
...Chapter 84. Gadis Warbeast, Sicella....
Saat ini aku sedang bersantai menikmati teh bersama dengan ketiga istri ku.
Lalu, Luminox meminta ku sesuatu.
"Tuan ku, aku ingin melihat keadaan Jeanne," pinta Luminox.
Saat Luminox meminta itu, aku juga mempertanyakan Flare dan Keisha.
"Bagaimana menurut kalian?"
"Aku juga ingin melihat, Tuan Ku," jawab Flare.
"Karena ini kesalahan dan misi untuk ku tentu aku ingin melihat Tuan Ku!" sambung Keisha.
Seusai mengatakan itu, ketiga istriku saling bertukar senyum.
Lalu, aku pun memanggil layar sebesar 41 inci dan mengambil layar dari pandangan Miku.
Yang mana saat ini Jeanne dan kelompok nya sedang sarapan di penginapan.
Dan ini lah kisah Jeanne, Putri ku.
Setelah Jeanne dan lainnya sarapan mereka pun pergi meninggalkan penginapan dan berkeliling kota.
Jeanne yang baru melihat kota, jajanan dan beberapa aksesoris. Dia terlihat sangat senang dan banyak barang yang dibeli nya.
Saat Satoru berkeliling kota bersama Jeanne, Miku dan Yoon Ha. Dia baru menyadari ketidakhadiran Goina.
"Nona Jeanne, dimana Nona Goina?" tanya Satoru.
"Ahh, dia ada sedikit urusan," jawab Jeanne dengan senyuman.
"Oh, begitu," jawab Satoru.
Disaat Jeanne dan kelompok nya sedang berjalan pulang ke penginapan. Mereka pun mendengar suara wanita tidak jauh dari jalan gang penginapan.
"Ku mohon! Lepaskan!" suara jerit Wanita.
Saat melihat sumber suara itu terlihat gadis Warbeast yang berada di penginapan sedang di ganggu oleh dua pria berpakaian bandit.
"Bukan kah dia gadis yang bekerja di penginapan?" tanya Satoru.
"Seperti nya begitu," jawab dingin Jeanne disertai dengan tatapan tajam.
"Hei, Diam lah! Kamu ******! Ikut dengan kami!" seru salah satu bandit seraya menjambak gadis Warbeast.
__ADS_1
Wanita Warbeast itu pun ketakutan dan tidak ingin dibawa pergi.
"Seseorang! Tolong lah aku! Aku mohon!" pinta Wanita Warbeast.
Satoru yang melihat itu, dia pun bergeram kesal. Namun, dia tidak bisa bertindak sembarangan maka dari itu, dia meminta izin kepada Jeanne.
"Nona Jeanne, izin kan aku membantunya!" pinta Satoru dengan menundukkan kepalanya.
"Baiklah, aku izin kan! ini karena makanan yang dia buat lumayan enak!" jawab Jeanne yang tersenyum kecil dengan tangan yang dilipatkan.
"Terimakasih, Nona," jawab Satoru.
Lalu, Satoru pun maju dan mempertanyakan mereka.
"Kalian apa yang terjadi disini? kenapa kalian mengangguk langkah Nona kami?!" seru Satoru.
Saat Satoru mengatakan itu, wanita Warbeast dan kedua bandit sontak melihat Satoru.
"Hah! Kamu pikir kamu siapa?!" jawab salah satu bandit dan dia pun melangkah mendekati Satoru.
"Tuan Putri, Tuan ksatria!" ucap wanita Warbeast.
Bandit yang satu lagi mendengar ucapan, "Mungkin kalian saling kenal?!" ucap bandit yang lain.
"Bisa dibilang seperti itu. Jadi, katakan kepada kami sebenarnya ada masalah apa? Dan, siapa kalian?" tanya Satoru.
"Namun, dia tidak kunjung bayar dan sudah jatuh tempo maka dari itu, Boss memutuskan untuk menjual nya di pasar budak untuk membayar hutang nya," jawab bandit yang lain.
Mendengar itu, Jeanne pun mengumpat kesal. "Manusia menjijikkan!"
"Nona, apa maksudmu?!" tanya kesal bandit.
Mendengar itu, Satoru membalikan badan dan menenangkan Jeanne.
"Nona Jeanne, tenang lah!" seru Satoru.
"Aku tahu." Lalu, Jeanne melihat tajam kedua bandit itu. "Berapa hutang nya?"
"100.000 Vale. Bagaimana kamu ingin membayar nya, Nona?" tanya remeh bandit.
"Baiklah, aku bayar hutang dan serahkan dia kepada ku!" ucap Jeanne lalu, dia pun mengambil satu koin putih dan melemparkan nya kearah bandit. "Itu yang kamu butuhkan. Lepaskan tangan kotor mu dari budak ku!"
Bandit yang menangkap koin putih itu terkejut begitu juga rekan nya.
"Iya, ya. Ini sudah lebih dari cukup!" ucap bandit seraya melepaskan wanita beast.
"Terimakasih, Nona Muda!" ucap bandit yang lain.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan? cepat pergi!" seru Satoru.
"Iya, ya," jawab serentak para bandit dan dia pun berlari meninggalkan Jeanne dan kelompok nya.
Setelah itu, gadis Warbeast sontak berlutut dua kaki dan bersujud dihadapan Jeanne dan lainnya.
"Terimakasih, Nona. Kebaikan anda saya akan balas," ucap gadis Warbeast.
Jeanne yang melihat itu, dia pun tersenyum lalu jongkok untuk menyamakan ketinggian dan memegang bahunya.
"Bangun lah!" seru Jeanne.
Mendengar itu, gadis Warbeast menegakkan kepalanya dan melihat kearah Jeanne.
"Iya, Nona," jawab gadis Warbeast.
Sesaat kemudian, Jeanne dan gadis Warbeast berdiri
"Siapa namamu?" tanya Jeanne.
"Sicella," jawab gadis Warbeast.
"Sicella, ambil barang mu berkemas lah! Aku akan membawa mu ke desa Meiya. Hidup lah dengan damai dan bebas!" seru Jeanne.
"Desa Meiya? Desa yang dikelola oleh Dungeon kuat yang bahkan calon raja iblis dibunuh dengan mudah itu?" tanya Sicella dengan semangat.
Jeanne menganggukan kepalanya disertai senyuman.
"Anuu ... boleh saya tahu siapa, Nona?" tanya Sicella.
"Aku Jeanne Cahya. Putri dari Dungeon Master Ace, Nolan Cahya," jawab bangga Jeanne.
Mendengar itu, Sicella sontak membungkukkan badannya. "Tuan Putri, maaf atas kelancangan saya."
Jeanne pun memegang kedua bahu Sicella.
"Sicella, apakah kamu setuju untuk tinggal di desa Meiya?" tanya Jeanne.
Sicella pun tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. "Dengan senang hati, Tuan Putri."
Sesudah menerima keputusan Sicella, Jeanne pun meminta bantuan Satoru untuk mengantarkan nya ke Desa Meiya dan Satoru pun menerima perintah itu lalu, Satoru pun membawa Sicella kembali ke desa Meiya dengan bantuan Ichi.
Sedangkan, di penginapan tempat Jeanne menginap telah berganti pelayan yang mana pelayan itu berterimakasih kepada Jeanne.
...___...
Sicella.
__ADS_1