari aula milik anda dan miliki sedikit kursi.]
Aku pun tersenyum sendiri, "Pantas saja."
Keisha yang berdiri disamping mendengar ucapan ku itu. "Kenapa, Tuan Nolan?"
"Tidak ada."
Keisha memiringkan kepalanya lantaran dia masih terheran dengan ucapan ku.
Aku pun mengabaikan nya dan menghampiri Rama yang masih terkagum dan senang melihat aula buatan ku.
"Beginilah tempatnya. Semoga kalian suka!"
"Iya, saya sudah pastikan Asosiasi akan menyukai nya," jawab Rama.
"Syukurlah, jika tidak masalah. Lalu, apakah masih ada yang harus kita bahas?"
"Ada beberapa hal lagi yang harus kita bahas," jawab Rama.
"Baiklah, lebih kita kembali ke ruang pertemuan untuk pembahasan selanjutnya!"
"Baik, Tuan Nolan," jawab Rama.
__ADS_1
Sesudah itu, kami pun kembali ke ruang pertemuan dan rapat masih berlangsung.
...___...