
...Chapter 61. Membuat Pompa Tangan....
Saat ini aku sedang memantau desa dalam dan desa luar dengan mengunakan kamera pengawas.
Beruntung kamera pengawas memiliki fitur baru yang memiliki kemampuan sihir Clairvoyance yang mana aku bisa melihat aktifitas di luar desa.
Tidak hanya itu, selama masih berada di radius 10 km dari Dungeon. Aku masih tetap bisa melihatnya secara rinci.
Dan, saat memantau desa luar. Aktifitas mereka tergolong monoton dengan kebiasaan peradaban abad pertengahan terutama aku melihat sosok anak yang kecil menimba air dengan susah nya meski sudah ku ajarkan
Lalu, aku pun teringat sesuatu di kehidupan dahulu.
Apakah aku harus membuat pompa air? Kalo pompa listrik sepertinya tidak mungkin dan aku pun terpikir pompa air tangan manual.
Jika aku memajukan sedikit peradaban mungkin tidak masalah.
Setelah itu, aku pun membuat desain nya dan kuberikan kepada Lazio karena dia memiliki skill Transmutasi dan dia juga kepala desa.
"Lazio, kuserahkan kepadamu!"
"Baik, Grand Master!" ucap Lazio seraya menerima desain yang ku buatkan.
Sesudah itu, Lazio pergi meninggalkan ruangan.
Dan, aku sendiri kembali bersantai. Biarkan anak-anak ku yang bekerja dan aku yang membuat ide.
Lalu, ini lah kisah Lazio..
Setelah menerima desain dari ku, dia kembali ke Desa Luar dan setibanya disana, Arin sontak menghampiri.
"Ketua, ada apa?" tanya Arin.
"Aku diperintahkan untuk membuat pompa air," jawab Lazio.
Mendengar ucapan, Arin mengerutkan keningnya. "Pompa Air? Apa itu?"
Aku hanya dijelaskan melalui ingatan Grand Master. Namun, belum secara langsung.
"Baiklah, ketua. Izinkan aku membantu!" ucap Arin.
__ADS_1
"Iya, terimakasih," jawab Lazio dengan senyuman.
Setelah itu, Lazio dan Arin pergi ke sisi sudut barat Desa yang mana terdapat sumur besar disana.
Lalu, Lazio yang sedang membawa Drone Element. Dia meminta sesuatu.
"Drone Element, berikan aku bongkahan besi!"
Tanpa ada ucapan, Drone element mengeluarkan sihir tanah dan memunculkan sekotak besi dengan ukuran 2 meter persegi.
"Drone Element, tutup bagian atas sumur!"
Lalu, Drone element mengunakan sihir tanah kembali dan menutup sumur.
"Terimakasih, Drone Element. Selanjutnya adalah tugas ku!" ucap Lazio.
Seusai itu, Lazio memegang sekotak besi itu dan merapalkan skill nya.
"Modelling."
Sesaat merapalkan skill itu, sekotak besi berubah menjadi cair dan berbentuk pompa tangan dengan tuas dan pipa besi nya.
Arin yang melihat itu, dia pun terkagum.
"Tidak, semua orang bisa menarik nya," ucap Lazio.
"Hah?" bingung Arin.
Lazio hanya tersenyum lalu, dia pun merakit pompa tangan dan memasangnya diatas sumur.
Lalu, Lazio memasangnya dengan teliti menurut ingatan dari ku.
Dan, setelah beberapa lama Lazio selesai memasang nya dan mencobanya yang mana air pun keluar dengan deras dari lubang besar pipa.
"Wow, luar biasa sungguh praktis!" ucap kagum Arin.
Tidak hanya Arin beberapa warga yang melihat Lazio terkagum lantaran teknologi yang baru dia lihat.
Lazio hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, gadis Pendeta itu jalan bersama dengan Iris, Vincent dan beberapa gadis lainnya.
Lalu, ditengah langkah nya. Dia melihat Lazio yang sedang dikerumuni warga dan berbincang kecil.
Melihat itu, Gadis Pendeta menghampiri Lazio dengan izin Iris dan Vincent.
"Ketua Lazio, Terimakasih perawatan anda beberapa hari ini," ucap gadis Pendeta.
"Tidak perlu diperpanjang. Aku hanya menjalankan tugas," jawab Lazio.
"Oiya, Maaf. Aku belum memperkenalkan diri. Nama ku, Aggita. Salam kenal!" ucap Aggita yang membungkukkan sedikit badan nya.
Lazio yang melihat itu sontak dia juga membungkukkan badannya nya.
Setelah beberapa saat, mereka mengembalikan posisi badannya.
"Jadi, Nona Aggita sudah mau pulang?" tanya Lazio.
Aggita tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku akan pulang dan jika Tuan Lazio ada di kota Nova. Cari saja aku di gereja barat! Aku tinggal disana," ucap Aggita.
Lazio mengangguk kepalanya. "Iya, nanti aku akan mencari mu."
"Senang mendengar nya. Ya sudah, aku pamit !" ucap Aggita.
"Berhati-hatilah!" sambung Lazio.
Aggita menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Setelah itu, dia meninggal Lazio dan lainnya.
Saat Aggita sudah berjarak jauh, Arin meledek nya.
"Seperti nya ada yang jatuh cinta."
"Berisik!" jawab Lazio dengan tawa kecil.
Arin pun juga ikut tertawa kecil.
..._____...
__ADS_1
Aggita