
...Chapter 58. Obrolan kecil dan Gobta....
Saat ini aku sedang bertemu dengan Vincent Rundell, ketua Asosiasi Petualang yang mana dia ingin menyewa tentara ku untuk menaklukkan gunung putih yang mana menjadi markas Goblin merah.
Dengan harga satu juta Vale, Vincent pun menyetujui nya dan pada hari ini juga, aku mengutus seseorang yang ahli dalam bidang Goblin yaitu Gobta.
Goblin melawan Goblin.
Aku harap Gobta tidak mengecewakan ku.
Setelah kesepakatan dibuat, aku mengizinkan Vincent untuk menginap di Mansion lantai satu. Dia pun menerima dengan senang hati.
Mendengar itu, aku pun mengutus Para Homunculus Maid untuk melayani semua kebutuhan Vincent tanpa kecuali.
Setelah pertemuan itu, aku kembali ke lantai sembilan dan setibanya disana, aku melihat Luminox bersama dengan Alesya sedang meminum teh.
Melihat itu, aku pun menghampiri nya.
"Alesya, Luminox."
Saat aku menyapa, Luminox dan Alesya menghentikan percakapan lalu menoleh kearah ku.
"Tuan Ku, bagaimana pekerjaan anda?" tanya Luminox.
"Pekerjaan ku lancar, jadi sejak kapan kalian dekat?"
"Aku baru tahu kalau Tuan ku memiliki adik!" ucap Luminox dengan senyuman lebar.
"Adik?!"
Aku sontak menoleh kearah Alesya yang mana dia tersenyum lebar. Saat itu juga Alesya sontak beranjak dari kursi dan memeluk tangan ku.
"Meski, aku adik dari Master Nolan. Namun, aku tetap melayani nya sebagai Master," jawab Alesya yang melihat ku dengan senyuman lebar.
Aku pun membalasnya juga dengan senyuman.
Setelah itu, Alesya melepaskan pelukan tangan ku dan menghampiri perut Luminox yang sudah besar.
"Aku jadi tidak sabar melihat Keponakan ku dan aku akan menjadi bibi nya," ucap senang Alesya.
__ADS_1
"Iya, kami juga menantikan. Bukan kah begitu, Tuan Ku!" ucap Luminox yang diakhiri dengan melihat ku.
Alesya juga melihat kearah ku.
Aku hanya memberikan senyuman dan anggukan kepala.
Beberapa saat kemudian, suara Flare terdengar.
"Ara-ara ... ada apa ini? lagi membahas apa?" tanya Flare sambil melangkah pelan kearah kami.
"Kami sedang membahas Adik dari tuan Ku, dia Alesya," ucap Luminox yang memperkenalkan Alesya.
Alesya berdiri dan menundukkan kepalanya. "Aku Alesya, salam kenal!"
Flare yang melihat itu, dia pun membalasnya dengan anggukan kepala juga.
"Aku Flare Bellanova, Salam kenal!"
Lalu, Flare dan Alesya saling bertukar senyum.
Melihat kedekatan mereka, aku pun terpikir sesuatu.
"Baik, tuan Ku," jawab Flare.
"Iya, Tuan Ku," sambung Luminox.
Lalu, Aku dan Alesya saling bertukar pandang dan tersenyum.
Seusai itu, Alesya telepati kepada ku.
[Master, ada suatu laporan dari Flare.]
Setelah mendengar itu, aku pun mempertanyakan.
"Flare, apakah ada sesuatu yang harus dilaporkan?"
"Oh, Iya. Maaf. Aku teralih. Laporan ku, Gobta telah berangkat dengan membawa satu Drone Elemen dan satu Drone sihir putih," ucap Flare.
"Aku mengerti."
__ADS_1
"Bicara Gobta, aku jadi penasaran dengan petualangan nya."
Lalu, aku menoleh kearah Alesya.
"Alesya, nyalakan View nya!"
[Baik, Master.]
Tidak lama kemudian, layar 21 terbuka.
Lalu, aku pun melangkah ke kursi dan duduk.
"Mari kita saksikan bersama-sama!"
"Baik, Master," jawab serempak Flare dan Luminox.
Lalu, kami pun menonton bersama pertarungan Gobta di goa gunung putih.
Tanpa mengunakan cahaya sedikitpun, Gobta melangkah sampai ditengah goa yang mana dia menemukan beberapa jasad Petualang yang masih fresh.
Melihat itu, Gobta pun memeriksa nya.
"Seperti nya semua jasad ini baru saja dibunuh."
Ditengah memeriksa itu, Gobta mendengar suara tawa Goblin dan saat menoleh kebelakang terlihat banyak Goblin merah yang sudah mengepung nya.
Saat para Goblin merah tersadar dengan tatapan Gobta. Mereka pun serempak sontak menyerang Gobta.
Dan, Gobta tidak tinggal diam. Dia melesatkan serangan nya juga yang mana serangan itu diawali dengan pedang Gobta yang dilapisi api oleh Drone element dan teknik pedang.
Meski Gobta dikepung oleh Goblin merah. Gobta dengan mudah mengalahkan semua Goblin merah.
Setelah itu, Gobta melanjutkan perjalanan kedalam Goa dan menghabisi semua Goblin merah yang menyerang dan menghalangi langkahnya.
Dan, ditengah Goa. Gobta bertemu dengan gadis petualangan dengan kelas pendeta yang mana gadis itu sedang ketakutan hingga mengompol.
"Tolong aku!" ucap gadis pendeta yang ketakutan dan melihat kearah Gobta dengan air mata membasahi pipinya.
Melihat sosok itu, Gobta pun mengulurkan tangannya dan memutuskan kembali ke Dungeon untuk mengobati gadis pendeta.
__ADS_1