
...Chapter 92. Ent, Kedatangan Jeanne dan Ruang Permata....
Setelah mengalahkan Twins Harpy, halaman keenam pada buku muncul yang mana dalam halaman itu memiliki tema gurun
Mengetahui itu, aku pun sontak membuat koridor dan beberapa ruangan nya lalu, menempatkan ruang element disalah satu ruangan agar Dungeon Kuil terakhir yaitu Kuil Tanah Kuno terbuka.
Aku harap sang penjaga tidak begitu merepotkan.
Sambil menunggu kedatangan portal Kuil, aku mendengar kabar bahwa Jeanne telah kembali ke Dungeon.
Aku yang mendengar itu sontak menjemput nya bersama Luminox serta lainnya. Lalu, kami bertemu dihalaman dekat rumah.
"Jeanne!" seru Luminox.
"Ibunda ! Ayahanda!" balas Jeanne.
Lalu, kami pun berpelukan namun, tidak lama Jeanne melepaskan pelukannya.
"Ayah senang kamu kembali, Jeanne!"
"Pasti nya aku juga," sambung Luminox yang mana kami pun saling bertukar senyum.
Setelah itu, Jeanne melangkah menghampiri Flare lalu, dia sontak menempel kuping nya ke perut Flare.
"Ibu Flare, aku ingin mendengar suara adik ku," ucap Jeanne.
Flare pun tersenyum. Lalu, memeluk Jeanne. "Selamat datang, Jeanne!"
Jeanne pun menerima pelukannya itu. "Iya, ibu Flare. Aku kembali."
Sesudah itu, Jeanne melepaskan pelukan Flare dan melangkah kearah Keisha.
Saat pertemuan itu Keisha menitihkan air matanya melihat Jeanne.
"Ibu Keisha, aku sudah membawa semua anak panti asuhan ke desa ini dan telah menghancurkan perusahaan yang mengancam Ibu dan saudara-saudara juga Aku-"
Sebelum Jeanne menyelesaikan ucapannya, Keisha sontak memeluk Jeanne dengan erat dan menangis di pelukannya.
"Terimakasih, Putriku Jeanne. Aku tidak akan melupakan bakti mu," ucap Keisha.
__ADS_1
Jeanne tersenyum dan menerima pelukan.
"Ini kebanggaan ku," jawab Jeanne.
Setelah itu, mereka melepaskan pelukan dan saling bertukar senyum.
Beberapa saat kemudian, kami pun makan malam bersama yang mana penuh canda dan tawa mendengar cerita tentang perjalanan Jeanne dan didalam cerita itu, aku terkejut lantaran mendengar kisah tentang Yoon Ha dan Smartphone nya.
Aku ingin sekali menemuinya.
Beberapa saat kemudian, Alesya memberitahu bahwa portal Dungeon Kuil Tanah Kuno telah terbuka.
Mendengar itu, aku pun sontak pergi ke Dungeon Kuil Tanah Kuno ditemani oleh Callista.
Setibanya disana, aku disungguhi oleh ruangan hutan yang sangat lebat melebihi hutan-hutan sebelum nya yang aku temui di Dungeon.
Namun, ditengah hutan tiba-tiba. Alesya dan Callista serentak memberitahu ku.
[Master, Berhenti!]
"Master, Berhenti!" ucap Callista.
Tidak lama kemudian, daratan yang ada di hadapan ku bergerak dan terwujud sosok manusia pohon raksasa yang memiliki tanduk yang besar serta memiliki tangan batu.
"Siapa yang berani menyusup ke hutan murni ini?" ucap penjaga Kuil tanah Kuno.
"Aku Nolan Cahya pemilik dari Dungeon Ace."
"Oh, berani sekali kamu seorang Dungeon Master masuk ke hutan ini. Jika memang kamu sudah tiba disini berarti kamu sudah bertemu dengan penjaga Kuil Kuno lain nya. Apakah kamu membunuh mereka?" ucap kasar penjaga Kuil Tanah Kuno.
"Tentu saja tidak. Aku kesini bertujuan untuk membuka ruang tempat Raja Iblis Revenger di kunci."
"Untuk apa kamu membukanya?" tanya penjaga Kuil.
"Aku sudah berjanji kepada Raja Elf untuk membunuh nya."
"Raja Elf? Menarik! Yang berarti, Kamu sosok yang dapat dipercaya. Baiklah, Aku Ent penjaga Kuil tanah Kuno akan membantu mu," ucap Ent.
__ADS_1
"Jadi, monster apa yang harus ku bunuh?"
"Tidak perlu, kunci terakhir ada di keempat element," jawab Ent.
"Apa maksud anda?"
"Buatlah lantai permata dengan menciptakan sebuah ruangan dengan keempat element maka lantai pertama tercipta dan dalam ruangan itu juga terdapat satu pertama yang tidak boleh di sentuh oleh siapapun yaitu kunci pertama," ucap Ent.
"Mungkin kah itu kunci terakhir?"
"Iya, setelah kamu mendapatkan kunci itu maka lantai khusus dengan perangkat Neraka akan terbuka," jawab Ent.
"Aku mengerti. Terimakasih, Penjaga Kuil Tanah Kuno, Ent."
"Berhati-hatilah! Revenger, Raja iblis yang sangat kuat," ucap Ent.
Aku tersenyum seraya menjawab, "Iya, aku juga memiliki unit yang tidak kalah kuat."
Setelah itu, aku pun pergi ke lantai lima Dungeon kabut lalu, membuat lantai baru yang mana ruangan itu aku desain dengan bentuk memutar dan satu ruangan besar di tengah yang memiliki empat pintu. Setelah itu, aku membuat koridor berbeda di keempat pintu dengan perangkat empat element, koridor gunung berapi, Koridor Es, Koridor pandang rumput dan koridor gurun.
Setelah membuat itu, aku pun menunggu beberapa hari sampai Alesya memberitahu bahwa Ruang Permata sudah terbentuk.
Mendengar itu, aku sontak mendatanginya dan setibanya disana, aku terkejut lantaran ruangan itu dipenuhi oleh banyak permata dengan berbagai warna dan jenis.
Meski terpukau sesaat, aku pun mengalihkan nya dan terfokus pada tujuan ku.
Lalu, aku pun menelusuri ruangan itu dan terlihat lah sebuah kunci dari permata yang memiliki tujuh warna permata.
Aku pun tidak membuang waktu lagi lalu, mengambil kunci tersebut.
Sesaat aku mengambil kunci itu, tiba-tiba lantai di bawah ku terbelah dan muncul tangga dari permata menuju ke lantai bawah.
Melihat itu, aku pun masuk menuruni nya dan setibanya didalam aku disungguhi oleh kuburan yang sangat tua dan berbau busuk.
Meski begitu, aku masih bisa menahan nya dan terus berjalan sampai pada pintu besar yang memiliki ukiran tengkorak di tengah nya disertai dengan tiga kunci.
"Akhirnya tiba saat nya untuk menghadapi pertarungan terakhir perang tersembunyi ini."
...____...
__ADS_1